Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.Masakan Pertama Levia

"Kalau memang peduli sama kesehatanku..." Levia menyilangkan kedua tangannya. "...harusnya kamu mendukung dietku, bukan menggagalkannya."

Ninis langsung kehilangan kata-kata. "Maaf, Non. Aku cuma khawatir."

"Aku tahu." Jawaban Levia terdengar tenang. "Tapi mulai sekarang, aku lebih percaya sama dokter."

Ninis hanya mampu mengangguk. "Baik, Non."

Levia kemudian melangkah menuju gantungan celemek. Ia mengambil salah satunya lalu memakainya sendiri.

Melihat itu, Bu Sari sampai membulatkan mata. "Nona... mau apa?"

"Masak," jawab Levia singkat.

"Hah?"

Baik Bu Sari maupun Ninis sama-sama terkejut.

"Nona bisa masak?" tanya Bu Sari spontan.

Ninis bahkan tertawa kecil. "Non jangan bercanda. Nanti dapurnya malah kayak kapal pecah."

"Kalau berantakan..." Levia tersenyum. "sebagai ART di rumah ini, harusnya kamu 'kan yang membereskan?" Levia menatap Ninis. "Atau kamu merasa keberatan?"

"Mana mungkin--"

"Bu Sari." Levia memotong kata-kata Ninis.

"Iya?" sahut Bu Sari.

"Hari ini Bibi sama Ninis jadi asisten saya," lanjut Levia.

Keduanya saling pandang.

"Asisten?" ulang Ninis.

"Iya." Levia mulai memberi perintah. "Keluarin beberapa bahan dari kulkas. Dada ayam tanpa kulit. Jamur. Brokoli. Wortel. Paprika. Telur. Lalu bawang putih."

Bu Sari buru-buru mengambil semua bahan itu. "Nona mau bikin apa?"

"Nanti juga tahu," jawab Levia sambil menyiapkan peralatan.

Ia mulai mencuci sayuran dengan gerakan yang cekatan. Pisau di tangannya bergerak cepat.

Tak. Tak. Tak.

Wortel, paprika, dan brokoli yang dipotong Levia memiliki ukuran yang hampir sama persis.

Bu Sari sampai melongo. "Rapi banget...."

"Sejak kapan Levia belajar motong sayur kayak gitu?" batin Ninis heran. "Aku denger di rumah mertuanya juga gak pernah masak. Bahkan saat bikin jus aja pas motong apel jarinya terluka."

Sementara itu, Vivian dalam tubuh Levia hanya tersenyum kecil. "Levia yang dulu memang gak pernah masuk dapur. Tapi aku bukan putri Pak Gultom yang dulu."

Dulu, saat masih hidup sebagai Vivian, ia sering memasak sendiri. Kesibukan sebagai desainer membuatnya lebih memilih menyiapkan makanan sehat daripada terus membeli makanan di luar. Karena itu, dapur bukanlah tempat asing baginya.

"Bu Sari."

"Iya, Non."

"Tolong panaskan wajan. Pakai sedikit minyak zaitun."

"Baik."

"Ninis."

"Iya?"

"Tolong timbang ayamnya dua ratus gram."

"Hah?" Ninis melongo. "Kenapa, Non? Beneran harus ditimbang?"

"Iya," jawab Levia mantap.

Ninis menurut meski wajahnya masih dipenuhi kebingungan.

Tak lama kemudian aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur. Disusul harum ayam panggang dengan lada hitam. Sayuran dimasak sebentar hingga warnanya tetap cerah.

Terakhir, Levia menata semuanya di atas piring putih dengan sangat rapi. Potongan ayam disusun di tengah. Sayuran berwarna-warni mengelilinginya. Di sampingnya ditambahkan kentang tumbuk dalam porsi yang pas.

Sederhana. Namun tampilannya tak kalah dengan hidangan restoran.

Bu Sari sampai bertepuk tangan pelan. "Masyaallah.... Cantik sekali."

Ninis hanya terpaku. Ia mengamati hidangan itu, lalu menatap Levia. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.

"Sejak hampir tenggelam... Kenapa Levia berubah sejauh ini?"

Levia melepaskan celemeknya sambil tersenyum puas.

"Mulai besok, kita makan sehat bersama."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi Ninis, "Aku gak bisa kendaliin Levia lagi. kenapa bisa begini?"

Ninis tersenyum tipis begitu Levia menghilang dari dapur.

Senyum itu tidak lagi terlihat ramah.

"Kalau cara lama sudah tidak berhasil..." pikirnya pelan. "...berarti aku harus memakai cara yang baru."

