Indonesia
NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Di dunia tanpa tentara yang tersisa untuk melindungi mereka, Markas Masa Depan baru saja menjadi kekuatan bersenjata paling berbahaya di wilayah itu.

Kekuatan itu belum berarti apa-apa sebelum diuji.

Pagi berikutnya, Fajar kembali dari patroli dengan napas pendek. Tubuhnya muncul di dekat gerbang timur seperti bayangan yang baru diberi warna. Jaketnya penuh debu, dan matanya langsung mencari Arka.

"Bang Arka. Ada arus besar dari utara."

Semua orang di halaman berhenti bekerja.

Elang menurunkan kain pembersih dari laras Barrett. Shadow menoleh tanpa suara. Merah yang sedang mengajari dua anggota baru memegang AK langsung berjalan mendekat.

Arka menutup buku catatan Wiratama. "Jumlah?"

"Sulit dihitung dari dekat. Tapi dari gerakan jalan utama dan suara bangunan yang mereka lewati... minimal puluhan ribu. Mungkin tiga puluh ribu. Ada beberapa yang lebih besar di antara mereka."

Kirana berdiri di belakang Arka. Wajahnya sudah pucat sebelum Fajar selesai bicara.

"Aku merasakan tekanan yang sama," katanya pelan. "Masih jauh, tapi arahnya lurus ke sini. Kalau mereka dibiarkan, sore nanti gelombang pertama sudah sampai area luar markas."

Tiga puluh ribu.

Sehari sebelumnya, angka itu bisa membuat Markas Masa Depan bubar sebelum bertarung.

Hari ini, halaman markas dipenuhi peti senjata.

Arka melihat wajah-wajah di sekitarnya. Ada takut, tentu saja. Tetapi rasa takut itu tidak lagi membuat mereka ingin lari. Mereka menunggu perintah.

Itu sudah kemajuan besar.

"Elang, pilih dua belas orang paling tenang. Mereka ikut regu runduk dan penembak jarak jauh."

"Siap."

"Shadow, tim cepat ambil M4. Tugas kalian menutup celah. Jangan mengejar jauh."

Shadow mengangguk. "Mengerti."

"Merah, buat garis tahan di depan dinding Teguh. Api hanya untuk memecah arus, jangan habiskan tenaga sebelum mereka masuk jarak tembak."

Merah menyeringai. "Akhirnya latihan kemarin kepakai."

"Teguh, tambah tanggul depan. Pak Wiratama, bantu ikat besi bekas di titik lemah. Zahra, siapkan pos perawatan di belakang. Kirana, kau tetap di menara tengah. Jangan paksa Koneksi Mental terlalu lama. Beri arah besar saja."

Perintah itu bergerak dari satu mulut ke mulut lain. Dalam sepuluh menit, Markas Masa Depan berubah dari halaman kerja menjadi garis pertahanan.

Arka belum bergerak ke depan.

Ia masuk ke ruang kecil di belakang gudang. Di atas meja, beberapa Kristal tingkat dua dan tingkat tiga tersusun rapi. Itu bagian inti yang sengaja ia simpan setelah operasi Jalan Megah dan penggerebekan Rudi.

Zahra berdiri di pintu. "Kamu mau naik sekarang?"

"Kalau menunggu setelah perang, mungkin ada orang yang tidak sampai melihat malam."

Kirana ikut datang, memegang kusen pintu dengan wajah tegang. "Aku bisa menjaga dari luar. Kalau reaksimu terlalu berat, aku panggil Zahra."

Arka menatap dua perempuan itu sebentar.

"Jangan masuk sebelum aku membuka pintu."

Ia menelan Kristal pertama.

Rasa panas menghantam dari dalam, lalu disusul tekanan dingin di pusat kesadarannya. Arka duduk bersila, menggenggam ujung meja sampai kayunya retak. Ia tidak membiarkan rasa sakit menjadi adegan panjang. Ia menghitung napas, menghitung detak, dan memaksa energi itu bergerak ke arah yang ia inginkan.

Ruang Dimensi di belakang pikirannya mengembang.

Lima ratus meter kubik pecah seperti dinding tua.

Seribu.

Tiga ribu.

Lima ribu meter kubik.

Saat Arka membuka mata, dunia terasa lebih luas. Jarak di sekelilingnya kini terasa bisa ia sentuh.

Bilah Dimensi tidak lagi terasa seperti beberapa garis pendek.

Ia bisa memanggil lebih banyak.

Lebih jauh.

Lebih patuh.

Pintu terbuka dari dalam.

Zahra langsung menatap wajahnya. "Arka?"

"Aku baik."

Kirana mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. "Tingkat empat?"

Arka mengangguk.

Di luar, suara pertama dari utara mulai terdengar seperti hujan jauh, lalu berubah menjadi hentakan langkah.

Gelombang zombi muncul menjelang sore, memenuhi jalan raya tua di luar wilayah markas. Arka tidak membiarkan anggota baru melihat terlalu lama. Orang yang terlalu lama menatap jumlah akan lupa pada tugasnya.

"Posisi," kata Elang lewat radio.

Tanggul Teguh sudah berdiri seperti garis kasar di depan gerbang. Di baliknya, regu AK-47 berlutut dengan wajah kaku. Shadow dan tim M4 berada di sisi kiri, siap menutup celah. Merah berdiri di jalur tengah bersama dua Evolvor api. Kirana di menara tengah, Zahra di belakang dengan air, perban, dan obat.

