Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Dungeon Pertama
Akademi Sihir Asteria mengadakan latihan lapangan pertama untuk siswa tahun pertama. Latihan yang wajib diikuti semua kelas, dari kelas S sampai kelas F, sebagai bagian dari kurikulum "Pengenalan Bahaya Dunia Nyata".
Tujuan mereka adalah sebuah dungeon tingkat rendah yang terletak sekitar dua jam perjalanan dengan kereta dari akademi, di pinggiran Hutan Kiri. Dungeon yang bernama Goblin Cave — dungeon buatan yang sudah dibersihkan dan dimodifikasi oleh akademi untuk latihan, dengan tingkat bahaya E, tingkat paling rendah. Tempat yang ideal untuk siswa baru belajar cara bertarung dalam kelompok, cara menggunakan sihir di ruang sempit, dan cara mendeteksi perangkap sederhana.
Bagi siswa lain, ini adalah petualangan pertama yang mendebarkan, yang membuat mereka tidak bisa tidur semalam karena bersemangat. Bagi Yamada, ini adalah... jalan-jalan yang merepotkan yang mengganggu jadwal tidur siangnya di bawah pohon ek.
Yamada masuk bersama kelompoknya. Kelompok 4 orang yang ditentukan secara acak oleh guru: Yamada (mana 0, kelas F), Elena (mana 89, kelas C, spesialis pedang), Aria (mana 412, kelas S, tapi memaksa masuk kelompok F karena alasan "penelitian"), dan satu siswa lagi bernama Rian, anak bangsawan dari kelas D dengan mana 110 yang dari awal sudah tidak suka satu kelompok dengan Yamada karena label mana 0.
Dungeon itu gelap, lembab, dan bau tanah basah. Hanya diterangi oleh kristal cahaya yang dibawa Elena dan obor sihir kecil yang dibuat Aria. Dindingnya dari batu kasar, dengan lumut yang menempel, dan lantai yang licin karena air.
Baru lima menit berjalan masuk, monster pertama muncul dari balik batu.
Monster muncul. Dari kegelapan lorong, dengan suara "Grrr" yang dibuat-buat.
Goblin. Makhluk kecil setinggi anak 10 tahun, kulit hijau, dengan gigi runcing, membawa tongkat kayu dengan paku di ujungnya.
[Monster identified: Goblin - Cave Variant]
[Level: 3]
[Threat: Low]
Yamada yang berada di barisan paling belakang, yang tugasnya seharusnya membawa ransum, menguap lebar, dengan suara yang menggema di dalam gua yang sempit.
"Serius? Goblin Level 3? Untuk latihan lapangan akademi terbaik di kerajaan? Ini bahkan lebih lemah daripada boneka jerami di belakang rumahku."
Elena yang berada di depan, yang sudah memegang pedang baja latihan yang dipinjamkan akademi, langsung menyerang tanpa menunggu aba-aba, dengan semangat membara. "Aku yang depan! Serahkan padaku!"
Swish! Tebasan vertikal Elena yang sudah terlatih mengenai kepala Goblin itu, membuatnya pingsan seketika.
Aria yang berada di sebelah Yamada, hanya mengangkat satu jari, dengan wajah tenang, dan tanpa merapal mantra panjang, sebuah peluru mana kecil berwarna biru keperakan melesat.
Fwish! Peluru itu mengenai Goblin kedua yang muncul dari samping, yang bahkan belum sempat dilihat Elena, dan membuatnya membeku menjadi es batu kecil.
Dua Goblin tumbang dalam dua detik.
Rian yang dari tadi ingin menunjukkan kemampuannya, bahkan belum sempat mengeluarkan pedangnya, hanya bisa melongo.
Yamada hanya mengamati dari belakang, dengan tangan di saku, dengan wajah mengantuk, tidak mengeluarkan pedang kayu, tidak merapal sihir.
Namun semakin dalam mereka berjalan— sekitar 200 meter masuk ke dalam gua, melewati persimpangan pertama— suasana mulai berubah. Udara menjadi lebih dingin, lebih pengap. Lumut di dinding menjadi lebih tebal, dan bau anyir darah mulai tercium, bukan darah Goblin, tapi darah sesuatu yang lebih besar.
Monster-monster yang muncul pun semakin kuat. Bukan lagi Goblin Level 3 yang sendirian, tapi Goblin Warrior Level 5 dengan baju besi karat, dan Goblin Shaman Level 6 yang bisa melempar bola api kecil.
Elena mulai terengah-engah, Aria mulai harus merapal mantra yang sedikit lebih panjang, dan Rian mulai terlihat tegang.
Yamada yang dari tadi hanya mengamati, tiba-tiba berhenti di tengah lorong yang bercabang tiga. Matanya yang tadinya mengantuk, kini terbuka lebar, menatap lantai, dinding, dan langit-langit gua dengan tatapan yang fokus.
[Dungeon analysis complete. Basic Magic Analysis Lv.2 activated.]
[Hidden structure detected 5 meters ahead. Non-standard dungeon layout. Academy map does not match current structure.]
[Warning: Trap and hidden chamber detected beneath floor.]
Yamada mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti, dengan suara yang pelan tapi tegas, suara yang tidak seperti Yamada yang malas.
"Berhenti. Jangan jalan lagi."
Semua orang di kelompoknya menoleh, termasuk kelompok lain di belakang mereka yang juga ikut latihan lapangan.
"Ada apa, Yamada?" Elena bertanya, dengan pedang masih terangkat, napas masih terengah.
"Jangan lewat sana. Jalur tengah, jangan lewat." Kata Yamada, menunjuk lorong tengah yang terlihat paling bersih, paling lebar, dan paling aman dibandingkan dua lorong lain yang penuh sarang laba-laba.
