Indonesia
NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kita Mungkin Al?

Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya Aluna merasakan lagi hari yang begitu panjang.

Biasanya waktu selalu berjalan cepat baginya setiap hari karena ia tidak memiliki kesibukan lain, selalunya rutinitas yang itu-itu saja yang ia lakukan sampai akhirnya ia menjadi orang yang gampang sekali bosan.

Sesuai dengan perintah Siska dan Rani tadi pagi padanya, ia menyelesaikan tugas yang diberikan Ibu Sinta tepat sebelum jam pulang kantor. Padahal, ia hanya dikerjai oleh dua karyawan tersebut.

"Bu Sinta." Sapa Aluna dengan sopan.

"Iya? Kenapa?." Tanya kepala tim tersebut yang tampak tengah bersiap untuk pulang kerja.

"Saya sudah menyelesaikan tugas yang Ibu minta pagi tadi, katanya harus selesai sore ini juga."

Aluna menyerahkan hasil dokumen yang sudah selesai ia analisis lengkap dengan tambahan idenya.

"Siapa yang kasih tau kamu begitu?." Tanya Bu Sinta

Ia mengambil dokumen tersebut dan membaca halaman pertamanya.

"Mbak Siska sama mbak Rani, Bu." Jawabnya

Kepala tim tadi lalu mengangguk mengerti

"Ya sudah saya baca dulu." Ucapnya kemudian.

"Baik Bu."

Setelah menyerahkan tugasnya, Aluna berbalik dan kembali ke meja kerjanya.

"Kerjanya rapi juga." Puji kepala tim tersebut.

Ia terus membalik halaman demi halaman yang sudah selesai Aluna analisis.

"Siksa.."

Kepala tim divisi tadi lantas memanggil Siska, yang dipanggil pun langsung menghampirinya.

"Iya Bu?." Tanyanya

"Kamu yang suruh anak baru itu selesaikan semuanya hari ini?."

Siska tersenyum canggung karena ia ketahuan mengerjai anak baru.

"Hehe iya Bu, saya sama Rani cuma usil. Tapi kita juga penasaran sama kerjaan dia, soalnya gak sembarang orang yang bisa masuk di divisi kita." Jawabnya

Dengan cepat ia memutar otaknya untuk mencari alasan yang pas.

"Lihat."

Bu Sinta memberikan proposal yang dibuat Aluna untuk dibaca oleh Siska.

"Kerjanya rapi dan teliti." Ucapnya

Siska sendiri merasa takjub melihat hasil dari kerjaan Aluna yang sebenarnya hanya keisengannya, dan yang terpenting Aluna bisa menyelesaikan tugas sebanyak itu hanya dalam satu hari.

"Ternyata anak baru itu lumayan juga." Gumamnya merasa sedikit kesal karena pekerjaan Aluna tidak seperti apa yang ia harapkan.

Bu Sinta memperhatikan raut wajah Siska yang tampak kecewa.

"Mau dipakai?." Tanyanya menawarkan

"Boleh Bu? Kebetulan saya belum ada bahan buat meeting besok."

Siska menatap Bu Sinta dengan wajah penuh harap, walau ia enggan mengakui kerja Aluna bagus, tapi ia tentu saja akan senang jika mendapatka bahan untuk dipresentasikan besok saat rapat bulanan.

"Pakai aja, kamu cari ide yang paling bagus." Kata Bu Sinta kemudian

"Wah terima kasih banyak Bu." Ucap Siska begitu kesenangan.

***

Pukul 17.00.

Satu persatu karyawan sudah merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, tidak terkecuali Aluna yang sudah sangat kelelahan di hari pertamanya.

Tapi bukan Aluna namanya kalau rasa lelahnya membuat semangatnya turun, justru rasa lelah itu ia nikmati dengan perasaan yang begitu senang, rasanya seperti menemukan hal baru dalam hidupnya.

Ia melangkah keluar menuju lift dan langsung menekan lantai satu yang menuju basement tempatnya memarkir mobilnya.

