Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 18
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 18 — Musuh yang Selama Ini Bersembunyi
Suara langkah kaki semakin terdengar jelas.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berhenti tepat di depan pintu ruang bawah tanah.
Clara berdiri di samping Fedro, sementara Amara berada di belakang mereka.
Rafael menatap pintu dengan wajah tegang.
“Siapa dia?” bisik Clara.
Rafael tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap tertuju pada pintu.
“Orang yang seharusnya sudah lama tidak ada.”
Clara mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Rafael menarik napas panjang.
“Orang yang menyebabkan ayahmu harus berpura-pura mati.”
Clara membeku.
“Dia yang membuat Papi menghilang?”
“Ya.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Kalau begitu kita harus tahu siapa dia.”
Rafael menggeleng.
“Bukan sekarang.”
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari luar.
Tawa seorang pria.
“Rafael…”
Rafael langsung menegang.
Suara itu terdengar semakin dekat.
“Aku kira kamu akan terus bersembunyi di balik keluarga Evellyn.”
Rafael melangkah maju.
Clara memegang lengannya.
“Jangan.”
Rafael menatap Clara.
“Dia tidak boleh melihatmu.”
“Kenapa?”
“Karena sejak awal kamu adalah alasan dia melakukan semua ini.”
Clara terdiam.
Pintu ruang bawah tanah perlahan terbuka.
Seorang pria masuk.
Ia mengenakan jas hitam dengan wajah tenang.
Tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk menyerang.
Justru sebaliknya.
Ia tersenyum seolah sedang berkunjung ke rumah teman lama.
Clara menatap pria itu.
Entah kenapa wajahnya terasa sangat familiar.
Pria tersebut memandang Amara.
“Sudah lama.”
Amara membalas tatapannya dengan dingin.
“Aku berharap tidak pernah bertemu denganmu lagi.”
Pria itu tertawa kecil.
“Sayangnya, kita tidak bisa mengubah masa lalu.”
Fedro berdiri di depan Clara.
“Siapa kamu?”
Pria itu menatap Fedro.
“Kamu Fedro.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Namaku Damian.”
Clara terkejut.
Damian.
Nama itu terasa familiar.
Ia menoleh kepada Rafael.
“Siapa dia?”
Rafael menjawab dengan suara pelan.
“Damian adalah mantan penasihat utama keluarga Evellyn.”
Clara menatap pria itu.
“Penasihat?”
Amara mengangguk.
“Dulu dia adalah orang yang paling dipercaya ayahmu.”
Damian tersenyum.
“Dan ibumu.”
Amara menatapnya penuh kebencian.
“Kamu mengkhianati kami.”
Damian menghela napas.
“Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
“Perusahaan?”
“Bukan hanya perusahaan.”
Damian menatap Clara.
“Warisan.”
Clara mengerutkan kening.
“Warisan apa?”
Damian tersenyum.
“Itulah alasan kamu masih hidup sampai sekarang.”
Clara merasakan tubuhnya menegang.
Fedro langsung bertanya,
“Apa maksudmu?”
Damian berjalan perlahan.
“Clara bukan sekadar pewaris keluarga Evellyn.”
Amara segera berkata,
“Jangan dengarkan dia.”
Damian tertawa.
“Kenapa? Bukankah sudah waktunya putrimu mengetahui semuanya?”
Clara menatap ibunya.
“Mami…”
Amara terdiam.
Clara kembali melihat Damian.
“Jelaskan.”
Damian tersenyum.
“Ketika kamu lahir, ayahmu dan ibumu menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka ketahui.”
“Apa?”
“Bukti bahwa ada jaringan rahasia yang mengendalikan banyak perusahaan besar.”
Raka menyela,
“Jaringan yang terkait dengan Proyek E-17?”
Damian menatap Raka.
“Kamu masih terlalu banyak tahu.”
Raka tidak gentar.
“Berarti benar.”
Damian tersenyum tipis.
“Proyek E-17 dibuat untuk menyimpan seluruh identitas anggota jaringan tersebut.”
Clara menggenggam kotak kecil pemberian Amara.
“Lalu kenapa mereka membutuhkan aku?”
Damian menjawab,
“Karena kunci terakhir berada di tanganmu.”
Clara membeku.
“Kunci?”
Damian menunjuk liontin burung di leher Clara.
“Benda itu bukan sekadar tempat menyimpan chip.”
Clara langsung memegang liontinnya.
“Apa maksudmu?”
“Itu adalah salah satu bagian dari kunci utama.”
Fedro menatap Damian tajam.
“Dan bagian lainnya?”
Damian tersenyum.
“Ada di tempat yang tidak pernah kalian duga.”
Clara terdiam.
Kemudian ia teringat kotak yang diberikan Amara.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu kecil.
Di bagian depan terdapat simbol burung.
Clara membalik kartu tersebut.
Terdapat tulisan.
Dua darah. Satu pewaris.
Clara mengerutkan kening.
“Apa artinya?”
Amara terlihat pucat.
Damian justru tersenyum.
“Artinya kamu tidak sendirian.”
Clara menatapnya.
“Apa?”
“Kamu memiliki saudara.”
Ruangan mendadak sunyi.
Fedro menoleh kepada Amara.
“Maksudnya?”
Amara menundukkan kepala.
