Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PERLOMBAAN MENYANYI DAN SUARA YANG MENGGETARKAN JIWA
Hari kedua Festival Seni Tahunan SMA Negeri 1 Kabupaten dimulai dengan semangat yang sama membara seperti hari sebelumnya. Aula sekolah kembali dipenuhi oleh ratusan siswa, guru, dan orang tua yang datang untuk menyaksikan kategori perlombaan berikutnya: menyanyi. Suasana semakin meriah dengan dekorasi yang lebih indah dan lampu-lampu sorot yang menerangi panggung dengan sempurna, menciptakan efek dramatis yang memukau. Aroma bunga dan parfum bercampur di udara, menambah kemeriahan acara.
Rangga duduk di kursi penonton, bukan sebagai peserta karena ia hanya mengikuti lomba puisi dan alat musik. Namun ia datang untuk mendukung Anisa yang akan tampil di kategori menyanyi. Di sampingnya, Bram juga duduk dengan gugup, menunggu gilirannya di kategori alat musik nanti.
"Anisa pasti bisa," kata Rangga pada Bram. "Aku percaya padanya."
"Semoga saja," jawab Bram. "Aku dengar persaingan di kategori ini sangat ketat. Ada Dinda dari kelas 3 yang sudah terkenal dengan suara emasnya."
Perlombaan menyanyi dimulai dengan pembacaan aturan dari MC. Seorang siswa kelas 1 bernama Putri naik ke panggung pertama dengan penuh semangat. Ia menyanyikan lagu pop ceria dengan suara yang lincah dan menggemaskan. Beberapa penonton ikut bergoyang mengikuti irama, dan suasana menjadi hangat dan menyenangkan. Ketika Putri selesai, tepuk tangan mengalir dengan ramah.
Selanjutnya, seorang siswa kelas 2 bernama Rudi naik ke panggung dengan percaya diri. Ia membawakan lagu rock dengan energi yang luar biasa, suaranya lantang dan penuh semangat. Penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan mengikuti irama yang menghentak. Rudi tampak sangat menikmati penampilannya, dan beberapa siswa bahkan berdiri ikut bernyanyi.
Seorang siswi kelas 3 bernama Sari naik berikutnya dengan gaun batik yang anggun. Ia menyanyikan lagu keroncong dengan suara klasik yang memukau, menghadirkan suasana nostalgia di ruangan. Suaranya yang lembut dan penuh perasaan membuat beberapa penonton tua tersenyum dan mengenang masa lalu.
Kemudian Dinda naik ke panggung. Gadis itu berjalan dengan anggun, mengenakan gaun merah menyala yang membuatnya tampak seperti bintang panggung. Rambutnya yang panjang terurai indah seperti sutra, dan riasan wajahnya sempurna. Ia tersenyum percaya diri, seolah tahu bahwa ia akan menang. Ketika musik mulai dimainkan, ia menyanyikan lagu klasik berjudul "Kupu-Kupu Malam" dengan suara emasnya. Setiap nada terucap dengan sempurna, setiap tinggi rendah suara dikendalikan dengan presisi yang luar biasa. Matanya menatap penonton dengan penuh percaya diri, dan tangannya bergerak anggun mengikuti alunan musik. Penonton terpesona oleh kemampuannya, beberapa bahkan tercengang dengan mulut terbuka. Ketika Dinda selesai, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, dan beberapa penonton berdiri memberikan penghormatan.
"Luarbiasa!" seru seorang guru dari barisan depan.
"Suaranya benar-benar seperti malaikat!" puji yang lain.
Setelah penampilan Dinda yang memukau, suasana menjadi tegang. Peserta-peserta lain yang belum tampil mulai terlihat gelisah. Anisa yang duduk di kursi peserta tampak pucat dan tangannya gemetar. Ia menggenggam erat lembaran kertas berisi lirik lagu yang akan ia nyanyikan—sebuah lagu sedih tentang kehidupan dan cinta yang ia tulis sendiri bersama Rangga.
Selanjutnya, seorang siswa kelas 1 bernama Budi naik ke panggung dengan suara yang masih pecah-pecah karena masa puber. Beberapa penonton terkekeh mendengarnya, tetapi ia tetap melanjutkan dengan berani. Meskipun tidak sempurna, penonton memberikan tepuk tangan yang ramah untuk keberaniannya.
