Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Mertua yang Menyesal dan Berlutut
Deggg!
Jantung Hendra terasa copot dari tempatnya saat melihat layar ponsel.
Perusahaan keluarga Pramudya benar-benar diambang kebangkrutan total.
Brandon telah menarik seluruh investasinya tanpa ampun setelah kehancurannya semalam.
"Sialan! Apa-apaan ini?!" teriak Hendra frustrasi di ruang tamu mewah mereka yang kini terasa sangat senyap.
Maya, istrinya, langsung terduduk lemas di sofa mahal dengan wajah sepucat mayat.
'Gawat... kita bisa jatuh miskin dan diusir dari rumah ini!' batin Maya panik luar biasa.
Semua fasilitas mewah terancam disita bank dalam hitungan jam.
Tidak ada pilihan lain yang tersisa bagi mereka saat ini.
Satu-satunya jalan keluar adalah merendahkan harga diri mereka di hadapan orang yang paling sering mereka caci maki.
"Maya, cepat siap! Kita harus pergi sekarang!" perintah Hendra dengan suara bergetar.
"Mau ke mana, Pa?" tanya Maya bingung.
"Kita temui Alya!" seru Hendra kalang kabut.
"Hah? Meminta bantuan pada anak sialan itu?!" protes Maya dengan nada tinggi.
"Mau cari mati?! Kalau perusahaan bangkrut, kita mau makan apa, hah?!" bentak Hendra tajam.
Mereka berdua akhirnya bergegas pergi menggunakan mobil yang hampir ditarik leasing.
Sesampainya di kediaman sederhana Alya, kesombongan mereka seketika luntur tak bersisa.
Maya dan Hendra yang dulu sangat angkuh kini mendadak berubah menjadi sangat memelas.
Tok! Tok! Tok!
Pintu rumah diketuk dengan tidak sabaran oleh tangan Maya yang gemetar.
Kriet...
Alya membuka pintu perlahan dengan raut wajah terkejut melihat kehadiran kedua orang tuanya.
"Ibu? Ayah?" gumam Alya tidak percaya.
"Alya, anakku sayang..." ucap Maya langsung memasang wajah memelas berlebihan.
"Tolongin Ayah sama Ibu, Nak," sambung Hendra langsung mencengkeram tangan Alya.
Alya menarik tangannya pelan, merasa risih sekaligus bingung dengan perubahan sikap mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ke sini?" tanya Alya heran.
"Perusahaan kita hancur, Alya," jawab Maya mulai menangis bombay di depan pintu.
"Brandon bajingan itu menarik semua uangnya," lanjut Hendra dengan suara parau.
"Tolong... bawa kami menemui Reno," mohon Hendra tanpa rasa malu sedikit pun.
"Kami butuh bantuan modal darinya, Alya," tambah Maya merengek seperti anak kecil.
Alya tertegun mendengar permintaan yang sama sekali tidak masuk akal itu.
Bagaimana mungkin orang tuanya yang dulu mengusir Reno kini memohon bantuan padanya?
"Kalian... sedang bercanda, ya?" tanya Alya menyelidik.
"Mana mungkin kami bercanda dalam situasi begini!" sahut Hendra frustrasi.
"Tolong bujuk suami kamu, Alya!" desak Maya semakin histeris.
"Reno pasti bisa menyelamatkan kita dengan satu jentikan jari," ucap Hendra penuh harap.
Alya menggelengkan kepalanya pelan, merasa muak dengan kepura-puraan mereka.
"Reno bukan siapa-siapa, Ayah," jawab Alya tegas.
"Jangan bohong! Kami tahu siapa dia sebenarnya!" potong Maya cepat.
"Sudahlah, Alya. Jangan hukum kami seperti ini," ratap Hendra memohon.
"Kami mohon, pertemukan kami dengan Reno sekarang juga!" teriak Maya frustrasi.
Alya menolak mentah-mentah permintaan tidak tahu malu dari kedua orang tuanya itu.
Melihat penolakan Alya, kesabaran palsu mereka akhirnya habis seketika.
"Anak durhaka! Kamu tega melihat orang tua sendiri sengsara?!" maki Maya kembali menunjukkan sifat aslinya.
"Dasar tidak tahu diuntung!" sambung Hendra geram.
Meski sempat marah, mereka sadar tidak punya pilihan selain terus memaksa.
Hendra dan Maya bahkan nekat mengikuti Alya ke mana pun dia pergi hari itu.
Hingga akhirnya, pengejaran putus asa itu membawa mereka ke sebuah tempat mewah.
Vila Puncak milik Reno yang megah berdiri kokoh di tengah udara dingin pegunungan.
Gerbang besi menjulang tinggi tertutup rapat mengamankan area privat tersebut.
Hujan deras mendadak turun mengguyur kawasan Puncak tanpa kenal ampun.
Brakkkk! Petir menyambar di langit gelap, menciptakan suasana yang mencekam.
Maya dan Hendra tidak peduli lagi pada basah kuyup atau harga diri mereka.
Mereka nekat berlutut tepat di depan gerbang Vila Puncak milik Reno.
"Reno! Keluar kamu!" teriak Hendra di tengah deru air hujan.
"Tolong beri kami kesempatan!" jerit Maya menangis histeris.
Waktu berjalan lambat, detik demi detik terasa seperti siksaan abadi bagi mereka berdua.
Satu jam berlalu dalam balutan udara dingin yang menusuk tulang.
Dua jam berlalu, tubuh mereka sudah menggigil hebat kehujanan.
Tiga jam penuh mereka berlutut di bawah hujan deras tanpa ada tanda-tanda gerbang dibuka.
Tepat pada jam ketiga, suara mesin mobil mewah bergemuruh memecah sunyi.
Sebuah sedan hitam pekat berhenti tepat di depan gerbang vila megah itu.
Kaca jendela mobil perlahan turun, menampakkan sosok Bagas dengan tatapan dingin.
Bagas menatap remeh dua sosok manusia yang tampak seperti pengemis kelaparan di hadapannya.
"Tuan besar kami sudah memutuskan," ucap Bagas datar dari balik kemudi.
Hendra dan Maya mendongak dengan penuh harapan palsu di mata mereka.
"Kalian dikasih proyek senilai 10 Miliar," lanjut Bagas dengan senyum tipis sinis.
"Wah... terima kasih! Terima kasih banyak!" seru Maya histeris kegirangan.
"Tapi..." Bagas memotong kalimatnya dengan nada penuh penekanan.
Deggg! Senyum di wajah Hendra mendadak membeku seketika.
"Proyek itu HANYA atas nama Alya," tegas Bagas tanpa ampun.
"Kalian berdua... tidak berhak menyentuh satu sen pun dari uang itu."