"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGISAN YANG MEMECAH KEHENINGAN
Langkah kaki Haidar terasa amat berat saat mendorong pintu ruang perawatan yang sunyi. Bau pembersih antiseptik yang tajam menyambutnya, berpadu dengan helaan napas teratur dari sosok wanita yang terbaring lemah di atas ranjang serba putih.
Elara tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang dan pembius pasca-tindakan. Wajah cantiknya masih tampak begitu pucat, kontras dengan helai rambut hitamnya yang tersebar di atas bantal. Di pergelangan tangannya, jarum infus menancap, meneteskan cairan pembawa kehidupan yang perlahan mengembalikan tenaganya.
Haidar melangkah mendekat tanpa suara. Pria tegap yang biasanya berdiri kokoh tanpa cela itu kini berlutut di samping ranjang Elara. Jemari tangannya yang masih menyisakan noda merah mengering perlahan meraih tangan halus Elara, menggenggamnya dengan sangat hati-hati, seolah takut jemari itu akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.
Ia menempelkan punggung tangan Elara ke pipinya yang kasar, memejamkan mata rapat-rapat saat setetes air mata menetes membasahi kulit dingin sang calon istri.
"Maafkan aku..." bisik Haidar dengan suara parau, hampir tak terdengar di keheningan kamar. "Aku gagal melindungimu... Aku gagal menjaga anak kita."
Rasa bersalah yang menghimpit dada Haidar terasa jauh lebih menyiksa daripada luka tembak apa pun yang pernah ia terima dalam hidupnya. Di hadapan wanita yang dicintainya yang kini tak berdaya, sang bos mafia yang ditakuti seluruh kota hanya bisa menunduk dalam kepedihan yang paling dalam.
Kelopak mata Elara bergerak-gerak pelan sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya remang-remang, dibayangi oleh siluet atap ruang perawatan yang serba putih dan aroma antiseptik yang menusuk hidung. Efek obat pembius yang perlahan memudar meninggalkan rasa pening yang membentur kepalanya, berpadu dengan rasa nyeri yang masih berdenyut hebat di area bawah perutnya.
Sensasi asing itu memicu naluri terdalamnya. Dengan jemarinya yang masih lemas dan tertancap selang infus, Elara perlahan menggeser tangannya, membawa telapak tangannya untuk mengelus perutnya sendiri.
Perut yang biasanya memberikan kehangatan dan harapan kecil itu kini terasa hampa—hanya rasa nyeri yang menyengat yang tertinggal di sana.
Napas Elara seketika tertahan. Manik matanya bergulir panik, mencari sosok pria yang ia tahu tidak akan pernah meninggalkannya. Tatapannya tertuju pada Haidar yang masih berlutut di samping ranjang, terduduk kaku dengan kepala menunduk dan genggaman tangan yang tak pernah terlepas.
"H-Haidar..." panggil Elara, suaranya terdengar sangat parau, hampir tenggelam di antara bunyi teratur alat pemantau detak jantung. Tangannya yang mengelus perut mulai bergetar hebat. "Anak kita... Haidar, kenapa perutku... kenapa terasa sakit dan kosong?"
Haidar mendongak seketika saat mendengar bisikan itu. Menatap mata Elara yang penuh ketakutan dan kebingungan, hati sang bos mafia bagai dihantam ribuan belati tajam sekaligus. Pria itu tidak sanggup mengucapkan kata-kata, hanya bisa mempererat cengkeraman tangannya dan menatap Elara dengan pandangan yang dipenuhi duka mendalam.
Melihat bauran duka dan keheningan di mata Haidar, kebenaran pahit itu menghantam Elara bagai petir di siang bolong. Kenyataan bahwa calon buah hati yang selama ini menjadi harapannya telah pergi, hancur seketika hanya dalam hitungan jam.
"TIDAK! HAIDAR, TIDAK!"
Jeritan histeris pecah dari tenggorokan Elara, memotong keheningan ruang perawatan yang dingin. Suaranya melengking tinggi, dipenuhi keputusasaan yang teramat dalam. Elara mencengkeram kain seprai rumah sakit dengan jemarinya yang gemetar hebat, meremasnya kuat-kuat seolah berusaha menahan rasa sakit yang meremas jiwanya.
Air mata deras mengalir tanpa henti membasahi pipinya yang pucat pasi. Elara memukulkan telapak tangannya pelan ke arah perutnya sendiri yang kini terasa hampa, meratapi kehilangan yang teramat besar.
"Anakku... Haidar, anak kita..." tangis Elara terisak-isak, dadanya naik turun tak beraturan hingga alat pemantau detak jantung di samping ranjang berbunyi makin cepat dan nyaring. "Kenapa ini terjadi... Kenapa mereka tega melakukan ini padaku?!"
Haidar langsung berdiri dan menahan kedua tangan Elara dengan lembut namun cekatan, mencegah wanita itu menyakiti dirinya sendiri. Ia menarik tubuh Elara yang bersimbah air mata ke dalam dekapannya, merengkuhnya dengan sangat erat seolah ingin menanggung seluruh rasa sakit yang sedang menghancurkan wanita itu.
"Maafkan aku, Elara... Maafkan aku," bisik Haidar dengan suara parau yang pecah di ceruk leher Elara. Pria tegap itu memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya sendiri menetes membasahi bahu Elara, tenggelam bersama dalam duka yang tak tertahankan.