SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

BAB 1: MALAM PECAHNYA SEGEL DI DESA QINGYUN

Angin malam yang berembus di perbatasan Desa Qingyun malam itu membawa aroma yang tidak biasa—bau anyir darah segar yang bercampur dengan sisa dupa yang padam di kuil tua. Suasana sunyi yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam, seolah alam semesta sendiri sedang menahan napas menyaksikan runtuhnya sebuah takdir yang telah terkunci rapat selama tujuh belas tahun lamanya.

Chen Wuying berlutut di tengah lapangan desa yang porak-poranda. Seluruh persendian tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah tulang-tulang di dalam tubuhnya hendak remuk berkeping-keping akibat tekanan tak kasat mata yang menghantam dari dalam. Di balik pakaian kasarnya yang robek, tepat di tengah dadanya, sebuah rajah hitam pekat seukuran telapak tangan mendadak berderak pecah. Dari celah-celah retakan itu, gumpalan asap hitam legam menyembur keluar dengan ganas, melilit lehernya erat-erat bagaikan ular berbisa yang bersiap mematuk leher mangsanya.

"Jangan... jangan keluar..." gigi Wuying bergemeretak keras menahan siksaan yang luar biasa dahsyat. Napasnya terengah-engah, berusaha mempertahankan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis. "Kau bukan monster... kau manusia... ingat siapa dirimu..."

Namun, teriakan batin yang dipenuhi keputusasaan itu terlambat. Garis takdir yang selama tujuh belas tahun diredam oleh mantra penyegel kuno kini jebol tanpa bisa dicegah. Sisi kegelapan yang selama ini meringkuk di lubuk jiwanya yang paling dalam mulai merayap naik, menuntut kebebasan dengan cara yang mengerikan.

1 Jam yang Lalu: Ketenangan yang Semu

Sore itu, suasana di Desa Qingyun masih berjalan normal seperti hari-hari biasa. Para petani baru saja kembali dari ladang, dan anak-anak kecil berlarian mengejar ayam liar di jalan setapak tanah liat.

"Pak, ramuan penurun panas untuk cucu Tetua sudah jadi," kata Wuying dengan suara tenang sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas cokelat berisi serbuk herbal kepada Tetua Li di beranda balai desa.

Di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, Wuying tampak seperti pemuda desa pada umumnya. Wajahnya biasa saja, tidak terlalu tampan namun enak dipandang, dengan bahu yang sedikit bidang karena setiap hari harus meracik obat di bawah terik matahari dan mencangkul di kebun belakang rumahnya. Satu-satunya hal yang ganjil dari fisiknya—yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat dari pandangan orang—hanyalah sepasang matanya; manik matanya kerap kali memancarkan kilatan merah darah yang samar setiap kali emosinya terpancing atau kelelahan.

"Terima kasih banyak, Nak Wuying," ujar Tetua Li tersenyum ramah sambil menerima bungkusan tersebut. "Kau penyelamat desa kita. Tanpa racikanmu, musim dingin tahun ini pasti akan merenggut lebih banyak nyawa para orang tua."

Wuying hanya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Ia berpamitan kepada sang tetua dan berjalan pulang menyusuri jalan setapak bambu yang mulai dinaungi bayang-bayang senja. Namun, sebelum ia sempat mencapai rumah kecilnya di ujung pemukiman, suara keributan yang disusul oleh jeritan histeris mendadak memecah ketenangan senja dari arah pusat desa.

"PENYAMUN! MEREKA MEMBAKAR LUMBUNG PADI!"

Teriakan itu disusul oleh suara gemerincing senjata tajam dan kobaran api yang tiBa-tiba membumbung tinggi, memerah di langit barat. Sekelompok sepuluh orang bertopeng hitam, membawa golok berdarah dan memegang obor, berlari beringas sambil tertawa lepas di antara rumah-rumah warga yang mulai panik berlarian.

"Desa miskin seperti ini memang pantas musnah! Bakar semuanya!" teriak sang pemimpin kelompok penyamun dengan nada kejam.

Wuying yang melihat kejadian itu langsung berlari kencang tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Langkah kakinya membawanya langsung ke pusat kekacauan, di mana ia melihat seorang anak kecil—adik bungsu Tetua Li yang baru berusia enam tahun—terpojok ketakutan di sudut pagar bambu, sementara seorang penyamun bertopeng mengangkat tinggi-tinggi goloknya, bersiap menebas tanpa ampun.

"Berhenti!" teriak Wuying lantang, melompat menerjang tanpa membawa senjata apa pun.

Pemimpin penyamun itu menoleh sekilas, lalu melayangkan tendangan bertenaga dalam ke dada Wuying. Hantaman keras itu membuat tubuh Wuying terpental jauh ke belakang, menabrak dinding kayu hingga tersungkur muntah darah ke tanah.

"Anak kemarin sore mau jadi pahlawan kesiangan? Mati sana!" cibir sang penyamun.

Saat bilah golok yang dingin itu mulai diayunkan turun ke arah anak kecil yang menangis histeris di sudut, sesuatu di dalam rongga dada Wuying mendadak meledak hebat. Suara hantaman keras bergema di dalam batinnya, jauh lebih keras daripada suara kobaran api di sekelilingnya.

KRAKK!

Rajah kutukan yang selama ini menahan batas kewarasannya benar-benar terbelah menjadi serpihan tak kasat mata.

