Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto Keluarga

Kembali kerumah, terasa sepi.

Ibu dan Ayah berlibur.

Tidak ada pesan masuk, teleponku pun tidak diangkat.

Mereka meninggalkanku kesepian sendiri.

"Nona, apa nona mau makan malam" pelayan mengejutkan lamunanku.

"Baiklah, siapkan makan malamnya" kataku.

"Apa Ibu dan Ayah ada berpesan kemana mereka akan berlibur?"

"Tuan dan Nyonya tidak berpesan apapun" kata pelayan sambil menyusun makanan di meja makan.

Ada sup jamur jagung, udang goreng dan steak ayam.

Kumakan perlahan sambil memikirkan kejadian hari ini.

Yuki? Paman Yuko pilihan nama yang bagus kataku dalam hati.

Tapi mereka seperti tidak mengenalku, orang yang pertama bertemu.

Judith pun begitu.

Apa yang harus aku lakukan kali ini.

Apa Dunia Zink memang benar-benar telah damai.

**

Aku keluar dari ruang operasi, berpapasan dengan Yuki pria yang sangat mirip dengan Raja Yuko.

Dia menundukkan kepala lalu melewatiku biasa saja.

Pria berumur 25 tahunan itu di idolakan di Rumah Sakit sejak awal kedatangannya.

Berkulit bersih, tampan dan lulusan luar negeri.

Bagaikan kedatangan idola baru di Rumah Sakit.

Jangan bilang kalau dia juga anaknya Paman Yuko pemilik Yayasan Rumah Sakit.

Aku menggeleng pelan.

Kebetulan seperti Judith.

"Kenapa mengeleng kepala sendiri" aku terkejut Yuki berdiri di sampingku.

"Oh... Oh.. Leherku agak sakit" kataku berpura-pura menggoyangkan kepala ke kiri ke kanan agar relaks.

Tersenyum melihat tingkahku.

"Operasinya lancar kan? " lancar.

"Oya, tempo hari maaf" kataku

"Tidak masalah, lain kali ngobrol lagi aku ada pasien" katanya meninggalkanku di ruangan sendiri.

"Apa aku kembali ke Dunia Zink sebentar? "

tanyaku pada diriku sendiri.

tapi kalau aku kelamaan di sana aku pasti dipecat.

Aku menunduk mengacak-acak rambut.

Perawat yang lewat memandangku heran.

Lalu aku lekas memperbaiki rambutku ke toilet.

**

"Bibi.. Aku datang" aku masuk ke kediaman kakek tidak di kunci.

Penyiram rumput masih hidup di depan rumah.

Aku masuk ke ruangan keluarga.

Sepi.

"Ada orang dirumah"

"Halooo.. " aku melangkah jauh ke dalam rumah menuju dapur.

Aku tercekat tidak bisa bergerak dengan apa yang aku lihat.

"Nona..... " pelayan tergopoh-gopoh mengambil lap dan alat pel.

"Nona.. Kami bersihkan" katanya.

"Apa... Itu" tanyaku mendekat perlahan.

"Saos... Ini saos tomat nona" kami membuat saos tomat, panen tomat dari kebun belakang" aku lega mendengar jawaban pelayan.

kupikir darah.

mereka sibuk mengepel.

"Bibi Sarah kemana? " tanyaku.

"Di kebun belakang" jawab salah satu pelayan.

Aku berjalan ke belakang.

Ke kebun sayuran.

Bibi Sarah menyiram sayuran.

Mataku memandang sesuatu yang tidak biasa.

Tidak pernah kuperhatikan selama ini.

Kolam air mancur berbentuk lingkaran. Ditengahnya ada patung wanita dengan pakaian berwarna hitam memegang kendi yang mengeluarkan air mancur ke kolam.

Aku melangkah mendekat.

Kolam Bunga Teratai.

**

"Nona, nona mencari saya? " Bibi Sarah membawa sekeranjang tomat dan terong di keranjang.

"Ya.. " jawabku mendekat.

Kami masuk ke dalam rumah aku berbalin melihat kolam di halaman belakang.

Tatapan patung wanita itu seperti bergerak mengikutiku.

"Ada apa nona? " Bibi Sarah meletakan keranjang sayuran di dapur sementara lantai sudah bersih.

"Apa ada yang datang baru-baru ini? " tanyaku.

"Tidak ada yang datang ke sini" jawabnya.

"Tuan dan Nyonya kabarnya berlibur" katanya lagi.

"Betul, sampai sekarang belum menghubungi" aku khawatir.

"Tapi ini bukan yang pertama bukan? " tanya Bibi Sarah.

"Benar bukan yang pertama, mereka selalu begitu, dan aku juga sering begitu" kataku lagi, tersenyum.

Bibi Sarah mengangguk.

"Boleh pinjam kunci gudang" tanyaku.

"Tentu saja" Bibi Sarah mengambil kunci di lemari.

Aku mengikuti langkahnya ke gudang.

Gudang terlihat lebih bersih karena terakhir ada petugas yang membantu membersihkan.

Susunan buku terlihat rapi, beberapa kursi bekas di susun menumpuk di gudang kayu yang terpisah dari rumah utama ini di susun dan ikat agar tidak jatuh.

Aku menyentuh beberapa buku kakek, melihat-lihat barang lama.

Buku bacaan.

Aku menjatuhkan sesuatu di lantai.

