Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Semua orang di ruang tamu itu langsung terdiam kaget menatap ke arah pintu kayu jati ganda tersebut.

"Siapa yang bertamu malam-malam begini? Tono, sana buka pintunya cepat!" perintah Dion kasar.

Tono mengangguk pelan dan berjalan ragu-ragu menuju pintu utama rumah mewah itu.

Ceklek.

Tono membuka gagang pintu itu perlahan dan melongokkan kepalanya ke luar.

Begitu melihat siapa sosok yang berdiri tegak di depan pintu, napas Tono seakan berhenti seketika.

"A... Ak... Akbar?" ucap Tono terbata-bata dengan bola mata yang nyaris lepas dari kelopaknya.

Tanpa permisi atau menunggu dipersilakan masuk, Akbar langsung mendorong pintu itu dengan sebelah tangannya.

Brak.

Pintu terbuka lebar ke dalam membuat Tono terdorong mundur sampai terjatuh ke lantai marmer.

Akbar melangkah masuk ke dalam ruang tamu mewah itu dengan langkah kaki yang sangat tenang dan santai.

Dia menatap tajam ke arah Dion dan Pak Wanto yang sedang duduk kaget di sofa ruang tamu.

"Selamat malam keluarga terhormat," sapa Akbar dengan suara datar yang memecah keheningan ruangan.

Dion langsung melompat berdiri dari sofanya dengan wajah merah padam menahan marah.

"Berani-beraninya kau masuk ke rumahku tanpa izin anak sialan!" teriak Dion kalap menunjuk wajah Akbar.

Pak Wanto ikut berdiri dan merapikan kerah baju batiknya dengan wajah sok berwibawa.

"Ada urusan apa kamu ke sini Akbar? Ini bukan tempat untuk anak gembel sepertimu," usir Pak Wanto dengan nada merendahkan.

Akbar tidak menjawab, dia malah berjalan maju mendekati meja kaca di tengah ruangan itu.

"Sistem, aktifkan Jimat Aura Intimidasi sekarang," perintah Akbar dingin di dalam kepalanya.

[Jimat Aura Intimidasi telah diaktifkan. Durasi efek tersisa: 9 menit 59 detik.]

Wuuush.

Tiba-tiba saja suhu di dalam ruang tamu mewah itu anjlok menjadi sangat dingin.

Angin aneh entah dari mana berhembus pelan menyapu tengkuk Dion, Tono, dan Pak Wanto secara bersamaan.

Di mata ketiga orang itu, sosok Akbar yang tadinya biasa saja mendadak berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Bayangan hitam pekat seolah muncul di belakang punggung Akbar, memancarkan niat membunuh yang sangat pekat.

Nafas Dion mendadak tercekat, paru-parunya seakan lupa bagaimana caranya mengambil oksigen dari udara.

"Ugh... a... apa ini?" Dion memegangi lehernya sendiri sambil mundur ketakutan hingga menabrak sofa.

Pak Wanto yang tadinya berdiri tegak sok berwibawa kini kakinya bergetar hebat tak terkendali.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran deras dari dahi botak kepala desa tersebut.

Rasa bersalah atas semua kejahatan korupsi dan penindasan yang pernah dia lakukan tiba-tiba menghantui pikirannya secara instan.

Tono yang masih duduk di lantai langsung kencing di celana tanpa bisa dia tahan saking ngerinya melihat wajah Akbar.

"Kalian menyewa preman untuk membunuhku siang tadi kan?" suara Akbar terdengar bergema berat seperti suara malaikat maut.

"Itu... bukan aku! Aku tidak tahu apa-apa!" bantah Dion menangis ketakutan sambil merosot jatuh ke lantai.

Akbar berjalan memutari meja kaca dan berdiri tepat di hadapan Pak Wanto yang wajahnya sudah sepucat mayat.

"Sebagai kepala desa, harusnya bapak mendidik anak bapak dengan benar, bukan malah membiarkannya jadi sampah masyarakat."

"Ma... maafkan anak saya Akbar, tolong jangan sakiti kami," ucap Pak Wanto memelas dengan suara gemetar parah.

Mental Pak Wanto benar-benar hancur lebur terkena efek aura intimidasi yang sangat brutal tersebut.

"Sistem, aktifkan Mata Hoki Level 2, aku ingin melihat seberapa busuk orang tua ini," batin Akbar cepat.

[Mata Hoki Level 2 diaktifkan. Durasi tersisa: 20 menit hari ini.]

Pandangan mata Akbar berubah abu-abu dan dia langsung melihat deretan angka melayang di atas kepala Pak Wanto yang botak.

Angka merah terang menyala sangat mencolok di sana, menandakan kesialan fatal yang menunggu pria ini.

[Kesialan Fatal: 85 Persen. Penyebab utama: Penyelidikan korupsi Dana Bantuan Pupuk Subsidi dari kabupaten akan segera terungkap.]

[Rahasia Tambahan: Target menyembunyikan uang tunai hasil korupsi di dalam brankas di balik lukisan pemandangan di ruang kerjanya.]

Akbar tersenyum sangat lebar membaca informasi gratis yang disajikan oleh sistemnya itu.

Ini adalah kartu as yang bisa menghancurkan karir kepala desa ini kapan saja dia mau.

Akbar menonaktifkan kembali Mata Hoki miliknya untuk menghemat sisa durasi pemakaian.

Dia lalu menepuk pelan pundak Pak Wanto yang masih gemetar ketakutan di depannya.

