Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suasana malam yang tenang dimalam hari, angin angin berembus pelan diluar luarangan, dibalik tenangnya malam, Arka Bergerak sangat cepat bak seorang Assasin yang sudah bisa membunuh targetnya.
Penyusup kedua terperanjat dan mencoba mengarahkan pisau tajamnya ke perut Arka. "Breng*k"
Dengan reflek luar biasa Arka memutar pergelangan tangan lawan, merebut pisaunya lalu menghantamkan gagang pisau tepat ke kepala lawannya.
Brak
Pria kedua ambruk jatuh seketika ke bawah tanah basah.
Dua penyusup sisanya yang berada di dekat pagar panik ketakutan seolah ada aura ganas hitam pekat ditubuh Arka, Salah satu dari mereka merogoh senjata api dibalik jaketnya dengan tangan gemetar.
"Si-siapa kamu.. "
Klik
Pftt Pftt
Dua tembakan meluncur cepat di udara,hanya mengeluarkan sedikit suara dari pistol Glock 19 ditangannya.
Bruk
Peluru menembus tepat di kedua paha pria bernjata itu, membuatnya jatuh berlutut menahan sakit luar biasa, darah darah bercucuran dari pahan kedua pria itu.
Bumm
Arka melangkah mendekat, melayangkan satu tendangan keras ke rahang pria tersebut hingga tak sadarkan diri.
Penyusup terakhir yang tersisa gemetar hebat. Ia menatap Arka seperti sedang melihat iblis pencabut nyawa yang keluar dari kegelapan. Pisau di tangannya terlepas begitu saja ke tanah.
"Tu...tuan Arka..." bisiknya dengan suara tercekat.
Arka mencengkeram kerah baju pria itu, menariknya mendekat hingga jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Matanya menyala dingin di kegelapan malam.
"Kalian membuat kesalahan terbesar dengan mendatangi rumahku saat istriku sedang tidur," bisik Arka dengan suara yang sangat rendah namun sarat ancaman mematikan. "Bawa teman-temanmu dan pergi. Jika aku melihat bayangan kalian lagi di sekitar gang ini... klan kalian akan penuh darah semalam ini."
Arka mendorong pria itu hingga tersungkur.
"Lari G*b*lk lari, dia bukan orang bisa"
Tanpa berpikir panjang, penyusup yang ketakutan setengah mati itu menyeret tiga rekannya yang pingsan dan terluka keluar dari halaman belakang, melarikan diri menembus kegelapan malam.
Arka menyapu pandangan ke sekeliling halaman. Setelah memastikan kondisi aman, ia menyimpan kembali senjatanya, membersihkan sisa tanah di tangannya, lalu melangkah kembali ke dalam rumah.
Arka masuk ke dalam kamar yang hangat. Di atas ranjang, Kinanti sedikit menggeliat karena suara angin di luar. Ia membalikkan badan, membuka matanya yang masih sayu dan berat.
"Mas Arka...?" panggil Kinanti dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Mas dari mana? Kok dingin banget?"
Arka segera menyulut senyum hangatnya yang biasa, menanggalkan aura pembunuh berdarah dinginnya dalam sekejap. Ia merangkak naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Kinanti dari belakang.
"Cuma mengecek pintu dapur belakang, Sayang. Tadi anginnya kencang banget, Mas takut pintunya lepas," sahut Arka lembut, mengecup bahu Kinanti dengan mesra.
Kinanti tersenyum kecil dalam pejamnya, mengusap tangan Arka yang melingkar di perutnya. Rasa hangat dan nyaman langsung menyelimuti hatinya. "Makasih ya, Mas. Selalu jagain aku."
"Selalu, Kin. Mas akan selalu jagain kamu," bisik Arka tulus, menatap wajahi istrinya yang damai di dalam kegelapan.
~ keesokan harinya~
Matahari baru saja terbit, menembus kabut tipis disepanjang gang rumah kontrak mereka, Seperti denting sepatula dan aroma gurih dan bumbu kacang yang ditumis memenuhi dapur kecil itu.
Arka berdiri dengan kau abu-abu kusamnya, Ia mengaduk adonan cilok yang mengepul hangat.
