Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Uap panas dari cangkir porselen Earl Grey membubung tipis di udara Ruang Teh Kerajaan, membiaskan pendar redup dari lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit berukir.
Di balik dinding kayu jati tua dan tirai sutra yang tebal, keheningan di dalam ruangan itu bukanlah keheningan yang menenangkan, melainkan ketenangan berbahaya sebelum badai meletus.
Baxeena berdiri di ambang pintu ganda berpelitur emas. Langkah kakinya yang mantap dan tegas berdering pelan di atas lantai marmer, memecah ketenangan semu yang dibangun oleh dua penguasa tertinggi dinasti ini.
Di sudut meja kayu mahoni yang megah, Raja George—ayah mertuanya—duduk menatap beberapa berkas diplomatik dengan kacamata berbingkai perak, sementara Ratu Lizzeebeeth duduk menyesap tehnya dengan keanggunan kaku yang biasa ia pamerkan kepada media dunia.
Raja George mendongak, merapikan kemeja berenda di pergelangan tangannya. Dengan tatapan dingin dan intonasi khas bangsawan berdarah murni, beliau memecah keheningan.
"Kau tidak mengetuk pintu, Baxeena. Di istana ini, kesopanan adalah batas terkecil dari sebuah rasa hormat," ujar Raja George datar, suaranya tenang namun sarat akan celaan yang terselubung.
Baxeena menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan keberanian murni, sama sekali tak terintimidasi oleh gelar atau mahkota yang melekat pada pria tua di hadapannya.
"Saya melompati kesopanan kecil itu, Yang Mulia, karena ada norma yang jauh lebih besar yang sedang dihancurkan di balik dinding ini," sahut Baxeena dengan nada suara yang terkontrol, mengalun begitu mahal dan tenang, namun tiap katanya menusuk bagai sembilu. "Aturan hukum kuno... jebakan politik... dan konspirasi murah untuk menyingkirkan saya saat suami saya bertaruh nyawa di garis depan."
Raja George menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi berukir lambang dinasti. Beliau menatap Baxeena dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang amat kentara.
"Kau bicara seolah kau memahami hukum dinasti kami, Wanita Muda," sindir Raja George halus namun kejam. "Sejak awal, kau masuk ke istana ini tanpa tahu-menahu soal aturan dasar bangsawan. Kau begitu naif hingga tidak menyadari bahwa penugasan Alistair ke daerah konflik adalah ujian kelayakan. Dan jika dia gagal atau pulang dalam peti mati, secara hukum Kerajaan, gelarmu sebagai istri dan anggota Istana akan dicabut secara otomatis. Kau dipulangkan ke tempat asalmu. Itu bukan konspirasi, Baxeena. Itu adalah takdir hukum yang tidak mampu dibeli oleh uang keluargamu di Los Angeles."
Deg.
Kata-kata Raja George menghantam dada Baxeena bagai godam besar. Kenyataan yang baru saja terkonfirmasi itu membuat darahnya mendidih.
Baxeena memang tidak pernah mempelajari detail hukum kuno bangsawan yang rumit itu, dan ia baru menyadari betapa kejamnya posisi yang dipikul Alistair selama ini. Suaminya bertaruh nyawa hanya untuk mempertahankan statusnya sebagai istri.
Namun, alih-alih menyerah atau menangis ketakutan, mata indah Baxeena justru berkilat tajam. Topeng kesopanan bangsawan yang sejak tadi dipaksakan-nya perlahan retak, menggantikan aura liar dan garang khas gadis Los Angeles yang tak pernah gentar menantang bahaya.
"Aturan hukum kuno?" ulang Baxeena dengan senyum sinis yang amat tajam. Baxeena melangkah mendekat ke meja, menopangkan kedua telapak tangannya di atas kayu mahoni yang dingin, menatap lurus ke dalam mata sang Raja dan Ratu.
"Anda boleh memperlakukan saya seperti ini! Anda boleh menginjak-injak saya dan menganggap saya wanita asing dari luar benteng kaku ini!" desis Baxeena, suaranya rendah namun bergetar hebat oleh amarah yang meluap. "Tapi jangan pernah... jangan pernah Anda berani menyentuh atau mengorbankan putriku dan suamiku demi permainan politik kotor kalian!"
Nada bicaranya yang menajam dan terlepas dari etika istana membuat Raja George mengerutkan kening dengan raut wajah jijik.
Ratu Lizzeebeeth akhirnya meletakkan cangkir porselennya ke atas piring kecil dengan denting nyaring. Sang Ratu berdiri perlahan, menatap Baxeena dengan sorot mata penuh kebencian yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyuman diplomatik.
"Lihat dirimu..." desis Ratu Lizzeebeeth dengan nada sinis yang amat kental. "Karakter aslimu akhirnya keluar juga. Gadis Kaya dari Los Angeles yang biasa berteriak di Klub Malam sedang mengumpat di dalam ruang teh kerajaan."
