Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Glek glek glek.

Risa meneguk es jeruk manisnya sampai tandas tidak bersisa.

Dia meletakkan gelas kaca itu di atas meja dengan wajah yang sangat puas.

"Ya ampun Bar, ayam bakar madu di sini enak sekali bumbunya sampai meresap ke tulang," ucap Risa sambil mengelap mulutnya dengan tisu.

"Syukurlah kalau Mbak Risa suka makanannya," jawab Akbar tersenyum lega.

"Kalau Mbak mau nambah satu porsi lagi untuk dibungkus bawa pulang juga boleh, biar aku yang bayar semuanya."

Risa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Eh jangan Bar, ini saja perutku rasanya sudah mau meledak saking kenyangnya."

"Lagi pula kamu ini jangan terlalu boros menghamburkan uang, harus ditabung buat masa depanmu nanti."

Akbar hanya tertawa pelan mendengar nasihat tulus dari gadis di depannya ini.

Tentu saja Akbar tidak akan bilang kalau dia sama sekali tidak peduli soal menabung uang.

Uang sepuluh jutanya masih banyak, dan dia yakin sistem akan terus memberinya rezeki yang jauh lebih besar ke depannya.

"Baiklah kalau begitu, biar aku panggil pelayannya dulu untuk bayar tagihan meja kita," ucap Akbar.

Akbar mengangkat tangannya memanggil pelayan restoran dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan.

Selesai urusan pembayaran, mereka berdua kembali berjalan ke tempat parkir motor.

Brummm.

Mesin motor Scoopy hitam itu menyala dengan sangat halus.

"Ayo naik Mbak, aku antar pulang sekarang mumpung cuacanya belum terlalu sore," tawar Akbar.

Risa kembali naik ke jok belakang dan mereka melaju meninggalkan restoran ayam bakar tersebut.

Perjalanan pulang terasa lebih santai dan tenang tanpa ada gangguan apa pun di jalan raya.

Sekitar setengah jam kemudian, motor Akbar akhirnya sampai di depan rumah sederhana milik orang tua Risa.

Rumah itu berada tidak terlalu jauh dari balai desa, tapi posisinya cukup masuk ke dalam gang.

Cittt.

Akbar mengerem motornya tepat di depan pagar kayu rumah Risa.

"Terima kasih banyak ya Bar buat makan siang gratis dan jalan-jalannya hari ini," ucap Risa sambil turun dan melepas helmnya.

"Sama-sama Mbak Risa, aku juga senang ada teman ngobrol hari ini," balas Akbar jujur.

"Kamu hati-hati di jalan pulangnya ya Bar, jangan ngebut-ngebut bawa motor barunya."

"Siap Mbak, aku pamit pulang dulu kalau begitu, sampai jumpa besok di minimarket."

Akbar melambaikan tangannya dan kembali memutar tuas gas motornya menuju rumahnya sendiri.

Sesampainya di rumah gubuknya, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.

Akbar masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat.

Dia menatap langit-langit kamarnya yang bocor dengan pikiran yang sangat fokus.

"Sistem, kau masih di sana kan?" panggil Akbar di dalam hati.

[Sistem Dewa Hoki selalu siaga melayani Tuan setiap detik.]

Suara mekanis itu langsung merespons di kepalanya.

"Tadi siang kau bilang aku punya seratus lima puluh poin hoki, sebenarnya poin itu bisa dipakai untuk apa saja?" tanya Akbar penasaran.

[Poin Hoki adalah mata uang eksklusif sistem yang bisa digunakan untuk berbelanja di Toko Sistem.]

[Apakah Tuan ingin membuka panel Toko Sistem sekarang juga?]

"Buka sekarang," perintah Akbar tanpa ragu sedikit pun.

Ding!

Sebuah layar holografik biru yang jauh lebih besar dan kompleks muncul di atas kasurnya.

Layar itu menampilkan tiga kategori menu utama yaitu Item Konsumsi, Skill Pasif, dan Barang Gaib.

Mata Akbar langsung berbinar melihat deretan barang-benar aneh yang ditawarkan di dalam toko tersebut.

Ada pil penyembuh luka, jimat keberuntungan sementara, sampai skill bela diri tingkat dewa.

Tapi sayangnya, harga barang-barang bagus itu rata-rata di atas seribu poin hoki.

"Barang-barangnya sangat luar biasa, tapi poin seratus lima puluh milikku ini sepertinya sangat miskin di sini," keluh Akbar pelan.

[Tuan tidak perlu berkecil hati, ada banyak item kelas perunggu dan perak yang sesuai dengan saldo Tuan saat ini.]

[Sistem merekomendasikan Tuan untuk membuka tab Barang Gaib Kelas Perunggu.]

Akbar menuruti saran sistem dan menggeser layar holografik itu dengan sentuhan jarinya.

Sret.

Daftar barang dengan harga di bawah dua ratus poin langsung bermunculan.

Mata Akbar tertuju pada satu item berbentuk kalung hitam yang harganya tepat seratus poin.

