Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Padahal, aku udah siapkan nasi kuning untuk kita berdua. Namun, ternyata kamu udah siapkan ini.
Deg
Bayu pun memberikan isyarat untuk merespon hal ini dengan cara yang sama. Karena ada dua orang lainnya mendengar percakapan mereka.
Maaf, aku nggk tahu. Buat makan siang aja ya?
Bayu pun mengangguk sebagai tanda setuju. Lalu ia berkata, "Farhan, kok bisa bareng sama Bu Alina?" Tanya Bayu sambil menyuapkan nasi uduk ke mulutnya.
"Ish, Bayu. Panggil nama aku saja, nggak usah pake Ibu segala." Ucap Alina sambil cemberut.
"Saya tadi jemput Alina ke kontrakannya."
"Kontrakan???" Tanya Bayu seketika menoleh ke Alina meminta penjelasan.
"Aku sekarang ngontrak, biar lebih dekat dengan toko aja."
"Masa?" Bayu pun mengernyitkan alisnya.
"Sisanya aku ceritakan nanti, bukannya kamu juga ada hal yang ingin dibicarakan?"
"Iya, kita bahas pas makan siang aja."
"Oke, guys! Gue udah selesai makan. Duluan ya, mau lanjut kerja. Thank you, Alina" ucap Kevin sambil menggendong tasnya.
"Aku juga udah, aku pamit pulang ya. Terima kasih Alina, sudah mengajak aku untuk sarapan bareng kalian di Vin Books."
"Iya. Eh, kok kalian cepat banget sih. Apalagi Farhan, belum aku kenalin ke Acha dan Fara.
"Next time aja ya, Lin" Jawab Farhan.
"Hmm, Oke deh."
"Maksudnya apa?" Tanya Alina kepada Bayu.
"Cuma pengen kenal aja sama kamu."
"Kok, bunda bisa kenal sama aku?"
"Ya, gitu deh."
"Ish, nyebelin."
"Sore ini, kamu ikut sama aku setelah pulang dari Vin Books."
"Pengen pulang dulu, mandi dulu, bersih - bersih."
"Oke. Eh, kamu belum jelasin kenapa ngontrak, nggak ada masalah kan?"
"Maaf, kita bahas pas pulang aja gimana? Udah masuk jam kerja."
"Ya udah, semangat ya." Jawab Bayu, lalu bergegas masuk ruang kerja. Sedangkan Alina pergi ke depan toko untuk menemui Fara dan Acha. Alina meminta Fara dan Acha untuk makan, ia akan menggantikan Fara untuk menjaga kasir.
"Hai, Bestie! Sapa Alina kepada kedua sahabatnya itu.
"Hai juga, Bestie!"
"Makan dulu gih, aku udah belikan makanan, ada di ruang istirahat ya."
"Wah, kebetulan banget aku belum sarapan."
"Hmm, aku juga."
"Li, kok tumben Vin Books buka lebih pagi, tidak seperti biasanya?"
"Iya Lin, semalam banyak yang kirim pesan melalui sosmed Vin Books. Rata - rata anak sekolah sih, mereka pada nanyain buku self improvement. Hmmm.... Pokoknya yang inspiratif inspiratif gitu. Ada kegiatan literasi di sekolah dan infonya dadakan. Yang nggak punya buku auto bingung pastinya, apalagi masuk sekolahnya pagi." kata Acha menjelaskan.
"Ingat ya, yang punya toko Vin Books itu aku. Kalau ada kepentingan yang bersangkutan dengan Vin Books di luar jam kerja kalian, maka itu tanggung jawab aku." Jawab Alina, wajahnya cemberut tapi tetap terkesan imut dan lucu karena baby face.
"Siap, bayii!" ujar Acha seraya mencubit lengan Alina dengan lembut. Sedangkan Fara menahan tawa, lalu berlari menuju ruang istirahat dan Acha mengikutinya. Beginilah persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Acha dan Fara sengaja tidak memberi tahu Alina karena mereka berdua merasa Alina sedang ada masalah. Bahkan, kemarin saja sampai tidak jadi datang ke Vin Books.
Ting
"Wa'alaikumussalam, kenapa Bu?"
............................................................................
"Astaghfirullah.... Iya Bu, aku akan segera pulang. Memangnya sejak ka...." sambungan telepon pun terputus.
