Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pesan yang Menghancurkan Segalanya
Tiga tahun sebelumnya...
Keheningan loft setelah kepergian Damian tidaklah tenang; ia pekat, seakan udara telah berubah menjadi ter. Aku tetap di ranjang, menatap langit-langit, sementara tanganku turun tanpa kusadari ke arah perutku. Rasa mual itu bukan lagi sekadar sensasi fisik; ia adalah sebuah kepastian yang menghantam dadaku.
Aku perlu tahu. Kumanfaatkan kesempatan saat Igor berjaga di pintu utama untuk masuk ke kamar mandi pelayan dan mengeluarkan alat tes yang diam-diam kubeli beberapa hari lalu, saat keterlambatan pertama itu masih kuanggap sekadar akibat stres.
Menunggu tiga menit itu terasa seperti menunggu sebuah eksekusi. Kupandangi potongan plastik kecil di atas marmer, menghitung setiap detak jantungku, berdoa kepada Tuhan yang tak lagi kupercaya agar itu hanya alarm palsu. Tetapi hidup punya selera humor yang bengkok. Dua garis merah, tajam dan kejam, muncul di depan mataku.
"Sialan," bisikku, dan kali ini air mata tak lagi meminta izin.
Aku hamil. Aku mengandung buah dari gairah yang lahir dari kebencian, di tengah perang antargeng mafia, dari seorang pria yang baru saja pergi untuk membunuh darah dagingku sendiri. Ironinya begitu berat hingga membuatku membungkuk kesakitan. Aku tak bisa menunggu Damian pulang dengan tangan berlumur mesiu untuk mengatakannya di depan wajahnya. Aku tak sanggup melihat tatapan penuh nafsu memiliki itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Kutarik ponselku dengan jari-jari gemetar hebat. Tiga kali kutulis pesan itu dan tiga kali pula kuhapus. Pada akhirnya, rasa takut dan putus asalah yang menang. Pesan yang kukirimkan berbunyi:
Damian, hal yang paling kutakuti terjadi. Aku hamil. Ini anakmu.
Kupejamkan mata, menekan ponsel ke dadaku, menunggu sepatah kata penghiburan, sebuah isyarat bahwa meski ia seorang monster, ia akan melindungi apa yang telah kami ciptakan. Satu menit yang berlalu sebelum ponsel bergetar terasa seperti satu abad.
Ketika kubaca balasannya, kurasakan sesuatu di dalam jiwaku patah untuk selama-lamanya. Balasan Damian berbunyi:
Hamil? Jangan bodoh, Alessandra. Jangan datang padaku dengan permainan anak orang kaya untuk mengikatku. Anak itu bukan hadiah, dia rantai yang tak sudi kupikul. Kalau kau kira aku akan berhenti jadi diriku demi kesalahan satu malam, kau keliru besar. Enyahkan saja itu, atau cari orang lain yang mau menanggung kebohonganmu. Aku punya urusan sungguhan yang harus kuurus.
Aku kehabisan udara. "Enyahkan saja itu." "Sebuah kesalahan." "Sebuah kebohongan." Setiap kata adalah belati yang dirancang untuk menguras darahku. Pria yang pernah menyebutku "ratunya", yang telah "menyelamatkanku" dari keluargaku, kini memperlakukanku sebagai gangguan yang bisa dibuang, kini saat keadaan menuntut sesuatu yang lebih daripada seks dan perlindungan bersenjata.
Rasa sakitnya begitu tajam hingga tak membiarkanku menangis. Ia berubah menjadi dingin membeku yang merambati tulang-tulangku. Aku bangkit, mengabaikan kakiku yang lemas. Alessandra Valente telah mati kemarin di mansion orang tuanya, tetapi perempuan yang berdiri di kamar mandi itu, ibu dari makhluk kecil yang baru mulai ada, baru saja lahir dengan hati sekeras batu.
"Tidak lagi," ucapku lantang, menatap diriku di cermin. Mataku tak lagi punya kilau pemujaan terhadapnya. Kini mataku kering, penuh tekad. "Kau tak akan mendapatkan apa pun lagi dariku."
