Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Janji?" bisik Sasi, matanya berbinar menatap tepat ke manik mata Adrian, menagih kepastian di tengah kepungan kebohongan yang selama ini mengelilinginya.

"Iya, Sasi, aku janji. Aku akan membawa pernikahan kita selalu sakinah, mawaddah, warahmah," jawab Adrian mantap.

Ketegasan di suaranya memancarkan kesungguhan yang tak lagi menyisakan keraguan.

Adrian menatap Sasi penuh rasa canggung dan penghormatan, lalu bersuara sangat lirih, "Boleh aku memelukmu?"

Sasi menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan, senyum tipis yang sarat akan kepasrahan dan kehangatan terkembang di bibirnya.

"Kamu suamiku, Adrian."

Tanpa menunggu lebih lama, Adrian menarik tubuh Sasi ke dalam pelukannya.

Ia memeluk tubuh langsing itu dengan sangat lembut, seolah-olah Sasi adalah porselen rapuh yang takut ia hancurkan jika didekap terlalu erat.

Di dalam dekapan dada bidang Adrian yang hangat, pertahanan batin Sasi akhirnya runtuh total. Isakan yang sejak lama ia tahan pecah seketika.

Sasi menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di bahu Adrian, meremas kain kemeja suaminya seraya meluapkan seluruh rasa sakit, trauma, dan ketakutan yang menumpuk selama ini.

"Apakah, kamu mau menerimaku setelah Hendrik memperkosaku?" tanya Sasi di sela tangisannya yang memilukan, menyuarakan ketakutan terbesarnya sebagai seorang wanita yang telah dinodai secara keji.

Adrian makin mempererat pelukannya, merengkuh kepala Sasi dan mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Tentu saja, sayang. Aku tetap menerimamu," bisik Adrian lembut tepat di telinga Sasi, suaranya bergetar menahan haru dan amarah pada pelaku kejahatan itu.

"Bukan salahmu. Kamu korban di sini, dan tak ada satu pun luka di masa lalumu yang bisa mengubah kenyataan bahwa kamu adalah istri Adrian, selamanya."

"Sekarang lanjut makan, jangan bandel. Setelah itu minum obat dan vitamin," ucap Adrian lembut, mengambil kembali mangkuk bubur yang sempat ia letakkan.

Sasi menerima suapan demi suapan dengan patuh.

Setiap kali sendok mendarat di mulutnya, kehangatan kecil merayapi dadanya.

Setelah mangkuk itu bersih, Sasi meneguk air putih lalu menatap Adrian yang sedang menyiapkan beberapa butir obat dan vitamin di telapak tangannya.

"Mas Adrian," panggil Sasi pelan.

Adrian yang sedang menuangkan air ke gelas menoleh seketika.

Sebuah senyum tipis yang hangat terkembang di bibirnya. Matanya berbinar jenaka menatap istrinya.

"Biasanya cuma panggil Adrian," goda Adrian dengan nada geli, memancing rasa canggung Sasi.

"Ishh. Mas!" seru Sasi gemas, pipinya mendadak merona merah akibat godaan suaminya itu.

Ia menyambar gelas dari tangan Adrian dan meminum obatnya cepat-cepat untuk menyembunyikan rasa malunya.

Adrian tertawa pelan, suara tawa tulus yang sudah sangat lama tidak pernah terdengar dari bibirnya.

Ia mengusap puncak kepala Sasi dengan penuh kasih sayang.

"Nah, begitu dong. Panggil 'Mas' kan lebih enak didengar," bisik Adrian seraya mengambil kembali gelas kosong dari tangan Sasi.

"Sekarang, kamu istirahat ya. Obatnya bakal bikin kamu mengantuk."

Sasi merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur empuk.

Pengaruh obat penenang dan vitamin dari Dokter Maya perlahan-lahan mulai bekerja, membuat kelopak matanya terasa kian berat.

"Mas Adrian mau ke mana?" tanya Sasi lirih, menangkap pergerakan Adrian yang hendak berdiri.

"Mas mau kerja sayang. Sementara kerjanya lewat laptop dulu. Dan ayo lekas tidur."

"Iya, Mas. Siap," jawab Sasi dengan senyum tipis sebelum perlahan-lahan matanya terpejam rapat, menyambut tidur yang amat lelap di bawah naungan rasa aman yang diberikan suaminya.

Sementara Sasi terlelap, Adrian membuka laptopnya di meja kerja tak jauh dari tempat tidur.

Matanya yang mendadak dingin dan tajam menatap lurus ke arah layar monitor, tempat koneksi langsung kamera CCTV tersembunyi terhubung secara real-time.

Di layar, Adrian melihat tampilan kamar utama di rumah mewahnya.

Fitria tampak sedang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah puas tanpa beban, lalu meraih ponsel rahasianya.

Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan sosok Hendrik keluar dengan hanya berbalut piyama santai—seolah-olah pria itu adalah pemilik sah rumah tersebut.

Adrian membelalakkan matanya saat menyadari keadaan rumah yang teramat lengang.

Seluruh pelayan dan asisten rumah tangga ternyata sudah dipulangkan secara sepihak oleh Fitria agar wanita itu bisa meluapkan kebebasannya bersama Hendrik tanpa ada mata yang mengawasi.

