**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Seperti Menyodorkan Ciuman
Hasil ujian bulanan diumumkan pada Rabu siang. Begitu melihat namanya berada di peringkat tiga besar, Naila memotret papan pengumuman lalu menelepon Radhika sebelum kembali ke kelas.
"Mas, aku dapat hadiah, kan?"
Di seberang, bunyi ketikan berhenti. "Selamat dulu, Dek. Kamu mau apa?"
"Ke Dufan akhir pekan ini."
Radhika diam sesaat, seolah sedang memindahkan beberapa jadwal di kepalanya. "Mau naik wahana apa?"
"Belum tahu. Yang penting Mas ikut." Naila merendahkan suara. "Dua minggu ini Mas sibuk terus. Kalau ketemu pun cuma sebentar, terus mukanya dingin. Aku mau hadiah berupa satu hari penuh. Nggak boleh sambil rapat."
Kalimat itu membuat dada Radhika terasa hangat sekaligus sesak. Jarak yang sengaja ia buat ternyata dihitung oleh gadis itu hari demi hari.
"Baik," jawabnya. "Jumat pukul lima aku jemput. Kita berangkat dari Menteng besok paginya."
"Janji?"
"Janji."
Jumat sore, latihan tenis Naila berakhir lebih lambat dari rencana. Ia baru meninggalkan lapangan sekitar pukul empat lewat dua puluh dengan raket di bahu dan rambut yang menempel di pelipis.
Rangga berjalan di sampingnya. Sejak mereka memenangkan pertandingan latihan, senior itu selalu menemukan alasan untuk memperpanjang percakapan.
"Kos kamu lewat gerbang barat, kan? Searah," katanya.
"Mas Rangga tadi bilang mau ke perpustakaan."
"Berubah pikiran. Ada es kopi baru dekat kos kamu. Katanya enak."
Naila tertawa. "Alasannya makin lama makin nggak rapi."
"Berarti kamu memperhatikan. Kemajuan besar buat saya."
Mereka terus berdebat ringan sampai gedung kos terlihat. Dari kejauhan, Naila segera mengenali Alphard hitam yang berhenti di tepi jalan. Radhika bersandar pada pintu pengemudi dengan kemeja hitam berlengan digulung, satu tangan masuk saku, sementara asap tipis naik dari sela jarinya.
Wajah Naila langsung cerah.
"Mas!"
Ia menoleh kepada Rangga. "Aku duluan, ya. Makasih sudah temani jalan."
Rangga sempat memegang pergelangan tangannya ketika ia hendak berlari. Sentuhannya singkat dan segera dilepaskan.
"Besok jadi latihan tambahan?"
"Aku ke Dufan. Senin saja kita atur lagi."
"Oke. Hati-hati."
Radhika sudah melihat mereka sejak keluar dari tikungan. Ia mencoba menganggap laki-laki itu sekadar teman satu klub. Namun, ketika tangan Rangga menyentuh pergelangan Naila, rahangnya mengeras. Rokok di antara jarinya terbakar lebih cepat karena diisap terlalu dalam.
Baru ketika Naila berlari kecil ke arahnya, ketegangan di matanya sedikit surut.
"Kok datang cepat?" tanya Naila, terengah ringan.
Radhika mematikan rokok di asbak portabel mobil. "Siapa tadi?"
"Senior klub tenis. Namanya Rangga. Dia juga alumni SMAN 3 Bandung." Naila mengibaskan tangan di depan wajah untuk mengusir sisa asap. "Katanya kami jodoh banget karena sekolah dan kampusnya sama. Lucu, kan?"
Radhika tidak tertawa. Ia mengambil rokok lain, menyalakannya, lalu menatap Rangga yang masih berdiri beberapa meter di belakang mereka.
"Mas, rokoknya baru habis satu."
"Aku tahu."
"Kenapa wajah Mas seperti mau memecat orang?"
"Panas."
"Memangnya panas bisa bikin orang cemberut?" Naila mendekat, lalu berjinjit agar wajah mereka sejajar. Ia mengangkat dagu dan menyodorkan hidungnya yang berkilau oleh keringat. "Lihat, aku yang habis lari saja nggak secemberut itu. Hidungku sampai berkeringat."
Jarak mereka mendadak terlalu sempit. Dari sudut tertentu, wajah Naila yang terangkat tampak seperti sedang menawarkan ciuman.
