Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : Luka Yang Tak Didengar
Khafi membawa Kiara menuju ruang ganti tim basket di dekat GOR sekolah—tempat yang sepi dan terkunci dari luar jika tidak ada jadwal latihan.
Begitu pintu tertutup rapat, Khafi langsung berjalan ke lokernya, mengambil satu kaus basket biru pekat cadangan miliknya yang bersih dan kering.
"Ganti seragam lo, pakai kaos gue dulu," ujar Khafi pelan, menyerahkan kaos hitam besar itu. Suaranya sudah jauh melunak, tidak ada lagi bentakan seperti di kantin tadi.
Kiara memegang kaus itu dengan jemari yang gemetar hebat. Rambutnya agak acak-acakan, bajunya lengket, dan rasa malu luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Air mata yang sejak kemarin sore ditahannya akhirnya pecah juga. Ia menunduk dalam-dalam, bahunya terguncang pelan di balik seragam besar milik Khafi.
"Gue benci sama lo, Khaf... Gue malu..." bisik Kiara lirih di sela tangisnya. "Gara-gara lo, gue di-bully... gara-gara lo gue dipermaluin se-kantin..."
Melihat air mata yang menetes deras di pipi pucat Kiara, rasa bersalah yang amat sangat besar menghantam dada Khafi. Egonya runtuh sepenuhnya. Ia sadar, kemarahan Kiara kemarin sore bukan tanpa alasan—gadis ini menanggung beban akibat obsesi gila Selly padanya.
"Kiara... sorry," panggil Khafi pelan. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Gue minta maaf... Gue beneran nggak tahu kalau si gila itu bakal senekat ini ke lo..."
Kiara memukuli dada Khafi pelan dengan tangan yang gemetar. "Gue kesel sama lo! Kenapa harus lo sih yang bikin hidup gue berantakan begini?! Gue malu ditontonin se-kantin, Khaf!"
"Iya, maafin gue... Salah gue, Ra. Gue yang salah," bisik Khafi tulus, membiarkan dadanya dipukuli.
Tanpa memikirkan gengsinya lagi, Khafi menarik tubuh mungil Kiara ke dalam pelukannya. Ia merengkuh gadis itu erat-erat, membiarkan Kiara menyembunyikan wajahnya yang basah dan sembab di balik dadanya. Tangannya yang besar mengusap lembut bagian belakang kepala Kiara, memberikan rasa aman yang tak tergantikan.
"Maafin gue, Ra... Gue janji nggak bakal ada lagi yang berani nyentuh atau bikin lo nangis kayak gini lagi. I'm so sorry..." gumam Khafi berulang kali, dagunya bertumpu lembut di puncak kepala Kiara yang masih terisak pelan dalam pelukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah rasa tenang menyelimuti hati Kiara dan gadis itu selesai mengganti seragamnya, mereka melangkah kembali ke kelas XI IPS 2. Khafi sudah mengenakan kembali seragam kemeja putihnya yang rapi, sementara Kiara melangkah di sisinya mengenakan kaus jersey basket milik Khafi yang ukurannya sangat kebesaran—tenggelam hingga menyentuh paha.
Begitu pintu kelas terbuka, suasana mendadak senyap. Neona yang sejak tadi panik menanti di dekat meja langsung berhamburan mendekat.
"Kia! Ya ampun... lo nggak apa-apa, kan?!" peluk Neona erat, matanya menatap khawatir wajah Kiara yang masih sembab. "Gue minta maaf ya, tadi gue kepancing emosi banget pas si Selly nyiram lo..."
"Gue nggak apa-apa, Na. Makasih ya udah ngebela gue," bisik Kiara mengulas senyum tipis.
Di sudut lain, Kevin, Ferdi, dan Pandu mendekati Ghibran yang mukanya masih ditekuk habis.
"Khaf, beres urusan lo sama si Selly?" tanya Pandu memastikan seraya mengusap kacamatanya dengan sapu tangan karena berembun.
"Gue udah peringatin dia tadi di kantin," sahut Khafi dingin, menyilangkan tangan di dada.
