Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Bram

Radio tua itu, setelah diperiksa Indra dengan teliti, ternyata masih berfungsi sebagian — cukup untuk memancarkan sinyal lemah, meski tidak cukup kuat untuk mengirim suara yang jelas. Tapi bagi Indra, itu sudah cukup.

Ia mengingat kode Morse yang pernah ia pelajari dari salah satu video YouTube yang ditontonnya "untuk hiburan" — pengetahuan yang saat itu tampak seperti sekadar rasa ingin tahu belaka, kini menjadi satu-satunya harapan untuk keluar dari situasi ini.

Dengan hati-hati, mengingat setiap gerakan kamera pengawas di sudut ruangan agar tidak terlihat mencurigakan, Indra mulai mengetuk-ngetukkan kabel radio itu ke logam rangka ranjang, menciptakan pola bunyi yang, jika seseorang cukup jeli mendengarkan melalui frekuensi radio, bisa diterjemahkan menjadi pesan.

*P-E-L-A-B-U-H-A-N S-E-L-A-T-A-N. G-U-D-A-N-G B-I-R-U.*

Ia mengulangi pesan itu berkali-kali, tangannya mulai lelah tapi tekadnya tidak goyah sedikit pun, berharap sinyal lemah itu entah bagaimana bisa mencapai seseorang yang bisa memahaminya.

Di markas Luki, tim teknis akhirnya menangkap sesuatu — sinyal lemah dan tidak konsisten pada frekuensi yang jarang digunakan, muncul dan menghilang secara berkala dengan pola yang terlalu teratur untuk sekadar gangguan acak.

"Tuan, kami menangkap sesuatu," kata salah satu teknisi, memutar volume untuk memperjelas suara ketukan samar yang terekam.

Alena mendekat, mendengarkan dengan seksama, matanya terpejam berkonsentrasi. "Itu kode Morse," katanya tiba-tiba, membuka mata lebar. "Aku pernah mengajari Indra dasar-dasarnya beberapa bulan lalu, saat dia penasaran soal komunikasi militer perang dunia kedua."

Tim dengan cepat menerjemahkan pola ketukan itu, dan ketika kata-kata mulai terbentuk di layar mereka, Luki merasakan sesuatu yang mirip harapan murni mengalir kembali ke dalam dirinya.

PELABUHAN SELATAN. GUDANG BIRU.

"Itu dia," bisik Luki, hampir tidak percaya. "Dia benar-benar mengirim pesan."

Bram, yang sudah bersiaga sejak awal malam, langsung bergerak. "Aku akan siapkan tim, Tuan. Pelabuhan selatan ada di luar wilayah kekuasaan kita — kita perlu bergerak cepat sebelum Antasena menyadari kebocoran ini."

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, tim serangan sudah bersiap — dipimpin langsung oleh Luki dan Bram, dengan Alena bersikeras ikut meski keduanya awalnya menolak.

"Aku tidak akan diam menunggu di sini," katanya tegas, sudah mengenakan rompi pelindung yang disediakan salah satu anggota tim. "Indra mungkin butuh seseorang yang bisa menenangkannya begitu kalian menemukannya. Aku ikut."

Luki menatapnya lama, mengerti betul risiko yang mereka hadapi, tapi juga menyadari tekad Alena tidak akan goyah oleh argumen apa pun. "Baik," katanya akhirnya. "Tapi kamu tetap di belakang tim utama. Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua malam ini."

Pelabuhan selatan tampak sepi saat mereka tiba, deretan gudang tua berdiri dalam kegelapan, hanya diterangi lampu-lampu keamanan yang tersebar tidak merata. Tim bergerak dalam formasi senyap, Bram memimpin di depan, matanya menyapu setiap sudut mencari tanda-tanda penjagaan.

"Gudang biru, di sana," bisik salah satu anggota tim, menunjuk ke sebuah bangunan dengan cat biru pudar di ujung deretan gudang.

Tapi begitu mereka mendekat, sesuatu terasa tidak beres — terlalu sepi, terlalu mudah, seolah jalan menuju gudang itu sengaja dibiarkan terbuka.

"Ini jebakan," gumam Bram, insting bertahun-tahunnya langsung berbunyi alarm. "Terlalu mudah, Tuan."

Sebelum Luki sempat merespons, tembakan pertama pecah dari arah atap gudang di sekitar mereka — Antasena, rupanya, sudah menduga kebocoran informasi ini akan terjadi cepat atau lambat, dan telah mempersiapkan penyambutan yang jauh dari ramah.

"LINDUNGI TUAN L!" teriak Bram, mendorong Luki ke balik kontainer terdekat sebelum peluru berikutnya bisa mengenainya, sementara tim lainnya menyebar mencari perlindungan dan mulai membalas tembakan.

Baku tembak pecah dengan intensitas yang mengerikan, suara letusan senjata bergema di antara gudang-gudang kosong, memantul dari dinding logam menciptakan kekacauan suara yang membuat sulit membedakan arah tembakan.

Luki, dari balik kontainer, mencoba menghitung posisi musuh, tapi kekhawatirannya bukan pada dirinya sendiri — pikirannya sepenuhnya terpaku pada Indra, yang mungkin masih berada di dalam gudang biru itu, terjebak di tengah baku tembak yang semakin sengit.

"Aku harus masuk," katanya pada Bram, yang berlutut di sampingnya, sesekali membalas tembakan dari balik perlindungan yang sama.

"Tuan, terlalu berbahaya sekarang—"

"Aku tidak peduli!" Luki mulai bergerak, tapi Bram menahannya dengan tangan kuat.

"Biar aku yang masuk," kata Bram, suaranya tegas, keputusan yang sudah ia buat dalam hitungan detik. "Aku akan buat jalan. Tuan tetap di sini sampai aku beri sinyal aman."

"Bram, jangan—"

Tapi Bram sudah bergerak, meninggalkan perlindungannya, berlari zig-zag menuju pintu gudang biru sambil terus menembak ke arah posisi musuh, mengalihkan perhatian mereka dari Luki dan tim lainnya. Peluru berdesing di sekelilingnya, beberapa nyaris mengenainya, tapi ia terus berlari dengan tekad yang tidak tergoyahkan — sepuluh tahun mengabdi pada keluarga Subroto, dan momen ini, ia tahu, adalah momen yang paling penting dari semua pengabdian itu.

Ia berhasil mencapai pintu gudang, menendangnya terbuka, tapi saat itulah sebuah peluru akhirnya mengenainya — bukan tembakan fatal, tapi cukup untuk membuatnya tersungkur di ambang pintu, darah mulai merembes dari bahunya.

"BRAM!" teriak Luki dari kejauhan, melihat rekannya jatuh, tapi Bram, meski terluka, masih memiliki cukup kekuatan untuk memberi sinyal — sebuah teriakan yang terdengar jelas di antara suara tembakan.

"AMAN! MASUK SEKARANG!"

Luki tidak menunggu perintah kedua. Ia berlari secepat mungkin menuju gudang itu, mengabaikan bahaya di sekelilingnya, hanya fokus pada satu tujuan — menemukan anaknya, hidup dan selamat, di balik pintu yang baru saja dibuka dengan pengorbanan seorang pria yang sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!