Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Rahasia Bumbu
Bram menyetujui usulku dengan satu syarat.
"Darman yang pegang dapur. Kamu mengajar, bukan mengambil alih."
"Saya juga nggak mau mengangkat panci sebesar bak mandi itu."
Keesokan sore aku membawa Sena ke dapur. Darman sudah menunggu dengan wajah orang yang dipaksa menghadiri pelajaran tambahan.
"Komandan bilang kamu mau mengajari saya bikin bubur bayi," katanya.
"Bukan cuma bubur. Cara menakar, menyimpan, dan mencatat reaksi Sena."
"Saya pernah bawa senapan mesin naik bukit. Masa bikin bubur harus belajar?"
"Senapan Bapak pernah kembung lalu muntah?"
Dua prajurit muda di dekat meja tertawa. Darman melotot sampai mereka kembali memotong sayur.
Aku baru tahu bahu kanannya cedera saat latihan beberapa tahun lalu. Gerakannya terbatas jika mengangkat lengan tinggi, sehingga ia dipindahkan ke dapur. Ia bisa memasak dalam jumlah besar, tetapi hampir semua bumbu diukur dengan genggaman dan firasat.
"Waktu masih di kompi, saya masak cuma kalau piket," katanya sambil mencoba memutar bahu. "Setelah cedera, tahu-tahu disuruh urus ratusan perut. Kalau terlalu asin dimarahi. Kalau hambar juga dimarahi."
"Pernah belajar dari juru masak?"
"Belajar sambil jalan. Orang lama pensiun dua bulan setelah saya masuk. Resepnya semua ada di kepala dia."
Aku membuka buku menu di meja. Halamannya hanya berisi nama masakan dan jumlah bahan besar. Tidak ada urutan kerja, suhu, atau ukuran bumbu.
"Pantas hasilnya berubah-ubah. Mulai sekarang setiap masakan yang berhasil ditulis lengkap. Kalau Bapak cuti, dapur tetap jalan."
Darman menggaruk dagu. "Kamu ngomong persis instruktur."
"Saya pernah rugi satu hari jualan karena sambal buatan tetangga terlalu asin. Sejak itu semua saya tulis."
Salah satu prajurit menyodorkan buku tulis kosong. Aku membagi halaman menjadi kolom bahan, jumlah, urutan, waktu, dan hasil. Darman semula menggerutu, tetapi ia mengambil pulpen dan menulis judul pertama dengan huruf kapital: MI KENOP.
"Yang penting kenyang," katanya.
"Kalau cuma kenyang, nasi disiram air juga selesai. Makanan yang enak membuat orang merasa diperhatikan."
Ia mendengus, lalu menunjuk panci berisi adonan tepung yang menggumpal. "Kalau begitu selamatkan itu. Buat makan malam."
Adonan mi kenopnya sudah berubah seperti lem. Aku mengambil mangkuk baru, memasukkan tepung sedikit demi sedikit, lalu menuang air dingin sambil mengaduk memakai sumpit yang sudah dibasahi.
"Kenapa dingin?" tanya salah satu prajurit.
"Supaya tepung nggak langsung mengikat jadi gumpalan besar. Airnya masuk sedikit, tangan terus bergerak."
Butiran kecil terbentuk, ukurannya hampir sama. Kumasukkan ke kuah mendidih bertahap agar suhu panci tidak jatuh.
Kuahnya hambar. Di sudut rak kutemukan sebungkus ebi yang hampir terlupakan. Aku menyangrainya sebentar, menumbuk halus, lalu memasukkan satu sendok ke panci bersama bawang putih dan lada.
Aroma laut yang gurih naik bersama uap.
Darman mendekat. "Itu stok lama. Saya kira sudah nggak berguna."
"Selama belum rusak dan penyimpanannya benar, justru bisa jadi penguat rasa. Tapi catat pemakaiannya."
Aku menunjukkan cara meratakan garam dengan sendok. "Satu sendok rata untuk panci uji ini. Jangan satu gunung. Tambah belakangan lebih mudah daripada menyelamatkan makanan keasinan."
Lima belas menit kemudian, kami mencicipi hasilnya.
Suapan pertama memberi rasa bawang yang ringan. Ebi muncul belakangan, bukan sebagai bau amis, melainkan gurih yang membuat lidah ingin mencoba lagi. Butiran adonan tetap lembut di luar dan sedikit kenyal di tengah.
Aku menambahkan irisan daun bawang tepat sebelum api dimatikan. Warnanya tetap hijau dan aromanya segar.
"Kalau dimasukkan dari awal, daun ini mati dua kali," jelasku. "Warnanya hilang, baunya juga hilang."
Prajurit muda itu langsung menyalin kalimatku ke buku. Darman merebut pulpennya.
"Tulis yang penting saja. Jangan tulis daun mati segala."
Darman mengunyah lama. "Cuma ebi sama cara aduk?"
"Rahasia bumbu sering bukan bahan mahal. Waktu masuk dan jumlahnya yang tepat."
Ia mengambil mangkuk kedua tanpa izin.
"Katanya cuma uji rasa," goda prajurit muda.
"Diam. Saya memastikan konsisten."
Sena yang duduk di kursi bayi pinjaman menepuk meja. Aku mengambil sedikit labu kukus, melumatkannya dengan air hangat sampai lembut, lalu menyuapkan ujung sendok kecil.
Ia membuka mulut, mencicipi, dan tidak memuntahkan.
"Nah," kataku. "Mulai satu bahan, sedikit, siang hari. Kalau ada alergi atau perutnya bermasalah, mudah dilacak. Susu tetap utama."
Darman mencatat dengan tulisan besar. Untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar serius.
"Kalau kamu pulang, saya bisa buat ini?"
"Bisa. Asal tekstur dan kebersihannya dijaga."
Ia menatap Sena, lalu panci. "Baik. Mulai sekarang kalau mau pakai dapur, bilang. Nggak perlu sembunyi seperti maling. Soal minyak dan mi itu selesai."
"Teguran saya tetap ada."
"Biar jadi kenang-kenangan."
Menjelang magrib, mi kenop dibagikan sebagai tambahan makan. Para prajurit yang biasanya meninggalkan kuah justru mengangkat mangkuk sampai bersih. Darman berdiri di depan panci dengan dada membusung.
"Resep baru, Pak?" tanya seseorang.
Ia menunjukku yang sedang menggendong Sena. "Bukan resep. Cara kerja baru."
Aku berjalan pulang melewati tepi lapangan. Cahaya senja menempel pada jendela dapur, membuat ruangan sederhana itu tampak keemasan.
Untuk pertama kali sejak tiba, aku tidak hanya dikenal sebagai janda atau ibu susuan.
Aku punya tempat untuk berdiri.
Di belakangku, Darman berteriak kepada dua pembantunya, "Ebi simpan yang benar! Besok kita coba lagi!"
Dapur itu mungkin akan menjadi medan tempurku.