Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Udang Dibalik Batu
"Ini kita di mana? Kenapa nggak pulang ke rumah kita, mami?" tanya Kenzie.
Ayuna sendiri juga tidak tahu kenapa Erlangga tidak membawanya kembali ke kontrakan. Memang sebelumnya pria itu sempat menawarkan agar ia mau tinggal bersamanya.
"Kalian sudah tidak perlu tinggal di kontrakan itu lagi. Mulai malam ini kita akan tinggal bersama. Ini rumah kalian."
"Hah? Rumah kamu?" Dua bocah itu melebarkan matanya, terkejut.
Erlangga menoleh ke kursi penumpang dengan anggukan kecil. "Iya, mulai sekarang kalian akan tinggal di sini. Kontrakan yang kalian tempati itu sudah tidak nyaman. Di sini kalian bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginan kalian."
"Tapi ini bukan rumah kami om!" Dua bocah itu membantah. "Kalaupun rumah kami tak nyaman bukan berarti kami harus tinggal di rumah orang lain. Mami kan masih bisa carikan rumah baru buat kami."
Tak menjawab, Erlangga langsung keluar dari dalam mobilnya dan membukakan pintu buat mereka.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kalian masuk dan beristirahat. Kamar kalian sudah disiapkan."
Ayuna meremas kemeja yang dipakainya. Haruskah ia setuju dengan tawaran pria itu? Ia sudah banyak berhutang padanya. Dibantu sampai menemukan anaknya, haruskah ia tetap pada keegoisannya?
"Kenapa diam? Nggak mau turun?"
"Oh..., i—iya," jawabnya gugup.
Terpaksa ia keluar dari dalam mobil mewah itu dan mengikuti pria itu dengan menuntun kedua anaknya.
"Mami, bisa dijelaskan kenapa kita harus pulang ke rumah Om?" tanya Kenzo.
Ayuna yang kebingungan tidak langsung menjawab. Dia butuh mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya.
"Bukankah Om ini bekerja dengan mami. Jadi wajar kalau dia berbaik hati mau menumpang kita di rumahnya, secara rumah kita sudah nggak aman. Kalau kita tetap tinggal di sana mungkin penjahat itu bakalan datang lagi buat culik kita," cerocos Kenzie.
Setelah cukup lama diam Ayuna akhirnya memberikan jawaban agar anaknya bisa memahami kondisinya saat ini.
"Masalahnya rumah itu bukan rumah kita, sayang. Kita tinggal di sana cuma sewa, dan sekarang yang punya rumah meminta kita buat meninggalkan rumahnya karena akan disewakan pada kerabatnya. Jadi mau tak mau kita harus pergi dari rumah itu, dan saat ini hanya Om yang ada buat bantuin kita. Kalian nurut aja ya?"
"Tapi kita nggak lama tinggal di sini kan? Meskipun rumah ini bagus tapi bukan milik kita. Kita harus cari rumah baru mam. Biarpun nggak bagus asal nggak nyusahin orang."
Ayuna membalasnya dengan senyuman. Ia masih belum berani memberikan penjelasan terkait siapa pria yang dipanggilnya dengan sebutan 'Om'
"Ayo masuk." Setelah pintu terbuka Erlangga meminta Ayuna dan dua anaknya masuk ke dalam.
"Wah..., ruangannya gede banget," cicit Kenzie dengan mata berbinar.
Ayuna maupun dua bocah kembar itu terpesona oleh keindahan ruangan yang lumayan besar dan mewah lengkap dengan perabotan ternama. Seumur hidupnya mereka hanya berhayal bisa memiliki barang-barang dengan kualitas tinggi, namun sayang, untuk bisa menggapainya terlalu jauh.
"Apa kalian suka?" tanya Erlangga.
"Tentu saja suka. Om kaya banget, bisa beli rumah segede ini, terus ada banyak barang-barang bagus."
Erlangga terkekeh dengan mengacak rambut Kenzie gemas. "Semua ini milik kalian. Nanti akan banyak barang lagi yang harus kita beli."
Kenzo mendongak dengan raut wajah datar. Di benaknya penuh dengan pertanyaan yang harus dijawab.
"Maksud Om apa bicara seperti itu?"
"Om tidak memiliki maksud apapun, cuma ingin membuat kalian nyaman."