Kemudian nama Anisa dipanggil. "Berikutnya, Anisa Putri dari kelas 2!"
Anisa berdiri dengan gemetar. Namun sebelum ia melangkah, beberapa siswa dari barisan belakang mulai bersiul dan berteriak dengan nada mengejek. "Hei, Anisa! Kau yakin mau naik? Kau lihat Dinda tadi? Kau tidak akan bisa mengalahkannya!" teriak seorang siswa.
"Lebih baik turun saja! Kau hanya membuang-buang waktu!" teriak yang lain, disusul tawa beberapa siswa.
Anisa terdiam, wajahnya semakin pucat dan matanya berkaca-kaca. Ia memegang erat lirik lagunya, tangannya gemetar hebat. Ia ingin berlari dan bersembunyi, menjauh dari semua ejekan yang menusuk hatinya.
Rangga yang mendengar cemoohan itu langsung berdiri dari kursinya. "HENTIKAN!" teriaknya dengan suara lantang, membuat semua orang terkejut. "Kalian tidak punya hak untuk merendahkan orang lain! Anisa memiliki bakat yang luar biasa! Dan jika kalian tidak bisa mendukung, setidaknya diam dan hormati!"
Para siswa yang mencemooh terdiam, terkejut dengan kemarahan Rangga yang jarang terlihat. Beberapa dari mereka menunduk malu. Rangga menatap Anisa dengan mata penuh keyakinan. "Anisa, kau bisa! Aku percaya padamu! Tunjukkan pada mereka siapa dirimu!"
Anisa menatap Rangga, dan melihat keyakinan di matanya membuat hatinya sedikit tenang. Ia mengangguk, lalu melangkah ke panggung dengan langkah yang masih gemetar. Ia berdiri di depan mikrofon, tangannya masih gemetar memegang lembaran kertas. Ia menatap kerumunan di depannya—beberapa masih tersenyum sinis, beberapa menatapnya dengan rasa iba, dan hanya sedikit yang benar-benar mendukungnya.
Ia menutup matanya sejenak. Ia teringat pada semua latihan yang telah ia lakukan, pada semua dukungan yang ia terima dari Rangga, dan pada semua mimpi yang ia miliki. Ia juga teringat pada semua ejekan dan cemoohan yang ia terima—bukan hanya hari ini, tetapi selama bertahun-tahun sebagai anak desa yang dianggap tidak cukup baik. Air mata mulai menggenang di matanya, tetapi ia menahannya. Ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia akan menunjukkan bahwa ia layak berada di sini.
Ia membuka matanya dan mulai berbicara dengan suara yang masih bergetar. "Lagu yang akan aku bawakan berjudul 'Kisah Hidupku'. Aku menulis lagu ini bersama sahabatku, Rangga. Tentang perjalanan hidup—tentang kehilangan, tentang cinta, dan tentang menemukan harapan di tempat yang tak terduga."
Ia menarik napas dalam-dalam, dan ketika musik mulai dimainkan, ia membiarkan suaranya mengalun. Suaranya yang lembut dan penuh perasaan mulai mengisi ruangan, membuat semua orang terdiam.
"Di ujung jalan yang gelap, aku melangkah sendiri
Tanpa arah, tanpa cahaya, hanya luka yang terbawa
Pernah ku rasa dunia begitu kejam
Saat semua yang kucinta, pergi tinggalkan aku..."
Suaranya mulai bergetar, dan air mata yang ditahannya mulai mengalir di pipinya. Namun ia tidak berhenti. Ia terus bernyanyi, setiap kata keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Namun di tengah kegelapan, kau datang membawa cahaya
Dengan pelukan hangat, kau ajarkan aku tentang cinta
Kau ajarkan bahwa bahagia tak perlu sempurna
Hanya perlu seseorang yang selalu ada di sampingmu..."
Beberapa penonton mulai terharu. Seorang ibu di barisan depan mulai mengusap air matanya. Para siswa yang tadinya mencemooh kini terdiam, mata mereka mulai berkaca-kaca.
