Clarisa Wijaya hanya punya satu tujuan ketika beasiswa itu datang, pergi sejauh mungkin dari kampung halaman demi masa depan yang lebih baik, meski itu berarti meninggalkan pelukan hangat orang tuanya dan aroma bebek panggang yang selalu menemani setiap perayaan keluarganya. Namun ibu kota tak semudah yang ia bayangkan. Kerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, kamar apartemen sempit yang sunyi, dan air mata yang ditelan sendirian di malam-malam kangen rumah semua itu baru permulaan dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Semua berubah sejak seragamnya basah kuyup terkena cipratan motor seorang pemuda yang bahkan tak sempat menoleh untuk minta maaf. Siapa sangka, pemuda angkuh itu bernama Daniel rekan kerja barunya yang ternyata menyimpan rahasia besar: ia adalah pewaris tunggal pemilik restoran tempat mereka bekerja, menyamar sebagai pelayan biasa atas perintah orang tuanya sendiri. Dari kebencian dan kesalahpahaman, benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan, diam-diam disaksikan oleh Nikol, sahabat setia Clarisa yang menyimpan perasaannya sendiri tanpa pernah berani mengungkapkannya. Namun cinta Clarisa dan Daniel harus melewati ujian demi ujian bullying dari geng kampus yang memandang rendah latar belakangnya, gosip yang menyudutkan, hingga konspirasi bisnis jahat yang nyaris merenggut nyawanya lewat semangkuk makanan beracun. Ketika kebenaran tentang identitas asli Daniel akhirnya terbongkar, Clarisa harus menghadapi ketakutan terbesarnya: mampukah cinta bertahan di tengah jurang status sosial yang begitu dalam antara gadis desa sederhana dan pewaris konglomerat kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman dari kampung
Pagi itu, seperti hari-hari Minggu biasanya, Clarisa terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda dari hari-hari kerja lainnya. Hari Minggu adalah hari liburnya dari kerja paruh waktu di restoran, memberikan kesempatan baginya untuk sedikit bersantai sebelum kembali menghadapi rutinitas kuliah dan kerja yang padat di hari-hari berikutnya.
Ketika ia sedang bersiap untuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk, terdengar suara bel pintu apartemennya berbunyi. Clarisa sedikit bingung, mengingat ia jarang mendapatkan kunjungan tamu mengingat belum banyak orang yang mengetahui alamat tempat tinggalnya di kota ini.
Ia membuka pintu dan mendapati seorang kurir paket berdiri dengan kotak styrofoam berukuran sedang di tangannya. “Paket atas nama Clarisa Wijaya?” tanya kurir tersebut sambil memeriksa catatan pengiriman di tangannya.
“Iya, saya sendiri,” jawab Clarisa, menandatangani bukti penerimaan sebelum menerima kotak tersebut dengan penuh rasa penasaran.
Begitu kurir tersebut berlalu, Clarisa segera membawa kotak itu masuk ke dalam apartemennya, meletakkannya di atas meja kecil dekat dapur. Ia membuka kotak tersebut dengan hati-hati, dan begitu tutupnya terbuka, aroma khas yang begitu familiar langsung menyeruak memenuhi ruangan kecil apartemennya.
Bebek panggang. Aroma rempah-rempah khas masakan ibunya yang selama ini menjadi makanan favoritnya sejak kecil, kini tersaji di hadapannya, dikemas rapi dengan bungkusan plastik vakum agar tetap segar meski telah menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman.
Air mata Clarisa langsung menggenang begitu melihat dan mencium aroma bebek panggang tersebut. Ia mengeluarkan selembar kertas kecil yang terselip di dalam kotak, sebuah surat singkat yang ditulis tangan oleh ibunya dengan tulisan yang sedikit bergetar, mencerminkan usia dan kondisi fisik Wati yang mulai menua.
“Nak, ini bebek panggang kesukaanmu. Ibu masak sendiri pagi-pagi biar tetep seger sampe di sana. Jangan lupa makan yang teratur, jangan kecapean kerja. Bapak sama Ibu selalu doain kamu di sini. Cepet kabarin kalau udah nyampe paketnya,” begitu bunyi surat singkat tersebut, ditandatangani dengan nama Wati di bagian bawah.
Clarisa membaca surat tersebut berulang kali, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Kerinduan yang selama ini ia coba tahan di tengah kesibukan kuliah dan kerja, tiba-tiba meledak begitu saja menyaksikan bukti nyata kasih sayang orang tuanya yang rela mengirimkan makanan kesukaannya meski jarak yang memisahkan mereka begitu jauh.
Ia segera mengambil ponselnya, menelepon kedua orang tuanya di kampung untuk menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. “Bu, paketnya udah sampai. Makasih banyak ya, Bu,” ujar Clarisa dengan suara yang masih bergetar menahan tangis haru.
“Alhamdulillah kalau udah sampai dengan selamat,” jawab Wati di seberang telepon, suaranya juga terdengar sedikit bergetar menahan haru. “Gimana kabarmu, Nak? Sehat-sehat aja kan di sana?”