Kenzo tersenyum getir. "Ini berlebihan Om. Anda cuma teman kerjanya mami, bukan ayah kami!"
Deg,, Erlangga memejamkan matanya. Dia bingung harus memulai dari mana untuk memberikan penjelasan terkait siapa dirinya buat mereka.
"Kenzo! Jaga bicaramu! Kamu nggak boleh bicara sembarangan sama orang yang lebih tua. Harus hormat."
Bocah itu refleks menoleh pada Ayuna. "Memangnya kesalahanku ada di mana mam? Aku kan cuma nanya. Apa maksudnya semua ini milik kami? Kita kan bukan siapa-siapanya Om. Kita juga nggak boleh bergantung pada orang lain. Bukannya mami sendiri yang sering menasehati kami agar menjadi orang yang tahu diri?"
"Permisi Tuan, makanan yang anda minta sudah siap, kamar yang anda minta juga sudah siap."
Obrolan mereka terjeda kala pelayan datang untuk menawarkan makanan. Memang selama di perjalanan pulang Erlangga meminta pelayan di rumahnya untuk menyediakan kamar dan juga makanan enak untuk menyambut orang-orang terpenting di kehidupannya.
"Hm..., terimakasih bibi. Silahkan kembali beristirahat."
"Baik Tuan."
Pelayan berusia lebih dari lima puluh tahun itu langsung kembali menuju kamarnya yang ada di paviliun tepatnya di belakang rumah yang dihuni oleh Erlangga.
"Kalian bukannya sudah lapar? Ayo sebaiknya makan dulu, setelah itu istirahat."
Erlangga mengajak mereka menuju ruang makan. Di sana sudah tertata rapi berbagai macam hidangan mewah yang sebelumnya belum pernah tersedia di rumah mereka.
"Wah..., makanannya enak-enak. Om benar-benar kaya banget."
Mendapatkan pujian dari salah satu putranya membuat jiwanya menghangat. Andai saja mereka tahu ia adalah Ayah kandungnya, entah bagaimana reaksinya, tapi ia memiliki keinginan untuk segera mendapatkan pengakuan dari anak-anaknya.
"Kalian boleh makan apa saja yang ada di sini. Dihabiskan juga nggak masalah."
"Benarkah Om?"
"Ya, tentu saja."
Kenzie yang sudah menahan rasa lapar langsung meminta ibunya untuk mengambilkan piring yang ditata di atas meja.
"Mam, ambilkan piring dan nasinya sekarang juga. Perutku sudah sangat lapar."
Kenzo hanya diam menatap dingin kembarannya, seolah-olah ia tak begitu suka dengan perlakukan Erlangga yang dianggapnya berlebihan.
"Ayuna, kamu temani mereka makan ya? Aku masih harus mengurus sesuatu. Nanti setelah selesai makan kalian bisa langsung istirahat, nanti biar bibi yang akan mengantar kalian ke kamar."
Ayuna mengangguk tanpa berkata apapun. Setidaknya untuk hari ini ia cukup bersyukur karena anaknya dalam perlindungan orang yang tepat.
Erlangga bergegas pergi dengan membawa jaket yang disampirkan di lengannya. Tatapan Kenzo tertuju pada pria itu sampai menghilang di balik pintu.
"Mami nggak ada hubungan apa-apa sama Om kan?" Pertanyaan itu sontak membuat Ayuna tersedak.
Uhuk... Uhuk...
"Kamu itu ngomong apa sih? Lebih baik cepat makan, setelah itu istirahat."
"Aku hanya ingin memastikan saja kalau mami tidak pacaran sama dia."
Tukas Kenzie menyahut. "Abang ini ngomong apaan sih?! Mana ada mami pacaran? Om itu cuma mau bantuin kita karena dia teman kerja mami. Kamu itu jadi orang sensian banget sih?!"
"Siapa juga yang sensian? Aku cuma tidak ingin ada orang lain yang masuk ke kehidupan kita. Mana ada orang berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan, pasti ada udang dibalik batu. Aku tidak ingin melihat mami disakiti. Aku tidak ingin mami ditinggalkan seperti yang dilakukan oleh papi. Cukup papi saja yang brengsek! Jangan sampai ada orang lain yang brengsek seperti papi."