Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : JANJO DIMUSIM PANEN
Musim panen di Desa Teluk Mutiara selalu membawa kehangatan yang melimpah. Dari bukit hingga ke garis pantai, aroma tanah basah bersatu dengan wangi manis buah-buahan lokal dan gurihnya ikan asap dari pondok-pondok nelayan. Pohon-pohon kelapa melambai ditiup angin pesisir yang sejuk, sementara perahu-perahu kayu berjejer rapi di dermaga dengan muatan yang membanggakan.
Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke samudra luas, rumah panggung kayu baru yang dibangun Ethan Austin bersama warga desa telah berdiri anggun. Dinding-dinding papannya harum kayu jati lokal yang dipelitur halus, dan teras depannya dipenuhi oleh pot-pot tanah liat berisi bunga melati kampung yang ditanam sendiri oleh Azahra Aletta.
Hari itu, suasana di sekitar bukit tampak hidup dan riuh. Warga desa—mulai dari para ibu pedagang pasar hingga anak-anak sekolah—bergotong royong merapikan area halaman. Janur kuning dan anyaman daun kelapa dipasang rapi di sepanjang jalan setapak tanah.
"Bu Alya! Lihat, susunan bunga ini cocok tidak ditaruh di tiang teras?" seru Ibu Sumi sambil mengangkat sekeranjang mawar kampung berwarna merah muda dan putih.
Azahra menyunggingkan senyum hangat, melangkah turun dari tangga teras. "Sangat cantik, Bu Sumi. Terima kasih banyak sudah repot-repot memetiknya dari kebun."
"Repot bagaimana?" kekeh Bu Sumi seraya menepuk-nepuk lengan Azahra pelan. "Kami semua bahagia sekali melihat Bu Alya dan Pak Ethan akhirnya meresmikan hubungan. Pak Ethan itu sudah seperti pahlawan bagi desa kita sekarang. Dia tidak segan memikul bambu dan memanjat atap sekolah waktu badai kemarin."
Azahra memindahkan pandangannya ke lapangan rumput di samping sekolah desa. Di sana, Ethan sedang berdiri bersama Pak Basri, bahu-membahu memancangkan tiang bambu untuk pasang tenda sederhana pesta panen. Kaos oblong hitam yang dikenakan Ethan agak basah oleh keringat, dan wajahnya yang dulu sangat kaku kini dihiasi tawa lepas bersama para nelayan.
Dalam hitungan hari, ikrar suci mereka akan dilangsungkan. Tanpa sorotan kamera media nasional Jakarta, tanpa pesta mewah bergengsi di gedung pencakar langit, dan tanpa ribuan tamu undangan berjas mahal. Pernikahan itu hanya akan disaksikan oleh langit pesisir, riak gelombang ombak, serta ketulusan warga desa yang telah menjadi keluarga baru mereka.
Namun, di balik kegembiraan persiapan pesta panen tersebut, ada satu sudut di hati Azahra yang masih memendam kepasrahan yang sunyi.
Satu bulan telah berlalu sejak pesan permohonan maaf dan undangan terbuka dikirimkan kepada James Daniel. Peresmian perahu perpustakaan terapung untuk wilayah pesisir telah dijadwalkan sore ini, tetapi belum ada kabar pasti apakah mantan pria nomor satu di konsorsium itu benar-benar akan memenuhi undangannya.
Sore harinya, saat sinar matahari mulai membiaskan warna jingga keemasan di ufuk barat, sebuah kapal kayu reguler berlabuh pelan di dermaga Teluk Mutiara.
Kapal itu bukanlah perahu pesiar mewah bertingkat atau armada khusus yang dikawal pasukan bersenjata, melainkan kapal umum yang biasa membawa penumpang dan bahan pokok dari kota kabupaten.
Dari geladak kayu kapal tersebut, melangkah turun seorang pria tinggi tegap yang mengenakan kemeja linen putih gulung lengan dan celana katun abu-abu. Ia tidak membawa tas dokumen eksekutif atau dijaga oleh tim intelijen bersenjata. Pria itu hanya menyandang sebuah tas kulit tua di bahunya.
James Daniel.
Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan sebulan lalu sewaktu amarah membutakan matanya. Garis-garis keletihan dan aura kegelapan yang dulu mencengkeram raut tampannya telah memudar. Matanya menyapu sekeliling pemandangan dermaga desa yang dipenuhi hiasan janur panen.
Langkah kaki James terhenti sewaktu matanya menangkap dua sosok yang telah berdiri menunggu di ujung dermaga kayu.
