Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN SEBELAS

Meninggalkan kediaman Allisya, Langit memacu sepeda motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Dirinya merasa senang bisa memiliki adik kelas seperti Allisya yang bisa dia anggap sebagai adiknya sendiri. Langit suga merasa betapa beruntungnya Allisya yang masih memiliki keluarga lengkap dan dapat berkumpul bersama seperti disaat makan atau liburan. "Enak ya jadi Allisya, selalu ada waktu buat bareng keluarga, nggak kayak gue yang selalu sendirian" ujar Langit dalam batinnya.

Masih di atas sepeda motornya, Langit tersenyum dibalik helm yang dikenakannya. Diorinya merasa senang pengalamannya hari ini bisa dia tulis di dalam novelnya, termasuk tentang Rindu yang keceriaannya hilang karena sedang berduka karena ibunya kecelakaan. Langit masih memngingat jelas ketika tangan Rindu memeluk tubuhnya dan kepalanya menempel di pundak saat berada diatas sepeda motor,  uga saat seorang penumpang sepeda motor lain menyebut Rindu adalah pacarnya.

Setelah beberapa puluh menit, gerbang perumahan tempat kediaman Langit terlihat. Sebelum masuk ke komplek perumahan, Langit menyempatkan diri mampir ke warung di pinggir jalan untuk membeli kopi kemasan favoritnya yang biasa dia seduh dan menemaninya dalam menulis.

Di halaman rumahnya, Langit masuk kedalam gerbang rumah mengendarai sepeda motornya. Langit langsung masuk kedalam rumah dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian telah beraktifitas. Selang beberapa waktu, Langit keluar dari kamar mandi dan berjalan ke dalam kamar mengambil laptop dari lemarinya. Langitpun beranjak meninggalkan kamar menuju ruang tamu, duduk di kursi ruang tamu dan menyalakan laptop miliknya. Dengan ditemani secangkir kopi hangat di samping laptopnya, dia melanjutkan penulisan novel karyanya.

"Hari – hari dalam kehidupan gue disekolah ini semakin terasa di jiwa. Hari ini semakin akrab gue rasa dengan adik kelas gue . Iya dia itu cewek yang tanpa sengaja gue kenal pas ketemu dijalan saat dia mau digoda oleh beberapa siswa sekolah lain. Hehehe walau awalnya gue sok kenal sok anggep dia ade kandung gue pas kenalan, tapi taktik itu berhasil, yang ngegodain dia langsung pergi.

Ada yang berbeda dihari ini, DIA yang biasanya ceria dengan rutinitasnya terutamayang selalu bikin gue kesel, hari ini hilang sudah. DIA Cuma bisa gue liat sedih di sudut sekolah bersama temannya. Walau dari jauh, jelas terlihat di mata gue kesedihan dalam diri DIA. Gue berusaha mencari tahu ada apa gerangan? Mengapa DIA menghilangkan senyum ceria nya? Gue cari tahu, hingga gue terkejut setelah gue tahu apa alasan DIA menghapus keceriaannya.

DIA bisa begitu karena Ibunya kecelakaan dan sedang terbaring koma dirumah sakit. Luar biasa DIA demi janjinya ke sekolah DIA bisa mampu meninggalkan ibunya tidak menemaninya , walau gue yakin itu sangat berat. Akhirnya Allisya meyakinkan gue buat mengantar DIA ke RS karena kaki dia yang terkilir dan tak ada yang mau mengantarnya. Awal nya sih menolak dengan seribu alasan, tapi gue yakinin bahwa itu demi ibunya bukan demi DIA. DIA pun akhirnya mengiyakan walau kayaknya dengan rasa terpaksa. Setelah mengantarkan DIA ke rumah sakit , gue langsung balik ke sekolah jemput Allisya buat ngelanjutin niat gue ziarah kemakam adik dan nyokap gue......."

Di tengah waktu ya menulis, sesekali Langit meminum secangkir kopi hangat yang ada disebelah laptopnya. Hingga beberapa saat pintu rumah pun terbuka, ternyata Inspektur Nugroho baru saja pulang dari rutinitasnya bekerja, masih mengenakan jaket kulit hitam ciri khas pakaian seorang reserse kepolisian. Langit yang melihat kedatangan ayahnya pun segera bangun dari tempat duduknya untuk menghampiri, membantu membawakan tas ransel yang dipakai ayahnya. Belum juga Langit berjalan kesana, ayah Langit menghentikan langkah Langit.

