Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Karimata dan Pintu Gerbang Terlarang
Debu dan sisa Miasma di Oasis Karang Hitam perlahan memudar, tersapu oleh pendaran cahaya sejuk sihir Celestial Sanctum milik Monica. Setelah melumpuhkan Komandan Varkas dan mengamankan sisa-sisa artefak sihir di pangkalan terdepan tersebut, Tim Vanguard tidak membuang waktu.
Mereka segera mendirikan pos pertahanan sementara untuk menyalurkan sinyal sihir navigasi ke Pasukan Ekspedisi Utama Grandoria yang bergerak di belakang mereka.
Namun, kedamaian di oasis tersebut tidak bertahan lama. Dari arah selatan—tepat di mana Benteng Tengkorak Merah berdiri—langit jingga gurun mendadak berubah menjadi gelap pekat berbelit warna ungu kehitaman.
GRRRRRRUUUUUUMBLE!
Bumi di bawah kaki mereka bergetar hebat. Angin gurun yang semula bertiup panas kini berganti menjadi angin kencang bermuatan radiasi Miasma murni yang dikenal sebagai Badai Karimata—badai pasir sihir legendaris yang hanya tercipta jika seorang penyihir tingkat tinggi menguras habis mana dari urat bumi.
Kazuma membetulkan posisi kacamatanya yang bergetar akibat guncangan. Ia membentangkan peta sihirnya yang kini berpendar merah menyala di seluruh permukaannya.
"Monica! Aliran mana alami di radius lima puluh mil dari sini terkuras habis secara paksa!" teriak Kazuma menembus suara gemuruh angin. "Malakor sedang memicu ritual pengorbanan di benteng utama! Dia sengaja memanggil Badai Karimata untuk mengubur kita dan mengulur waktu!"
"Berapa waktu yang kita punya sebelum badai ini menutupi seluruh gurun?" tanya Monica tegas.
Rambut hitam kuncir kudanya berkibar hebat diterpa terpaan angin gurun yang kian kencang. Tangannya menggenggam erat tongkat safir yang kini memancarkan aura emas keemasan stabil.
"Kurang dari tiga jam!" jawab Kazuma. "Jika kita terjebak di tengah badai ini tanpa pelindung khusus, energi sihir dan sirkulasi darah kita bisa membeku akibat pekatnya konsentrasi Miasma murni!"
"Kalau begitu kita bergerak sekarang!" peritah Monica tanpa keraguan. "Reno, pimpin barisan terdepan dengan kubah pelindung! Danis, pandu jalur dari sela-sela bayangan tebing! Elena, Kazuma, siapkan mantra penetralisir di sekeliling kita!"
"SIAP, KETUA!" jawab keempat sahabatnya serempak.
Dengan memacu kuda-kuda sihir yang dikelilingi lapisan kubah Celestial Breeze: Overdrive, Tim Vanguard melesat menembus pusaran angin Badai Karimata. Pasir merah bercampur pecahan kristal Miasma menghantam dinding energi keemasan mereka bagaikan ribuan jarum tajam, menciptakan suara benturan nyaring yang terus-menerus.
Di sepanjang perjalanan menembus badai, bayangan-bayangan monster Miasma liar dan roh-roh kegelapan bergentayangan di sekeliling kubah mereka, mencoba mencari celah untuk menembus pertahanan. Namun, keharmonisan Resonansi Mana yang ditempa oleh kelima anggota tim di Menara Bayangan membuat kubah pelindung mereka tak tergoyahkan.
Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan di tengah kecamuk badai, lanskap padang pasir gersang itu mendadak terputus oleh sebuah tebing batu raksasa berwarna hitam legam.
Di kaki tebing tersebut, berdiri sebuah struktur bangunan kolosal yang dibangun dari susunan tulang-tulang raksasa purba dan batu karang hitam—Gerbang Utama Benteng Tengkorak Merah.
Gerbang setinggi tiga puluh meter itu terukir simbol mata satu berpendar merah pekat, memancarkan denyut sihir kegelapan yang menyatu langsung dengan badai di langit.
Di depan gerbang raksasa itu, berdiri dua sosok makhluk tinggi berzirah baja hitam kelam yang memegang kapak ganda berukuran raksasa. Mereka adalah Ksatria Eksekutor Malakor—dua penjaga inti benteng yang kekuatannya setara dengan jenderal perang Ordo Umbra.
"Siapa pun yang melangkahkan kaki di gerbang Lord Malakor... hanya akan menyisakan nama di batu nisan!" geram salah satu Ksatria Eksekutor dengan suara bass yang menggetarkan dada.
Reno melompat turun dari kuda sihirnya, menghantamkan perisai besinya ke tanah cadas dengan senyum percaya diri yang mengembang di bibirnya.
"Bosan aku mendengar gertakan yang sama dari setiap musuh di gurun ini!" seru Reno seraya menyalakan aura Aegis of the Iron Titan. "Kalian berdua, biar aku dan Elena yang urus!"
"Kazuma, Danis," potong Monica seraya menunjuk ke arah celah kecil bermantra di samping engsel gerbang utama.
"Kita tidak boleh membuang waktu bertarung di luar! Kita gunakan sihir Kontra-Segel untuk menjebol engsel gerbang ini dan langsung masuk ke dalam!"
"Mengerti!" sahut Kazuma dan Danis cepat.
Elena menarik tali busur Celestial-nya hingga melengkung maksimal, memancarkan pendaran cahaya perak yang menyilaukan untuk membendung gerakan salah satu Ksatria Eksekutor yang hendak menerjang Monica.
"Celestial Arrow: Piercing Light!"
Anak panah cahaya meluncur deras bagai kilat, menghantam tepat di persendian kaki sang Ksatria Eksekutor dan menghentikan pergerakannya seketika.
Di saat bersamaan, Reno menerjang maju menahan tebasan kapak raksasa dari ksatria kedua, menciptakan percikan api emas dan dentuman kolosal yang membelah gemuruh badai!
Sementara pertempuran sengit pecah di garis luar, Monica, Kazuma, dan Danis berdiri tepat di depan engsel gerbang utama. Monica menghantamkan ujung tongkat safirnya ke pusat simbol mata satu di permukaan pintu tulang.
"Siasat Kontra-Segel: Arcana Unseal!"
CRAAAAACK! BZZZZT!
Cahaya emas murni menyusup ke dalam ukiran sihir hitam gerbang, membakar dan membalikkan susunan sirkulasi mana penguncinya. Pintu tulang raksasa itu bergetar hebat, retak-retak di seluruh permukaannya, dan akhirnya jebol dengan ledakan dahsyat!.