"Mas Adrian benar-benar sudah pergi ke Kanada, Hendrik," terdengar suara Fitria dari rekaman audio CCTV yang begitu jernih.

"Dan, Sasi sudah mati membusuk di kuburannya. Semua halangan kita sudah bersih!"

Hendrik tertawa terbahak-bahak, merangkul bahu Fitria lalu mencium pelipis wanita itu dengan begitu lancang.

"Kerja bagus, sayang. Sekarang, rumah ini, kekayaannya, dan calon anak kita akan jadi milik kita sepenuhnya. Adrian yang bodoh itu tak akan pernah tahu."

Di dalam kamar apartemen yang hening, Adrian menatap adegan keji di layar laptopnya tanpa berkedip.

Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat lehernya menonjol tegang.

Amarah yang mendidih di dalam dadanya berubah menjadi gelombang kebencian yang amat dingin dan tertata rapi.

"Nikmatilah kebebasan kalian sebentar lagi, iblis," bisik Adrian dingin, suaranya sangat lirih namun sarat akan ancaman pembalasan dendam yang amat mematikan.

Adrian jemarinya dengan cepat mengetik instruksi pada ponselnya, mengirimkan rekaman video tersebut secara otomatis ke server rahasia yang aman.

Setiap detik perzinahan, pengkhianatan, dan persekongkolan keji yang diperagakan Fitria dan Hendrik di rumahnya sendiri akan menjadi jerat hukum yang tak akan bisa mereka hindari. Pembalasan Adrian baru saja dimulai.

Sasi yang mengigau ketakutan, meracau dalam tidurnya dengan tubuh bergetar hebat.

Peluh dingin membasahi dahi dan lehernya yang masih meninggalkan bekas memar membiru.

"Jangan... ampun... Jangan cambuk aku." ratap Sasi lirih, jemarinya meremas kain sprei dengan sangat kuat seolah sedang berusaha melarikan diri dari bayangan gelap yang menyiksanya.

Adrian yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Setiap kata yang keluar dari bibir Sasi menghantam dadanya bagai hantaman palu besi yang menghancurkan seluruh hatinya.

Adrian merasa sangat menyesal. Rasa bersalah yang teramat dalam merayapi seluruh dinding jiwanya saat menyadari betapa kejam perbuatannya dulu ketika ia terpengaruh oleh manipulasi Fitria hingga tega mencambuk Sasi tanpa rasa belas kasihan.

Wanita polos di hadapannya ini menanggung trauma fisik dan batin yang begitu dalam akibat kebodohannya sendiri.

Dengan cepat namun lembut, Adrian mendekati ranjang dan meraih kedua bahu Sasi.

"Sasi, bangun, sayang." bisik Adrian penuh kelembutan, menepuk-nepuk pelan pipi istrinya untuk memutus mimpi buruk yang menyiksa itu.

"Bangun, ini Mas Adrian. Kamu aman di sini,"

Mata Sasi membelalak terbuka seketika. Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun dengan tidak beraturan seolah baru saja lolos dari jurang maut.

Pandangan matanya liar dan dipenuhi ketakutan mendalam, sampai akhirnya fokus matanya menangkap sosok Adrian yang menatapnya penuh keprihatinan dan rasa bersalah.

Sasi memegangi dadanya, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Kehangatan telapak tangan Adrian di bahunya perlahan-lahan menarik kesadarannya kembali ke dalam kamar apartemen yang aman itu, menjauhkannya dari bayangan kelam di masa lalu.

Adrian segera menarik Sasi ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh yang masih bergetar hebat itu dengan penuh kehangatan dan kelembutan.

Ia mengusap punggung Sasi dengan usapan lembut yang menenangkan, membiarkan istrinya menyandarkan kepala di dada bidangnya.

"Maafkan Mas, sayang. Maafkan Mas." bisik Adrian parau tepat di telinga Sasi, mencium puncak kepala istrinya berkali-kali dengan penuh penyesalan dan kasih sayang yang mendalam.

"Tidak ada lagi cambuk, tidak ada lagi rasa sakit. Mas ada di sini untuk melindungimu, Sasi."

Dada Adrian bergetar menahan gejolak emosi. Ia merasakan betapa kecil dan rapuhnya Sasi di dalam pelukannya.

Rasa bersalah kembali mengiris hatinya, tetapi kali ini ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk memberikan seluruh perhatian, rasa aman, dan perlindungan yang layak didapatkan oleh istrinya.

Sasi menyembunyikan wajahnya di dada Adrian. Suara detak jantung suaminya yang teratur dan hangatnya pelukan itu perlahan-lahan meredakan kepanikan yang membakar dadanya.

Napasnya yang tadinya memburu mulai berangsur-angsur tenang dan teratur.

"Mas tidak akan biarkan siapa pun melukaimu lagi, termasuk bayang-bayang masa lalu itu," lanjut Adrian dengan nada lembut namun penuh ketegasan.

Ia melonggarkan pelukannya sedikit, lalu mengusap sisa keringat dingin di dahi Sasi dengan jemarinya yang hangat.

Ia menatap manik mata Sasi yang masih memancarkan sisa-sisa ketakutan, lalu menyunggingkan senyum tulus yang begitu menenangkan.

"Tenang ya, sayang. Kamu sudah aman bersama Mas di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!