Aku bergerak dengan ketepatan seorang prajurit. Aku tahu Igor takkan masuk ke kamar kecuali mendengar tembakan. Kumulai mengosongkan kotak-kotak beludru yang pernah dihadiahkan Damian padaku. Kalung delima, berlian, jam tangan mewah. Aku tak menginginkannya karena keindahannya, melainkan karena nilainya di pasar gelap. Kumasukkan semuanya ke ransel kecil, bersama segepok uang yang ia simpan di brankas meja lampu, yang kombinasinya pernah ia tunjukkan padaku dengan sombong beberapa minggu lalu.
Kulepas gaun sutra dan kukenakan jin lama, jaket berkerudung, dan sepatu kets. Tak ada lagi putri. Tak ada lagi piala mafia.
Aku keluar lewat jendela dapur yang menghadap tangga darurat, sebuah detail yang selalu dikatakan Damian harus dikunci, tetapi untungnya bagiku, hari itu takdir membiarkannya terbuka sedikit. Kuturuni anak tangga logam itu dengan jantung di kerongkongan, merasakan udara dingin dini hari menampar wajahku. Setiap langkah adalah perpisahan dengan kemewahan dan sapaan untuk ketidakpastian.
Aku berjalan menyusuri gang-gang, menghindari kamera, dengan sepuluh mata mengawasi ke belakang di setiap tikungan. Aku tahu cara kerja pria seperti dia; aku tahu begitu ia sadar aku kabur, ia akan menjungkirbalikkan seluruh kota.
Aku tiba di sebuah rumah gadai yang kukenal lewat kontak-kontak lamaku di kampus. Pria di balik meja menatap batu delima itu, lalu menatapku.
"Ini bernilai satu kekayaan, Nona. Dari mana kau dapat?"
"Jangan ajukan pertanyaan yang jawabannya tak mau kau dengar dari Smirnov," kataku dengan suara sedingin itu hingga pria itu pucat.
Ia membayarku kurang dari nilai sebenarnya, tetapi itu cukup. Uang tunai, tanpa jejak bank. Dengan gepokan uang tersembunyi di balik pakaianku, aku menuju bandara. Aku tak bisa tetap di negara ini. Ayahku ingin membunuhku, dan ayah anakku menganggapku sebuah "kesalahan".
Kubeli tiket ke New York dengan nama palsu, salah satu identitas yang Damian simpan di kantornya untuk "keadaan darurat" dan yang telah kuhafal karena murni penasaran. Sementara menunggu penerbangan, duduk di bagian tergelap terminal, kupaksa diriku untuk tak menangis. Rasa sakit itu ada, menusuk, mengingatkanku pada setiap ciuman dan setiap janji dusta Damian, tetapi aku takkan memberinya kepuasan menitikkan satu tetes air mata lagi untuknya.
"New York," pikirku. Sebuah lautan manusia tempat seorang perempuan dengan lekuk tubuh dan masa lalu yang hancur bisa menghilang.
Ketika pesawat lepas landas dan kulihat lampu-lampu kota mengecil, kuletakkan tanganku di perut.
"Hanya kita berdua, Nak," bisikku pada jendela. "Dan aku bersumpah, tak akan pernah, tak akan pernah kubiarkan monster itu menemukanmu."
Aku tiba di Big Apple dengan jiwa berkeping-keping tetapi mata terbuka lebar. Aku menetap di sebuah studio kecil di lingkungan tempat tak seorang pun bertanya-tanya. Kuubah penampilanku, kupotong rambutku, dan kubelajar menoleh ke belakang setiap kali membelok di tikungan. Aku hidup dengan rasa takut sebagai bayangan, tetapi dengan tekad sebagai penggerak.
Aku telah menjual perhiasan mafia untuk membeli kebebasanku. Aku telah meninggalkan kemewahan demi keamanan anakku. Dan meski rasa sakit atas kata-kata Damian masih ada, membakar bagai asam, ia berguna untuk mengingatkanku agar tak pernah lagi memercayai pria yang mengira nafsu memiliki adalah cinta.
Tiga tahun berlalu begitu. Tiga tahun menjadi bayangan, membesarkan Eithan di antara tagihan dan mainan plastik, percaya bahwa masa lalu telah tertinggal di belakang. Aku tak tahu bahwa sang iblis punya ingatan yang tajam, dan bahwa cepat atau lambat, ia akan datang untuk menuntut "kesalahannya".