Sementara diranjang kamar Kinanti masih terlelap tenang, sama sekali belum menyadari bawaha semalaman halaman belakang rumah mereka menjadi arena pertempuran darah.
Arka melirik ponsel khusus berlapis bajanya yang diletakkan di celah panci kukusan. Layar kecilnya berkedip cepat, menampilkan pesan teks terenkripsi dari anak buahnya:
Markas operasional Red Dragon di pelabuhan tua udah dilacak, Tuan. Mereka nyiapin pasukan besar untuk nanti malam.
Mata Arka menggelap sejenak. Mereka benar-benar mau nguji kesabaranku.
Dengan cepat, jemari Arka mengetik balasan singkat dengan satu tangan, sementara tangan satunya tetap lihai mengaduk kuah bumbu.
Sediakan helikopter di area industri terlarang pukul sepuluh malam. Biar aku sendiri yang menyelesaikan ini.
Tepat saat pesan terkirim dan Arka menghapus jejaknya, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah kamar. Arka menyunggingkan senyum hangatnya seketika, mengubah gestur tubuhnya kembali menjadi pria lugu penyayang istri.
"Pagi, Sayang," sambut Arka lembut saat Kinanti muncul di pintu dapur dengan wajah bangkit tidur yang polos.
Kinanti tersenyum kecil, berjalan mendekat lalu menyandarkan kepalanya di dada Arka. "Pagi, Mas... Mas Arka bangun jam berapa? Kok masaknya cepat banget?"
"Dari jam lima tadi, Kin. Kasihan kalau kamu telat sarapan," balas Arka seraya mengecup puncak kepala istrinya. "Duduk dulu, Mas ambilkan teh hangat ya."
Kinanti mengangguk dan berjalan menuju meja makan. Namun, saat hendak menarik kursi, matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di lantai di bawah meja. Sebuah benda kecil berwarna perak berkilau ditimpa sinar matahari pagi.
Kinanti berlutut, memungut benda itu.
Itu adalah sebuah selongsong peluru kuningan berukuran kecil dengan goresan huruf asing di bagian bawahnya. Benda itu tampak masih bersih, seolah baru saja terjatuh dari saku atau pakaian seseorang.
Jantung Kinanti berdesir pelan. "Mas Arka... ini benda apa?"
Arka yang sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir tertegun sejenak. Namun tanpa menoleh sedikit pun, ia merespons dengan nada suara yang teramat santai.
"Oh, itu? Kemarin pas Mas jualan di dekat pasar, ada anak kecil mainan petasan rakitan atau kayak mainan pistol pistolan gitu,yang jatuh deket gerobak. Mas ambil buat mainan kelereng, tapi lupa dibuang. Lempar aja ke tempat sampah, Kin."
Kinanti menatap selongsong peluru di genggamannya. Alasan Arka terdengar sangat masuk akal dan disampaikan tanpa ragu sedikit pun. Tapi ada suara kecil di dalam hatinya yang berbisik: emang iya ya ini beneran mainan?
"Oh... gitu ya, Mas," gumam Kinanti pelan, lalu memasukkan selongsong itu ke dalam saku celananya tanpa sepengetahuan Arka.
setelah ia menyiapkan persiapannya untuk berdagang, Arka kembali berjualan sebagai pedang cilok seperti biasanya.
sebelum pergi berjualan Arka berpamitan kepada istrinya didepan pintu. Kinanti tidak berangkat mengajar karna hari ini adalah hari minggu.
"Mas jualan dulu ya sayang, " ucap Arka kemudian menyingsing senyum ramah dan mengecup kening istrinya.
"Iya Mas , Semoga hari ini jualan mas laris " sahut Kinanti lalu tersenyum.
"Aminn.... Mas berangkat" Jawab Arka dengan nada yang dipanjangkan.
Beberapa menit kemudian Arka berangkat mendorong gerobak ciloknya,dengan handuk lusuh tersampai dicelana levisnya, sementara Kinanti melihat Arka didepan pintu rumahnya, berharap hari ini jualan cilok suaminya laris.
Bersambung.....