Ingatan tentang malam di kamar mandi menerobos tanpa diminta: bibir pucat, napas yang tidak normal, dan kontak singkat saat ia mengikuti instruksi penyelamatan. Itu bukan ciuman. Itu tindakan darurat ketika nyawa Naila terancam. Radhika segera menolak memberi makna lain pada ingatan tersebut, tetapi tenggorokannya telanjur bergerak kasar.
Ia memalingkan wajah. "Naik dulu. Mandi dan ganti baju."
"Aku cuma menunjukkan keringat."
"Aku sudah lihat."
"Mas aneh. Tunggu dua puluh menit, ya."
Naila mengambil tas dari bagasi dan masuk ke gedung kos. Radhika tetap di samping mobil, berusaha menenangkan pikirannya dengan menghitung napas.
Langkah sepatu mendekat dari arah belakang. Rangga belum pergi.
"Mas-nya Naila?" Rangga berhenti dalam jarak sopan, lalu mengeluarkan sebungkus rokok. "Saya Rangga, senior-nya Naila. Mau?"
Radhika melihat rokok yang disodorkan, kemudian mengangkat rokok tipis dari kotak logam miliknya sendiri. "Aku merokok yang ini."
Nada suaranya datar, tetapi penolakan itu terasa lebih dingin daripada angin sore. Rangga sempat memperhatikan merek impor yang jarang dijual di Indonesia, lalu melirik mobil, jam tangan, dan mantel tipis mahal yang tergantung di kursi belakang.
"Oh. Baik." Ia menarik tangannya. "Saya cuma mau kenalan. Naila sering cerita tentang Mas."
"Apa yang dia ceritakan?"
"Katanya Mas selalu datang kalau dia butuh bantuan."
"Lalu?"
Pertanyaan pendek itu membuat Rangga kehilangan senyum selama satu detik. Ia merasa seperti sedang menghadapi pewawancara yang menilai setiap jeda napasnya. Meski begitu, ia menegakkan bahu.
"Nggak ada. Saya senang dia punya keluarga yang menjaga."
Radhika menatapnya lurus. "Kalau kamu seniornya, pastikan latihan selesai tepat waktu dan jangan memegang tangannya tanpa perlu."
Rangga memerah, antara malu dan tersinggung. "Tadi saya cuma memastikan jadwal."
"Jadwal bisa ditanyakan tanpa menyentuh."
Tidak ada ancaman dalam kalimat itu. Justru ketenangannya membuat Rangga makin sadar bahwa ia tidak punya dasar untuk membantah.
"Saya paham," katanya akhirnya. "Sampai ketemu lagi."
Ia pergi menuju gerbang, tetapi tidak membatalkan niatnya mendekati Naila. Rasa minder hanya bertahan beberapa langkah. Setelah itu, tekadnya kembali. Mobil mahal dan tatapan dingin seorang kakak tidak otomatis menentukan siapa yang boleh dicintai Naila.
Di lantai atas, Naila mendapati Sekar berbaring di ranjang dengan selimut sampai dada. Hidungnya merah dan sekotak tisu terbuka di samping bantal.
"Kamu demam?" Naila meletakkan punggung tangan di dahi temannya setelah meminta izin.
"Cuma pilek. Sudah minum obat dari dokter kampus."
"Ada yang antar makanan?"
Sekar mengangguk ke meja. Bubur hangat, obat, dan sebotol air tersusun rapi di sana. "Ada. Kamu mandi saja. Bukannya mau dijemput?"
"Kalau malam nanti demamnya naik, telepon aku. Jangan cuma bilang baik-baik saja."
"Iya, Bu Dokter." Sekar tersenyum lemah. "Pergilah sebelum Mas kamu naik dan menggedor pintu."
"Dia nggak akan masuk tanpa izin. Paling cuma menelepon setiap dua menit."
Naila memastikan termos Sekar masih berisi air hangat, menaruh termometer di dekat bantal, lalu membuka sedikit jendela agar udara kamar tidak pengap. Setelah Sekar berjanji akan beristirahat, barulah ia mengambil pakaian dan bergegas ke kamar mandi.
Ketika air mulai mengalir, ia mendengar ponsel Sekar berdering di luar. Suara Sekar sengau, tetapi satu panggilannya terdengar jelas melewati pintu.
"Mas... makasih. Aku nggak tahu harus balas gimana."
Naila mematikan keran selama beberapa detik. Ia tidak berniat menguping, tetapi pikirannya langsung kembali pada mobil yang pernah ia lihat dan sosok Sekar yang duduk berhadapan dengan Damar di restoran Padma.
Sekar hampir tidak pernah memanggil laki-laki lain dengan sebutan itu.
Apakah Mas di telepon tadi adalah Damar?