Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:953.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Kalimat itu membuat Baskara akhirnya mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya malam itu, Baskara terlihat sedikit bersalah. Sedikit saja. Namun cukup terlihat.

Vivi melanjutkan. "Aku tidak meminta hal-hal romantis. Tidak meminta bulan madu. Tidak meminta perhatian berlebihan. Tapi kalau malam pertama setelah akad aku langsung ditempatkan di kamar tamu..." Ia tersenyum miris. "aku jadi bertanya-tanya sebenarnya aku ini istri atau penyewa kamar."

Sudut bibir Baskara bergerak tipis. Hampir seperti ingin tersenyum. Namun tidak jadi.

Vivi melihat reaksi itu. Dan mendadak merasa ingin kesal sekaligus tertawa. Karena ternyata suaminya memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat situasi canggung menjadi semakin canggung.

Baskara mengusap tengkuknya. Kebiasaan yang baru pertama kali dilihat Vivi. Tanda bahwa pria itu tidak senyaman yang terlihat. "Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Lalu seperti apa?"

Baskara terdiam cukup lama. Kemudian berkata jujur, "Aku cuma tidak ingin membuatmu merasa dipaksa."

Vivi terkejut. Jawaban itu tidak ia duga.

"Aku tahu kita baru saling kenal." Suara Baskara lebih pelan sekarang. "Dan aku tidak ingin malam ini terasa seperti kewajiban."

Kali ini giliran Vivi yang tidak tahu harus menjawab apa. Karena untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Baskara terdengar benar-benar tulus. Bukan dingin. Bukan menjaga jarak. Melainkan berhati-hati. Terlalu berhati-hati. Sampai hasilnya justru terdengar seperti penolakan. Vivi menghela napas. Lalu menggeleng pelan. "Kamu ini aneh ya."

Baskara mengernyit. "Maksudnya?"

"Aku sedang berusaha tidak merasa ditolak."

"Dan aku sedang berusaha tidak membuatmu merasa terpaksa."

Mereka saling diam beberapa detik. Lalu tanpa sadar, Vivi tertawa kecil.

Baskara menatapnya bingung. "Apa?"

"Kita baru menikah beberapa jam. Tapi rasanya seperti dua rekan kerja yang sedang menyusun peraturan kos."

Untuk pertama kalinya malam itu, Baskara benar-benar tersenyum. Sangat tipis. Sangat singkat. Tetapi nyata. Dan entah kenapa, melihat senyum kecil itu membuat ketegangan di dada Vivi sedikit berkurang. Meski masalah kamar belum benar-benar selesai. Meski pernikahan mereka masih terasa asing. Setidaknya malam itu ia mendapat satu jawaban: Baskara tidak sedang menolaknya. Ia hanya belum tahu bagaimana menjadi suami lagi.

***

Malam itu tidak ada adegan romantis. Tidak ada malam pertama yang penuh bunga. Tidak ada percakapan panjang menjelang tidur. Tidak ada genggaman tangan yang membuat jantung berdebar. Dan tentu saja, tidak ada malam pengantin seperti yang sering diceritakan orang-orang.

Setelah percakapan singkat di depan ruang kerja, Baskara mengantar Vivi ke kamar tamu di ujung koridor lantai satu. Kamarnya luas. Bersih. Nyaman. Bahkan mungkin lebih bagus daripada kamar tidur utama di rumah orang tuanya. Tetapi tetap saja Itu kamar tamu. Bukan kamar istri.

Baskara berdiri di ambang pintu. "Kalau ada yang dibutuhkan, bilang saja."

Vivi mengangguk. "Baik."

"Lemari sebelah sana kosong."

"Iya."

"Handuk baru ada di kamar mandi."

"Iya." Keduanya sama-sama tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Akhirnya Baskara mengangguk kecil. "Selamat istirahat."

"Kamu juga." Dan begitu saja. Pintu ditutup. Baskara pergi. Meninggalkan Vivi seorang diri. Benar-benar sendirian.

Vivi berdiri beberapa saat di tengah kamar. Masih mengenakan pakaian yang sejak pagi dipakainya untuk akad. Rumah sudah sunyi. Anak-anak tidur. Baskara entah berada di kamar mana. Mungkin kamar utama. Mungkin ruang kerja.nIa tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, Vivi benar-benar memiliki waktu untuk berpikir.

Ia berjalan perlahan menuju tepi ranjang. Duduk. Lalu memandangi cincin di jari manisnya. Masih terasa asing. Beberapa jam lalu ia adalah Vivi, guru yayasan yang pulang setiap sore ke rumah orang tuanya. Sekarang ia adalah istri seseorang. Nyonya Baskara. Nama yang bahkan masih terdengar aneh di telinganya sendiri.

Vivi tertawa kecil. Tawa yang terdengar sepi di dalam kamar luas itu. "Lucu sekali." Ia berbicara kepada dirinya sendiri. "Pagi masih anak Bapak sama Ibu. Sekarang sudah jadi istri orang." Dan lebih lucunya lagi Ia adalah istri orang yang bahkan tidak tidur di kamar yang sama dengannya.

Vivi merebahkan tubuh ke atas kasur. Menatap langit-langit. Mengingat kembali semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Lamaran. Desakan Bu Mega. Nasihat ibunya. Pertemuan dengan Baskara. Akad. Lalu rumah ini. Semuanya berlangsung begitu cepat hingga ia belum sempat mengejar napasnya sendiri.