Sekarang: Amukan Sang Anomali

Asap hitam pekat membubung tinggi dari setiap pori-pori kulit Wuying, menciptakan gelombang panas dan dingin yang berbenturan di udara. Sepasang matanya kini berubah menjadi merah darah sepenuhnya, menyala terang dalam kegelapan malam tanpa ada lagi sisa putih mata manusia. Sepasang tanduk kecil yang runcing dan melengkung mulai mencuat dari pelipisnya, merobek kulit kepalanya, sementara kuku-kuku jarinya memanjang dengan cepat, menajam menjadi cakar baja hitam yang memancarkan aura kematian.

"Kalian... berani menyentuh mereka..." suara Wuying berubah total. Tidak ada lagi suara pemuda desa yang lembut; yang terdengar kini adalah suara berat, serak, dan menggema langsung di dalam kepala setiap makhluk hidup dalam radius seratus meter.

Satu tebasan.

Hanya dengan kibasan tangan kosong dari jarak jauh, gelombang energi hitam legam melesat dahsyat bagaikan sabit maut. Sepuluh orang penyamun yang tadi tertawa sombong bahkan tidak sempat menjerit atau melarikan diri; tubuh mereka hancur berkeping-keping dalam sekejap, berubah menjadi debu hitam yang langsung tersapu angin malam.

Desa mendadak hening seketika. Suara kobaran api seolah meredup, tidak ada lagi suara tangisan atau desau angin. Yang terdengar hanyalah napas ketakutan warga yang membeku di tempat.

Tetua Li mundur perlahan dengan kaki yang gemetar hebat, menatap sosok mengerikan di hadapannya dengan mata melotot penuh teror. "Siluman... kau... ternyata selama ini kau adalah siluman yang menyamar di desa kami..."

Wuying mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan bercakarnya. Rasa sakit di otaknya luar biasa, seolah kepalanya hendak dibelah dua oleh dua kekuatan yang saling meronta. "Tidak... aku bukan siluman... aku Chen Wuying... aku manusia..."

Namun, bisikan keji dan haus darah dari sisi gelap di dalam jiwanya terus meracuni akal sehatnya: “Bunuh mereka semua. Lihat bagaimana mereka gemetar ketakutan padamu. Bunuh mereka sebelum mereka menghabisimu terlebih dahulu.”

Tangan bercakar itu perlahan terangkat naik, mengarah tepat ke arah kerumunan warga desa yang mematung dalam keputusasaan.

Tepat di detik-detik penentuan sebelum kendali kesadarannya runtuh total dan pembantaian terjadi—

"BERHENTI!"

Sebuah bentakan nyaring membelah langit malam di atas Desa Qingyun. Kilau cahaya putih suci turun menyambar dengan kecepatan kilat, bagaikan pedang raksasa dari kahyangan yang menghujam bumi, menciptakan garis pemisah antara Wuying dan warga desa.

Sesosok wanita mendarat tanpa suara di tengah reruntuhan lapangan. Ia mengenakan jubah sutra putih bersih bersulam benang perak yang berkibar anggun dihempas angin malam, rambut hitam panjangnya tergerai bebas di punggung, dan wajahnya begitu sempurna bagaikan pahatan giok, namun memancarkan hawa dingin sedingin es abadi yang membuat udara di sekitarnya mendadak membeku.

Di belakang wanita itu, tiga orang pengawal berbaju zirah emas melayang rendah di udara, menyematkan lambang matahari suci di dada mereka dengan memegang tombak energi yang berkilau menyilaukan.

"Yue Lingxi dari Istana Sembilan Langit," seru salah satu pengawal berbaju zirah emas dengan suara berwibawa yang menggetarkan tanah. "Atas nama hukum mutlak kahyangan, anomali darah campuran ini adalah ancaman mutlak bagi tiga alam. Musnahkan sekarang juga!"

Wanita itu—Yue Lingxi—sama sekali tidak menoleh ke arah para pengawalnya yang berteriak memberi perintah. Pandangannya terpaku sepenuhnya pada sosok Wuying yang sedang berlutut kesakitan. Matanya yang jernih namun dingin menatap tajam ke arah rajah yang hancur di dada pemuda itu, serta tangan bercakar yang masih gemetar hebat menahan amukan insting membunuhnya.

"Menarik sekali..." bisik Yue Lingxi pelan, sebuah kalimat penuh misteri yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri di tengah keheningan malam.

Wuying menggeram buas, menampakkan taringnya yang tajam. Sisi silumannya mendesak keras untuk menerkam wanita di hadapannya. Namun, insting manusia yang tersisa berteriak putus asa di lubuk hatinya: Lari! Dia datang untuk mengeksekusimu!

"JANGAN DEKATI AKU!"

Wuying menjerit frustrasi, melampiaskan rasa sakit dan amarahnya ke bumi. Ia menghantamkan kedua tangan bercakarnya langsung ke tanah batu. Ledakan energi hitam pekat bercampur pendaran merah meledak dahsyat, menciptakan gelombang kejut luar biasa yang membuat seluruh warga dan para pengawal istana terpental mundur ke belakang.

Memanfaatkan kekacauan asap tebal dan debu yang mengepul, Wuying berbalik dengan kecepatan kilat. Ia melesat kencang menembus kegelapan malam, kabur menghilang ke dalam lebatnya hutan purba di kaki gunung.

Di tempatnya berdiri, Yue Lingxi menatap lurus ke arah pepohonan gelap tempat punggung pemuda itu menghilang. Tanpa menunjukkan kepanikan atau niat mengejar secara terburu-buru, sang Dewi mengangkat dagunya sedikit, lalu berucap dengan nada datar namun mengandung otoritas mutlak yang tidak dapat dibantah:

"Jangan bunuh dia. Tangkap hidup-hidup... aku sendiri yang akan membawa anomali itu ke hadapanku."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!