Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — LATIHAN NERAKA DI LEMBAH KABUT
Tiga hari berlalu dengan kecepatan yang menyiksa. Di dalam gua yang tersembunyi di balik tirai air terjun, waktu diukur bukan berdasarkan terbit dan terbenamnya matahari, melainkan dari seberapa sering Lu Chen memuntahkan darah segar akibat benturan energi di dalam tubuhnya.
Pagi itu, kabut tebal masih menggantung rendah di luar mulut gua. Udara terasa dingin dan lembap, menusuk hingga ke tulang sumsum. Lu Chen duduk bersila di atas batu datar yang licin. Pakaian kasarnya telah robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit yang dipenuhi lebam kebiruan serta rajah hitam di lehernya yang kini berdenyut lambat berkat segel sementara buatan Shen Yue.
Di hadapannya, Shen Yue berdiri tegak dengan jubah putih yang tetap bersih tanpa noda. Di tangan kanannya, dewi itu memegang sebilah ranting bambu tipis yang dipenuhi aura kebiruan.
"Bangun. Waktu istirahatmu sudah habis," suara Shen Yue memecah kesunyian, datar dan tanpa kompromi.
Lu Chen membuka matanya. Manik matanya yang sebelah kanan memancarkan pendar keemasan yang lelah, sementara sebelah kirinya berkedip dengan kilatan ungu yang berbahaya. Dengan napas terengah-engah, ia memaksakan diri untuk berdiri. Kakinya gemetar hebat, menopang tubuh yang terasa remuk redam.
Selama tiga hari ini, Shen Yue tidak memberikannya waktu untuk meratapi nasib. Pelatihan mereka bukan sekadar meditasi tenang seperti yang sering diceritakan dalam dongeng-dongeng manusia. Itu adalah penyiksaan fisik dan mental yang dirancang untuk memaksa darah dewa dan kutukan siluman di dalam tubuh Lu Chen agar tunduk pada kehendak kesadarannya.
"Hari ini, kita tidak akan membahas cara menahan energi," kata Shen Yue, mengayunkan ranting bambu di tangannya hingga menciptakan desiran angin tajam. "Hari ini, kau harus belajar melepaskan sebagian kecil dari kekuatan silumanmu, lalu memadamkannya kembali dalam waktu kurang dari tiga detik."
Lu Chen mengerutkan kening, menatap sang dewi dengan ketidakpercayaan. "Melepaskan? Guru, itu sama saja dengan memancing monster keluar dari sangkar! Kau tahu sendiri akibatnya jika segel itu lepas."
"Jika kau terus-menerus mencoba mengurungnya, kau hanya akan menjadi penonton di dalam tubuhmu sendiri," balas Shen Yue dingin, matanya menatap tajam menembus jiwa Lu Chen. "Seorang penunggang kuda yang hebat tidak membunuh kudanya agar tidak berlari; ia memegang tali kekangnya. Kau harus mengenali batas di mana kau memegang kendali dan di mana kau mulai dikendalikan."
Tanpa menunggu persetujuan Lu Chen, Shen Yue tiba-tiba melesat ke depan. Gerakannya begitu cepat hingga angin di sekitarnya berdesing. Ranting bambu di tangannya menghantam tepat ke arah titik akupuntur di bahu kiri Lu Chen.
Bum!
Hantaman itu tidak menggunakan tenaga fisik yang besar, melainkan energi spiritual murni yang langsung merangsang titik bangkit kutukan di tubuh Lu Chen. Seketika, rasa sakit yang membakar menjalar dari bahu turun ke dada. Rajah hitam di lehernya meradang terang, dan warna mata kiri Lu Chen berubah menjadi ungu legam yang pekat.
"Argh...!" Lu Chen mengerang kesakitan. Insting destruktif dari sisi siluman langsung meronta-ronta, membisikkan kehancuran dan menuntutnya untuk mencabik-cabik apa saja yang ada di hadapannya. Cakar hitam mulai mencuat dari ujung jarinya.