"Sistem, coba bacakan detail kegunaan barang yang bernama Jimat Aura Intimidasi ini," pinta Akbar.

[Jimat Aura Intimidasi Sekali Pakai. Harga: 100 Poin Hoki.]

[Fungsi: Memancarkan tekanan aura psikologis yang sangat mengerikan selama sepuluh menit penuh.]

[Efek: Target yang memiliki rasa bersalah atau niat buruk pada Tuan akan merasa sesak nafas dan ketakutan setengah mati melihat wajah Tuan.]

Mata Akbar seketika melebar membaca fungsi item yang sangat cocok dengan rencananya malam ini.

"Ini dia yang aku butuhkan untuk mendatangi rumah si kepala desa korup itu," gumam Akbar sambil tersenyum iblis.

"Sistem, aku beli Jimat Aura Intimidasi itu satu buah."

[Transaksi berhasil. 100 Poin Hoki telah dipotong dari saldo Tuan.]

[Item Jimat Aura Intimidasi telah masuk ke dalam inventaris spasial Tuan.]

"Sisa poinku sekarang lima puluh, apa ada barang murah tapi berguna yang bisa kubeli lagi?" tanya Akbar.

Akbar terus menggulir layar itu ke bawah sampai dia menemukan barang aneh seharga lima puluh poin.

Namanya adalah Alat Sadap Lalat Gaib.

[Alat Sadap Lalat Gaib Durasi 24 Jam. Harga: 50 Poin Hoki.]

[Fungsi: Seekor lalat transparan yang bisa diperintah menempel pada target untuk merekam semua suara dan percakapan rahasia.]

[Hasil rekaman akan otomatis dikirimkan ke dalam ponsel milik Tuan dalam bentuk file audio MP3 biasa.]

"Gila, ini sih alat mata-mata kelas dunia harganya cuma lima puluh poin," puji Akbar takjub.

"Beli itu juga sistem, habiskan saja semua sisa poinku."

[Transaksi berhasil. 50 Poin Hoki telah dipotong. Saldo Poin Hoki Tuan saat ini adalah 0.]

[Item Alat Sadap Lalat Gaib telah masuk ke dalam inventaris Tuan.]

Akbar menutup layar sistem dan bangkit duduk dari kasurnya.

Persenjataannya untuk malam ini sudah sangat lengkap dan mematikan.

Dia tidak berencana memukul orang atau menghancurkan barang sama sekali.

Malam ini, Akbar akan bermain-main dengan psikologis dan pikiran musuhnya.

Waktu terus berjalan cepat hingga langit di luar akhirnya berubah menjadi gelap gulita.

Krik krik krik.

Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan di sekitar rumah kayu Akbar.

Jam di dinding kamarnya yang retak menunjukkan tepat pukul delapan malam.

Akbar memakai jaket hitam kesayangannya dan berjalan menuju motornya yang diparkir di dalam rumah.

Brummm.

Mesin motor dihidupkan dan Akbar melaju menembus dinginnya angin malam desa.

Tujuannya malam ini hanya satu, rumah bertingkat paling mewah yang ada di tengah kampung.

Rumah itu adalah kediaman resmi Pak Wanto, sang kepala desa sekaligus ayah kandung Dion.

Sementara itu, di dalam ruang tamu rumah mewah tersebut, suasana sedang sangat panas dan tegang.

Prang!

Sebuah asbak kaca tebal baru saja dibanting ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

"Bisa-bisanya kamu menyewa preman tapi malah preman itu yang masuk rumah sakit semua!" bentak seorang pria paruh baya berbadan buncit.

Pria itu adalah Pak Wanto, kepalanya botak licin dan perutnya sangat buncit beralaskan kemeja batik sutra.

Dion duduk menunduk di sofa dengan wajah pucat pasi karena baru saja dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.

Di sudut ruangan, Tono berdiri gemetar memeluk tiang hiasan saking takutnya melihat kepala desa mengamuk.

"Bukan salahku Ayah, si Akbar itu ternyata pakai ilmu hitam yang kuat sekali!" bela Dion membantah.

"Ilmu hitam apanya bodoh! Tono bilang preman itu saling pukul temannya sendiri karena terpeleset di jalan!" teriak Pak Wanto kalap.

"Itu murni kecerobohan mereka sendiri, dan sekarang polisi desa sebelah sedang mencari tahu siapa yang menyewa geng motor itu."

Dion langsung terdiam menelan ludahnya mendengar kata polisi disebut oleh ayahnya.

"Ayah harus bantu aku tutupi masalah ini, jangan sampai namaku terseret kasus pengeroyokan," mohon Dion dengan suara memelas.

Pak Wanto mendengus kasar dan duduk kembali di sofa tunggalnya sambil memijat pelipisnya yang pusing.

"Dasar anak tidak berguna, bisanya cuma bikin malu nama baik bapakmu saja."

"Kalau bukan karena butuh pencitraan buat pemilihan kades tahun depan, sudah kuusir kau dari rumah ini."

Tok tok tok.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu utama rumah yang sangat keras dari luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!