Begitu sampai, ia keluar dari lift dan langsung berjalan menuju ke mobilnya yang ia parkir cukup jauh.

"Waktunya jadi princess lagi Aluna."

Ia mengeluarkan bajunya yang ia kenakan pagi tadi dan menggantinya kembali.

"Seneng banget hari inii, ternyata kerja itu seru juga yah." Ucapnya masih menyisakan rasa antusias.

Ia lalu menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya perlahan keluar dari kawasan perusahaan.

***

Lagi-lagi untuk pertama kalinya Aluna merasakan sesuatu yang sangat jarang bisa ia rasakan.

Jalanan macet sepulang kantor memberinya kesan baru.

Ia memperhatikan sekeliling, antrian panjang mobil dan ditengah tengah nya ada mobilnya diantara barisan mobil tersebut. Motor pun sama, hal yang sangat jarang ia alami.

"Ternyata macet seperti ini yah, wajar Lila sering uring-uringan kalau pulang kerja hehe."

Sekitar satu jam lebih, Aluna baru sampai dirumahnya setelah melewati macet yang cukup panjang.

Rasanya semua badannya pegal-pegal hari ini, ia lalu masuk ke dalam rumahnya dan langsung naik ke kamarnya.

"Capeknyaaa."

Keluhnya.

Ia lalu merebahkan badannya dikasur empuknya, rasanya sangat nyaman setelah seharian beraktivitas dan malamnya merebahkan badannya yang lelah diatas tempat tidur yang nyaman.

"Hari ini panjang bangettt, capek juga tapi seru bangetttt."

Ia mengirimkan pesan tersebut kepada Lila dan melempar hp nya ke sembarang arah di sampingnya.

Perlahan matanya mulai terpejam, terlelap dalam rasa lelahnya. Rasa lelah karena bekerja, hal yang baru ia rasakan pertama kalinya.

***

"Al...Alunaaa..."

Tok tok tok...

Suara ketukan pintu dan panggilan Mamanya diluar kamarnya sama sekali tidak terdengar oleh Aluna yang tengah tidur lelap didalam sana

"Kenapa Ma?." Tanya Abra saat ia lewat didepan kamar adik perempuannya.

"Aluna ada gak yah didalam?.

Mamanya balik bertanya karena tidak kunjung disahuti oleh Aluna dari dalam kamarnya.

"Mungkin ada kok, mobilnya ada digarasi aku lihat tadi." Jawab Abra yakin.

"Ya sudah kamu turun duluan buat makan malam."

"Iya Ma."

Tok tok tok...

"Alunaaa...makan malam nak."

Mamanya pun kembali mengetuk pintu kamar putrinya, kali ini sedikit lebih keras.

"Al..."

Baru saja Mamanya ingin berteriak lagi, pintu kamar Aluna pun terbuka dan memunculkan Aluna dari dalam kamar dengan penampilan yang berantakan.

"Aluna ngantuk Ma." Ucapnya dengan mata setengah terpejam.

"Emangnya kamu dari mana?." Tanya Mamanya penasaran

"Main padel sama Dinda, capek banget ternyata." Kilahnya yang masih bisa mencari alasan saat ia dalam keadaan setengah tertidur.

"Sampai kusut gini penampilannya."

"Aku mau tidur lagi." Katanya lalu berniat masuk kembali ke kamar tapi Mamanya langsung menarik tangannya.

"Eh jangan. Kamu cuci muka, turun makan malam dulu terus mandi, baru tidur lagi."

Perintah mamanya karena tidak ingin putrinya itu melewatkan makan malam.

"Besok aja makannya." Rengek Aluna sudah tidak bisa menahan kantuknya.

"Rafa juga ada dibawah." Ucap Mamanya

Saat nama Rafa disebut, barulah kesadarannya kembali sepenuhnya.

"Hah?."

"Udah cepet."

