Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persyaratan
Seketika saja Anne membisu, di dalam
dadanya degup jantungnya terpompa cepat, ia tak dapat menahan kemarahan di kepalanya, dalam hati ia berteriak kencang jika ia telah melahirkan tiga anak sekaligus untuknya.
Namun ia masih terdiam, bimbang, apakah ia harus menjawab dengan jujur atau tidak, tapi jika dia tahu maka ia takut apakah anak-anaknya akan mau mengakui jika dia ayahnya, sedangkan pria ini hanya pria sewaan, ia tak mau anaknya tahu dan merasa tertekan nantinya.
"Katakan?" pria itu menekannya lagi.
Anne semakin tertekan dan bingung, "tidak, tapi bagaimanapun juga kau sudah merenggutnya pertama kali dariku." akhirnya Anne menutupi semuanya.
Meski ada sedikit rasa mengganjal di dadanya.
Pria itu manggut-manggut, "bagus!" Viktor berfikir tak akan ada masalah hak asuh kelak.
"Tapi kamu harus tetap bertanggung jawab! Jika tidak aku akan melaporkan mu pada polisi atas tindak pelecehan." Anne tetap ingin membela haknya.
Alis pria itu terangkat sebelah. "Kau punya bukti?"
Anne memang tak memiliki bukti apa-apa, tapi empat tahun yang lalu foto senonohnya sempat beredar barang kali ia masih bisa menggunakan bukti itu sebagai alat, karena dengan hal itu juga hidupnya hancur, ia mendapat fitnah di mana-mana.
Terlebih ia terusir dari kotanya.
"Iya, aku punya bukti. Dan jika aku melapor ke polisi maka kau tidak akan bisa hidup dalam kesenanganmu seperti ini lagi, kau akan mendekam di penjara, lebih lagi wajahmu akan terpampang di artikel dan berita sebagai seorang pelaku pencabulan." terang Anne memberi ancaman.
Pria itu menarik sudut bibirnya membentuk lengkung mendengar ancaman yang kedengarannya lucu itu, namun sialnya otaknya malah membayangkan yang wanita ini katakan.
"Kalau begitu kau mau pertanggung jawaban yang seperti apa dariku?" Anne bergeming, malam ini dia telah mendapatkan kesulitan, bahkan sebelum-sebelum ini ia juga mengalami kesulitan hidup karenanya, dia membesarkan anaknya seorang diri membiayai hidupnya sendirian, biaya makan, tempat tinggal dan masuk sekolah semua ia lakukan sendiri, maka terpintas pikiran untuk ia meminta ganti rugi atas semua itu.
"Kamu harus membayar ganti rugi padaku." ujarnya lalu mendorong tangan pria itu sambil menengadahkan tangannya, bertindak seperti preman yang ingin memalak.
"Kamu mau berapa?" pria itu kemudian duduk lagi di sofanya sambil menyalakan
sebatang rokok.
Dia mengepulkan asapnya ke arah Anne
yang masih berdiri kaku memikirkan jumlah nominalnya, otaknya malah membayangkan yang wanita ini katakan.
"Satu milyar, dua milyar atau sepuluh milyar? berapa katakan saja," terangnya membantu menyebut nominal-nominal yang mungkin ragu di katakan oleh Anne.
Namun Anne malah terkekeh mendengarnya, dia seperti tengah mendengar seorang badut yang sedang melucu.
"Satu milyar? Kau sedang melucu?" Kening pria itu berkerut dalam tak puas dengan jawaban Anne.
"Bagaimana kau bisa berlagak sombong seperti ini jika kamu hanya mendapatkan
uang dari pekerjaan kotor ini?" ejek Anne,
dalam hati ia sangat kesal sekali.
"Pekerjaan kotor?" pria itu mengernyit.
"Ya, bukankah ini pekerjaanmu selama ini menjadi gigolo, nyatanya kamu ada disini."terangnya.
Pria itu tercengang dengan ucapan Anne.
Lalu mengerti dengan jalan pikiran wanita ini bahwa dia telah dianggap gigolo olehnya sejak malam itu.
Namun kemudian dia tersenyum tipis ketika harus bermain peran dengannya.
"Lalu?"
Anne terdiam sesaat lalu kemudian menegaskan pilihannya, "aku mau kamu
memberiku ... satu milyar." ucapnya, ya ia
pikir ini sudah cukup untuk membayar ganti rugi, mulanya ia ingin meminta sepuluh milyar seperti yang dia sombong kan hanya saja ia tak mau memberatkannya, lagi pula ia juga tak begitu yakin dia memiliki tabungan sebanyak sepuluh milyar, seandainya ia meminta sepuluh milyar lalu tiba-tiba dia tidak memilikinya dan memilih untuk menyerahkan diri di polisi justru ia malah akan semakin rugi, karena tak jadi mendapat uang ganti rugi dan kasus ini kembali mencuat yang akan memperpanjang urusan.
