Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Apa Kau Puas?

Perkataan Reval sudah cukup bagi Dhana untuk menyimpulkan bahwa dirinya telah resmi menjadi salah satu orang kepercayaannya. Yang artinya Dhana akan semakin dekat untuk menyelesaikan misi Negaranya. Semakin dekat ia dengan Reval, maka akan semakin banyak informasi penting yang bisa ia dapatkan.

“Baik, Tuan! Terima kasih banyak atas kepercayaan yang anda berikan kepada saya,” ucap Dhana dengan senyum penuh kebahagiaan.

Untuk sesaat Reval tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam memperhatikan ekspresi bahagia Dhana yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Sampai akhirnya ia berkata, “Aku penasaran kau sesenang ini antara karena telah menjadi salah satu orang kepercayaanku atau karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah dari anak yang Jenara kandung saat ini.”

Sontak perkataan itu membuat ekspresi Dhana seketika berubah total dari sebelumnya. Sebab ia juga tidak tahu mengapa ia merasa sebahagia ini.

Apakah benar karena ia berhasil menjadi salah satu orang kepercayaan Reval dan kemungkinan besar akan segera menyelesaikan misi negaranya? Atau merasa bahagia atas kehamilan Jenara yang jelas bahwa itu adalah anak kandungnya sendiri? Namun yang jelas hari itu ia merasa menjadi orang paling bahagia di dunia.

“Tuan saya….”

“Sudahlah, apapun alasannya kau sudah menjalankan tugas yang aku berikan dengan sangat baik. Selamat datang di keluarga besar klan Black Gold, Ardhana Vendra!”

“Te-terima kasih, Tuan!” ucap Dhana.

“Untuk malam ini, lebih baik kau tetap tinggal di sini dan menemaninya. Aku rasa dia akan sangat terkejut saat mengetahui tentang kehamilannya,” ujar Reval yang kemudian pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.

Namun, dapat Dhana rasakan ada maksud tersembunyi dari perkataan yang Reval lontarkan barusan. Ya, benar… Jenara pasti tidak akan sebahagia dirinya yang berhasil menjadi salah satu orang kepercayaan Reval untuk melancarkan misi negaranya. Apalagi wanita itu yang akan mengandung dan merasakan semua proses kehamilan tersebut selama 9 bulan ke depan.

“Benar, apa yang akan Jenara lakukan saat mendengar tentang kehamilannya ini?” gumam Dhana dengan putus asa saat membayangkan ekspresi Jenara saat mengetahuinya.

Selama bertahun-tahun ia mempertahankan penyamarannya demi mendekati inti kekuasaan Reval. Dan akhirnya ia mendapatkan apa yang selama ini dicari. Akses, kepercayaan dan kedekatan dengan Reval.

Secara strategi, itu adalah kemenangan besar. Namun anehnya, Dhana tidak merasa menang. Pikirannya justru tertuju pada perempuan yang terbaring sendirian di balik pintu kamar, Jenara.

Kehamilan itu mungkin menjadi akhir dari tugas berat yang selama ini dipaksakan kepadanya. Tetapi bagi Dhana, itu justru menandai awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Ia kini memiliki posisi di sisi kanan Reval. Ia memiliki kesempatan untuk mengetahui rahasia-rahasia keluarga Arsenalio. Dan yang paling penting… ia memiliki kesempatan untuk suatu hari menghancurkan Reval dari tempat yang paling dekat dengannya.

Dhana tetap berdiri di sana beberapa saat. Kemudian ia menoleh ke arah kamar Jenara. Dan ia pun bergegas berjalan menuju ke arah kamar itu berada. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke mansion itu, ia merasa tidak lagi harus mendekati Jenara sebagai bawahan yang menjalankan perintah. Melainkan sebagai pria yang telah mengambil kehormatan wanita itu, sekaligus ayah kandung dari bayinya.

Namun dalam hati, Dhana membuat satu janji. Jika suatu hari tiba waktunya untuk menjatuhkan Reval, ia tidak akan membiarkan Jenara dan anak yang dikandungnya ikut menjadi korban. “Jenara, tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan segera membawamu pergi dari tempat ini dan mempertanggungjawabkan atas anak yang saat ini ada di dalam perutmu dan juga… hidupmu.”

