Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Rahasia dan Siasat Kontra-Segel
Kuda-kuda sihir milik Tim Vanguard melesat cepat menembus kegelapan malam, membelah angin dingin yang bertiup dari arah pegunungan barat. Langkah-langkah kaki kuda yang dilapisi aura cahaya menapak tanah tanpa menimbulkan suara bising, meninggalkan jejak pendar keemasan yang perlahan memudar di belakang mereka.
Tepat saat lonceng besar Akademi Sihir Grandoria berdenting tiga kali menandakan tengah malam, kelima anggota tim tiba di gerbang utama. Penjaga gerbang yang mengenali lambang perak di jubah Monica segera membukakan palang besi tanpa bertanya. Reno melompat turun lebih dulu seraya menurunkan tubuh penyihir Ordo Umbra yang terkulai lemas di pundaknya untuk diserahkan kepada tim medis khusus akademi.
Tanpa membuang waktu untuk membersihkan debu pertempuran di jubah mereka, Monica melangkah cepat memimpin tim menuju Menara Utama. Kuncir kuda rambut hitamnya berayun seirama dengan langkah kakinya yang mantap. Di tangannya, tongkat safir yang kini diperkuat batu Soul Aegis terus memancarkan pendar emas sejuk, memberi kehangatan di tengah hawa malam yang menusuk.
Di dalam ruang kerja Kepala Sekolah Alaric, suasana mendadak tegang saat Kazuma membentangkan gulungan perkamen sihir di atas meja kayu ek yang raksasa. Tinta mana yang menyalin garis-garis Formasi Segel Pentagram bercahaya merah redup di atas kertas, menampilkan pola jaringan rumit yang menghubungkan lima titik vital di sekitar ibu kota.
Kepala Sekolah Alaric menunduk, merapatkan kedua tangannya di depan wajah seraya memindai pola peta tersebut dengan tatapan yang kian dalam dan berat. Di sampingnya, beberapa profesor senior akademi saling berbisik dengan raut cemas.
"Luar biasa..." gumam Alaric pelan, suaranya bergema halus di ruangan berdinding buku itu. "Mereka tidak hanya memanfaatkan tanah Lembah Kelam, tetapi menyusupkan urat sihir hitam langsung ke dalam Mana Vein alami kerajaan. Jika kelima simpul ini aktif bersamaan saat gerhana bulan merah, perlindungan sihir ibu kota tidak hanya jebol—seluruh energi kehidupan di dalam wilayah ini akan terserap untuk menghidupkan kembali Naga Miasma secara sempurna."
"Tapi kita sudah mematahkan simpul di Distrik Barat, Kepala Sekolah," potong Elena seraya melangkah maju. "Formasi mereka tidak lagi utuh."
Alaric mengangkat pandangannya, menatap Elena lalu beralih ke Monica. "Kau benar, Elena. Keberhasilan kalian di Distrik Barat adalah pukulan telak bagi mereka. Cacat pada simpul barat akan memperlambat akumulasi energi Ordo Umbra. Namun..." Alaric menunjuk titik pusat pada peta—titik yang berada tepat di bawah tanah Akademi Grandoria. "...simpul utama tetap berada di sini, di bawah kaki kita sendiri."
Kazuma membetulkan posisi kacamatanya. "Artinya, wanita bertopeng perak itu pasti akan datang sendiri ke akademi ini untuk mengaktifkan simpul pusat dan memperbaiki simpul barat yang rusak?"
"Tepat sekali," jawab Alaric. "Dia tidak punya pilihan lain. Tanpa simpul pusat di bawah akademi, ritualnya akan gagal total."
Monica maju satu langkah, menatap Alaric dengan mata birunya yang tajam dan tak tergoyahkan. "Kalau begitu, kita tidak boleh hanya menunggu mereka menyerang. Kita harus menyiapkan Siasat Kontra-Segel."
"Siasat Kontra-Segel?" ulang salah satu profesor senior dengan nada terkejut. "Maksudmu membalikkan aliran sihir ritual mereka?"...
"Benar," tegas Monica. Tangannya menyentuh permukaan peta, tepat di titik pusat bawah akademi. "Kita pergunakan simpul barat yang hancur sebagai celah.
Kita akan menyalurkan sihir Celestial Sanctum dan Resonansi Mana milik Tim Vanguard langsung ke dalam jaringan sihir mereka untuk mengunci portal secara permanen dari dalam!"
Ruangan itu mendadak hening. Para profesor senior saling memandang dengan mata membelalak.
Rencana Monica sangat berisiko—jika perhitungan timing mereka meleset satu detik saja saat gerhana terjadi, gelombang sihir hitam akan membalik dan merusak sirkulasi mana mereka sendiri.
Namun, Alaric perlahan menganggukkan kepalanya. Senyum tipis rasa bangga terkulum di bibir tua sang kepala sekolah.
"Rencana yang berani dan sangat presisi," kata Alaric. "Tapi untuk mengeksekusi Kontra-Segel itu, kalian berlima harus mampu mempertahankan posisi di bawah tekanan ribuan pasukan bayangan dan amukan naga hitam yang mungkin sebagian kekuatannya sudah pulih."
"Kami tidak takut," sahut Reno seraya menghantamkan kepalan tangannya ke dada armor besinya yang tegap. "Armor dan perisai kami sudah ditempa di Menara Bayangan. Kami siap jadi benteng terdepan!"
"Sihir perlawanan dan pembacaan alurnya serahkan padaku dan Elena," tambah Kazuma mantap.
"Aku akan memastikan tidak ada musuh yang menyusup di belakang garis pertahanan kita," janji Danis seraya meremas gagang belatinya.
Alaric berdiri tegak, menyapu pandangan ke arah lima anak muda di hadapannya.
"Baiklah. Kalian punya waktu dua minggu tersisa sebelum gerhana bulan merah tiba. Selama dua minggu ini, aku sendiri yang akan melatih kalian untuk menyelaraskan mantra Kontra-Segel ini dengan energi bawah tanah akademi. Jangan sia-siakan satu detik pun!"
"Siap, Kepala Sekolah!" seru Tim Vanguard secara serempak!.
Di luar menara, bulan separuh menggantung anggun di langit malam. Angin dingin musim gugur berembus mengibarkan jubah biru mereka. Waktu terus berjalan menuju hari penentuan, dan Tim Vanguard kini tidak hanya bersiap untuk bertahan, tetapi juga untuk menghancurkan ambisi Ordo Umbra untuk selamanya.