"Lagian emang dari awal kecurigaan kita bener kan!" seru Ferdi sambil menepuk meja. "Pas kemarin lo cerita si Kia marah gara-gara pulang telat dan nyebut nama lo, urang mah udah curiga pasti ada ulah si Selly jeung babaturanna! Secara kejadian nge-gertak begini kan bukan sekali dua kali mereka lakuin ke cewek yang deket sama lo."
Kevin mengangguk setuju. "Makanya pas istirahat pertama tadi kita bertiga langsung minta tolong ke ruang penjaga cctv buat ngecek rekaman lorong belakang sekolah kemarin sore. Dan bener aja, kelihatan si Selly cegat Kia di tangga! Makanya si Khafi langsung tau dan meledak pas di kantin tadi."
Keempat cowok itu—terutama Khafi—masih menyimpan rasa kesal yang mendalam atas tingkah Selly yang nekat membahayakan dan mempermalukan orang lain.
Tiba-tiba, Rian selaku Ketua Murid melangkah masuk ke kelas dengan raut wajah serius. "Kia, Ona... kalian dipanggil Bu Beyin ke ruang BK sekarang."
Seketika Khafi berdiri tegak, rahangnya mengetat. "Gue ikut," tegasnya kasar.
"Gue sama anak-anak juga ikut! Enak aja si Selly ntar sok polos di depan guru!" timpal Ferdi tak terima, diikuti Kevin dan Pandu yang sudah bersiap pasang badan.
Kiara cepat-cepat membalikkan badan dan menahan dada Khafi pelan. "Nggak usah, Khaf. Ini urusan gue sama Neona. Kalian di kelas aja, biar nggak bikin suasana makin keruh."
Khafi menatap mata Kiara dalam-dalam, menahan emosinya sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar. "Kalau ada apa-apa, langsung panggil gue."
Di ruang BK, suasana terasa sangat dingin dan tegang. Selly, Jeje, dan Bella sudah duduk di sofa panjang dengan wajah yang dipasang seminim mungkin dosa. Bu Beyin, guru BK yang terkenal tegas, duduk di balik mejanya sambil mengamati Kiara dan Neona yang baru masuk.
"Silakan duduk, Kiara, Neona," peritah Bu Retno datar.
Awalnya, proses mediasi berjalan sangat alot. Selly terus menggunakan alibi playing victim.
"Saya benar-benar nggak sengaja nyenggol jus itu, Bu," tutur Selly dengan suara bergetar lembut. "Tapi Neona dan Kiara malah langsung main fisik, menjambak rambut saya dan memukul Jeje. Lihat nih, Bu, lengan saya memar."
"Bohong besar lo, Sel!" semprot Neona tidak tahan. "Lo sengaja nyiram dia! Dan lo kemarin sore cegat Kiara di lorong belakang!"
"Mana buktinya?! Jangan fitnah ya!" sergah Bella melotot.
"Cukup!" bentak Bu Beyin menepuk meja. "Ibu tidak butuh kalian saling tuduh tanpa bukti. Karena beruntung sekali, pihak keamanan sekolah baru saja menyerahkan rekaman CCTV kemarin sore di lorong tangga belakang dan CCTV kantin siang ini."
Selly dan kedua dayang-dayangnya seketika memucat pasrah. Wajah panik tak bisa lagi mereka sembunyikan.
Bu Beyin memutar laptopnya, memperlihatkan rekaman jelas saat Selly memojokkan, mendorong, dan memaki Kiara di tangga kemarin sore, serta aksi sengaja menyiram jus di kantin.
"Tindakan kalian bertiga—Selly, Jeje, Bella—tergolong dalam aksi perundungan (bullying) dan pengancaman fisik," tegas Bu Beyin dingin. "Kalian bertiga resmi mendapat Surat Peringatan keras dan skorsing selama tiga hari dari sekolah."
Selly menunduk dalam, menahan malu dan amarah yang merayap.
"Dan untuk kalian, Kiara dan Neona," lanjut Bu Beyin menatap dua gadis remaja di depannya. "Meskipun kalian posisinya membela diri, aksi perkelahian di area publik sekolah tetap tidak bisa dibenarkan. Kalian tetap menerima Surat Peringatan ke satu atas kegaduhan di kantin."