"Cinta adalah saat kita rela berkorban
Untuk kebahagiaan orang yang kita sayangi
Meskipun terkadang harus terluka, harus kecewa
Tapi cinta sejati tak akan pernah pudar..."
Anisa melanjutkan lagunya dengan penghayatan yang semakin dalam. Suaranya mengalun indah, membawa seluruh penonton dalam perjalanan emosinya. Ia bernyanyi tentang kehilangan orang tua, tentang perjuangan hidup, tentang cinta yang menyelamatkan, dan tentang harapan yang tak pernah padam.
"Kau adalah pelangi di saat hujan
Kau adalah mentari di pagi yang kelam
Kau ajarkan aku untuk terus melangkah
Meskipun dunia tak selalu berpihak padaku..."
Rangga yang duduk di kursi penonton tidak bisa menahan air matanya. Ia melihat Anisa yang begitu kuat di atas panggung, mengubah semua rasa sakit dan cemoohan menjadi sebuah karya yang indah. Ia merasa sangat bangga.
Bram juga menangis, tidak peduli jika orang lain melihatnya. "Dia luar biasa, Rangga," bisiknya. "Aku tidak pernah mendengar lagu yang begitu menyentuh."
Di barisan depan, Dinda yang tadinya tersenyum percaya diri kini terlihat terharu. Ia bahkan ikut menangis, mengusap air matanya dengan tangan. Ia mengangguk pada Anisa, memberikan penghormatan.
"Kini aku berdiri di sini, dengan kepala tegak
Membawa mimpi yang tak pernah padam
Terima kasih untuk semua cinta yang kau beri
Karena tanpamu, aku bukanlah aku yang sekarang..."
Ketika Anisa menyanyikan bait terakhir, suaranya pecah karena tangis yang tak tertahan. Namun itu justru membuat penampilannya semakin menyentuh.
"Dan sampai akhir waktu, aku akan terus berjuang
Untuk semua yang aku cintai, untuk semua impian
Karena hidup adalah anugerah yang berharga
Dan cinta adalah kekuatan yang tak terkalahkan..."
Ketika lagu berakhir, suasana hening selama beberapa detik. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Semua orang masih terhanyut dalam kata-kata dan melodi yang mengguncang jiwa mereka. Beberapa penonton masih menangis, tidak bisa berhenti. Anisa berdiri di panggung, air mata mengalir deras di pipinya, napasnya tersengal-sengal.
Kemudian, seperti gelombang yang pecah, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Bukan tepuk tangan biasa, tetapi tepuk tangan yang bergema dari lubuk hati. Semua penonton berdiri memberikan standing ovation sambil menangis. Para siswa yang tadinya mencemooh kini bertepuk tangan paling keras, menangis dan tersenyu pada saat yang bersamaan. Dinda berdiri dan bertepuk tangan dengan tulus, matanya berkaca-kaca.
"Anisa, kau luar biasa!" teriak seorang siswa dari barisan belakang.
"Aku minta maaf karena mencemoohmu!" teriak yang lain, menangis.
Anisa tersenyum, air mata mengalir deras di pipinya. Ia telah membuktikan bahwa dirinya layak berada di sini. Ia telah mengubah cemoohan menjadi tepuk tangan, dan kebencian menjadi kekaguman.
Rangga berlari ke panggung dan memeluk Anisa erat-erat. "Kau luar biasa, Anisa. Aku sangat bangga padamu."
Anisa menangis di pelukannya. "Aku berhasil, Rangga. Aku berhasil."
Bram juga menghampiri dan memeluk mereka berdua. "Kalian berdua luar biasa. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini."
Pengumuman pemenang dilakukan kemudian. Untuk kategori menyanyi, Dinda meraih juara pertama, dan Anisa meraih juara kedua. Namun Anisa tidak kecewa. Ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari piala—ia telah mendapatkan penghormatan dan pengakuan dari semua orang.
Malam itu, Rangga pulang dengan perasaan bahagia dan damai. Ia telah menyaksikan orang yang ia cintai berjuang dan menang melawan segala rintangan. Itu adalah kemenangan yang paling berharga.
---
[Bersambung...]
---