Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Rencana Baru
Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Siap, Yang Mulia. Saya akan kembali lagi dalam dua malam. Untuk saat ini, saya harus pergi sebelum pergantian jaga.”
Dia berdiri, mundur beberapa langkah, lalu menghilang kembali ke balik panel batu. Dinding itu tertutup sempurna, seolah tidak pernah terbuka.
Ibu Suri menatap ke arah dinding kosong itu lama, lalu memandang keluar jendela ke kabut yang bergolak. “Bermainlah dulu, Raka…” gumamnya pelan. “Karena permainan ini… belum selesai.”
Di luar paviliun, para pengawal yang ditunjuk Raka tetap berjaga dengan waspada, tidak menyadari bahwa di dalam… rencana baru sudah mulai bergerak lagi.
Pada pagi ketiga setelah hukuman dijatuhkan, bisikan-bisikan halus sudah mulai mengalir di lorong-lorong istana. Beberapa pejabat menengah saling menatap dengan wajah khawatir saat melewati ruang dewan. Tidak ada yang berani berbicara keras, tapi kata-kata itu tetap menyebar, “Raja terlalu melindungi Ratu…”
“Ibu Suri dikurung tanpa sidang yang layak…”
“Keputusan istana sekarang lebih banyak dipengaruhi emosi daripada adat…”
Raka mendengarnya untuk pertama kali dari laporan Kael di ruang kerjanya.
“Ada gerakan isu, Yang Mulia,” kata Kael dengan hati-hati. “Masih kecil, tapi terarah. Mereka tidak menentang Anda secara langsung… hanya menanamkan keraguan.”
Raka yang sedang menandatangani berkas hanya mengangkat alis. “Biarkan. Isu tidak akan membunuh siapa pun.”
Kael ingin menambahkan sesuatu, tapi menahan diri.
Siang harinya, laporan kedua datang. Paviliun Putri Seana tiba-tiba ribut. Teriakan histeris terdengar hingga ke koridor. Seana merobek pakaiannya sendiri, membanting kepala ke tiang tempat tidur, lalu berteriak bahwa dia lebih baik mati daripada dikurung seperti penjahat. Pengawal yang berjaga terpaksa masuk paksa karena khawatir Putri benar-benar melukai diri.
Berita itu langsung sampai ke Raka. Rahangnya mengeras dan dia berdiri dari kursi. “Siapkan pengawal tambahan ke paviliun Seana,” perintahnya singkat. “Jangan biarkan dia mati di tangan sendiri. Itu hanya akan memberi mereka alasan.”
Kael mengangguk, lalu pergi. Raka tersisa sendirian di ruangan. Jari-jarinya mengetuk meja lebih cepat dari biasanya.
Sore harinya, gangguan ketiga muncul. Laporan dari perbatasan jembatan masuk secara mendesak. Energi segel kembali berfluktuasi. Beberapa prajurit yang berjaga mengalami pusing dan mimpi buruk yang sama—bayangan bayangan hitam mencoba menyeberang. Bukan serangan besar, tapi cukup untuk membuat komandan perbatasan meminta keputusan langsung dari Raja.
Raka membaca laporan itu dengan wajah semakin gelap. “Mereka menguji,” gumamnya pelan.
Dia memanggil Kael kembali. “Kirim satu pasukan tambahan ke jembatan. Dan… siapkan kuda. Aku akan ke sana besok pagi.”
Kael terdiam sejenak. “Yang Mulia, luka Anda belum sembuh total. Jika Anda turun langsung—”
“Jika aku terus diam, mereka akan mengira aku takut,” potong Raka. Matanya sudah mulai menyala keemasan samar. “Aku ingin melihat sendiri seberapa berani mereka.”
Malam itu, di kamarnya, Alena melihat perubahan di wajah Raka. Pria itu duduk di tepi tempat tidur, menggosok pelipisnya. Bahunya tegang. “Kau mulai bergerak?” tanya Alena pelan.
Raka menoleh. “Aku tidak bisa membiarkan mereka terus mengganggu. Seana berulah, isu menyebar, jembatan diganggu… ini bukan kebetulan.”
Alena mendekat, memegang tangannya. “Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin kau terpancing. Semakin kau membagi perhatian, semakin besar celah yang mereka dapat.”
