Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Mobil Dimas berhenti di simpang dekat rumah. Tira turun di sana, kemudian mobil itu pergi. Putrinya berjalan sendirian dari simpang menuju rumah. Ayah Tira yang sedang berada di depan rumah hanya bisa memandang dari kejauhan. Ia tidak memanggil. Ia ingin tahu apakah kejadian itu hanya sekali. Ternyata tidak. Putrinya begitu berkali-kali. Entah apa masalah anak muda itu hingga menjemput dan memulangkan Tira di jalan, padahal sebagai ayah, ayahnya Tira merasa bukanlah golongan ayah-ayah galak.
Beberapa tetangga juga pernah melihat hal yang sama. Ada yang bahkan sempat bertanya kepadanya, “Itu Tira sering turun di simpang, ya, Pak?”
Setiap kali mendengar cerita seperti itu, ayahnya hanya tersenyum tipis. Tetapi di dalam hati, ada rasa sedih yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Bukan karena Tira berpacaran. Bukan karena lelaki itu belum menikahi putrinya. Yang membuatnya sakit adalah cara Dimas memperlakukan Tira. “Kenapa harus begitu?” gumamnya suatu malam setelah melihat putrinya masuk rumah. “Anakku bukan barang yang bisa diambil, lalu diturunkan di tengah jalan.”
Ia tahu mungkin Dimas punya alasan. Mungkin rumah mereka jauh. Mungkin lelaki itu malu bertemu orang tua Tira. Mungkin ada hal lain yang tidak ia ketahui. Tetapi bagi seorang ayah, alasan tetaplah alasan. Yang terlihat adalah putrinya berjalan sendirian pulang dari simpang.
Padahal Tira adalah anak yang sejak kecil ia jaga. Kalau pergi, ia selalu ingin tahu dengan siapa. Kalau pulang malam, ia menunggu sampai suara pintu terdengar. Ketika Tira sakit, ia orang pertama yang gelisah.
Lalu sekarang ada seorang lelaki yang mengaku mencintainya selama bertahun-tahun, tetapi bahkan untuk mengantarnya sampai depan rumah pun tidak berani. Lebih menyakitkan lagi, sampai hari ini Dimas belum pernah datang menemui ayahnya. Delapan tahun. Bukan delapan hari. Bukan delapan bulan. Delapan tahun.
Ayah Tira pernah beberapa kali bertanya kepada putrinya, tetapi Tira selalu membela Dimas. “Dia baik, Yah.”
“Dia kerja.”
“Dia memang belum siap.”
“Nanti kalau sudah waktunya, dia datang.”
Ayah hanya mengangguk setiap kali mendengar itu. Ia tidak ingin menjadi ayah yang memaksa. Ia tahu hati anaknya. Kalau terlalu keras, Tira mungkin justru merasa orang tuanya tidak memahami dirinya. Maka ia memilih menunggu sampai suatu hari ayahnya bertemu Fahri dan merasa laki-laki inilah yang cocok jadi pendamping putrinya, makanya ia menawarkan perjodohan itu pada Tira, ia tak memaksa hanya mengajukan hingga Tira sendiri datang dan berkata bahwa ia menerima lamaran Fahri.
Malam itu, setelah percakapan mereka di teras, Tira masih memegang kunci rumah yang diberikan Fahri. Ia menatap benda kecil itu cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Yah...” Ayahnya menoleh.
“Iya?”
“Tira tahu Ayah selama ini sedih.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. “Tentang Dimas?”
Tira mengangguk. “Tira tahu Ayah pernah lihat Tira turun di simpang.” Ayah terdiam. “Tira juga tahu tetangga banyak yang cerita.” Tira tersenyum pahit. “Tira tahu, Yah.” Ia menundukkan kepala. “Maaf.”
Ayahnya menghela napas. “Untuk apa minta maaf?”
“Karena Tira membuat Ayah sedih. Tira terlalu bodoh.”
“Jangan bilang begitu.”
“Tapi memang begitu. Tira sebelumnya terlalu kecintaan pada Dimas.” Suara Tira bergetar. “Selama ini Tira selalu membela Dimas. Tira pikir dia cuma belum siap. Tira pikir nanti dia akan datang. Tira pikir kalau Tira sabar, semuanya akan berubah.” Ia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Ternyata Tira sendiri yang terlalu lama menunggu.”
Ayahnya bergeser mendekat. “Ayah tidak pernah menganggap kamu bodoh.”