Ratu Lizzeebeeth memajukan tubuhnya, menatap Baxeena dengan mata membelalak penuh bisa. "Gara-gara kau... gara-gara kau datang dari Los Angeles dan menempuh pendidikan di tempat yang sama dengan putraku, aku membencimu sejak lama, Baxeena! Sejak Alistair mengenalmu, putraku tidak pernah lagi fokus pada pembelajarannya soal istana!"
Sang Ratu menghentakkan jemarinya di atas meja, meluapkan seluruh kekesalan yang dipendamnya belasan tahun.
"Kau hanya memperburuk pikirannya! Kau membuat pikiran Alistair menjadi liar seperti pikiran liarmu—hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, tidak fokus belajar, tidak fokus pada tugas-tugas kerajaannya! Dia sepanjang hari hanya sibuk dengan ponselnya menunggu kabarmu! Dia tidak pernah antusias lagi jika aku membahas masa depannya sebagai calon Raja!" bentak Ratu Lizzeebeeth dengan napas terengah-engah.
"Bagaimana aku bisa menerima mu, Baxeena Valerio Desmon?! Katakan padaku!"
Baxeena berdiri tegak, membalas tatapan sang Ratu tanpa berkedip sedikit pun. Sebuah tawa kecil yang dingin dan penuh kemenangan lolos dari bibirnya.
"Aku justru bersyukur!" sahut Baxeena gamblang, suaranya menggelegar di dalam ruangan. "Aku malah bersyukur bisa mengenal Alistair, membawanya keluar dari sangkar membosankan ini, dan menjadikannya liar! Syukurlah suamiku tidak bunuh diri sejak muda gara-gara memiliki ibu seperti Anda! Pantas saja Alistair selalu merasa nyaman dan menemukan jiwanya saat bersamaku... karena di sisiku, dia diperlakukan sebagai manusia, bukan boneka pajangan Kerajaan!"
"BAXEENA!" bentak Raja George keras, menggebrak meja hingga cangkir teh bergoyang.
Namun Ratu Lizzeebeeth menyela dengan lambaian tangan gemetar. Wajah tua Ratu kini benar-benar memerah oleh amarah. Dengan bahasa yang liar—menanggalkan seluruh martabat kebangsawanannya demi meremukkan mental menantunya—sang Ratu menyindir dengan kejam.
"Manusia?" kekeh Ratu Lizzeebeeth sinis, tatapannya menyapu tubuh Baxeena dengan penghinaan murni. "Entah berapa kali kau mengaborsi anak Alistair selama kalian berpacaran dulu! Aku yakin rahimmu pasti sudah rusak dan kau mandul sekarang karena terlalu sering menggugurkan bayimu! Alistair putraku yang bodoh itu... dia telah membuang benihnya yang berharga pada wanita yang tak bisa lagi memberinya keturunan!"
Deg.
Hawa dingin yang membekukan seketika menyelimuti dada Baxeena. Kata-kata vulgar dan tuduhan keji itu merobek pertahanannya.
"TUTUP MULUTMU, IBU!" teriak Baxeena lantang, suaranya menggelegar menembus setiap sudut ruangan, memotong ucapan sang Ratu tanpa rasa takut sedikit pun.
Baxeena maju satu langkah, dadanya naik turun memburu oleh amarah yang membakar. Matanya berkilat penuh dendam yang tajam.
"Aku tidak mandul dan aku tidak pernah menggugurkan bayi kami!" tegas Baxeena dengan suara bergetar namun amat keras. "Aku tidak pernah menyangka... wanita yang dipuja dunia karena ketulusannya ternyata sebusuk dan sekotor ini di dalam jiwanya!"
Baxeena menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat dingin saat melihat raut wajah Ratu Lizzeebeeth mendadak berubah kaku.
"Kau pikir aku tidak tahu siasat kotormu?" desis Baxeena, menunjuk wajah sang Ratu dengan ketegasan mutlak.
"Kau memerintahkan pelayan kepercayaan mu untuk memasukkan racun penunda kehamilan ke dalam makananku setiap hari agar aku tidak bisa memberi Alistair keturunan! Tapi kau gagal, Lizzeebeeth! Pelayanmu sudah berkhianat dan berpihak padaku! Seluruh obat menjijikkan mu sudah kubuang ke saluran pembuangan!"
Baxeena mengusap perutnya dengan lembut, menatap sang Ratu dan Raja dengan tatapan paling berkuasa yang pernah mereka lihat.
"Dan dengarkan ini baik-baik..." bisik Baxeena, suaranya mengalun dingin bagai keputusan eksekusi. "Di dalam rahim yang kau sebut rusak ini... benih Alistair sedang tumbuh. Aku sedang mengandung pewaris sah suamiku. Dan tidak ada satu pun permainan kotor atau hukum kuno kalian yang sanggup mencabut saya dari sisi Alistair!"
untung lawan nya xeena 😝
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