Tepukan pelan itu membuat Pak Wanto tersentak kaget seperti baru saja disetrum listrik tegangan tinggi.

"Ngomong-ngomong Pak Wanto, kelihatannya Dana Bantuan Pupuk Subsidi dari kabupaten rasanya sangat manis ya?" bisik Akbar tepat di telinga Pak Wanto.

Mata Pak Wanto langsung membelalak sangat lebar nyaris keluar mendengarkan bisikan tersebut.

Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya mau pecah saat itu juga.

Bagaimana mungkin anak miskin ini tahu soal dana pupuk yang dia korupsi diam-diam bulan lalu?

Bahkan istri dan anaknya sendiri tidak ada yang tahu soal uang haram tersebut.

"A... apa maksudmu Akbar? Aku tidak mengerti," sangkal Pak Wanto gelagapan dengan keringat yang makin membanjir.

Akbar kembali mundur satu langkah dan tersenyum misterius menatap lukisan pemandangan besar yang terpajang di ruang tamu itu.

"Hati-hati saja Pak Wanto, dinding rumah ini punya telinga, dan brankas di balik lukisan ruang kerja bapak mungkin tidak seaman yang bapak kira."

Kali ini Pak Wanto benar-benar lemas dan jatuh terduduk di atas sofanya dengan pandangan kosong.

Rahasia terbesarnya telah ditelanjangi begitu saja oleh pemuda yang selama ini dia anggap sebagai sampah desa.

"Ini adalah peringatan pertama dan terakhir dariku untuk keluarga kalian," ucap Akbar dengan suara keras memecah keheningan.

"Kalau anakmu ini masih berani menggangguku, atau mencari masalah dengan orang-orang di sekitarku."

Akbar menendang pelan pecahan asbak kaca di lantai hingga serpihannya terbang menabrak dinding marmer.

Trak.

Suara pecahan kaca itu membuat Dion dan Tono menjerit tertahan.

"Aku pastikan kalian berdua akan membusuk di penjara sebelum kalian sempat kabur dari kampung ini."

"Sistem, keluarkan Alat Sadap Lalat Gaib sekarang, perintahkan dia menempel di kerah baju Pak Wanto," perintah Akbar dalam diam.

[Alat Sadap Lalat Gaib berhasil dilepaskan. Menempel pada target dengan sukses dan mulai merekam audio.]

Seekor lalat transparan kecil terbang cepat dari saku Akbar dan menempel diam di kerah baju batik Pak Wanto tanpa ada yang menyadarinya sama sekali.

"Selamat malam Pak Kades, semoga tidur bapak nyenyak malam ini," ucap Akbar tersenyum sinis.

Akbar langsung membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruang tamu itu dengan langkah santai.

Pintu utama rumah mewah itu dibiarkan terbuka begitu saja oleh Akbar.

Setelah sosok Akbar benar-benar menghilang dan suara mesin motornya menjauh, suhu di ruang tamu itu kembali normal.

Efek Jimat Aura Intimidasi itu akhirnya menghilang sepenuhnya dari udara.

Dion masih menangis tersedu-sedu di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.

Sedangkan Pak Wanto menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Ayah... anak itu bukan manusia Yah, dia monster," rengek Dion di sela tangisnya.

Plak!

Pak Wanto tiba-tiba berdiri dan menampar wajah Dion dengan kekuatan penuh hingga sudut bibir anaknya berdarah.

"Tutup mulut kotor mu itu anak bodoh!" teriak Pak Wanto mengamuk ketakutan.

"Mulai besok jangan pernah kau berani mencari gara-gara lagi dengan si Akbar itu!"

"Kalau sampai karirku hancur gara-gara kelakuanmu, aku sendiri yang akan mencekikmu sampai mati!"

Pak Wanto langsung berlari tergesa-gesa menuju ruang kerjanya di lantai dua untuk mengecek brankas rahasianya.

Di luar rumah, Akbar mengendarai motornya dengan sangat pelan menikmati angin malam.

Senyum kemenangan terukir jelas di wajah pemuda berusia sembilan belas tahun tersebut.

Ding!

Suara jernih dari sistem kembali bergema di dalam kepalanya merayakan kesuksesan misinya malam ini.

[Selamat, Tuan telah berhasil melakukan intimidasi psikologis tingkat tinggi pada antagonis utama saat ini.]

[Penggunaan Jimat Aura Intimidasi dinilai sangat tepat sasaran dan efektif menghancurkan mental lawan.]

[Sistem memberikan penghargaan sebesar 40 Poin Hoki kepada Tuan.]

[Misi Sampingan Terbuka: Kumpulkan bukti kuat korupsi Pak Wanto melalui alat sadap dalam dua puluh empat jam ke depan.]

[Hadiah Misi Sampingan: 50 Poin Hoki dan satu Kotak Item Misteri Kelas Perak.]

"Kotak misteri kelas perak? Wah ini benar-benar tawaran yang tidak bisa kutolak sama sekali," gumam Akbar kegirangan.

Dia menatap layar ponselnya yang menyala menampilkan notifikasi file audio kosong yang sedang merekam secara langsung dari lalat gaibnya.

Keluarga kepala desa itu tidak tahu bahwa kehancuran mereka bukan sekadar ancaman kosong dari seorang anak muda.

Tapi kehancuran itu sudah dipasang dan sedang menghitung mundur waktu ledakannya dari dalam rumah mereka sendiri.

Keadilan untuk hidup Akbar perlahan mulai menampakkan titik terangnya malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!