Raka terdiam. Dia tahu Alena benar. Tapi rasa marah yang sudah tertahan sejak kejadian di ruang segel mulai naik ke permukaan. Melihat adiknya berulah, mendengar isu yang menyinggung Alena, dan gangguan di jembatan yang mengancam keselamatan istana… semuanya menumpuk.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menang,” kata Raka akhirnya, suaranya rendah. “Tapi aku juga tidak akan duduk diam.”
Alena menatapnya khawatir. Cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah ikut gelisah.
Di Paviliun Utara, Ibu Suri menerima pesan singkat dari Vareth lewat jalur rahasia malam itu. “Raja mulai bergerak,” tulis pesan itu.
Ibu Suri tersenyum tipis di balik cahaya lilin. “Bagus… terus tekan. Jangan beri dia waktu untuk berpikir jernih.”
Keesokan paginya, Raka tetap pergi ke jembatan pembatas waktu meski Alena sempat menahannya. “Kau belum sembuh total,” kata Alena di depan pintu, memegang lengan Raka. “Biarkan Kael yang menangani.”
Raka menatapnya, lalu mengusap pipi Alena dengan ibu jari. “Jika aku terus bersembunyi di istana, mereka akan semakin berani. Aku harus menunjukkan bahwa aku masih memegang kendali.”
Alena ingin membalas, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan. Dia tahu Raka tidak akan berubah pikiran. Di jembatan, suasana lebih buruk dari laporan. Kabut abadi bergolak tidak stabil. Beberapa bagian kristal jembatan retak lebih lebar dari sebelumnya, memancarkan cahaya keperakan yang berkedip-kedip. Prajurit yang berjaga terlihat kelelahan, mata mereka cekung.
Komandan perbatasan segera memberi hormat. “Yang Mulia, fluktuasi terjadi tiga kali semalam. Bukan serangan langsung, tapi seperti ada yang mencoba mendorong dari sisi lain.”
Raka berdiri di tengah jembatan, menatap retakan itu dengan wajah gelap. Ia mengulurkan tangan, merasakan aliran energi segel yang tidak beraturan.
“Ini disengaja,” gumamnya. “Bukan kebetulan.”
Tiba-tiba salah satu retakan membesar. Bayangan hitam sempat muncul sesaat di balik kabut, lalu menghilang lagi. Beberapa prajurit langsung mengangkat senjata.
Raka mengangkat tangan, menahan mereka. “Jangan menyerang. Itu hanya umpan.”
Dia berbalik pada Kael yang berdiri di belakangnya. “Perketat penjagaan. Tambah unit pemantau energi. Dan… cari tahu siapa yang masih berhubungan dengan faksi luar. Aku ingin nama.”
Kael mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”
Sepanjang perjalanan kembali ke istana, Raka diam. Rahangnya mengeras, jari-jarinya sesekali mengepal. Alena yang menunggu di pintu gerbang langsung melihat perubahan itu.
“Bagaimana?” tanya Alena pelan saat Raka turun dari kuda.
“Mereka bermain-main,” jawab Raka singkat. “Dan aku mulai muak.”
Siang harinya, tekanan bertambah. Laporan dari paviliun Seana masuk lagi. Kali ini Seana mogok makan sepenuhnya dan menolak pengobatan atas luka-luka kecil yang dia buat sendiri semalam. Tabib istana khawatir kondisi Putri akan menurun cepat.
Sementara itu, di ruang dewan, dua anggota yang biasanya netral mulai menyinggung soal ketenangan istana dan perlunya pendekatan lebih bijak terhadap darah kerajaan. Mereka tidak menyebut nama Ibu Suri secara langsung, tapi maksudnya jelas. Raka yang memimpin rapat siang itu menjawab dengan suara datar namun tajam.
“Jika ada yang merasa hukuman saya tidak adil, silakan ajukan sidang resmi. Tapi ingat… saya akan membuka seluruh bukti percobaan pembunuhan terhadap Ratu di depan umum. Termasuk keterlibatan siapa saja yang melindungi pelaku.”
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani meneruskan. Namun Raka tahu, diamnya dewan bukan berarti tunduk. Mereka hanya menunggu.
Malam harinya, Alena menemukan Raka berdiri sendirian di balkon kamar, menatap kabut.
“Kau mulai kelelahan,” kata Alena sambil menyelimuti bahu Raka dengan jubah.
Raka tidak menolak. Dia hanya menarik Alena ke dalam pelukannya dari belakang, menaruh dagu di bahu gadis itu. “Mereka ingin aku marah,” bisiknya. “Ingin aku bereaksi berlebihan. Ingin aku membuat kesalahan.”