Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Ini Wajar, Sangat Wajar
Jari Laras menyusuri kaki anak sapi yang telah terlihat, lalu bergerak lebih dalam. Ia menemukan pinggul kecil, perut, dan akhirnya kaki belakang kedua yang terlipat di bawah tubuh.
Ruangnya sangat sempit. Setiap kali induk berkontraksi, dinding jalan lahir menjepit lengannya sampai kebas.
"Dia mendorong lagi!" teriak seorang warga.
"Biarkan kontraksinya selesai. Jangan menarik apa pun."
Laras menahan posisi anak sapi agar tidak makin tersangkut. Ketika tekanan mereda, ia mendorong pinggul anak itu perlahan ke dalam. Kaki dan ekor yang semula terlihat menghilang sedikit demi sedikit.
Pemilik sapi tersentak. "Anaknya masuk lagi!"
"Itu yang kita perlukan. Saya sedang membuat ruang untuk meluruskan kakinya."
Dengan ujung jari, Laras melindungi kuku anak sapi agar tidak menggores jalan lahir. Ia melipat sendi kaki yang salah, mengangkatnya melewati tepi panggul, lalu memutarnya ke arah yang benar. Keringat mengalir di pelipisnya. Beberapa kali ia berhenti untuk memastikan denyut pada tali pusar masih terasa.
"Masih hidup," katanya. "Siapkan tali bersih."
Setelah kedua kaki belakang sejajar, Laras mengarahkannya ke jalan lahir. Ia keluar untuk mengambil napas. Sarung tangannya penuh cairan, tetapi tak ada waktu untuk merasa jijik atau lelah.
"Beri induknya dua genggam jerami dan beberapa teguk air lagi," perintahnya. "Pak, siapa nama Bapak?"
"Kasno."
"Pak Kasno, tetap di dekat kepalanya. Panggil dia seperti biasa. Kita butuh dia tenang."
Pak Kasno mengusap dahi sapinya. "Ayo, Manis. Sedikit lagi. Jangan tinggalkan kami."
Laras memasang dua jerat tali pada kaki anak sapi, masing-masing di atas kuku. Seorang warga mengenakan sarung tangan dan memegang kedua kaki sesuai arah yang ditunjukkannya.
"Tarik hanya saat induknya mengejan. Sepuluh sentimeter, lalu berhenti dua kali napas. Jangan hentak."
Kontraksi datang. Sapi itu menguak dan mencoba bangkit. Warga menahan tali tubuhnya dari samping. Laras memberi aba-aba. Kedua kaki anak sapi bergeser keluar.
"Berhenti."
Mereka berhenti meski Pak Kasno gemetar tidak sabar. Laras memeriksa posisi pinggul dan tali pusar, lalu menunggu induk menarik napas.
Tarikan kedua mengeluarkan paha. Tarikan ketiga membuat pinggul anak sapi melewati panggul induknya. Setelah bagian itu bebas, tubuh licin meluncur cepat ke atas jerami.
Anak sapi itu diam.
Pak Kasno memucat. "Bu..."
Laras sudah berlutut di sampingnya. Ia membersihkan lendir dari mulut dan lubang hidung, menurunkan kepala anak sapi sejenak agar cairan mengalir, lalu menggosok tubuhnya kuat-kuat dengan kain kering.
Satu detik. Dua detik.
Anak sapi itu batuk, menarik napas kasar, lalu mengembik kecil.
Sorak meledak di halaman Puskeswan.
Pak Kasno jatuh terduduk sambil menangis. Induk sapi mengangkat kepala. Ketika anaknya digeser mendekat, ia menjulurkan lidah dan mulai menjilati tubuh yang masih basah itu.
"Biarkan induknya merangsang pernapasan," kata Laras. "Jangan tarik ari-arinya. Pantau sampai keluar sendiri, beri air, dan jangan paksa anak berdiri."
Ia juga meminta warga mencatat waktu kelahiran, suhu tubuh induk, dan warna cairan yang keluar. Jika induk tidak mau makan, demam, terus mengeluarkan darah segar, atau ari-ari belum lepas dalam waktu yang wajar, Pak Kasno harus segera menghubungi Puskeswan. Laras tidak membiarkan kegembiraan menutupi risiko infeksi dan perdarahan setelah persalinan.
