Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Bagian dalam SUV antipeluru itu beraroma kulit baru, ozon, dan rasa takut yang ditahan Victoria. Dengungan mesin adalah satu-satunya yang mengisi kehampaan sementara San Vicente berubah menjadi titik kabur di kaca spion. Dante duduk di hadapan mereka, di bangku memanjang yang menghadap ke belakang, mengamati keluarganya seolah mereka karya seni curian yang akhirnya kembali ke galerinya.
Marco, dari kursi penumpang depan, mengulurkan sebuah map kulit ke belakang. Dante menerimanya dengan keanggunan yang mekanis. Itu dokumen identitas yang telah orang-orangnya ambil dari pondok selama "penjemputan".
Dante membuka map itu. Matanya menyusuri akta-akta kelahiran, memindai nama-nama yang tak ia pilih.
"León dan Cristo… Santoro?" suara Dante bagai cambukan. Nama gadis Victoria terdengar bagai penghinaan di mulutnya.
Ia menutup map itu keras-keras, dan bunyinya bagai tembakan di dalam kabin. Rahang Dante menegang begitu keras hingga sebuah otot kecil menyentak di pipinya. Amarahnya tidak berisik; itu tekanan atmosfer yang membuat udara terasa dua kali lebih berat.
"Kau memberi mereka namamu," ucap Dante, menancapkan tatapan dinginnya pada Victoria. "Kau mendaftarkan mereka seolah mereka tak punya ayah. Seolah aku adalah noda yang bisa kau hapus dengan sedikit tinta dan cap catatan sipil."
Victoria tak menundukkan pandangan. Ia memeluk kedua anaknya rapat ke sisi tubuhnya, merasakan hangat tubuh mungil mereka.
"Mereka memang tak punya ayah, Dante," jawabnya dengan ketenangan yang menguras nyawanya untuk dipertahankan. "Mereka punya seorang pendonor darah yang terlalu sibuk membakar jembatan sampai tak menyadari istrinya pergi. Bagi hukum, dan bagi mereka, mereka adalah Santoro. Mereka bebas dari kisahmu."
"Tak ada seorang pun yang bebas dari keluarga Moretti!" raung Dante, mencondongkan tubuh ke depan, menyerbu ruang perempuan itu. "Besok juga para pengacaraku akan mengubah itu. Mereka akan menyandang namaku, mewarisi perusahaan-perusahaanku, dan seluruh dunia akan tahu mereka anak siapa. Jangan pernah coba menghapusku lagi, Victoria. Itu tidak berhasil lima tahun lalu dan tidak akan berhasil sekarang."
Suasananya penuh listrik. León mengepalkan tinjunya, siap menerkam kalau Dante mendekat lebih jauh, tapi Cristolah yang mematahkan mantra kekerasan itu.
Cristo, yang sampai saat itu mengamati Dante dengan ketajaman yang nyaris ilmiah, memiringkan kepala. Matanya, yang dalam dan analitis, tidak menunjukkan ketakutan yang dirasakan Victoria, melainkan rasa ingin tahu yang murni logis.
"Kau lelaki yang di foto-foto itu?" tanya bocah itu. Suaranya lembut, tapi memotong amarah Dante bagai pisau bedah.
Dante membeku, terhenti di tengah jalan antara kursinya dan kursi Victoria. Kata "foto" menggema di benaknya, melucuti baju zirah sang Capo.
"Foto apa?" tanya Dante, merendahkan suaranya, matanya terpaku pada si ahli strategi kecil.
"Yang Mama simpan di kotak biru di bawah ranjangnya," lanjut Cristo, mengabaikan remasan peringatan yang Victoria berikan di bahunya. "Ada satu foto tempat kau duduk di meja besar. Mama memandanginya di malam hari waktu dia kira kami sudah tidur. Kadang dia menangis, kadang dia diam lama sekali. Tapi dia selalu menyentuh wajahmu dengan jari sebelum menyimpannya."