Bu Beyin bersedekap. "Dan ingat, karena kasus ini melibatkan perundungan dan tindak kekerasan fisik, laporan resmi beserta berkas panggilan akan langsung dikirimkan ke orang tua kalian masing-masing sore ini."
Kiara memejamkan mata erat. Dadanya mendadak terasa dihantam beban amat berat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, saat Kiara melangkah masuk ke dalam rumah, suasana ruang tamu sudah terasa seperti ruang sidang. Papa Kiara-- Dani ---yang baru saja pulang dari perjalanan dinas luar kota duduk di sofa utama dengan raut wajah merah padam menahan murka. Di sampingnya, Mama Kiara duduk dengan wajah serba salah dan cemas.
BRAK!
Papa melempar amplop berisi surat dari sekolah ke atas meja kaca.
"Dari mana kamu, Kiara?!" suara Papa menggelegar memenuhi ruangan. "Baru sembuh dari rumah sakit, bukannya belajar yang bener, malah bikin malu keluarga! Berantem di kantin?! Dipanggil BK?! Mau jadi preman kamu?!"
Kiara membeku di tempat, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget dan lelah. "Pa... dengarin penjelasan Kiara dulu. Kia nggak salah—"
"Nggak salah gimana?!" potong Papa cepat dengan nada membentak, berdiri menunjuk wajah Kiara. "Pihak sekolah telepon Papa langsung! Bilang kamu terlibat perkelahian fisik sampai bajunya basah kuyup dan dipanggil ke BK! Kamu tahu seberapa malunya Papa?! Papa kerja banting tulang di luar kota, kamu di sini malah buat keonaran!"
"Pa, cukup! Jangan bentak Kia seperti itu dulu!" sela Mama mencoba memegang lengan suaminya. "Dengarkan anak kita bicara dulu, Pa. Kemarin Kia itu—"
"Kamu jangan selalu ngebela dia!" bentak Papa berpaling ke Mama. "Gara-gara Kamu terlalu manjain dan nggak bisa didik anak dengan bener pas saya nggak ada, dia jadi liar begini!"
Air mata Kiara akhirnya menetes deras. Rasa sakit hati karena merasa dihakimi tanpa didengar membuat suaranya gemetar parah.
"Papa selalu kayak gini!" teriak Kiara meluapkan kefrustrasiannya. "Papa nggak pernah ada di rumah! Papa nggak pernah tahu apa yang Kia alamin di sekolah! Kiara itu di-bully, Pa! Kia dijebak, dihina, dan disiram jus duluan di depan umum! Kia cuma ngebela diri!"
"Kalau kamu nggak pancing emosi orang, nggak bakal ada yang nyiram kamu!" keras kepala Papa membalas, menyaring informasi sepihak yang didengarnya. "Bagaimanapun berantem di sekolah itu salah! Kamu bikin tercoreng nama baik Papa!"
"PAPA CUMA PEDULI SAMA NAMA BAIK PAPA!" jerit Kiara histeris, bahunya naik turun menahan tangis yang makin pecah. "Papa nggak pernah tanya keadaan Kiara! Kemarin Kia pingsan sampai masuk rumah sakit empat hari Papa nggak pulang! Sekarang Kia di-bully orang, Papa malah nyalahin Kia dan Mama! Kia benci sama Papa!"
"Kiara!" gertak Papa mengangkat tangannya.
"MAS, CUKUP!" jerit Mama berdiri pas di depan Kiara, memasang badannya untuk melindungi sang putri dari kemarahan suaminya. "Jangan pernah sentuh anak saya! Mas yang salah di sini! Mas nggak tahu apa-apa tapi langsung marahin Kiara tanpa mau denger kenyataan kalau anak kita itu korban kekerasan di sekolahnya!"
Mama berbalik, memeluk erat tubuh Kiara yang menangis tergugu-gugu.
Kiara melepaskan pelukan Mamanya perlahan, menatap Papanya dengan tatapan kekecewaan yang teramat dalam, lalu berlari naik ke lantai dua dan membanting pintu kamarnya rapat-rapat—meninggalkan ketegangan hebat yang masih menyelimuti rumah itu.