"Tahan!" suara Shen Yue menghantam telinganya bagaikan petir di siang bolong. "Gunakan esensi dewa di tulang belakangmu! Tarik napas, dan kuasai!"
Lu Chen mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menancap di telapak tangan, mengucurkan darah segar. Sisi silumannya berteriak marah, mencoba mengambil alih seluruh kesadaran, sementara rasa panas dari darah dewa mencoba membakar habis sisa kesadarannya. Terjebak di tengah-tengah dua kekuatan raksasa itu, Lu Chen merasa jiwanya hampir robek menjadi dua.
Aku tidak boleh kalah. Aku adalah manusia... aku adalah Mo Wuying... batinnya menjerit putus asa.
Dengan sisa-sisa tekad baja yang dimilikinya, Lu Chen memaksa matanya membelalak menatap Shen Yue. Ia membayangkan cahaya keemasan di dalam dadanya menyebar, meredam gelombang hitam yang bergejolak. Perlahan tapi pasti, cakar di jarinya memendek, warna ungu di mata kirinya memudar, dan napasnya yang tadinya buas mulai mereda menjadi terengah-engah yang terkontrol.
Tiga detik.
Lu Chen berhasil menekan kembali kutukan itu sebelum ia kehilangan kesadaran penuh. Ia ambruk berlutut ke tanah batu, napasnya memburu dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Shen Yue berdiri tepat di hadapannya, menurunkan ranting bambu di tangannya. Untuk sepersekian detik, ada kilatan persetujuan yang terpancar di dalam mata jernih sang dewi, meskipun ekspresi wajahnya tetap dingin seperti biasa.
"Bagus," kata Shen Yue pelan. "Kau bertahan lebih cepat dua detik dari kemarin."
Lu Chen mendongak, menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Apakah... apakah pelatihan ini benar-benar akan membuatku bebas dari rasa sakit ini?" tanya Lu Chen dengan suara serak, mencerminkan keletihan fisik dan mental yang teramat sangat.
Shen Yue berjongkok di sampingnya, menyamakan tinggi mereka. Jari-jarinya yang dingin menyentuh pelan kening Lu Chen, mengalirkan sedikit kesejukan untuk meredakan pusing yang mendera pemuda itu.
"Tidak ada kebebasan yang didapat tanpa rasa sakit, Lu Chen," jawab Shen Yue lembut, sebuah nada kelembutan yang jarang sekali ia tunjukkan. "Dunia di luar sana tidak peduli apakah kau korban takdir atau bukan. Bagi Istana Langit, keberadaanmu adalah noda yang harus dihapus. Dan bagi para siluman di jurang, kau adalah mangsa lezat yang menjanjikan kekuatan mutlak."
Lu Chen terdiam. Ia meresapi setiap kata yang diucapkan oleh wanita di hadapannya. Rasa takut yang selama ini menyelimutinya perlahan berubah menjadi bara api ketidak-terimaan. Ia tidak ingin lari lagi. Ia tidak ingin menjadi kelinci ketakutan yang bersembunyi di balik gua-gua gelap.
"Aku mengerti," ucap Lu Chen mantap, matanya kembali menyala dengan tekad yang baru. "Aku akan terus berlatih. Sekalipun aku harus meremukkan tulangku sendiri."
Shen Yue menarik tangannya kembali dan bangkit berdiri. Ia memandang ke arah mulut gua, tempat kabut putih mulai menipis tersapu angin siang.
"Istirahatlah hari ini," perintah Shen Yue. "Besok, tantangannya akan jauh lebih besar. Kita harus keluar dari lembah ini sebelum para pengawal Istana Langit mencium jejak energi yang kau lepaskan tadi."
Lu Chen mengangguk pelan. Ia kembali bersila di atas batu, memejamkan mata untuk memulihkan tenaga dalam tubuhnya. Di luar gua, angin lembah berdesir membawa aroma kebebasan yang masih terasa sangat jauh, namun kini, langkah kakinya di atas jalan yang berduri tidak lagi ia tempuh seorang diri.