Arka berdiri di atas dinding timur.

"Tunggu sampai jarak perintah," kata Elang.

Tidak ada yang menembak lebih dulu.

Itu membuat Arka puas.

Gelombang pertama masuk ke area terbuka.

Elang mengangkat tangan.

"Tembak."

Suara senjata pecah bersamaan.

Markas Masa Depan yang kemarin masih belajar memegang pipa besi kini menahan puluhan ribu musuh dengan garis api teratur. Zombi tingkat rendah tumbang sebelum menyentuh tanggul. Regu AK bekerja dalam ritme pendek. Tim Shadow bergerak cepat saat ada celah. Mereka tidak maju terlalu jauh. Mereka menutup, memotong, lalu kembali.

Merah mengangkat kedua tangan. Api menyala rendah di depan tanggul, membuat arus besar pecah menjadi beberapa bagian.

"Kiri agak padat," kata Kirana lewat radio, suaranya tertahan.

"Shadow," jawab Arka.

"Sudah."

Tim M4 bergerak ke kiri. Beberapa detik kemudian, tekanan di sisi itu turun.

Di atas pos tinggi, Elang sudah berubah menjadi mesin dingin.

DOR!

Satu zombi tingkat tiga yang memaksa maju di tengah gelombang langsung roboh.

DOR!

Yang kedua berhenti sebelum melewati bangkai bus.

Elang tidak bersorak. Ia hanya menarik napas, menggeser target, lalu berkata pelan, "Barrett bekerja sempurna."

Merah tertawa keras dari bawah. "Itu cara paling kaku untuk bilang kau bahagia!"

Beberapa anggota yang tegang ikut tertawa singkat. Ketakutan mereka retak.

Gelombang kedua datang lebih padat.

Peluru mulai berkurang cepat. Wiratama, yang berada di belakang, mencatat kotak demi kotak sambil mengirim anggota membawa amunisi ke pos yang membutuhkan. Tidak ada yang mengambil sendiri. Tidak ada yang berebut.

Itu perbedaan antara gerombolan dan pasukan.

Saat tiga zombi tingkat tiga muncul hampir bersamaan, Arka akhirnya mengangkat tangan.

Udara di depannya bergetar.

Satu Bilah Dimensi muncul.

Lalu sepuluh.

Lalu puluhan.

Garis-garis kosong melintas sejauh dua ratus meter, membelah papan jalan, tiang tua, dan barisan zombi yang menekan jalur tengah. Tanpa ledakan, tanpa pamer, ruang patuh pada satu perintah.

Seratus Bilah Dimensi turun seperti hujan sunyi.

Gelombang besar itu patah.

Untuk beberapa detik, seluruh medan seperti kehilangan suara.

Kemudian Merah mengangkat tangan dan berteriak, "Maju tiga langkah! Ambil ruang!"

Regu depan bergerak. Tanggul tetap dijaga, tembakan tetap dihitung, dan tim pengumpul baru turun setelah Elang memberi tanda aman. Kristal mulai masuk ke kotak besi. Satu kotak. Dua. Tiga.

Pertempuran berlangsung sampai langit gelap.

Saat zombi terakhir di area dekat markas tumbang, tidak ada anggota Markas Masa Depan yang mati. Ada yang terluka, ada yang pingsan karena takut setelah semuanya selesai, ada yang muntah di belakang dinding. Zahra dan tim kecilnya bekerja cepat.

Tetapi mereka hidup.

Tiga puluh ribu zombi dihancurkan di luar gerbang.

Lebih dari seribu Kristal terkumpul, sebagian besar tingkat satu, puluhan tingkat dua, dan beberapa tingkat tiga. Peluru habis hampir sepertiga dari cadangan awal. Angka itu membuat Elang dan Wiratama sama-sama mengerutkan kening.

Kemenangan punya harga.

Namun malam itu, ketika kotak Kristal diletakkan di halaman, orang-orang Markas Masa Depan melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat.

Mereka melihat ancaman sebesar kota kecil berubah menjadi tumpukan sumber daya.

Dendi Prawira berdiri di barisan belakang. Wajahnya sulit dibaca. Ia melihat kotak Kristal, melihat senjata baru, lalu melihat orang-orang yang meneriakkan nama Arka. Di matanya, kagum dan iri bercampur menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Arka melihatnya.

Ia tidak menegur.

Belum saatnya.

Elang melapor dengan suara serak. "Tidak ada korban jiwa. Amunisi terpakai sekitar tiga puluh persen. Regu masih bisa bertahan, tapi untuk gelombang lebih besar kita perlu suplai lagi."

"Catat," kata Arka. "Besok kita atur pembagian Kristal dan pelatihan ulang. Malam ini, semua yang jaga pos makan lebih dulu."

Sorak meledak.

Kirana turun dari menara dengan langkah lemah. Zahra langsung menopang lengannya. "Aku merasakan sesuatu dari utara," kata Kirana pelan pada Arka. "Gelombang ini bergerak seperti terdorong. Ada tekanan yang lebih besar di belakangnya."

Arka menatap gelap di luar dinding.

Tiga puluh ribu zombi sudah cukup membuat markas kecil berubah menjadi pasukan.

Tetapi di hatinya, ia tahu angka itu baru permulaan.

Di tengah sorak kemenangan, wajah Arka tidak ikut santai.

Tiga puluh ribu zombi itu hanya hidangan pembuka.

Badai sebenarnya belum datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!