Keheningan yang menyusul terasa mutlak. Victoria memejamkan mata, merasa rahasia terakhirnya telah dibongkar oleh kejujuran brutal putranya.
Dante kembali tenggelam ke kursinya, seolah udara telah dirampas dari paru-parunya. Ia memandang Victoria, mencari-cari sebuah bantahan di wajahnya yang tak kunjung datang. Perempuan itu hanya memalingkan kepala ke jendela, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Pada saat itu, amarah Dante menguap, digantikan sebuah perasaan yang jauh lebih berbahaya dan membuat ketagihan: pengertian. Perempuan itu tidak menghapusnya. Selama seribu delapan ratus hari pengasingan, di tengah kemiskinan dan penyamaran, ia telah membawa Dante bersamanya. Ia telah memperlihatkan lelaki itu pada anak-anaknya, sekalipun secara diam-diam. Ia bukan hanya monster dalam cerita-ceritanya; ia lelaki dari kotak biru itu.
"Apa dia bercerita tentangku?" tanya Dante, ditujukan pada Cristo, tapi tanpa mengalihkan pandangan dari tengkuk Victoria.
"Tidak," jawab Cristo, menganalisis reaksi ayahnya. "Mama bilang masa lalu itu hutan yang tak boleh kami masuki. Tapi León dan aku tetap masuk juga. León bilang kau punya mata seorang raja. Menurutku kau punya mata seseorang yang sedang mencari sesuatu yang hilang."
Dante melepaskan embusan napas panjang, sebuah helaan yang menyeret bertahun-tahun kesepian. Pengakuan Cristo mengembalikan sebagian kemanusiaannya yang ia kira telah hilang di kamar-kamar mayat New York. Perempuan itu masih mencintainya, atau setidaknya, tak bisa berhenti mengingatnya. Pikiran itu lebih dahsyat daripada nama marga mana pun di atas selembar kertas.
"Kalian benar," ucap Dante, dan untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan, suaranya terdengar manusiawi, terlepas dari kewibawaan sang klan. "Aku memang mencari sesuatu yang hilang. Dan sekarang, setelah kalian bertiga ada padaku, nama marga itu hanya urusan administrasi."
Dante mengulurkan tangan, bukan ke arah Victoria, melainkan ke map kulit itu. Ia menutupnya dengan hati-hati lalu menyerahkannya pada Marco.
"Jangan ubah apa pun dulu, Marco," perintah Dante. "Biarkan mereka sampai di rumah dulu."
Victoria berpaling, terkejut oleh gencatan senjata yang tiba-tiba itu. Dante menatapnya dengan intensitas yang baru. Kini bukan lagi tatapan seorang penawan pada tahanannya, melainkan tatapan lelaki yang baru saja menemukan bahwa istrinya tak pernah berhenti menjadi miliknya dalam pikiran.
"Kenapa kau menyimpan foto itu, Victoria?" tanya lelaki itu dengan bisikan, sementara mobil menikung memasuki landasan pacu pribadi tempat jet menunggu dengan turbin menyala.
"Untuk mengingatkanku kenapa aku kabur," dustanya, meski mereka berdua tahu kebenarannya jauh lebih rumit.
Mobil berhenti di depan siluet pesawat yang megah. Dante turun lebih dulu dan, dengan gestur kesatria yang tak pernah Victoria lihat sejak bulan-bulan awal pernikahan mereka, mengulurkan tangan untuk membantunya turun.
Perempuan itu tak menyambutnya, tapi mata mereka bertemu sedetik lebih lama dari yang seharusnya. Dante paham bahwa pertempuran memperebutkan nama marga itu kecil dibandingkan pertempuran memperebutkan pengampunan, tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa punya peluang untuk menang. Cristo, mengamati pertukaran itu, mengangguk pada dirinya sendiri, mencatat dalam benaknya bahwa lelaki dari foto itu memang benar-benar sang raja yang datang untuk menuntut kembali mahkotanya.