Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Belas
Setelah makan selesai, Azka dan Reatha akhirnya meninggalkan restoran. Beberapa kantong belanjaan masih berada di tangan mereka. Vania berjalan di samping Azka, sementara Reatha mengikuti dari belakang dengan langkah santai.
Begitu sampai di parkiran, Azka membuka bagasi mobil dan memasukkan beberapa barang belanjaan.
"Masuk," ucapnya kepada Reatha.
Reatha tidak banyak bicara. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
Vania masuk ke kursi depan. Azka kemudian duduk di balik kemudi dan menyalakan mesin.
Sepanjang perjalanan, Vania dan Azka beberapa kali berbicara. Sementara Reatha sibuk dengan ponselnya. Ia bahkan memasang headset dan kembali memainkan game yang tadi belum selesai.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah apartemen mewah. Azka mematikan mesin.
"Aku turun sebentar," ucap Azka.
Reatha mengangkat wajah dari ponselnya. "Mau ke mana?" tanyanya.
"Mengantar Vania," jawab Azka.
Reatha mengangguk kecil. Azka kemudian turun dan mengambil seluruh kantong belanjaan milik Vania.
"Kau tunggu di mobil saja," katanya kepada Reatha. "Aku mau antar Vania sampai apartemennya."
Reatha hanya mengangguk dan menjawab singkat, "Baik."
Tanpa menunggu jawaban lain, Azka berjalan bersama Vania menuju lobi apartemen. Reatha kembali menunduk menatap ponselnya. Ia sama sekali tidak peduli. Baginya, selama pria itu tidak mengganggu dirinya, Azka bebas melakukan apa saja.
Sementara itu, di dalam apartemen, Vania tersenyum puas melihat Azka membawakan semua barang belanjaannya.
"Terima kasih sudah mengantarkanku, Sayang," ucap Vania.
Azka meletakkan kantong-kantong itu di atas sofa. "Aku memang harus mengantarmu."
Vania mendekat. Wajahnya berubah sedikit serius.
"Azka," panggil Vania.
"Ya, ada apa?" tanya Azka.
"Kamu jangan lupa mengancam Raisa," jawab Vania.
Azka mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Aku takut dia mengatakan semuanya kepada Mama dan Papamu," balas Vania.
Azka menghela napas. "Jangan takut. Dia tidak akan berani."
Vania masih terlihat ragu. "Tapi dia tadi cukup berani membantahku."
"Itu karena dia merasa benar," ujar Azka.
"Kalau begitu, kamu harus memastikan dia diam."
Azka mengangguk pelan dan menjawab, "Aku tahu." Ia melirik jam tangannya. "Aku tidak bisa lama-lama di sini. Nanti orang tuaku curiga."
Vania mengangguk. "Baiklah," ucapnya.
Azka kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. "Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya."
Setelah berpamitan, Azka meninggalkan apartemen. Ia kembali menuju mobil. Begitu pintu mobil terbuka, Azka melihat Reatha masih sibuk memainkan ponselnya.
"Raisa," panggil Azka.
"Ya," jawab Reatha.
"Kau duduk di depan."
Reatha mengangkat wajah. "Kenapa?" tanyanya. Tadi ia diminta duduk dibelakang, kenapa sekarang minta didepan.
"Aku bukan sopirmu. Duduklah di depan," ucap Azka selanjutnya.
Reatha memandang Azka beberapa detik. Ia sebenarnya malas berpindah. Namun, akhirnya ia menghela napas, membuka pintu belakang, lalu pindah ke kursi depan tanpa mengatakan apa-apa.
Azka masuk dan kembali menyalakan mesin. Mobil melaju meninggalkan apartemen. Beberapa menit mereka hanya diam. Sampai akhirnya Azka membuka suara.
"Jangan sampai Mama dan Papa tahu kalau Vania ikut," ucap Azka, dengan nada sedikit mengancam.
Reatha menoleh. "Kalau Mama bertanya bagaimana?"
Azka melirik sekilas. "Kau kan bisa bilang kita pergi berdua saja."
Reatha langsung menggeleng. "Aku tidak mau berbohong pada orang tua."
Azka mengeram kesal. "Kenapa?" tanyanya.
"Takut kualat," jawab Reatha santai.
