Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DAN SERAGAM YANG TERSINGKAP

Malam di wilayah perbatasan tidak pernah benar-benar menjanjikan kesunyian.

Suara jangkrik malam kalah telak oleh deru samar mesin generator dan sesekali letusan senjata api yang bergema jauh di balik perbukitan gersang.

Ziva meringkuk di sudut bunker yang gelap, memeluk kedua lututnya yang gemetar hebat.

Debu tanah merah menempel di kulit mulusnya, namun pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Gibran Mahendra.

Tiga jam telah berlalu sejak Gibran meninggalkannya untuk menghalau serangan separatis di garis depan.

Tiga jam yang terasa bagai vonis hukuman mati bagi Ziva, di mana setiap detik diisi oleh bayangan buruk yang mencabik dadanya.

Tiba-tiba, pintu besi bunker dihentakkan kasar dari luar.

Udara malam yang dingin bercampur aroma mesiu dan amis darah mendadak menyeruak masuk.

Beberapa prajurit berseragam loreng masuk dengan tergesa-gesa, menggotong tubuh seorang perwira di atas tandu darurat dengan wajah panik.

"MEDIS!

MANA TIM MEDIS?!" teriak salah satu prajurit, suaranya parau oleh kelelahan dan ketakutan.

Ziva melompat berdiri secara refleks.

Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika saat matanya menangkap seragam loreng yang berlumuran darah segar itu.

Bintang tiga di bahunya... Gibran.

"Om Gibran!" Ziva menjerit histeris, berlari menembus kerumunan relawan dan prajurit.

Gibran terbaring dengan napas yang terengah-engah dan pendek.

Wajahnya yang biasanya tegas dan memancarkan wibawa kini tampak pucat pasi.

Pelipis kirinya robek mengalirkan darah, dan bagian samping perutnya bersimbah darah pekat akibat serpihan ledakan granat.

Meski begitu, jemari kekarnya masih mencengkeram erat senjata laras panjangnya, seolah refleks tempurnya menolak untuk menyerah.

Dokter militer di kamp tersebut tampak kewalahan menangani puluhan korban luka lainnya yang terus berdatangan.

Ziva, dengan tangan yang bergetar namun dengan tekad membaja yang membakar dadanya, melangkah mendekati tandu Gibran.

"Biar saya yang bersihkan dan tahan lukanya, Dok!

Tolong kasih tahu apa yang harus saya lakukan!" ujar Ziva tegas, mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung lengan.

"Tekan bagian perut kirinya sekuat tenaga, jangan biarkan pendarahannya berlanjut!" instruksi dokter militer itu singkat sebelum beralih ke pasien lain yang kritis.

Ziva berlutut di atas tanah yang dingin, persis di samping tubuh Gibran.

Dengan jemari gemetar, ia menyambar gunting medis.

Ia harus menggunting kain seragam kebanggaan Gibran untuk mencapai pusat luka tersebut.

Saat kain hijau tua berbercak darah itu tersingkap lebar, Ziva mendadak tertegun.

Di bawah remang lampu darurat, terlihat jelas dada bidang Gibran yang dipenuhi beberapa bekas luka tembak dan sabetan masa lalu termasuk sebuah tato inisial kecil berdampingan dengan bekas jahitan lama di dada kirinya: E.

Elena.

Hati Ziva terasa perih bagai ditusuk sembilu.

Namun, ia dengan cepat menepis rasa cemburu dan sesak itu.

Sekarang bukan waktunya untuk meratapi masa lalu.

Ia mengambil tumpukan kain kasa steril dan menekan luka di perut Gibran sekuat tenaga yang ia miliki.

"Om... bertahan...

Om dengar aku kan?

Tolong jangan tutup mata Om!" bisik Ziva parau, air matanya menetes merembas di atas dada gipsi Gibran.

Gibran mengerang rendah dari tenggorokannya.

Matanya yang terasa amat berat perlahan terbuka sedikit, menatap wajah Ziva yang kotor oleh debu dan basah oleh air mata.

Namun, tidak ada tatapan lembut atau rasa haru di sana.

Yang ada hanyalah sorot mata yang tetap tajam, dingin, dan penuh penolakan.

Gibran menggerakkan tangannya yang lemas, mencoba dengan sisa tenaganya untuk menyingkirkan cengkeraman Ziva dari perutnya.

"Pergi... Ziva.

Jangan... jadi pengganggu... di sini..."

"Aku lagi berusaha menyelamatkan nyawa Om!

