Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Beberapa minggu berlalu sejak Adeline mendengar suara hati misterius itu. Rumah besar Wijaya menjadi lebih waspada dan tertutup. Adrian memasang sistem keamanan baru di setiap sudut rumah dan kantor. Tamu-tamu yang datang mulai dibatasi dan diawasi dengan ketat. Namun meskipun semua tindakan pencegahan telah dilakukan, masalah di perusahaan terus berlanjut. Kontrak-kontrak baru tetap batal, beberapa proyek besar tiba-tiba dihentikan, dan kabar buruk tentang Wijaya Corporation mulai menyebar di kalangan bisnis.
Adeline menghabiskan banyak waktu di dekat ayahnya, mencoba menangkap setiap suara hati yang mencurigakan. Dia duduk di ruang kerja Adrian saat ayahnya berbicara dengan klien melalui telepon. Dia mengamati setiap orang yang datang dan pergi dari rumah itu. Tetapi selama berminggu-minggu, tidak ada suara jahat yang muncul kembali. Hanya kebisingan biasa dari pikiran orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Sampai suatu sore, ketika Daniel Pratama datang untuk bertemu Adrian. Pengacara keluarga itu tiba dengan membawa beberapa dokumen baru dan wajah yang serius. Adeline yang sedang bermain di ruang tamu, mengangkat kepalanya saat mendengar suara langkah Daniel memasuki rumah. Gadis kecil itu menatap pria itu dengan tatapan tajam.
Daniel tersenyum pada Adeline seperti biasa. "Halo, Adeline. Kamu semakin besar, ya. Apa kabar?" tanyanya dengan suara ramah. Dia mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Adeline, tetapi gadis kecil itu mundur selangkah.
Adeline menatap Daniel dengan mata menyipit. Dia mendengar sesuatu. Suara di kepala Daniel berbeda dari biasanya. Biasanya pikiran Daniel tenang dan profesional, penuh dengan analisis hukum dan strategi bisnis. Tetapi sore itu, ada sesuatu yang lain. Ada kepuasan yang tersembunyi di balik ketenangan itu.
Mereka tidak tahu apa-apa. Adrian masih percaya padaku. Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dan mereka tidak akan pernah curiga.
Adeline merasakan dadanya sesak. Daniel adalah orang yang selama ini dipercaya oleh keluarganya. Dia adalah pengacara yang membantu Adrian dalam segala urusan hukum. Dia tahu semua rahasia perusahaan. Dia memiliki akses ke semua dokumen penting. Dan sekarang, suara hatinya mengatakan bahwa dia adalah orang yang sedang menghancurkan keluarga Wijaya dari dalam.
"Ayah," kata Adeline dengan suara keras. Dia menarik lengan Adrian yang sedang berbicara dengan Daniel. "Ayah, aku harus bicara dengan Ayah. Sekarang."
Adrian menatap putrinya dengan bingung. "Sebentar, Sayang. Ayah sedang bicara dengan Paman Daniel." Dia mencoba melepaskan genggaman tangan Adeline, tetapi gadis kecil itu tidak melepaskan.
"Tidak, Ayah. Ini penting," desak Adeline. Matanya berkaca-kaca. "Ayah harus percaya padaku. Sekarang."
Elena yang melihat dari dapur segera menghampiri. Dia melihat ekspresi putrinya yang panik dan langsung tahu bahwa ada sesuatu yang serius. "Adrian, dengarkan dia dulu," kata Elena dengan lembut. "Adeline tidak pernah meminta perhatian seperti ini tanpa alasan."
Adrian menghela napas dan meminta maaf pada Daniel. "Sebentar, Dan. Aku akan menenangkan anakku dulu." Dia membawa Adeline ke sudut ruangan dan berlutut di hadapannya. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu begitu panik?"
Adeline menatap ayahnya dengan mata penuh ketakutan. "Ayah, jangan percaya pada Paman Daniel. Dia jahat. Dia yang mengambil dokumen Ayah. Dia yang membatalkan kontrak-kontrak Ayah. Dia ingin menghancurkan keluarga kita."
Adrian terkejut. Dia menoleh ke arah Daniel yang sedang duduk dengan tenang di kursi, membaca dokumen seolah tidak mendengar percakapan mereka. "Sayang, kamu yakin? Paman Daniel sudah bekerja untuk keluarga kita selama bertahun-tahun. Dia orang kepercayaan Ayah."