Tidak apa, satu milyar menurutnya sangat banyak dan bisa ia gunakan untuk bertahan hidup selama beberapa tahun ke depan.
"Satu milyar sanggup kan? Penghasilanmu tiap malam pasti banyak," Anne menatapnya.
Pria itu menghisap rokoknya menjentikan
abunya lalu berdehem, "baiklah, tapi aku tak bisa membayar sekaligus." ucapnya.
Seketika Anne terhenyak, ternyata benar
dugaannya, untung saja ia tak jadi meminta sepuluh milyar padanya, baginya itu angka yang tak masuk akal untuk pria sepertinya.
"Jadi?"
"Aku akan mencicilnya setiap hari, bagaimana?" ucapnya sambil menatapnya dengan lirikan misterius.
Ya, ia fikir dengan ini ia bisa lebih sering bertemu dengannya, tanpa perlu khawatir Anne akan tahu identitas aslinya.
Anne bergeming sejenak kemudian mengangguk, "baiklah, aku setuju." ia pikir itu pun tak masalah, ia anggap sebagai tabungan. Dia mengulurkan telapak tangannya pada pria itu.
Dia mengangkat alisnya sambil menatap
gadis itu.
Di matanya di penuhi tanda tanya.
"Sebagai bentuk kerjasama kita malam
ini." kata Anne menjawab pertanyaan di wajah pria itu.
Pria itu pun manggut-manggut lalu membalas jabat tangan Anne.
"Deal!"
"Oke, deal!" Anne pun tersenyum puas.
Dia lalu duduk di sofa di sebelah pria itu.
"Jadi mulai kapan aku harus membayarnya?"
"Mulai malam ini." balas Anne menyilangkan kakinya bagaikan bos, karena mulai malam ini ia telah menyatakan dirinya sebagai bos dari karyawan yang ada di depannya ini.
"Tapi aku belum menerima orderan." Balasnya.
Anne menatap tubuh pria itu dari bawah
hingga atas, lalu tersadar penampilan pria itu tidak terlalu buruk bahkan dia memiliki tubuh tegap, dengan pesona yang kuat, seharusnya dia telah menerima pesanan bukan? Bahkan sialnya dia memiliki dada yang begitu menggoda, matanya telah teralihkan kesana, ketika otot-otot seksi
terpahat sempurna.
Ketika dia termenung tanpa ia sadari pria
itu sudah berdiri di belakangnya sambil mengembuskan nafasnya di telinga, "bagaimana jika kamu saja yang menjadi
pemesan pertamaku malam ini, aku akan
memberinya potongan harga 50%." Anne tercengang dia langsung memalingkan wajahnya dan berkata, "tidak usah bermimpi!"
"Kamu tidak bisa lagi memanfaatkan kepolosanku saat ini! Sebaiknya jangan
banyak bermain-main, dan bekerja lah dengan benar supaya hutangmu cepat lunas." sahut Anne.
"Kamu tidak keberatan aku di sewa wanita lain saat ini?" bisik nya lagi.
Degup jantung Anne berdebar-debar, entah mengapa yang tiap kali pria itu katakan seolah memberi hatinya nyawa.
Namun ia segera menggeleng, menepis semua pikiran di kepalanya.
Bagaimanapun juga ia tak boleh terlalu dekat dengannya meski dia adalah ayah
dari anaknya.
"Aku tidak peduli, itu sudah tanggung
jawab dan pekerjaanmu."
"Oh ya, berapa nomor ponselmu? Supaya
kamu tidak lari dari tanggug jawab." Anne lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada pria itu.
Anne memperhatikan ketika pria itu mengetikan nomornya.
Dan menerima lagi ponselnya setelah selesai.
Dia lalu mengirim pesan ke nomor pria itu, "aku sudah mengirim nomor rekeningku jadi kamu bisa langsung mengirim uangnya ke sana." ujar Anne.
Tidak lama ponsel pria itu pun bergetar
menandakan ada sebuah pesan.
Dan benar beberapa digit nomor rekening telah ia terima, wanita ini benar-benar mata duitan pikirnya.
Anne kembali gelisah, jika ia harus menunggu pria itu untuk mendapat orderan lalu bagaimana ia harus membayar pesanan makan malam itu?
"Apa kau tahu malam ini nasibku sangat sial."
"Hm?" Pria itu penasaran.