Seorang siswa dari kelompok lain, siswa kelas B yang dari awal sudah meremehkan kelompok F, tertawa keras, suaranya menggema di gua.
"Takut? Baru masuk 200 meter sudah takut? Pantas mana 0, mentalnya juga 0. Ini dungeon latihan, tidak ada bahaya sungguhan. Akademi sudah membersihkannya."
Yamada tidak menjawab ejekan itu, dia hanya menunjuk lantai di lorong tengah, di sebuah batu yang warnanya sedikit lebih gelap dari batu lain di sekitarnya, batu yang hampir tidak terlihat bedanya jika tidak diperhatikan dengan teliti.
"Di bawah sana ada perangkap. Di bawah batu itu. Mekanisme tekanan. Kalau diinjak, lantai akan terbuka dan tombak akan keluar dari bawah."
Siswa kelas B itu, yang ingin menunjukkan keberaniannya di depan Aria, tertawa lebih keras, "Perangkap? Di dungeon latihan tingkat E? Jangan mengarang, anak desa. Ini akademi terbaik, tidak mungkin ada perangkap sungguhan yang bisa membunuh siswa!"
Dan untuk membuktikan bahwa Yamada salah, siswa itu maju selangkah, dengan sengaja menginjak batu gelap yang ditunjuk Yamada, dengan senyum mengejek.
Klik.
Suara kecil, sangat kecil, seperti suara kunci yang diputar, terdengar dari bawah lantai. Batu gelap itu turun sekitar 2 sentimeter.
Wajah siswa itu berubah pucat dalam sekejap.
Yamada yang sudah mengantisipasi itu, langsung bergerak, secepat yang dia bisa, yang bahkan membuat Aria terkejut karena kecepatannya. Dia menarik kerah baju siswa itu dari belakang dengan sekuat tenaga, menariknya mundur.
Satu detik kemudian—
BOOM! Bukan ledakan api, tapi suara mekanisme besar yang terpicu.
Puluhan tombak besi berkarat, panjangnya sekitar satu meter, muncul dengan kecepatan tinggi dari lantai, dari dinding, dan dari langit-langit di area 3x3 meter di lorong tengah itu. Tombak-tombak itu saling bersilangan, membentuk sangkar besi yang mematikan. Jika siswa itu masih berdiri di sana, tubuhnya akan tertusuk dari bawah, dari samping, dan dari atas secara bersamaan.
Semua orang di gua terdiam. Sunyi total. Bahkan suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar.
Siswa kelas B yang baru saja ditarik Yamada jatuh terduduk di lantai, dengan wajah pucat pasi, celana sedikit basah, menatap sangkar tombak di depannya dengan mata yang hampir keluar.
Elena menutup mulutnya dengan tangan, menatap tombak-tombak itu dengan ngeri. Rian mundur beberapa langkah.
Aria adalah satu-satunya yang tetap tenang, tapi mata ungunya kini menatap Yamada dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang penuh dengan rasa kagum dan rasa ingin tahu yang semakin besar. Dia menatap Yamada, bukan tombaknya.
"Kau melihatnya? Perangkap itu? Bahkan aku tidak melihat ada perbedaan warna batu. Bagaimana kau bisa melihatnya?" Tanya Aria pelan, dengan suara yang hanya bisa didengar kelompoknya.
"Ya. Aku melihatnya. Warnanya sedikit lebih gelap, dan ada goresan kecil di sekelilingnya, bekas gesekan mekanisme." Jawab Yamada, dengan napas sedikit terengah karena menarik siswa yang berat itu.
"Bagaimana? Bagaimana kau bisa melihat detail sekecil itu di dalam gua yang gelap? Bahkan dengan sihir penglihatan pun sulit." Aria mendesak, matanya berbinar.
Yamada mengangkat bahu, dengan gerakan malasnya yang khas, kembali ke mode malas setelah mode seriusnya selama 10 detik.
"Feeling. Perasaan saja. Tempat yang terlihat paling aman biasanya adalah tempat yang paling berbahaya. Itu logika dasar orang malas: kalau ada jalan yang terlihat terlalu mudah, pasti ada jebakan di sana biar orang malas seperti aku terjebak."
Jawaban yang sangat tidak memuaskan bagi seorang peneliti seperti Aria, tapi jawaban yang sangat Yamada.
Sistem muncul di depan Yamada, hanya dia yang bisa melihatnya, dengan notifikasi kecil.
[Danger Sense proficiency increased: Lv.1 -> Lv.2]
[Effect: Can detect traps and hidden mechanisms within 8 meters.]
[Basic Magic Analysis: Hidden chamber detected behind trap. Contains unknown mana signature.]
Yamada tersenyum kecil, senyum tipis yang tidak terlihat oleh siapa pun karena gua yang gelap.
"Beruntung. Sangat beruntung kita tidak jadi sate Goblin hari ini."
Dia berkata begitu, tapi matanya melirik ke balik sangkar tombak itu, ke dinding gua yang di belakangnya sistem mendeteksi ada ruangan tersembunyi dengan tanda mana yang tidak dikenal, ruangan yang tidak ada di peta akademi, ruangan yang seharusnya tidak ada di dungeon latihan tingkat E.
Dan dari dalam ruangan tersembunyi itu, samar-samar, dia bisa mendengar suara... suara tangisan anak kecil.
Suara yang sama seperti yang dia dengar di ingatan kontrak lima tahun itu.
Yamada terdiam, senyumnya menghilang.
Latihan lapangan yang seharusnya membosankan ini, tiba-tiba menjadi tidak membosankan sama sekali. Dan itu sangat, sangat merepotkan.