"Aku dengar, Ayah," bisik Adeline dengan suara bergetar. "Aku dengar suara di kepalanya. Dia senang karena Ayah tidak curiga. Dia bilang dia akan mengambil semuanya."
Adrian terdiam. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, dia sudah berjanji untuk percaya pada putrinya. Di sisi lain, tuduhan terhadap Daniel terasa sangat mustahil. Daniel adalah sahabatnya, orang yang membantunya membangun perusahaan dari nol. Bagaimana mungkin dia mengkhianati semua itu?
"Ayah," kata Adeline lagi. "Ayah berjanji akan percaya padaku. Ayah bilang Ayah tidak akan meragukanku lagi."
Adrian mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Ayah percaya padamu, Sayang. Tapi ini sangat sulit. Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat. Daniel adalah pengacara keluarga, dia tahu hukum. Jika kita menuduhnya tanpa bukti, dia bisa menuntut balik dan itu akan semakin merusak perusahaan."
Di ruang tamu, William yang mendengar percakapan mereka dari kejauhan, berjalan mendekati. Pria tua itu menatap Daniel dengan tatapan tajam, lalu menatap cucunya. "Adeline, apakah kamu benar-benar yakin?" tanyanya pelan.
Adeline mengangguk dengan tegas. "Aku yakin, Kakek. Suaranya berbeda dari yang lain. Dia sangat puas. Dia pikir kita semua bodoh."
William menghela napas panjang. Dia menatap Adrian dan berkata dengan suara rendah, "Kita tidak bisa mengabaikan ini. Tapi kita juga tidak bisa bertindak gegabah. Biarkan aku yang bicara dengan Daniel. Aku akan mencari tahu kebenarannya tanpa membuatnya curiga."
Adrian mengangguk setuju. William berjalan kembali ke ruang tamu dan duduk di samping Daniel. Pria tua itu tersenyum ramah dan mulai berbicara tentang proyek-proyek perusahaan seolah tidak ada yang terjadi. Tetapi di balik senyumnya, William mengamati setiap gerakan Daniel, setiap kedipan mata, setiap perubahan ekspresi di wajahnya.
Adeline duduk di pangkuan ibunya, menatap Daniel dari kejauhan. Gadis kecil itu tahu bahwa kakeknya sedang mencoba mencari tahu kebenaran. Tetapi dia juga tahu bahwa Daniel adalah orang yang licik. Dia telah menyembunyikan niat jahatnya selama bertahun-tahun. Dia tidak akan tertangkap dengan mudah.
Malam itu, setelah Daniel pergi, keluarga kecil itu berkumpul di ruang keluarga. Adrian, Elena, William, dan Adeline duduk bersama dengan wajah-wajah serius.
"Aku harus mengakui," kata Adrian pelan. "Setelah William berbicara dengan Daniel, ada beberapa hal yang mencurigakan. Dia terlalu tenang, terlalu percaya diri. Seolah dia tahu bahwa kita tidak akan pernah menemukan bukti."
"Kita harus menyelidiki lebih dalam," kata William. "Tapi kita harus melakukannya dengan hati-hati. Jika Daniel tahu bahwa kita curiga, dia akan semakin berhati-hati dan mungkin akan menghancurkan semua bukti."
Adeline yang duduk di pangkuan ayahnya, tiba-tiba berbicara. "Aku bisa membantu, Ayah. Aku bisa mendengar pikirannya. Setiap kali dia datang, aku akan mendengarkan. Mungkin suatu saat dia akan memikirkan sesuatu yang bisa menjadi bukti."
Adrian memeluk putrinya erat. "Kamu sudah melakukan banyak hal, Sayang. Tapi Ayah tidak mau kamu terlalu terbebani. Ini urusan orang dewasa."
"Tapi aku bagian dari keluarga ini," jawab Adeline dengan tegas. "Aku ingin melindungi Ayah, Ibu, dan Kakek. Aku tidak takut."
Elena menangis melihat keteguhan putrinya. William tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Adrian mengecup kening Adeline dan berbisik, "Ayah sangat beruntung memiliki putri sepertimu."
Di luar jendela, malam semakin gelap. Rumah besar Wijaya yang terlihat sempurna dari luar, ternyata menyimpan pengkhianatan yang datang dari orang yang paling dipercaya. Dan di tengah semua itu, seorang gadis kecil berdiri tegak, siap mendengar setiap kebohongan dan mengungkap setiap rahasia yang tersembunyi di balik senyum palsu keluarga besar itu.