"Ya, aku baru saja di terima kerja di kantor.Tapi aku di palak oleh rekan kerjaku, dia memintaku untuk mentraktir mereka makan malam ini. Tentu saja aku tidak punya uang, apalagi dia sengaja memesan makanan berharga jutaan. Jika aku tidak membayarnya malam ini, dia mengancamku akan menyingkirkanku dari kantor." terangnya, dia mengutarakan kegelisahannya malam ini dengan jujur.
Pria itu menyimak dengan kedua alis yang hampir menyatu.
Mata hitamnya semakin pekat.
"Siapa dia?"
Anne menghela nafas, "aku memberi tahu namanya pun kamu tidak akan paham juga."
"Jadi apa kamu bisa membantuku malam
ini? Membayari tagihan makan itu hanya
sekitar sepuluh juta?" Anne berkata dengan wajah memelas.
"Baiklah," akhirnya apa yang Anne lakukan membuahkan hasil.
Pria itu lalu mengirim sejumlah uang ke nomor rekening Anne.
Tidak lama Anne pun menerima notifikasi penerimaan uang.
"Sudah masuk, terimakasih." Anne pun
segera pamit dan pergi dari sana.
Anne pun segera kembali ke ruangannya
tadi dan membayar sejumlah uang ke kasir, dia pun kembali ke meja makan dan berkata pada rekannya.
"Kamu dari mana Anne, makanlah makanan mu sudah hampir dingin." ucap Alista penuh perhatian.
Dia menatap kearahnya, sepertinya hanya wanita ini yang tulus berteman dengannya dari pada yang lain. Ah, ya terimakasih, aku hanya dari toilet saja." ujarnya.
Dia hendak mengambil minuman rasa buah di depannya, namun Imelda menyelanya, "kamu pasti memiliki uang untuk membayarnya kan?"
"Tidak usah khawatir tentu saja aku memiliki uang, dan aku sudah membayarnya." jawab Anne santai sambil meneguk minumannya.
Imelda tertegun, dia berpikir malam ini
bisa membuat Anne malu atau paling tidak menderita dengan mencuci ratusan tumpuk piring demi membayar tagihan ini, namun ternyata dia sungguh-sungguh memiliki uang untuk membayar semua ini.
Lalu dari mana dia mendapatkan uang itu? Bukankah tadi raut wajahnya penuh tekanan. Atau jangan-jangan dia memiliki sugar daddy? Imelda menatap nya penuh curiga.
"Kalau begitu terimakasih ya Anne, kamu
sudah mentraktir kami." ucap Alista.
Anne mengangguk dengan senyum, "ya,
sama-sama."
"Makasih juga ya Anne, kamu baik sekali."
yang lain menyahuti mengikuti ucapan Alista.
Anne kembali melanjutkan mengunyah makanan, sangat sayang sudah mengeluarkan banyak uang tapi tidak di nikmati, batinnya dalam hati.
Dalam hati ia hampir tak tenang memikirkan pria misterius itu. la mengunyah makanannya dengan gerakan buru-buru, lalu menyudahi nya dan pamit.
"Aku akan pulang dahulu, kalau begitu
permisi." ujarnya sambil menarik tasnya dan bangkit dari kursi duduknya.
Alista menahan, "pulang denganku saja, Anne."
"Tidak, tidak usah, aku akan pulang dengan taksi saja." balasnya, akhirnya ia keluar dari sana dan kembali melangkahkan kakinya ke tempat pria tadi duduk, namun dia tak menemukan siapapun di sana.
"'Sepertinya dia sudah menemukan pemesan." gumamnya.
Anne pun lalu berinisiatif untuk mengirimi pria itu pesan, dia mencari nomor yang tadi sudah di simpan olehnya, dia terus menggulir layar ponselnya dan terkejut menemukan nama kontak baru yang dia yakini miliknya, "idola tampan" Anne hampir
terbatuk membacanya.
Mengapa dia tak memberi nama aslinya justru malah memberi sebutan seperti ini.
Tapi tak apa, dia merasa cukup terhibur.
"pasti namanya jelek." batinnya.
"Selamat bekerja, semoga pemesanmu
hari ini banyak dan memberimu banyak uang supaya hutangmu padaku cepat lunas. Oh iya jangan lupa juga beri servis terbaik pada setiap pelangganmu supaya dia puas dan memesanmu lagi, aku akan pulang." dia lalu menekan tombol pesawat di layarnya seketika pesan itu pun terkirim.
Di lain tempat Viktor merogoh ponselnya dan membaca sebuah pesan yang tak ia sangka dari Anne.
Dia tersenyum tanpa orang lain sadari dua sudut bibirnya tertarik ke atas, pesan itu cukup absurd menurutnya, namun herannya ia tak bisa marah, tapi jika saja pesan ini di mirim dari Vin atau yang lain mungkin saja dia sudah habis di tempeleng olehnya.