Ia memejamkan mata. Namun bayangan wajah orang tuanya kembali muncul. Pasti rumah terasa lebih sepi malam ini. Tidak ada lagi dirinya di kamar sebelah. Tidak ada lagi suara televisi yang biasa mereka tonton bersama. Tidak ada lagi makan malam bertiga.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vivi tidak tidur di rumah itu. Pikiran itu membuat dadanya sedikit sesak. Namun ia menahannya. Karena bukankah ini yang selama ini diinginkan semua orang? Ia sudah menikah. Sudah memiliki keluarga. Sudah tidak sendirian lagi. Aneh. Karena justru malam ini ia merasa lebih sendirian daripada sebelumnya.

Di luar kamar, suara langkah kaki sempat terdengar. Vivi mengira Baskara. Namun suara itu berlalu begitu saja. Tidak berhenti di depan pintunya. Tidak mengetuk. Tidak masuk. Dan beberapa detik kemudian semuanya kembali sunyi.

Vivi menarik selimut sampai ke dada. Lalu menghela napas panjang. Malam pertama sebagai istri. Malam pertama sebagai ibu tiri lima anak. Malam pertama sebagai penghuni rumah ini. Dan ia menghabiskannya di kamar tamu. Sendirian. Tanpa suami. Tanpa siapa pun.

Jika seseorang mengatakan hal itu kepadanya seminggu lalu, mungkin ia akan menganggapnya lelucon. Namun sekarang itulah kenyataannya. Dan entah kenapa, sebelum tertidur, satu pikiran terakhir muncul di benaknya. Mungkin pernikahan ini memang tidak dimulai dengan cinta. Mungkin juga tidak dimulai dengan kedekatan. Tetapi setidaknya ia sudah berhasil melewati hari pertama. Dan besok pagi harapan Vivi semoga lebih mudah dari hari ini.

***

Pagi pertama sebagai penghuni rumah Baskara dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Jam lima kurang sedikit, Vivi sudah berada di dapur. Masih mengantuk.Masih asing dengan rumah itu. Tetapi ia tetap bangun.Karena semalam ia sudah membuat janji. Siapa yang bangun pagi boleh memilih menu sarapan. Dan rupanya ia meremehkan kecerdasan lima anak itu.Satu per satu mereka turun dari kamar.

Sean paling dulu. Disusul Yuan. Kemudian Saka. Ella yang masih setengah mengantuk. Bahkan Lili ikut digendong turun oleh kakaknya.

Vivi tersenyum. "Wah, rajin sekali."

Sean langsung menarik kursi. "Kami mau pesan sarapan."

"Tentu." Vivi mengambil buku kecil dan pulpen. Seperti guru yang sedang mencatat tugas murid.

Anak-anak saling melirik. Inilah kesempatan mereka. Kalau semalam gagal membuat Vivi kewalahan, pagi ini mereka akan mencoba lagi.

1
Inooy
karena bu Mega tau kamu wanita baik Vii, dn beliau percaya kamu mampu menjaga dn melindungi kluarga Baskara...🥹
Inooy
kebaikan seseorang akan terlihat dr banyak nya doa yg d kirimkan dr orang2 yg pernah d bantu nya....
jd banyak2 lah berbuat baik, karena kebaikan qta yg akan menolong qta kelak d akhirat..🥺
Inooy
ketika bu Mega memaksa Vivi utk jd bagian keluarga nya,,seakan akan itu sebuah pertanda bahwasanya takdir tentang kehidupan tengah menghampiri nya..bu Mega seolah olah mengatakan "Vii, titip anakku dn cucu2 ku..hanya kamu yg bisa ibu percaya utk mengurus dn merawat mereka ketika ibu sudah tidak ada..karena waktu ibu sudah semakin dekat"

hhaaaa,,makin mewek aq ka Fitriiii 😭😭😭
milk shake🍓🥤
semogaa cepat terbongkar dan dokter Sinta dipenjara karna bikin laporan palsu dan kliniknya ditutup
milk shake🍓🥤
jgn cuman keklinik tantemu itu berobat, sesekali perlu kerumah sakit,
Isna
keren...keren..seru bgt ceritanya..
rahmah
ceritanya bagus Vivi wanita luar biasa yg baik hati gak pernah marah tapi banyak ujian mulai ditipu puluhan tahun sama tante yg sudah menganggapnya anak sendiri sampai dia menangis setiap hari karena vonis tidak bisa punya anak dan itu juga dia tinggal kekasihnya karena vonis itu sampai dia diminta menikah dg anak pemilik yayasan tempat dia mengajar duda 5 anak bernama Baskara yg sibuk dg pekerjaannya(sepertinya Baskara cuma taunya menambah anak saja 🤭) anak²nya yg sudah menolak 32 calon ibu berbagai cara dilakukan anak²nya pada Vivi juga begitu tapi Vivi masih bisa mengatasinya sampai anak² menerima Vivi sebagai ibu mereka tapi cobaan Vivi tidak berhenti disitu hingga dia akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki² yg bernama Hanan dan dia bahagia bersama suami dan 6 anak²nya..🥰
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!