Desak Mamanya kemudian berlalu dari sana meninggalkan Aluna yang masih mematung didepan kamarnya.

"Kok ada Rafa sih, ngapain dia?." Gumamnya

Aluna dengan malas masuk ke dalam kamarnya untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.

Setelahnya ia turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya.

***

Aluna yang baru saja tiba diruang makan langsung mencuri perhatian Rafa. Mata pemuda itu seakan terhipnotis dan tidak mau lepas memandang Aluna yang hanya menggunakan baju tidur satin sleep dress berwarna lembut yang panjangnya selutut dan dibalut dengan cardigan tipis panjang yang menjuntai hingga ke betisnya untuk luarannya.

Wajah Aluna dibuat sepolos mungkin tanpa make up apapun diwajahnya, bare face nya sangat natural dan rambutnya yang terurai sedikit berantakan membuat Rafa tidak bisa berkedip.

"Ngapain kesini?." Tanya Aluna namun tidak ada respon dari Rafa.

Aluna yang merasa kesal langsung memanggil Rafa dengan suara yang agak ditinggikan.

"Rafa!." Seru Aluna

Barulah Rafa tersadar dari lamunannya.

"Ah..eh anu..gak apa-apa, mau datang aja." Jawabnya gelagapan.

"Aneh." Cibir Aluna

"Emang gak boleh? Dulu juga sering kesini." Ucap Rafa yang merasa hanya kembali pada kebiasaan lamanya.

"Yah boleh boleh aja sih, tapi gimana kalau aku gak ada dirumah?." Tanya Aluna sengaja mencari jawaban Rafa karena keadaannya saat ini sudah mulai bekerja.

"Terus kenapa? Ada Tante, om sama bang Abra juga jadi gak masalah kalau kamu gak ada." Cibir Rafa

Rafa memang sudah seperti bagian dari keluarga Aluna, jadi yang ia katakan memang ada benarnya. Walau tidak ada Aluna, masih ada penghuni lain rumahnya yang sangat akrab dengannya.

"Terserah deh." Ucap Aluna cuek

Rafa pun kembali memandangi Aluna sementara yang lain sudah mulai melanjutkan makan malam mereka.

"Kenapa Aluna makin dewasa makin cantik yah?."

Batin Rafa yang terlihat enggan memalingkan pandangannya dari Aluna.

Tingkahnya itu ternyata diam-diam diperhatikan oleh Abra, ia hanya tersenyum seakan menyadari suatu hal dari tatapan Rafa pada adik bungsunya.

***

Selesai makan malam, Aluna yang tadinya mau tidur terpaksa mengurungkan niatnya.

Ia menemani Rafa di taman belakang rumahnya, hal yang sering mereka lakukan waktu SMA dulu kalau Rafa mampir makan malam ke rumahnya.

"Udah lama banget yah Al..dulu kita sering duduk berdua kek gini juga ditempat ini."

Rafa mulai mengenang masa lalu mereka saat remaja dulu

"Hmmm..." Aluna hanya berdehem menanggapinya.

"Aku senang gak ada yang berubah dari tempat ini, dan kamu juga sama Al...gak ada yang berubah dari ka...mu."

Kata-kata Rafa terhenti saat melihat Aluna yang sudah terlelap disampingnya, kepalanya ia sandarkan di tiang pondok kecil yang ada ditaman tesebut.

"Lah tidur anaknya." Ucap Rafa yang langsung kehilangan momen nostalgianya.

"Mana nyenyak banget lagi." Kesalnya melihat Aluna yang sudah terlelap disampingnya.

Ia lalu meraih leher Aluna dengan sangat perlahan dan membuatnya bersandar dibahunya agar Aluna merasa nyaman.

Semakin lama Rafa memandangi wajah Aluna yang sudah jatuh lelap dalam tidurnya, makin kencang pula debaran jantungnya.

"Apa kita mungkin Al?." Tanyanya tanpa mengharap Aluna yang tengah terlelap membalas pertanyaannya.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!