Dhana masih berdiri di depan pintu kamar Jenara. Seharusnya ia tidak datang untuk menemui wanita itu. Setidaknya, itulah yang berulang kali dikatakannya pada diri sendiri sejak meninggalkan ruang kerja Reval. Tetapi Reval jelas menyuruhnya untuk memberitahu sendiri tentang kehamilan itu.

Rencana Reval telah berhasil. Semua berjalan sesuai dengan apa yang telah mereka susun. Dhana pun telah mendapatkan kepercayaan penuh dari Reval, cukup untuk membuat penyamarannya sebagai orang kepercayaan sang ketua mafia semakin sempurna.

Dengan membulatkan keraguan dihatinya, Dhana mengetuk pintu sekali. Tidak ada jawaban. Ia mencoba mengetuk untuk kedua kalinya sebelum akhirnya pintu terbuka dari dalam. Jenara berdiri di sana dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada yang Dhana bayangkan. Tidak ada pertanyaan mengenai alasan kedatangannya. Tidak ada pula senyum atau ekspresi terkejut ketika melihat laki-laki itu.

"Masuk."

Dhana mengikutinya. Ruangan itu sunyi. Jenara berjalan menuju jendela, sementara Dhana tetap berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Apakah kau datang menemuiku untuk mengatakan bahwa rencana Reval telah berhasil," katanya akhirnya, meski Jenara tidak berbalik.

"Ya, Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang-orang Reval juga sudah menganggap semuanya selesai." Dhana berhenti sebentar. Ada satu kalimat yang terasa jauh lebih berat daripada yang lain. "Dan..." suaranya merendah. "kau sedang hamil saat ini."

Seketika suasana di dalam kamar itu semakin terasa sunyi. Dhana memperhatikan punggung Jenara dengan saksama. Tidak ada gerakan, tidak ada tubuh yang menegang, tidak ada tangan yang refleks menyentuh perut dan bahkan… napasnya seolah tidak berubah.

Jenara hanya menatap ke luar jendela, seakan kalimat yang baru saja didengarnya bukanlah sebuah kabar yang mengejutkan. Dhana mengernyit, sesaat Ia sempat berpikir mungkin Jenara tidak mendengar ucapannya.

Namun ketika beberapa detik berlalu, ia menyadari sesuatu yang lain. Wanita itu sudah tahu tentang kehamilannya sendiri. Entah sejak kapan… mungkin sejak tubuhnya mulai berubah. Mungkin sejak tanda-tanda pertama muncul. Atau mungkin jauh sebelum siapa pun memberitahunya.

Dhana menurunkan pandangan. Jadi bukan keterkejutan yang ia lihat di sana, melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit dibaca. Sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. “Sepertinya anda sudah tahu lebih dulu dari siapapun.”

"Kalau begitu..." Dhana menarik napas pelan. "saya pamit undur diri dulu."

Ia tidak ingin memaksanya berbicara, setidaknya tidak malam ini. Ia ingin memberikan ruang sendiri bagi wanita itu untuk sementara waktu. Dhana berbalik dan baru saja mengambil satu langkah ketika suara Jenara terdengar dari belakang. "Apakah kau juga merasa puas?"

Langkah Dhana sontak terhenti. Sebab pertanyaan itu jelas mengandung makna yang begitu dalam meski hanya beberapa kata yang terucap.

Jenara masih membelakanginya. "Puas seperti Reval?"

Dhana perlahan menoleh dan Jenara akhirnya berbalik, hingga tatapan mata keduanya akhirnya bertemu. Wajahnya masih tenang, tetapi kali ini ketenangan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Rencananya berhasil," lanjutnya. "Kau berhasil menjadi orang kepercayaannya secara resmi. Dengan kau berhasil menghamiliku."

Tatapan mereka masih bertemu. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang bergerak di mata Jenara. Bukan kemarahan, bukan pula kebencian melainkan luka yang selama ini sengaja disembunyikannya dibalik sikap dingin yang ia selalu perlihatkan.

"Jadi, apa kau merasa puas?"

Bersambung ….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!