“Sehat, Bu. Cuma kadang kangen banget sama masakan Ibu, apalagi bebek panggang ini,” jawab Clarisa sambil tersenyum di tengah air mata yang masih mengalir.
Setelah percakapan telepon yang penuh haru tersebut berakhir, Clarisa duduk sendirian di meja makan kecil apartemennya, menikmati bebek panggang kiriman ibunya dengan penuh kenikmatan. Setiap suapan membawanya kembali pada kenangan-kenangan masa kecil di kampung halaman, saat-saat berkumpul bersama keluarga menikmati masakan yang sama di rumah sederhana mereka.
Di tengah menikmati makanan tersebut, ponselnya kembali berbunyi, menampilkan pesan masuk dari Nikol yang menanyakan kabar mengenai rencana kegiatannya di hari libur tersebut. Clarisa membalas pesan tersebut, menceritakan sedikit mengenai kiriman bebek panggang dari ibunya yang baru saja ia terima.
Tidak lama setelah itu, ponselnya kembali berbunyi, kali ini menampilkan pesan dari Daniel yang juga menanyakan kabarnya di hari libur tersebut—sebuah kebiasaan baru yang mulai terbentuk sejak kedekatan mereka semakin erat beberapa minggu terakhir.
“Lagi ngapain?” tulis Daniel dalam pesannya.
“Lagi makan bebek panggang kiriman ibuku dari kampung,” balas Clarisa, menyertakan foto makanan tersebut dalam pesannya.
Daniel yang membaca pesan tersebut, merasa penasaran dengan makanan yang tampak menggugah selera tersebut. “Wah, kelihatannya enak banget. Aku jadi pengen coba,” balasnya dengan nada bercanda.
Clarisa yang membaca balasan tersebut, tanpa berpikir panjang mengetikkan balasan yang mengundang Daniel untuk mencicipi masakan tersebut. “Kalau mau, sisanya masih banyak kok. Mampir aja ke apartemenku kalau senggang.”
Ajakan tersebut sebenarnya keluar begitu saja tanpa pertimbangan panjang, namun begitu pesan tersebut terkirim, Clarisa mulai menyadari bahwa ia baru saja mengundang Daniel untuk datang ke tempat tinggalnya—sebuah undangan yang menunjukkan tingkat kepercayaan dan kedekatan yang mulai terjalin di antara mereka berdua.
Beberapa jam kemudian, sore itu, bel apartemen Clarisa kembali berbunyi. Kali ini, ketika ia membuka pintu, ia mendapati Daniel berdiri di depan pintu dengan senyum ramah, membawa sebotol minuman ringan sebagai oleh-oleh kunjungannya.
“Beneran nih boleh mampir?” tanya Daniel sedikit ragu, meski dalam hatinya menyimpan rasa senang bisa mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal kehidupan pribadi Clarisa di luar konteks pekerjaan dan kuliah.
“Iya, masuk aja. Kebetulan bebek panggangnya masih banyak,” jawab Clarisa sambil mempersilakan Daniel masuk ke dalam apartemen kecilnya.
Daniel melangkah masuk, memperhatikan sekeliling ruangan kecil namun tertata rapi tersebut, sangat berbeda dari kamar mewahnya di rumah yang dipenuhi berbagai barang branded. Ia melihat foto keluarga Clarisa yang tertempel di dinding dekat tempat tidur, serta kotak kayu kecil berisi surat-surat dan kartu ucapan dari kampung halaman yang tersimpan rapi di atas meja belajar.
“Apartemenmu nyaman juga,” komentar Daniel sambil duduk di kursi yang ditawarkan Clarisa, memperhatikan kesederhanaan namun kehangatan yang terasa dari setiap sudut ruangan tersebut.
“Ya, sederhana aja sih, tapi cukup buat aku,” jawab Clarisa sambil menyiapkan piring berisi bebek panggang untuk disuguhkan kepada Daniel.
Daniel mencicipi bebek panggang tersebut dengan penuh antusias, matanya membelalak menikmati cita rasa yang berbeda dari makanan mewah yang biasa ia santap di restoran-restoran bintang lima langganan keluarganya. “Ini enak banget! Ibumu jago masak ya.”
Clarisa tersenyum bangga mendengar pujian tersebut. “Iya, ini emang masakan favoritku sejak kecil. Ibu selalu masakin ini setiap kali ada momen spesial di keluarga kami.”
Momen sederhana berbagi makanan tersebut, menjadi salah satu kesempatan bagi Clarisa dan Daniel untuk saling mengenal lebih dalam, menceritakan berbagai kisah masa kecil dan latar belakang keluarga masing-masing—meski Daniel masih menyimpan rahasia mengenai identitas aslinya sebagai putra pemilik restoran tempat mereka bekerja, serta rahasia mengenai insiden motor yang masih menjadi beban pikirannya hingga saat itu.
sesuai dengan rencana💪👍
semoga training yang diberikan orang tuanya segera berakhir 🤭😄
membantumu sehingga kamu gak merasa asing dan sendirian 😍
juga punya tekad yang kuat supaya punya kehidupan yang lebih baik..
semangat Clarisa 💪