Diam dulu dan jangan banyak gerak!" bentak Ziva, mempertahankan watak keras kepalanya di tengah kekacauan.

Setelah pendarahan di perutnya berhasil dihentikan dan balutan perban ketat terpasang, Gibran dipindahkan ke tenda perawatan perwira.

Ziva tidak meninggalkan sisi tempat tidur darurat itu sedetik pun.

Ia duduk di atas kursi kayu kecil, telaten mengompres dahi Gibran dan mencoba menyuapinya air putih saat pria itu mulai siuman sepenuhnya di tengah malam yang makin larut.

Gibran membuka matanya perlahan.

Rasa sakit membakar dari perutnya luar biasa, namun melihat Ziva duduk di dekatnya membuat rasa sakit fisik itu bercampur dengan amarah dan ketegangan yang membuncah.

"Siapa yang mengizinkanmu masuk dan berada di tenda saya?" suara Gibran terdengar sangat serak, namun tetap memancarkan wibawa seorang komandan.

"Aku relawan medis di sini, Om.

Berhenti bersikap seolah-olah aku ini musuh yang mau mencelakai Om," jawab Ziva datar sambil menyodorkan gelas berisi air minum.

Gibran memalingkan wajahnya ke arah lain, menolak mentah-mentah minuman tersebut.

"Kamu adalah gangguan terbesar dalam misi saya saat ini.

Kehadiranmu di zona berbahaya ini hanya membuat saya terlihat amat tidak profesional di depan seluruh anak buah saya.

Kamu pikir kelakuan nekatmu ini heroik?

Tidak, Ziva.

Ini sangat kekanak-kanakan."

Ziva tersentak kaku.

Hatinya perih bagai dihantam batu besar mendengar kejujuran dingin dari pria itu.

"Aku mempertaruhkan nyawa dan keselamatan aku buat datang ke tempat neraka ini demi Om!

Aku hampir kena peluru nyasar tadi siang!"

"Dan itu adalah kesalahanmu sendiri!" Gibran menoleh cepat, menatap Ziva dengan manik mata hitam yang sedingin es.

"Saya tidak pernah memintamu datang.

Saya tidak butuh diselamatkan oleh gadis usia 20 tahun yang belum tahu kerasnya dunia luar.

Pulanglah.

Besok pagi, helikopter jemputan logistik akan membawa kamu pergi dari sini.

Itu adalah perintah militer, bukan permintaan."

Ziva berdiri dari kursinya, wajahnya memerah padam karena emosi dan rasa sakit hati yang meluap.

"Kenapa Om jahat banget sama aku?!

Apa karena tato 'E' di dada Om itu?!

Om nggak bisa buka hati dan terus ngusir aku cuma karena Om masih terjebak sama ingatan orang yang sudah meninggal?!"

Rahang Gibran mengeras seketika.

Luka di perutnya terasa berdenyut hebat seiring dengan emosinya yang melonjak tajam.

"Keluar dari tenda saya sekarang juga, Ziva Adriana.

Sebelum saya benar-benar memastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat wajah saya lagi selamanya."

Ziva menatap Gibran dengan mata yang penuh air mata yang tertahan.

Pada detik itu, ia menyadari satu kenyataan pahit: Gibran Mahendra bukan sekadar pria yang kaku.

Pria ini telah mengunci pintu hatinya rapat-rapat dari dalam, dan kuncinya telah dibuang ke dalam kenangan mati yang tak tersentuh.

Ziva berbalik dan keluar dari tenda dengan langkah gontai.

Namun, tepat setelah tirai tenda tertutup kembali, Gibran memejamkan matanya rapat-rapat.

Tangannya mencengkeram sprei tempat tidur hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.

Ia harus bersikap sekejam itu.

Baginya, menyerah pada pesona dan keberanian Ziva adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap nilai-nilai hidupnya dan rasa hormatnya kepada sang sahabat, Bramantyo.

Tiba-tiba, seorang ajudan berpangkat Mayor masuk ke dalam tenda dengan langkah tergesa-gesa dan raut wajah tegang.

"Lapor, Jenderal!

Helikopter diplomatik yang membawa Pak Bramantyo baru saja mendapat izin masuk ke zona udara kita.

Beliau sangat marah dan meminta koordinat pendaratan darurat ditembuskan detik ini juga!"

Gibran memejamkan mata, menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya.

Badai yang sesungguhnya telah tiba di perbatasan.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!