"Malam ini jangan tinggalkan mereka sendirian," katanya. "Beri alas baru agar anak tidak kedinginan. Pastikan ia mendapatkan susu pertama dari induknya."
Pak Kasno mengulang semua petunjuk itu sampai Laras yakin ia memahami setiap tanda bahaya.
Namun anak sapi itu rupanya keras kepala. Belum lama dijilat, ia menekuk kaki depan, terhuyung dua kali, lalu berhasil berdiri meski tubuhnya bergoyang.
Tangis Pak Kasno berubah menjadi tawa. Ia hendak berlutut di depan Laras, tetapi Laras cepat menahannya.
"Jangan begitu, Pak. Rawat luka dan tenaga induknya. Itu lebih penting."
"Saya tidak akan melupakan pertolongan Ibu. Nama Ibu siapa? Rumahnya di mana? Kapan pun Ibu butuh bantuan, cari saya, Pak Kasno dari Dusun Oesapa Kecil."
Warga lain ikut menanyakan jadwal Laras menerima panggilan. Suasana ramai itu membuat pegawai senior yang tadi merendahkannya berusaha menyelinap masuk.
"Tunggu."
Suara laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun menghentikannya. Ia baru turun dari mobil berpelat dinas, masih membawa tas rapat. Seorang perempuan muda berseragam Puskeswan mengikutinya.
"Saya drh. Hutomo," katanya kepada Laras. "Saya melihat penarikan terakhir dari pintu. Siapa yang mendiagnosis posisi posterior dan meluruskan kaki?"
"Saya, Dok. Larasati."
Mata drh. Hutomo menyala mengenali nama itu. "Laras yang direkomendasikan Bu Endah? Yang menyelamatkan Garang pagi ini?"
"Benar."
Drh. Hutomo memeriksa induk dan anak sapi sebelum mengangguk puas. "Bu Endah menelepon saya tiga kali selama perjalanan pulang. Saya kira beliau melebih-lebihkan. Rupanya tidak."
Ia menoleh kepada pegawai senior. "Mengapa keadaan darurat ditangani orang yang bahkan belum diterima masuk?"
Laki-laki itu pucat. "Petugas medis sedang keluar, Dok. Saya hendak menunggu instruksi."
"Hewan ini bisa mati saat Anda menunggu. Pak Sutrisno sudah menjelaskan cara Anda menghalangi penggunaan alat. Mulai hari ini, Anda dibebastugaskan dari pelayanan sampai pemeriksaan selesai. Saya akan meminta dinas memindahkan Anda dari meja depan."
Tak seorang pun membelanya.
Drh. Hutomo mengajak Laras ke ruang administrasi. Setelah membaca laporan pengendalian PMK yang ditandatangani dinas, ia menutup map dengan keputusan mantap.
"Saya tidak perlu masa pengamatan tambahan untuk menilai kemampuan lapangan Anda. Kalau bersedia, Anda masuk sebagai staf medis lapangan resmi Puskeswan. Surat kerja dan honornya saya proses hari ini."
Pak Sutrisno tersenyum lebar. "Peternakan kami juga membutuhkan Laras."
"Itulah yang ingin saya bicarakan," jawab Laras. "Saya bersedia membantu Puskeswan, tetapi tidak ingin hanya duduk di kantor. Saya masih punya tanggung jawab penelitian dan pengendalian ternak di peternakan."
Drh. Hutomo berpikir sejenak. "Baik. Status Anda di Puskeswan, tetapi penugasan bisa dibagi untuk peternakan dan kunjungan desa. Laporan lapangan masuk ke saya. Untuk panggilan darurat di luar jadwal, ada tambahan honor."
Kesepakatan itu lebih baik daripada yang Laras harapkan. Ia menandatangani surat penerimaan sementara sambil menunggu dokumen dinas disahkan.
Perempuan muda yang tadi mengikuti drh. Hutomo segera mendekat. "Saya Wati, dokter hewan baru di sini. Boleh saya ikut kunjungan Ibu nanti? Saya ingin belajar cara Ibu membaca posisi janin tanpa alat."