Clara merasa napasnya tercekat.
“Mami…”
Air mata mulai menggenang di mata Amara.
“Maafkan Mami.”
“Apakah aku punya saudara?”
Amara mengangguk perlahan.
“Ya.”
Clara mundur selangkah.
“Kenapa Mami tidak pernah memberitahuku?”
“Karena dia juga menjadi target.”
“Di mana dia?”
Amara belum sempat menjawab.
Damian berkata,
“Dia berada sangat dekat denganmu.”
Clara menatapnya.
“Siapa?”
Damian tersenyum.
“Itulah rahasia terakhir yang belum kalian ketahui.”
Rafael langsung maju.
“Diam.”
Damian menatap Rafael.
“Kamu masih sama seperti dulu.”
“Jangan libatkan Clara.”
“Justru Clara adalah pusat dari semuanya.”
Rafael mengepalkan tangan.
Damian kemudian mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya.
Ia melemparkannya ke lantai.
Clara mengambil foto tersebut.
Matanya langsung membesar.
Dalam foto itu terdapat seorang gadis muda.
Wajahnya sangat mirip dengan Clara.
Rambut panjang.
Tatapan tajam.
Bahkan bentuk matanya hampir sama.
“Siapa dia?”
Amara menutup mulutnya.
Clara menatap ibunya.
“Mami?”
Amara akhirnya berkata,
“Namanya Alena.”
Clara membeku.
“Alena?”
Rafael mengangguk.
“Dia saudaramu.”
Clara menatap foto itu lama.
“Di mana dia sekarang?”
Damian tersenyum.
“Tidak jauh.”
Tiba-tiba suara sirene terdengar dari luar.
Raka melihat ke arah pintu.
“Polisi.”
Damian tersenyum.
“Sepertinya waktuku habis.”
Fedro segera bergerak.
Namun Damian mengangkat sebuah benda kecil.
“Jangan mendekat.”
Seketika lampu ruangan mati.
Gelap.
Clara merasakan tangannya ditarik.
“Fedro?”
“Aku di sini.”
Suara ledakan kecil terdengar.
Asap memenuhi ruangan.
Raka berteriak,
“Jangan berpencar!”
Clara batuk.
“Papi!”
Amara menjawab,
“Clara, Mami di sini!”
Beberapa detik kemudian lampu darurat menyala.
Damian sudah menghilang.
Namun di lantai tertinggal sebuah ponsel.
Fedro mengambilnya.
Layarnya menyala.
Sebuah pesan baru muncul.
Jika ingin menemukan Alena, datang ke rumah sakit lama sebelum tengah malam.
Di bawah pesan itu terdapat satu foto.
Foto seorang gadis yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.
Clara menatap foto tersebut.
Wajahnya semakin pucat.
“Itu…”
Fedro menatapnya.
“Kenapa?”
Clara menunjuk layar.
“Aku pernah melihat gadis itu.”
“Di mana?”
Clara mengingat sesuatu.
“Di foto yang ditemukan di ruang kerja Papi.”
Rafael terdiam.
“Berarti mereka sudah memindahkan Alena.”
Amara menggenggam tangan Clara.
“Jangan pergi.”
Clara menatap ibunya.
“Kenapa?”
“Karena Damian ingin kamu datang.”
“Justru karena itu aku harus datang.”
Fedro langsung berkata,
“Aku ikut.”
Clara mengangguk.
Raka juga bersiap.
“Aku ikut.”
Rafael menatap mereka.
“Aku juga.”
Clara melihat satu per satu orang di sekitarnya.
Kali ini ia tidak merasa takut.
Ia sudah menemukan ibunya.
Ayahnya masih hidup.
Dan sekarang ia mengetahui bahwa ia memiliki saudara.
Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggunya.
Jika Alena adalah saudaranya…
Mengapa selama ini Clara tidak pernah tahu tentang keberadaannya?
Fedro menggenggam tangannya.
“Kita akan menemukan jawabannya.”
Clara mengangguk.
Mereka kemudian meninggalkan ruang bawah tanah.
Namun ketika Clara hendak menaiki tangga, ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
Tidak ada suara.
Kemudian terdengar suara seorang gadis.
“Clara…”
Clara membeku.
“Siapa?”
Suara itu terdengar lirih.
“Aku Alena.”
Clara menahan napas.
“Alena?”
“Jangan datang ke rumah sakit.”
“Kenapa?”
Suara Alena terdengar panik.
“Karena itu perangkap.”
Clara semakin tegang.
“Kalau begitu di mana kamu?”
Hening beberapa detik.
Kemudian Alena berbisik,
“Aku berada di rumah orang yang paling kamu percaya.”
Sambungan terputus.
Clara menatap Fedro.
“Siapa yang paling aku percaya?”
Fedro terdiam.
Rafael juga tidak menjawab.
Amara menatap Clara dengan wajah pucat.
Kemudian sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
“Aku tahu siapa.”
Semua orang menoleh.
Seorang pria berdiri di ujung tangga.
Clara langsung membelalakkan mata.
“Papi?”
Ayah Clara berdiri di sana dengan wajah serius.
“Dan kalian harus tahu satu hal.”
Ia menatap mereka.
“Alena bukan satu-satunya saudaramu.”
Clara membeku.
Bersambung…