"Dasar wanita bodoh dan mata duitan, tapi dia sangat cantik." gumam Viktor saat sudah berada di dalam mobil.
Anne terus menunggu-nunggu balasan
dari pria itu, namun ponselnya tak juga muncul tanda-tanda, "apakah dia marah?"
"Dasar gigolo baperan!" umpatnya, Anne pun segera meneleponnya takut jika pria itu keberatan dengan kesepakatan mereka tadi.
Baru saja mobil Viktor yang di kendarai Vin melaju, ponselnya berbunyi lagi, ketika melihat nama penelepon itu dia pun mengangkatnya.
Hingga membuat Vin yang duduk di kemudi heran karena pria itu terlihat tak sungkan mengangkat panggilan itu dari pada panggilan dari adik atau ayahnya.
"Halo!" sapa Viktor.
"Kenapa tidak membalas pesanku?"
"Aku sedang melayani pelanggan kau tahu? Jangan sampai pelangganku pergi karena aku sibuk mengangkat telepon mu." balasnya masuk ke dalam perannya.
"Oh ya? Bagus kalau begitu, maaf jika sudah mengganggu." kata Anne, tidak lama dia mendengar mobil Viktor mengerem mendadak hingga menimbulkan bunyi, Anne seketika saja membeliak.
"Bunyi apa itu?" tanya Anne dengan bodohnya, namun dia segera membungkam mulutnya karena sadar jika pria itu saat ini sedang melayani pelanggan.
"Menurutmu bunyi apa?" tanya Viktor menggoda.
Anne kikuk, bibirnya jadi kelu.
"Um... bunyi kamu sedang... membanting pelangganmu mungkin." ucap Anne asal.
Tanpa di sadari Viktor terkekeh pelan ini
pun membuat suasana mobil itu terasa
berbeda, sontak saja Vin menatapnya dengan heran.
Dia bisa tertawa? begitu pikir asisten nya.
"Tentu saja aku tidak membantingnya, jika itu aku lakukan bagaimana dengan hutangku padamu? Dia pasti tidak akan
membayarku." sahutnya.
Mood pria itu sedikit baik, selama ini hidupnya begitu serius dia selalu sibuk dengan bisnis dan pekerjaannya.
Tapi sekarang wanita bodoh ini memberi sedikit hiburan di hidupnya yang membosankan.
Anne terhenyak yang pria itu katakan
benar juga, ia pun merutuki pernyataan bodohnya tadi.
"Berapa ronde kamu melakukannya malam ini? Um, maksudku berapa pelanggan yang kamu layani supaya aku bisa mengira-ngira penghasilanmu." ucap Anne mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sepertinya sangat ahli tentang ini?
Sudah sering melakukannya?"Anne menggelengkan kepalanya saat ini dan berkata, "tidak, tidak! Aku hanya pernah
melakukannya sekali denganmu." ujarnya
namun kemudian ia merunduk malu setelah ini dan berdehem untuk mengalihkan apa yang dia ucapkan.
"Sudah, sudah, jika kamu masih bekerja
aku akan menutup panggilannya, aku tak mau mengganggumu terus."
"Baiklah, baiklah,"
"Tapi sebelum itu ku tunggu transferan darimu." Anne lebih dulu menagih tanggung jawab pria itu sebelum mengakhirinya.
"Apa yang akan di transfer, jika belum selesai kerja?" Viktor menyadarkan Anne.
"Ah iya benar juga." Anne fikir uang akan
di dapat setelah selesai melakukan pekerjaan.
"Yasudah, selesai kerja nanti ku transfer."
balas pria itu.
Anne pun sangat senang, hatinya kini
girang, dan yang ada di dalam kepalanya kini hanyalah tentang uang, uang, dan uang.
Uang untuk membeli makan anak-anaknya.
Tak menunggu balasan dari Anne, Viktor
langsung mematikan panggilan itu begitu saja.
Anne terhenyak dia langsung menarik ponselnya dari telinga dan memandang
masam karena pria itu menutup panggilannya secara sepihak.
"Dasar tidak punya sopan-santun bagaimana pun aku adalah bos mu saat ini tapi kau tidak menghargai bos sama sekali." gerutunya.
Sementara itu Vin memandang wajah bos nya dari spion dalam mobil, ekspresinya ada yang berbeda, raut di wajahnya terlihat lebih santai dari sebelumnya yang selalu kaku, ia jadi terheran apa yang membuat pria itu jadi seperti ini? Menang tender pun tak sesumringah ini, atau apakah dia baru saja jatuh cinta?