Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29.Pertemuan diperjalanan.

Deru mesin bus tua itu terdengar sayup-sayup membelah kesunyian malam, sementara cahaya lampu jalan yang jarang berderet memantul samar di kaca jendela. Raisa yang terlelap nyenyak di bahu Arya sesekali mengerling pelan, napasnya teratur dan damai, seolah semua beban berat yang sempat menggelayuti hatinya kini telah luruh sepenuhnya. Di kursi-kursi kosong yang berderet di bagian belakang, di balik tirai jendela, bahkan di celah langit-langit bus yang sedikit retak, sepasang mata berkilat redup menyelimuti setiap sudut. Makhluk-makhluk halus penghuni jalanan dan penumpang tak kasat mata yang biasa mengintai penumpang yang lengah, kini hanya berani melirik sekilas dari jauh—tubuh mereka gemetar hebat, bulu kuduk berdiri tegak merasakan hawa panas yang samar namun mengancam dari sosok yang duduk tenang di dekat pintu keluar. Tak ada satu pun yang berani melangkah mendekat sejengkal pun. Mereka tahu siapa sosok yang melindungi gadis itu; aura Ba nas pati yang memancar lembut namun tak tertandingi cukup membuat makhluk paling liar sekalipun membeku ketakutan.

Arya tak menoleh ke mana-mana, tatapannya tetap lurus ke depan namun kesadarannya menjangkau setiap inci bus itu, seolah membentengi dinding api tak kasat mata di sekeliling mereka berdua. Jemarinya yang bertumpu di lengan kursi bergerak sedikit, seolah memberi peringatan tanpa suara pada siapa pun yang berniat mengganggu. “Jangan mendekat. Dia di bawah perlindunganku. Siapa yang berani menyentuh sehelai rambutnya, akan hangus menjadi debu seketika,” gumamnya dalam hati, dan seakan merasakan getaran ancaman itu, makhluk-makhluk halus itu perlahan mundur, menghilang satu per satu ke dalam kegelapan malam.

Tak lama kemudian, suara pengemudi terdengar berteriak pelan memanggil penumpang yang turun di Desa Suka makmur. Arya perlahan memindahkan bahunya, lalu menepuk lembut pipi Raisa. “Raisa... bangun. Kita sudah sampai.”

Raisa terbangun dengan kedipan pelan, matanya masih terasa berat namun seketika melebar saat menyadari mereka sudah tiba di tujuan. “Hah? Sudah sampai ya?” gumamnya sambil menguap kecil, lalu segera bangkit berdiri menyusul Arya yang sudah memikul karung besar berisi tumpukan boneka lucu hasil kemenangan tadi. “Wah, iya lho! Semua hadiah ini benar-benar jadi milik kita semua, ya?” serunya riang, sementara Arya hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

Mereka pun melangkah turun dari bus, melanjutkan perjalanan kaki menyusuri jalan tanah yang mulai lembap oleh embun malam, menuju kediaman tua yang megah namun sunyi di tepi hutan. Langkah mereka terdengar berirama di atas dedaunan kering, namun tiba-tiba keduanya serentak berhenti mendadak. Dari balik semak belukar yang lebat tak jauh di depan terdengar suara gemerisik yang aneh—bukan suara hewan kecil yang lewat, melainkan gerakan yang lemah, tertatih, disertai rintihan pelan yang tertahan.

Tanpa kata Arya segera menarik Raisa ke belakang tubuhnya, lengannya terulur melindungi gadis itu sepenuhnya, sementara sepasang matanya yang tadi lembut kini menajam penuh kewaspadaan. Ujung jarinya perlahan mulai memancarkan cahaya jingga kemerahan yang samar, hawa panas mulai terasa menyelimuti udara di sekitar mereka. “Siapa di sana? Keluar!” bentaknya tegas, suaranya bergema dingin di antara pepohonan.

Raisa mencengkeram erat pakaian Arya di bagian pinggang, jantungnya berdegup kencang namun ia tetap berusaha tenang, mengintip pelan dari balik punggung lebar itu. Semak-semak kembali bergoyang perlahan, lalu sebuah tangan yang penuh luka memar dan berlumuran tanah menjulur keluar dengan gemetar, diikuti tubuh yang ambruk seketika ke tanah. Seorang pemuda berpakaian lusuh dan penuh luka serius terbaring tak berdaya di hadapan mereka, napasnya tersengal berat, matanya terpejam namun bibirnya bergerak pelan. “Tolong... aku mohon... bantu aku...” ucapnya lirih sebelum akhirnya kepalanya terkulai dan ia tak sadarkan diri sepenuhnya.

“Arya, lihat! Dia terluka parah!” seru Raisa segera bergerak maju hendak mendekat, namun dihalangi oleh lengan Arya.

Lalu Raisa memperhatikan dengan teliti pria yang terbaring itu, "Tunggu dulu!, bukannya itu pria yang masuk kedalam kamarku kemarin malam. "

 Raisa melangkah maju untuk berniat membantunya, tapi tangan Arya melarangnya.

“Biarkan saja,” ucap Arya dingin, tatapannya tak berubah ramah sedikit pun melihat sosok tak dikenal itu. “Kita sebaiknya segera pulang sebelum tengah malam tiba. Tak ada gunanya menolong orang asing yang entah dari mana datangnya, bisa jadi ia membawa bahaya bagi rumah dan dirimu.”