"Boleh. Tetapi jangan panggil saya guru. Kita bekerja sebagai rekan."
Wati tersenyum begitu lebar hingga matanya menyipit. "Kalau begitu, saya akan menjadi rekan yang paling rajin membawa tas."
Menjelang sore, Laras keluar membawa salinan surat kerja. Sebuah mobil dinas militer berhenti di depan pagar. Bram turun dari kursi pengemudi.
"Mas Bram? Bagaimana kamu tahu aku di sini?"
"Rina bilang kamu pergi bersama Pak Sutrisno." Bram mengambil tas Laras tanpa bertanya. Pandangannya singgah pada noda di lengan bajunya. "Ada yang terluka?"
"Bukan aku. Tadi ada sapi sulit melahirkan. Induk dan anaknya selamat. Aku juga diterima bekerja."
Bram menatap surat di tangannya, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Selamat, Laras."
Di dalam mobil, Laras berkata, "Kalau pekerjaanku nanti banyak di lapangan, ajari aku mengendarai motor atau mobil. Aku tidak mungkin selalu menunggu orang mengantar."
Tangan Bram mengencang sedikit pada kemudi.
Kalau Laras bisa pergi sendiri, ia tidak perlu menunggunya pulang. Tidak perlu mencarinya. Tidak perlu duduk di kursi sebelah seperti sekarang.
Pikiran itu terasa ganjil.
"Belum sekarang," katanya.
"Kenapa?"
"Ada peringatan badai dan angin kencang beberapa hari ke depan. Jalan luar kota berbahaya untuk pemula. Aku yang antar jemput."
Laras menoleh, seolah ingin membantah, tetapi akhirnya tertawa kecil. "Baiklah, Mayor. Untuk sementara aku terima layanan khusus ini."
Bram menatap jalan. Menjaga keselamatan istrinya adalah kewajiban. Mengantar Laras juga menghemat waktu dan bahan bakar. Sangat masuk akal.
Sangat wajar.
Setiba di kompleks, Laras belum sempat beristirahat. Bu Endah sudah mengumpulkan para ibu di aula kecil dan memintanya menjelaskan cara mengenali sumbatan napas. Laras memakai gulungan handuk sebagai peraga. Ia menekankan perbedaan antara batuk efektif, tersedak berat, dan kondisi tidak sadar, serta meminta mereka mencari bantuan medis setelah pertolongan awal.
"Jangan memasukkan jari secara buta ke mulut," katanya. "Benda justru bisa terdorong lebih dalam. Dan teknik untuk manusia tidak sama persis dengan teknik yang tadi saya gunakan pada Garang."
Seusai pertemuan, Bu Endah menyelipkan bungkusan besar ke tangan Laras.
"Daging terbaik dari pasar. Jangan menolak. Garang sudah diperiksa, tenggorokannya lecet tetapi kondisinya stabil. Mulai sekarang jangan terlalu resmi. Panggil saya Bu Endah saja."
Malam itu, Laras memasak semur daging dengan kecap, pala, dan bawang goreng. Aromanya mengalir keluar melalui jendela. Rina yang membantu memotong sayur tertawa saat Bram mengambil nasi untuk kedua kali.
Di rumah sebelah, Bu Yuni mendengar anak-anaknya merengek mencium bau masakan. Ia baru kembali dari rumah orang tuanya dan baru hari ini tahu perempuan yang merusak umpannya adalah istri baru Mayor Bram.
Perempuan itu bukan hanya menyelamatkan Garang. Ia juga tinggal di rumah yang selama ini sering dipandangi Bu Yuni dari balik tirai.
Bu Yuni memiliki tiga putra. Menurutnya, seorang lelaki yang disebut tidak bisa punya anak pasti akan sadar bahwa istri mandul tidak berguna. Pada saat itu, Bram seharusnya memilih perempuan yang sudah membuktikan kesuburannya.
Namun dari balik dinding terdengar tawa Laras. Cahaya hangat jatuh di halaman, seolah rumah itu memang selalu menunggu kepulangannya.
Bu Yuni menatapnya dengan mata menyipit.
Perempuan mandul itu, memang pantas mendapat semua ini?