[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Amarah
Udara di dalam aula utama mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan. Genangan darah segar di lantai batu memantulkan cahaya obor yang bergoyang pelan, menciptakan bayangan kelam yang menari-nari di dinding-dinding tua istana barat. Jasad utusan istana pusat tergeletak tak bernyawa dengan kepala terpisah dari badan, menjadi saksi bisu atas amukan brutal sang pangeran yang kehilangan kendali.
Luo Huanran menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menahan isak tangis agar tidak lepas. Tubuhnya gemetar hebat, meringkuk di sudut ruangan di balik pilar batu besar karena ketakutan yang teramat sangat.
Di tengah genangan kengerian itu, Wang Yiche berdiri tegak. Topeng besi perak yang menutupi separuh wajahnya tampak berlumuran cipratan darah merah pekat. Napas pria itu menderu kasar, terdengar berat dan memburu layaknya binatang buas yang baru saja merobek mangsanya. Sepasang mata di balik topeng itu menyala liar, kehilangan seluruh akal sehat, menatap tajam ke arah sosok yang masih berdiri tenang di hadapannya.
Fang Hua.
Gadis dari abad 21 itu tidak mundur sedikit pun. Jarak di antara mereka kini hanya tinggal selangkah saja. Aroma anyir darah memenuhi indra penciumannya, namun detak jantungnya tetap terkontrol dengan baik. Sebagai seorang ilmuwan yang terbiasa menghadapi situasi kritis, ia tahu persis bahwa melarikan diri atau menunjukkan rasa takut di hadapan orang yang sedang mengalami fase psikosis atau amuk akibat racun justru akan memicu insting membunuh mereka semakin menjadi-jadi.
Wang Yiche menggeram tertahan dari dalam tenggorokannya. Tangannya yang mencengkeram erat gagang pedang berlumuran darah bergetar hebat. Tanpa aba-aba, pria itu mengayunkan pedangnya secara horizontal, mengarah langsung ke leher Fang Hua dengan kecepatan yang mengerikan.
Sshh!
Angin dari ayunan pedang itu bahkan menerbangkan beberapa helai rambut Fang Hua. Namun, dengan refleks luar biasa cepat yang dilatih sejak kecil, kepala Fang Hua miring ke samping dengan presisi sempurna sepersekian detik sebelum bilah tajam itu menyentuh kulitnya. Pedang tersebut menghantam pilar kayu di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.
Belum sempat Wang Yiche menarik kembali senjatanya, Fang Hua bergerak kilat. Tangan kanannya merogoh saku gaunnya, mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan anestesi pekat racikan khususnya. Tanpa ragu, ia melangkah maju menembus pertahanan sang pangeran, lalu menyemprotkan cairan itu tepat ke arah hidung dan mulut Wang Yiche.
Cih!
Cairan kimia berbau sangat tajam itu terhirup seketika oleh Wang Yiche. Reaksi kimianya bekerja dalam hitungan detik. Sistem saraf sang pangeran yang tadinya tegang dan mengamuk hebat mendadak mengalami shock ringan. Otot-otot di sekujur tubuhnya menegang kaku, sebelum akhirnya gelombang kantuk yang teramat berat meruntuhkan kesadarannya.
Pedang di tangan Wang Yiche terlepas dari genggamannya, berdenting nyaring menghantam lantai batu. Tubuh tegap pria itu ambruk ke depan secara perlahan.
Fang Hua dengan sigap mengulurkan kedua tangannya, menahan tubuh Wang Yiche agar tidak membentur lantai dengan keras. Berat badan pria itu cukup membuat Fang Hua sedikit terdorong mundur, namun ia berhasil membaringkan sang pangeran dengan aman di atas lantai batu yang bersih dari darah.
Suasana aula utama kembali sunyi senyap, menyisakan deru napas Fang Hua yang mulai melambat.
Luo Huanran perlahan melepaskan tangannya dari mulut, merangkak maju dengan lutut gemetar menghampiri Fang Hua. "F-Fang Hua... ya ampun... apa dia sudah mati?" tanya gadis itu terbata-bata dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Dia tidak mati, dia hanya pingsan karena penawar saraf," jawab Fang Hua tenang sambil menyeka peluh di keningnya. Ia menatap wajah Wang Yiche yang kini terbaring tak berdaya di pangkuannya, sementara topeng besi perak di wajah pria itu sedikit bergeser, menampakkan garis rahang tegas dan luka bakar di pelipisnya dengan jelas.
Fang Hua menghela napas panjang. Amukan brutal tadi malam bukanlah murni karena sifat kejam sang pangeran, melainkan efek samping dari racun kronis yang merusak sistem saraf dan emosinya di masa lalu, sebuah kondisi medis yang bisa ia tangani jika memiliki bahan-bahan yang tepat.
"Huanran, jangan diam saja," perintah Fang Hua tegas kepada gadis di hadapannya. "Bantu aku mengangkatnya ke kamar istirahat di dalam. Kita harus membersihkan lukanya sebelum para pengawal istana pusat yang melarikan diri tadi mendatangkan bala bantuan."
Luo Huanran mengangguk cepat meskipun masih dirundung ketakutan. Bersama-sama, mereka berdua memapah tubuh Wang Yiche yang tidak sadarkan diri menuju kamar pribadi sang pangeran di bagian dalam aula utama.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️