 

Menjelang malam, Bram Gultom keluar dari ruang kerjanya setelah menyelesaikan beberapa berkas perusahaan. Seperti biasa, ia berjalan menuju ruang makan. Namun, langkahnya mendadak terhenti.

Di atas meja makan yang panjang telah tersaji beberapa hidangan yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Tidak ada rendang bersantan pekat. Tidak ada ayam goreng tepung yang berminyak. Tidak ada kue-kue manis sebagai pelengkap makan malam.

Sebagai gantinya, tersaji ayam panggang lada hitam, sup bening berisi aneka sayuran, tumis brokoli dan jamur, ikan bakar dengan perasan jeruk nipis, serta semangkuk salad segar dengan saus yang dipisahkan dalam mangkuk kecil.

Warnanya begitu cerah. Penyajiannya pun sangat rapi, bahkan terlihat seperti hidangan di restoran.

Aroma bawang putih, lada hitam, dan rempah-rempah memenuhi ruang makan hingga membuat perut siapa pun yang menciumnya langsung terasa lapar.

Bram mengernyit heran. "Hm?"

Ia mendekat, lalu memerhatikan satu per satu hidangan di atas meja. "Bu Sari."

"Iya, Pak?"

"Kita lagi kedatangan tamu penting?"

Bu Sari menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, Pak."

"Kalau begitu..." Bram kembali menatap meja makan. "Kenapa hari ini menunya beda banget?"

Sebelum Bu Sari sempat menjawab, Ninis yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum. "Nona Levia yang masak, Pak."

Bram langsung menoleh. "Apa?"

"Nona Levia," ulang Bu Sari sambil mengangguk mantap. "Beliau yang memasak semuanya."

Bram berkedip beberapa kali. "Via?"

"Iya, Pak."

"Levia... masak?"

"Iya."

Bram masih belum percaya. "Levia masak? Yang bener?"

Bu Sari terkekeh pelan. "Saya juga awalnya gak percaya, Pak. Tapi memang benar. Saya dan Ninis cuma membantu menyiapkan bahan."

Bram masih memandangi hidangan di depannya. "Dia... benar-benar yang memasak semua ini?"

"Iya."

"Enggak beli dari restoran?" tanyanya masih tak percaya.

"Enggak, Pak."

"Enggak pesan katering?"

Bu Sari sampai tertawa kecil. "Enggak juga."

Bram mengusap dagunya pelan. "Her..."

Herman yang baru datang ikut menghampiri. "Iya, Pak?"

"Coba cubit saya."

Herman mengernyit. "Pak?"

"Saya takut masih mimpi," ujar Gultom.

Herman tersenyum geli. "Kalau saya cubit nanti malah dibilang kurang ajar."

Bram menggeleng pelan sambil terkekeh. "Anak saya... yang dulu jangankan masuk dapur, nyalain rice cooker saja gak pernah."

Tatapannya kembali tertuju pada hidangan di atas meja. "Sekarang malah bisa masak begini. Sejak kapan dia belajar masak? Kok saya gak pernah denger."

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Levia berjalan memasuki ruang makan dengan senyum kecil.

"Malam, Yah."

Bram langsung menatap putrinya. "Via..."

"Iya?"

"Kamu... yang masak semua ini?"

Levia mengangguk santai. "Iya."

Bram kembali melirik Bu Sari, seolah meminta konfirmasi sekali lagi.

Bu Sari hanya mengangguk sambil tersenyum. "Benar, Pak."

Bram kembali memandang putrinya. Ekspresinya masih dipenuhi ketidakpercayaan, tetapi perlahan berubah menjadi kebanggaan.

"Sejak kapan kamu bisa masak?"

Levia tersenyum kecil. "Belajar."

Jawaban singkat itu justru membuat Bram semakin bingung.

"Belajar kapan?" pikirnya. "Bukankah selama ini yang dia pelajari cuma cara mengejar Vandra?"

Namun, melihat senyum tenang di wajah putrinya, Bram memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menarik kursi, lalu berkata dengan nada hangat,

"Kalau begitu... malam ini Ayah harus mencicipi masakan putri Ayah."

 

...✨"Perubahan sejati terlihat dari tindakan, bukan sekadar janji."...

..."Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tekad yang besar." ✨...

.

To be continued

1
Anitha
nah rasain sekarang masalahnya jadi tambah besar gara² bukti pertama tidak cukup jadi terpaksa Vandra memberikan bukti lain yang menyangkut nama Pramono srorang Jendral yang menekan bawahannya,good Vandra semoga dengan bukti terakhir itu kalian bisa lolos dan menang dalam sidangnya...

si Jendral dan anaknya di Penjara karena kelakuannya sendiri🤣
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
anonim: Sama-sama Author 🙏🙏🙏👍👍/Heart/
total 2 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!