"Kreeekk" bunyi pintu di belakang tertiup angin.

Aku dan Bibi bersamaan menoleh tidak ada orang.

Tiba-tiba bulu kudukku merinding.

Perasaanku tidak enak.

"Bi.. Kita kembali ke rumah" kataku.

Bibi Sarah mengangguk setuju.

Aku mengambil kertas jatuh.

Mataku tertuju pada album foto.

Album itu sedikit berdebu di bagian bawah.

Aku tarik dan kubawa kembali ke kediaman kakek.

Bibi sarah mengunci gudang.

Aku mendongak ke atas, gerimis.

Aku dan bibi berlari kecil ke rumah.

Lampu di hidupkan.

suasana senja yang belum terlalu gelap.

"Apa Nona menginap disini saja malam ini, biar saya bersihkan kamar atas?" tanya Bibi Sarah, kamar yang dimaksud adalah kamar Ibu.

"Tidak, aku akan kembali kerumah sebelum gelap" kataku.

"sambil menikmati teh hijau hangat, aku sendirian di ruang keluarga yang sepi" Bibi Sarah ke belakang.

Aku terperanjat melihat foto masa kecilku berlarian di taman halaman depan rumah kakek.

Foto itu aku sendirian tapi di belakang sana ada orang tua.

Itu bukan kakek, aku perhatikan lagi seksama.

Bukan...

Fotonya buram karena rusak.

Aku bolak balik foto yang lain, kakek terlihat berbeda dengan kakek yang ada di dalam foto di ruang tengah.

jantungku berdegup kencang.

Tanganku bergetar.

Aku mendekati foto di ruang tengah.

Foto Kakek dan Nenek.

Kuperhatikan lagi foto-foto lama.

Kakek sangat berbeda ini bukan Kakekku.

Dia siapa?

Di lembar terakhir aku menemukan foto Kakek, Nenek, Paman dan Ibu.

Wajah Kakek berbeda.

Kakek.....

Wajah itu... Wajah....

Pria tua bermata putih berbau busuk?

**

Aku pamit pulang, ku kendarai mobilku meninggalkan kediaman kakek.

Tiba dirumah hari sudah gelap, aku mandi berendam di bath up.

Berusaha berpikir tenang, menyusun rencanaku.

Ku dengar angin menerpa jendela yang belum sepenuhnya tertutup rapat.

Setelah mandi aku berganti menggunakan piyama sutra berwarna putih.

Turun ke lantai bawah untuk makan.

Suasana rumah sangat sepi, aku makan sendirian lalu meninggalkan piring agar dibersihkan.

Masuk ke kamar.

Perasaanku campur aduk.

Aku ambil handphoneku.

Membuka galeri handpone.

Foto aku merawat kakek dimasa-masa terakhirnya.

Handphone ku berbunyi.

"Apa kabarmu sayang?" suara ibu terdengar serak tidak jelas.

"Baik, bagaimana liburannya?" tanyaku bersemangat.

"Tuttttt... Tuttt" dering terputus.

Kuhubungi kembali tidak bisa, kucoba nomor ayah tidak tersambung.

Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Paman Andrew mungkin bisa tersambung.

"Selamat malam paman.. "

"Selamat malam Mayanza..,

Tumben menelepon" kata paman Andrew di seberang sana.

Aku memang jarang menelepon Paman kalau tidak perlu.

"Ibu baru saja menghubungiku, teleponnya terputus, apakah paman bersama mereka"

tanyaku.

"Tidak... Ayah, ibumu kemana? " tanya Paman.

"Bukankah Ayah, ibu dan Paman sekeluarga pergi bersama Ayah Judith berlibur? " kataku

"Tunggu... Maksudmu? "

"Ya... Ibu bilang mereka liburan bersama paman kan? "

"Judith yatim piatu Mayanza tidak mungkin dia punya ayah? "

"Paman jangan membuatku panik" kataku

"Itu benar, kata paman dan aku sekarang masih dikantor tidak liburan" ucapnya juga terdengar cemas di seberang sana.

"Paman, nanti aku telepon lagi"

"Baiklah, kalau sudah ada kabar yang jelas, hubungi paman", ucapnya.

Aku menutup telepon dan berpikir.

**

Aku menggunakan pakaian jubah merah jambu pemberian Putri Rena, kamar ini gelap aku mengambil senter dan menghidupkan lilin dengan korek api.

Aku berusaha membuka pintu untuk keluar, ternyata terkunci dari luar.

Aku terkurung di dalam.

Suara datang, langkah kaki cepat terdengar jelas di lantai kayu, aku mundur beberapa langkah dari pintu.

Pintu terbuka, pedang diarahkan tepat di wajahku, lalu pedang di bungkus lagi ke dalam sarungnya.

Tiba-tiba pengawal berlutut.

"Permaisuri anda datang, beri hormat" semua berlutut.

aku menoleh ke kanan kiri.

Permaisuri aku salah masuk kamar?

Aku masih mematung.

Kulihat pasukan datang Raja Yuko dan beberapa pengawal, dayang memberi hormat padanya. Aku mundur ke belakang.

memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.

Raja Yuko tersenyum dingin.

Masuk ke ruangan kamar meraih tangan kananku.

Kupikir berjabat tangan.

Ternyata dia memasukan gelang giok ke lenganku lagi.

"Mau pergi tanpa pamit lagi" Katanya.

aku terdiam.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!