Alina berusaha tegar menghadapi masalah ini. Dia tiba tiba teringat dengan janjinya terhadap Bayu yaitu makan siang bersama, setelah makan siang dia akan pulang. Alina menyeka air matanya yang berlinang, ia mengeluarkan sebuah cermin mini dari dalam tas untuk memastikan make up dan keadaan matanya baik - baik saja. Tanpa ia sadari, ternyata Bayu sedang berjalan ke arahnya.
"Alina, kamu kenapa?"
"Eh, aku..." Alina menundukkan kepalanya.
"Alina... ada masalah? Kamu mau cerita?" tanya Bayu dengan lemah lembut. Alina memalingkan wajahnya dari Bayu, ia sulit sekali mengendalikan air mata yang saat ini kembali mengalir. Bayu menoleh ke arah pintu masuk toko Vin Books ternyata ada beberapa anak remaja yang berkunjung. Bayu menoleh ke Alina lalu ia berkata, "Masuk ke ruang kerja kamu ya, nanti aku akan menyusul" Bisik Bayu, Alina hanya meresponnya dengan anggukan lalu pergi.
"Kak, Bayu" sapa Fara seraya melambaikan tangan.
"Hallo, Adek" Bayu pun tersenyum kepada Fara.
"Kakak kok di sini, Kak Alina mana?"
"Ada di ruang kerjanya, sekalian aja kakak nunggu kamu di sini. Ada yang harus kakak bahas mengenai update stok buku di toko dan di marketplace" Bayu pun memberikan beberapa lembar kertas kepada Fara. Ia berkata, "Sisanya udah kakak kirim ke kamu" tunjuk Bayu ke arah handphone Fara yang sedang di pegang."
"Oke, kak"
Setelah itu, Bayu kembali ke ruangan. Karena pengunjung Vin Books cukup ramai, Bayu meminta Fara untuk membahasnya melalui handphone.
"Semenjak kejadian itu, jadi seperti ini. Aku nggak nyangka ternyata efeknya akan berkepanjangan." Jawab Alina menjelaskan kejadian saat mereka kondangan.
"Aku harus segera pulang ke Bogor, nanti sore aku kabarin kamu. Jadi kan ketemu sama Bunda?"
"Kamu sendiri gimana, yakin, mau hari ini saja?"
"Iya nggak apa - apa. Aku coba lihat keadaan di rumah dulu tapi ya."
"Keadaan di rumah? Apakah ini masalah tentang kita berdua?"
"Iya, tadi pagi Ibu mengabari aku. Oh, ya. Mengenai mengontrak aku nggak ada masalah sama orang tua, cuma ingin mencari suasana baru saja, khususnya untuk menghindari stress berlebih karena masalah ini terus saja mengganggu aku."
"Oke, nanti sore ke rumah aku, mau dijemput aja nggak sekalian kita klarifikasi di Bogor?"
"Aku rasa nggak perlu, biar nanti aku pake motor saja. Tapi kamu jemput aku di depan rumah kamu pokoknya."
"Iya, aku paham kok"
...----------------...
"Ibu, kenapa!?" Baru saja Alina sampai di halaman rumahnya, ia di kejutkan oleh keluarganya yang sedang berkumpul di teras. Disana ada orang tua Alina, Paman serta Bibinya yang kebetulan tinggal satu daerah dengan orang tua Alina. Nampak raut wajah amarah dan juga kecewa Alina terhadap keluarganya sendiri, karena mereka menuduh Alina tanpa bukti ataupun bertanya secara baik - baik.
"Bibi kecewa sama kamu, Alina! Kamu hamil sudah berapa bulan? Kalau ada masalah itu cerita, Nak. Jangan pergi dari rumah nggak ada kabar." Kata Sartika, dengan wajah yang sok sedih padahal ini semua perbuatan dirinya agar Alina di benci.
"Kamu bukan hanya mencemarkan nama baik keluarga, tapi kamu juga mencemarkan nama baik kampung kita, Alina!" bentak salah satu tetangga Alina.
"Maksud kalian apa ya, mencemarkan nama baik? Hamil? Aku nggak hamil kok" Jawab Alina dengan tenang dan berani serta melihat ke semua orang berusaha meyakinkan. Bahkan, Ibu dan Ayah Alina hanya bisa menatap anak perempuannya itu, karena mereka tidak tahu apakah mungkin yang dikatakan orang - orang mengenai Alina itu memang benar.
"Alina harus di hukum, ini perbuatan yang salah. Jika hal ini dibiarkan saja, maka anak - anak yang lain akan berani melakukan hal yang sama!" ucap seorang bapak - bapak
"Tunggu, saya punya bukti!" ucap seorang laki - laki yang baru saja keluar dari mobil.