Ethan Austin dan Azahra Aletta.
Keheningan melingkupi ketiganya selama beberapa detik. Angin laut berhembus pelan mempermainkan helai rambut Azahra dan merapatkan gaun katun sederhananya.
Ethan melangkah maju satu senti, berdiri sejajar di samping Azahra tanpa raut kebencian atau sikap defensif. Sementara James menghentikan langkahnya tiga meter di hadapan mereka, menatap wanita yang pernah ia tangisi dan pria yang pernah menjadi rival terbesar dalam hidupnya.
"Selamat datang kembali di Teluk Mutiara, James," sapa Ethan tenang. Suaranya rendah dan penuh penghormatan murni.
James menatap Ethan, lalu matanya beralih menatap wajah Azahra yang jernih tanpa ketakutan. Sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang sangat langka di wajah sang mantan raja korporasi—terukir perlahan.
"Terima kasih sudah mengizinkanku datang," jawab James pelan namun berwibawa.
Malam harinya, di bawah naungan teras rumah panggung kayu di atas bukit, ketiganya duduk mengelilingi sebuah meja kayu sederhana.
Teh melati hangat dan kue ketan tradisional tersaji di tengah meja. Di bawah sana, kerlip lampu-lampu minyak dari rumah warga membiaskan garis cahaya di tengah kegelapan pesisir yang damai.
"Perpustakaan terapung yang baru diserahterimakan sore tadi sangat luar biasa, James," kata Azahra broke keheningan yang syahdu. "Anak-anak sangat gembira melihat koleksi buku sains dan komputer pembelajaran di atas kapal itu."
James menyesap teh hangatnya, menatap Azahra lembut. "Itu semua berkat ide awalmu saat mendirikan kelas relawan, Azahra. Yayasan hanya menjadi wadah untuk mewujudkannya. Di Maluku dan Nusa Tenggara, ribuan anak pesisir kini punya akses belajar yang sama dengan anak-anak kota."
James lalu merogoh tas kulitnya, mengeluarkan sebuah kotak kayu jati berukir indah, dan meletakkannya di atas meja di hadapan Ethan dan Azahra.
"Ini bukan hadiah pernikahan dari seorang CEO," ujar James dengan tatapan mata yang jujur. "Ini adalah kenang-kenangan dari seorang pria yang akhirnya menemukan akal sehatnya."
Ethan meraih kotak kayu tersebut dan membukanya perlahan. Di dalamnya terbaring berkas akta hibah tanah dan sertifikat konservasi lingkungan atas nama warga Desa Teluk Mutiara. Seluruh kawasan hutan mangrove dan pantai di sekitar desa tersebut telah dibeli secara legal oleh yayasan dan dihibahkan sepenuhnya kepada masyarakat lokal. Sertifikat ini menjamin bahwa Desa Teluk Mutiara tidak akan pernah bisa diubah menjadi kawasan industri atau resor komersial oleh investor mana pun di masa depan.
Azahra menahan napasnya, jemarinya menyentuh permukaan berkas tersebut dengan rasa haru yang amat sangat. "James... ini terlalu berharga..."
"Desa ini telah menyelamatkan hidupmu, Azahra... dan tempat ini juga yang menyembuhkan jiwaku dari racun obsesi," potong James lembut. "Ini adalah janji tertuliskah bahwa aku dan konsorsium tidak akan pernah mengusik kedamaian tempat ini lagi."
Ethan menatap mata James. Dua pria berpengaruh yang dulu saling bertaruh demi gengsi kini saling bertukar pandangan yang dipenuhi rasa saling menghargai.
Ethan mengulurkan tangan kanannya ke tengah meja. "Terima kasih, James. Untuk segalanya."
James menerima uluran tangan Ethan, membalas genggaman tegap mantan saingannya itu dengan mantap. "Jaga dia baik-baik, Ethan. Jika kau membuatnya terluka atau menangis lagi... aku tidak akan membawa pasukan untuk merebutnya kembali, tetapi aku sendiri yang akan datang menyeretmu bertarung."
Ethan terkekeh rendah, membalas gurauan itu dengan tepukan di bahu James. "Kau tidak akan pernah punya alasan untuk datang bertarung, James."
Azahra tersenyum di antara linangan air mata bahagianya. Malam itu, di atas bukit yang sunyi, rasa sakit masa lalu, pengkhianatan, dan trauma yang mengikat mereka akhirnya terurai sepenuhnya. Dinding kebencian telah runtuh, menyisakan kedamaian mutlak bagi jiwa-jiwa yang telah belajar memaafkan.