Azka hampir saja menginjak rem karena kesal. "Hanya karena itu tidak akan membuatmu mati," ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
Reatha mengangkat bahu. "Aku tidak janji."
"Apa maksudmu?" tanya Azka mulai terbawa emosi.
"Kalau Mama mendesakku, aku bisa apa?"
Azka terdiam. Perkataan Reatha memang masuk akal. Mamanya bukan orang yang mudah dibohongi. Apalagi kalau sudah bertanya, ia akan terus mengejar sampai mendapatkan jawaban.
Azka menghela napas panjang. "Baiklah."
Reatha kembali memainkan ponselnya.
"Aku akan memberikanmu uang saku untuk liburan nanti," ucap Azka.
Jari Reatha berhenti bergerak. "Berapa?" tanyanya.
"Seratus juta," jawab Azka.
Reatha langsung menoleh. "Seratus juta?"
Azka justru salah mengartikan ekspresi terkejut itu. Ia mengira Reatha merasa jumlah tersebut masih kurang.
"Kalau begitu dua ratus juta," tawaran Azka selanjutnya.
Mata Reatha membesar. "Dua ratus juta?"
Azka mengangguk, dan menjawab, "Iya."
Reatha tidak lagi membantah. Ia langsung mengangguk. "Baik."
Azka meliriknya. Ternyata semudah itu. Ia tidak tahu kalau di dalam kepala Reatha saat ini sudah muncul berbagai rencana.
Dua ratus juta. Lumayan. Bisa aku tabung untuk masa depanku nanti.
Reatha menahan senyum. Pernikahan ini memang hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah itu ia akan pergi.
Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupannya nanti. Jadi, kalau sekarang ia bisa mendapatkan uang sebanyak mungkin tanpa meminta lebih dari yang sudah dijanjikan, kenapa harus menolak?
Azka kembali fokus menyetir. Ia sama sekali tidak menyadari kalau istrinya sedang menghitung-hitung jumlah uang yang bisa ia simpan untuk masa depannya.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah orang tua Azka. Reatha langsung menyimpan ponselnya.
Lampu ruang keluarga masih menyala. Ketika mereka masuk, Mama dan Papa Azka ternyata masih berada di ruang keluarga.
Mama yang sedang menonton televisi langsung menoleh. "Kalian sudah pulang?" tanya wanita itu.
"Iya, Ma," jawab Azka.
Papa ikut berdiri. "Ayo, makan malam. Papa dari tadi menunggu," ajaknya.
Reatha tersenyum. "Baik, Pa."
Mama berjalan mendekati mereka. "Wah, banyak sekali belanjaannya."
Reatha hanya tersenyum. Mama kemudian melirik Azka.
"Bagaimana belanjanya?" tanya Mama selanjutnya.
Azka diam. Mama menyipitkan mata.
"Azka pelit, ya?" tanya mama.
Pertanyaan itu membuat Azka langsung menoleh kepada Reatha. Tatapannya tajam. Seolah memberi peringatan agar perempuan itu tidak mengatakan sesuatu yang aneh.
Reatha menangkap tatapan tersebut. Namun, bukannya takut, ia justru tersenyum kecil.
"Nggak, Ma," jawab Reatha.
Mama terlihat lega. "Benarkah?" tanyanya lagi.
Reatha mengangguk. "Apapun yang aku mau, Azka membelinya."
Azka sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Reatha akan menjawab seperti itu.
Mama tersenyum lebar. "Nah, begitu dong."
Papa ikut tertawa kecil. "Baguslah. Kamu sekarang istrinya. Apapun yang kamu mau, bisa minta sama Azka."
Reatha menoleh kepada Azka. Pria itu hanya diam dengan wajah datar.
Reatha tersenyum kecil dan menjawab, "Iya, Pa."
Mama kemudian menggandeng tangan Reatha. "Sudah, jangan berdiri saja. Ayo makan. Mama sudah menyiapkan banyak makanan."
Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan. Azka mengikuti dari belakang. Sesaat sebelum duduk, tatapannya kembali bertemu dengan mata Reatha.
Ada kekhawatiran yang jelas di sana. Reatha hanya tersenyum tipis. Tenang saja, rahasia mereka masih aman.
Setidaknya untuk malam ini. Mereka kemudian duduk bersama di meja makan. Makan malam keluarga itu pun dimulai.
...nikahin tuh si Vania lepasin Raisa /Reatha