“Tapi Tira membuat Ayah melihat anak Ayah diperlakukan seperti itu.” Air mata mulai mengalir. “Ayah pasti malu.”
“Tidak.” Jawaban itu tegas. “Ayah tidak malu punya anak seperti kamu.” Tira mengusap pipinya. “Ayah cuma sedih. Sedih karena kamu mencintai seseorang yang bahkan tidak berani datang menemui Ayah.” Ia berhenti sejenak. “Tapi Ayah lebih sedih karena kamu sampai merasa harus menerima perlakuan seperti itu hanya karena kamu mencintainya.”
Tira menangis tanpa suara.
“Kamu itu berharga, Nak.” Ayahnya menatapnya lama. “Kamu bukan barang yang bisa diambil, lalu diturunkan di tengah jalan. Kamu anak Ayah.”
Tira menutup wajahnya. “Maaf, Yah.”
“Sudah.” Ayahnya mengusap bahunya. “Jangan menangis terus.”
“Tira nggak akan menyesal.” Ia mengangkat wajah. “Tira sungguh-sungguh menerima Fahri. Tira tahu sekarang Tira belum mencintainya seperti Tira mencintai Dimas. Tapi Tira nggak akan menjadikan Fahri pelarian. Tira akan belajar menjadi istri yang baik untuk dia. Dan Tira nggak akan menyesal, Yah. Apa pun yang terjadi nanti, Tira tidak akan menyalahkan Ayah karena sudah menjodohkan Tira dengan Fahri. Karena untuk pertama kalinya Tira ingin memilih lelaki yang memilih Tira lebih dulu.”
Ayahnya tersenyum tipis. “Kalau begitu, jalani baik-baik. Ayah berdoa semoga kalian berdua bahagia, menjadi suami istri yang saling menyayangi."
Tira mengangguk. Setelah itu ia memeluk ayahnya. Lama. Seperti anak kecil yang sedang mencari tempat paling aman untuk menangis. Ayahnya membalas pelukan itu sambil mengusap rambutnya. Dalam hati, ia masih menyimpan satu doa. Semoga Fahri benar-benar menjadi lelaki yang selama ini ia harapkan untuk putrinya. Bukan lelaki sempurna. Ia hanya ingin seorang lelaki yang ketika membawa Tira pergi, tidak akan membuat putrinya merasa perlu pulang sendirian.
***
Usai berbicara dengan ayah, Tira masuk ke kamar dan menutup pintu pelan. Ia tidak langsung berganti pakaian. Tas diletakkan begitu saja di atas kursi, sementara dirinya duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong.
Kunci rumah pemberian Fahri masih ada di tangannya. Tira membolak-balik benda kecil itu, lalu tersenyum tipis. Rumah. Suatu tempat yang bahkan tidak pernah benar-benar ia punya dalam hubungan selama delapan tahun dengan Dimas.
Tiba-tiba pikirannya berkelana ke masa lalu. Delapan tahun. Tira menghitung dalam hati. Delapan tahun sejak Dimas pertama kali mengejarnya di kampus. Delapan tahun sejak ia menerima laki-laki itu sebagai kekasih. Delapan tahun berisi jalan-jalan, pertengkaran, ulang tahun, makan berdua, saling menunggu, saling meminta maaf, dan entah berapa banyak janji tentang masa depan.
Dulu ia merasa delapan tahun adalah bukti bahwa Dimas serius. Bukankah orang yang bertahan selama itu pasti mencintai? Bukankah hubungan selama itu tinggal menunggu waktu untuk dibawa ke pernikahan? Ternyata tidak sesederhana itu. Tira merebahkan tubuhnya, lalu menatap langit-langit kamar. “Kalau dia memang cinta...” gumamnya.
Kalimat itu berhenti di sana. Kalau memang cinta, kenapa sampai sekarang Dimas tidak berani menemui Ayah?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama ada. Hanya saja Tira selalu punya alasan untuk menutupinya. Dimas sibuk. Dimas belum siap. Dimas ingin menyiapkan semuanya dulu. Dimas tidak nyaman bertemu orang tua sebelum memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Tira selalu percaya. Ia bahkan membantu mencari alasan ketika ayahnya bertanya. Padahal semakin dipikirkan sekarang, semakin terasa aneh. Usianya sudah dua puluh enam. Dimas juga dua puluh enam. Mereka sudah sama-sama lulus. Sudah bekerja. Penghasilan cukup. Tidak ada masalah besar yang menghalangi mereka untuk menikah.