"Udah Tara nggak apa-apa, papah bisa kok, kamu lanjutin aja nulisnya katanya kan lulus SMA kamu mau novel kamu bisa terbit" Ucap Inspektur Nugroho.

Langit menghentikan langkah dan kembali ke posisi duduknya yang semula. Dengan sedikit senyuman ke ayahnya Langitpun kembali meneruskan aktifitas bersama laptopnya.

"Iya pah,mudah-mudahan sih sebelum UN aku udah ke penerbit, soalnya menjelang UN aku mau fokus ke UN aja , mudah-mudahan UN selesai novel ini di acc tanpa revisi editor, kan bisa jadi ini hadiah tambahan selain kabar kelulusan ak " Langit mengutarakan harapannya sambil terus menulis pada laptopnya.

"Amin, Papah Cuma bisa ngedoain semoga yang kamu mau bisa terwujud" Sambung Ayah Inspektur Nugroho.

Inspektur Nugroho pergi meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya, dan Langit tetap melanjutkan tulisannya di ruang tamu tersebut hingga malam semakin larut hanya ditemani sedikit cahaya dari lampu kecil. Ditengah waktunya menulis, tiba-tiba tersirat dalam pikiran Langit tentang Ibunya Rindu yang sedang sakit, yang entah bagaimana kabarnya sekarang, masih koma kah atau sudah tersadar kah ? .

Ingin sekali Langit menanyakan hal tersebut langsung kepada Rindu, tapi Langit berfikir untuk apa? Yang ada Rindu akan menganggapnya bagaimana, karena sudah Langit ketahui seberapa bencinya Rindu kepada dirinya. Beberapa kali Langit memainkan handphone nya mencari kontak Rindu untuk menghubunginya, tapi beberapa saat akan menekan tombol memanggil, Langit mengurungkan niatnya kembali.

Langit berniat untuk mengirimkan pesan melalui whatsapp kepada Rindu, menanyakan kabar ibunya. Setelah Langit mengetik pesan itu dan selesai, Langitpun memutuskan untuk menghapus setiap huruf dalam pesan itu dan membatalkan maksud hatinya karena rasa takut yang sudah menumpuk sangat tinggi dalam pikirannya, rasa takut Rindu akan salah mengartikan tujuan pesannya.

Waktu sudah menunjukkan larut malam, Langit menghentikan aktifitasnya, dia mematikan laptopnya, merapihkannya, dan membawa laptop ke kamarnya setelah Langit mematikan lampu ruang tamu. Dalam gelap kamarnya, Langit terbaring diatas tempat tidurnya, sambil beribu-ribu kali berpikir perlukah dia menanyakan kabar ibu Rindu kepada Rindu. Setiap kali niatan untuk menghubungi atau sekedar mengirimkan sebuah pesan singkat itu muncul, seketika itu juga keraguan dalam benaknya semakin menjadi-jadi, hingga Langit pun berkali-kali membatalkan niatannya itu. Di layar handphonenya , Langit melihat-lihat isi dari instagram milik Rindu, melihat foto-foto dan video tentang Rindu serta kehidupannya, termasuk Rindu saat bersama Ibunya.

"Rindu, sejuta rahasia tersimpan rapih dalam senyum nya. Terangkai seirama dalam setiap langkahnya. Bunga yang mekar merekah walau angin berusaha menghancurkan kelupaknya. Tanpa tatap mataku, kesejukkan dalam jiwa terasa saat berada beberapa inchi dari hadirnya. Mungkin Putri embun pagi, nama yang pantas di sematkan di dirinya. Hadir hanya sesaat dipagi hari namun menyejukkan dedaunan dan cepat hilang mentari mulai hadir" Seketika kata-kata indah keluar dari mulut Langit sambil memandang tiap foto dalam instagram Rindu.

Setelah cukup lama Langit memandangi layar handphonenya, Langit meletakkan kembali handphone tersebut di samping tempat dia berbaring, dan mulai memejamkan mata nya menuju alam indah dalam tidurnya yang dinamai dengan MIMPI.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!