Raisa menatap Arya tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca melihat tubuh pemuda itu yang sesekali bergetar pelan karena kedinginan. “Tapi Arya... bagaimana mungkin kita membiarkannya begitu saja di malam seperti ini? Kalau dibiarkan begitu, ia bisa dimakan hewan buas atau meninggal karena luka-lukanya. Dia sepertinya butuh bantuan kita...sebaiknya kita tolong dia,bolehkan?” suaranya terdengar memohon, tangannya menggoyangkan lengan Arya pelan. “Ayolah, kita bawa saja dulu ke rumah. Sekar pasti bisa merawat lukanya atau Jatmika. Nanti kalau dia sudah sembuh, kita biarkan dia pergi, bukankah kamu Ba nas pati berhati manusia,itu tandanya kamu lebih mulia daripada ba nas pati yang lain. Karena membantu orang yang kesusahan adalah kewajiban kita.”

Arya terdiam lama, menatap wajah Raisa yang penuh keprihatinan, lalu akhirnya ia menghela napas panjang dan memadamkan api yang mulai berkumpul di tangannya. “Baiklah. Demi dirimu, aku bawa dia pulang. Agar kamu tidak usah gomel dan meringik seperti itu.” Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Alif seolah tak berbobot sedikit pun, lalu melangkah tegas menuju kediaman tua itu.

Sepanjang perjalanan Raisa memuji Arya, tapi Arya berusaha menyembunyikan perasaannya yang senang mendengar pujian Raisa.

Sesampainya di depan pintu utama, Sekar sudah menunggu dengan tenang seolah tahu mereka akan membawa tamu tak terduga, sementara Jatmika berdiri tegak di sampingnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Arya melempar tubuh Alif ke lantai aula utama dengan kasar, membuat suara deburan terdengar cukup keras. “Jatmika, urus orang ini. Pastikan dia tak mati, tapi jangan sampai dia berkeliaran sembarangan di dalam rumah,” perintahnya singkat, dingin, lalu tanpa menoleh lagi ia menghilang perlahan ke dalam bayang-bayang menuju lantai atas.

“Baik, Tuan,” jawab Jatmika patuh, lalu ia hanya menjentikkan jarinya pelan. Seketika tubuh Alif yang tadi tergeletak di lantai langsung berpindah dan terbaring rapi di atas sofa panjang ruang tamu.

“Ayo Nona Raisa, kau pasti sudah lelah sekali hari ini. Biarkan aku mengantarmu ke kamar dan menyiapkan air hangat untukmu,” ucap Sekar lembut sambil menuntun Raisa yang sempat melirik pria yang terluka itu iba, namun akhirnya ia menurut dan berjalan masuk ke kamarnya.

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela besar ruang tamu, menerangi debu halus yang menari perlahan di udara. Alif perlahan membuka matanya, menatap langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran ukir rumit yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia bangkit duduk dengan susah payah, wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya terasa kaku namun lukanya entah mengapa sudah terasa jauh lebih ringan. “Di... di mana aku?” gumamnya bingung, matanya menyapu sekeliling ruangan yang begitu megah namun terasa kuno dan penuh aura misterius. Ia berusaha berdiri namun kakinya terhuyung, dan saat itulah sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.

“Kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada bagian tubuh yang masih terasa sangat sakit?”

Alif berbalik seketika, terkejut melihat sosok gadis muda yang berdiri di sana sambil membawa nampan berisi dua gelas susu hangat dan roti kecil. Raisa tersenyum ramah, lalu melangkah mendekat dan menyodorkan salah satu gelas itu padanya. “Kami menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di jalan semalam. Ini, minumlah dulu agar tubuhmu terasa lebih hangat dan kuat,setelah sembuh sebaiknya kamu pulang.”

Alif menatap gelas itu ragu sejenak, lalu menatap wajah Raisa yang tulus tanpa ada sedikit pun niat jahat. Ia menerimanya perlahan, ujung jarinya menyentuh tangan Raisa sejenak. “Terima kasih... terima kasih banyak telah menolongku,” ucapnya pelan, matanya tak lepas menatap wajah Raisa seakan ada sesuatu yang membuatnya terpana namun bingung. “Aku... namaku Alif. Aku tak tahu harus berterima kasih seperti apa pada kalian semua...”

Belum sempat Raisa menjawab, terdengar suara panggilan riang dari luar pagar rumah. “Nona Raisa! Hai Nona Raisa! Bapak Budi datang membawa sayuran segar dari kebun!”

“Ah, itu Pak Budi! Tunggu sebentar ya, aku ke depan dulu sebentar!” seru Raisa riang, lalu ia berlari kecil keluar ruangan meninggalkan Alif yang masih duduk memegang gelas susu itu. Tatapannya tak beralih dari arah kepergian Raisa, rasa suka pada Raisa sudah tergambar jelas di mata Alif. .

Namun seketika itu juga, suhu udara di ruangan itu tiba-tiba turun drastis menjadi dingin menusuk tulang. Sebuah suara berat, rendah, dan penuh ancaman meledak memecah keheningan tepat di belakang punggung Alif.

“Jangan menatapnya seperti itu. Atau jangan salahkan aku kalau aku cungkil matamu itu saat ini juga.”

Alif tersentak hebat hingga gelas di tangannya hampir terjatuh. Ia berbalik perlahan dengan wajah pucat pasi, melihat sosok Arya berdiri diam di sana dengan sorot mata yang tajam mematikan, sepasang matanya seakan menyala samar seperti bara api yang siap melalap apa saja yang berani melanggar batas. Alif tak mampu bergerak sedikit pun, tubuhnya kaku terpaku di tempat, jantungnya seakan berhenti berdetak di bawah tatapan mengerikan itu. Ia baru sadar kalau Raisa tidak tinggal sendirian,dia tinggal bersama Arya dan pelayannya Jatmika.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!