"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Di dalam mobil, tawa Luki dan Amira akhirnya pecah. Suasana kaku di rumah tadi menguap digantikan kehangatan yang melegakan.
"Idemu gila juga ya!" celetuk Amira seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Membohongi orang sombong itu jauh lebih mudah ketimbang membohongi orang dungu," sahut Luki santai, jemarinya menggenggam lingkar kemudi dengan lihai.
"Aku tadi sempat takut kalau Mamah sampai memeriksa koper itu."
Luki tertawa pelan. "Melihat kantong plastik sampah warna hitam saja, jangankan memeriksa, Mamahmu dan suaminya itu pasti sudah jijik duluan."
"Iya, mereka benar-benar tertipu," Amira menghela napas lega, ada rasa puas yang membuncah di dadanya. "Padahal sudah belasan tahun aku mencari cara untuk membawa pergi sertifikat-sertifikat itu secara bersamaan, dan baru kali ini aku bisa membawanya keluar dengan aman."
Mereka tertawa bersama lagi. Bagi Amira, berada di dekat Luki membuat hatinya merasa sangat nyaman—ia tidak hanya merasa memiliki seorang suami, tetapi juga seorang sahabat akrab yang bisa diandalkan.
"Kamu tahu kan alamat rumah Kakek?" tanya Amira kemudian.
"Kamu sharelock saja."
"Oke. Aku juga akan menghubungi Kakek kalau kamu mau datang ke sana," ucap Amira seraya mengotak-atik ponselnya.
"Sip. Kalau begitu, aku pergi sekarang ya," pamit Luki saat mobil berhenti di depan gedung kantor Amira.
Amira melangkah masuk ke kantornya dengan hati riang. Meskipun ia tahu, hari ini ia akan kembali berhadapan dengan gempuran tekanan dari ibunya yang memaksanya mencairkan dana lima miliar rupiah itu.
Sementara itu, di dalam mobil, Luki langsung menghubungi seseorang via ponselnya.
"Tolong kalian cari tahu seluruh identitas mendalam tentang Salim bin Handoko," perintahnya dingin.
Setelah mematikan sambungan telepon, Luki kembali fokus menatap jalanan. Berbekal lokasi yang dikirimkan Amira, tak berapa lama Luki akhirnya sampai di sebuah rumah berarsitektur sederhana dengan gerbang yang juga tampak biasa saja. Tidak akan ada satu orang pun yang menyangka bahwa rumah bersahaja itu adalah kediaman milik seorang miliarder legendaris.
Seseorang membukakan pintu gerbang besi. Luki mengemudikan mobilnya masuk ke area parkir luar. Di dekat pos sekuriti, tampak sebuah gazebo tempat para penjaga berkumpul. Tak jauh dari sana, berjejer kandang-kandang berisi ayam dan burung—bukan ayam biasa, melainkan ayam aduan kelas atas dan burung raksasa bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
"Tuan sudah ditunggu oleh Tuan Handoko di belakang," ucap Jaka, asisten pribadi Tuan Handoko, menyapa sopan.
Luki mengangguk, melangkah ke area belakang rumah seraya menggerek koper tua dan menjinjing kantong plastik sampah hitam.
Di halaman belakang yang asri, tampak Kakek Handoko sedang memberi makan ikan-ikan koi di kolam. Sesekali tangannya menabur pelet sebelum akhirnya beranjak duduk di gazebo.
"Cucu menantuku... Silakan duduk," panggil Handoko ramah, menyunggingkan senyum hangat.
Luki mendekat, mencium tangan kakek mertuanya penuh hormat, lalu duduk berhadapan.
"Jadi... Amira benar-benar sudah mau pisah rumah dari ibunya?" tanya Handoko membuka percakapan.
"Sudah, Kek..."
Seorang ART datang menyajikan cangkir teh hangat dan piring-piring camilan tradisional yang ditata sangat rapi, lalu kembali mengundurkan diri dengan sopan.
"Ini barang-barang almarhum Papah Mertua ditaruh di mana, Kek?" tanya Luki menunjuk koper dan plastik hitamnya.
Handoko merengkuh kantong plastik sampah itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Harta senilai puluhan miliar ini... kamu bungkus pakai plastik sampah?" gumam Handoko terkekeh pelan seraya membaca satu per satu lembar sertifikat tanah bernilai fantastis di dalamnya.
Tak lama, Handoko memanggil Jaka. Pria itu datang dengan tergesa.
"Simpan semua ini di brankas utamaku," perintah Handoko.
Saat Jaka hendak membawa pergi koper dan plastik tersebut, Luki dengan cepat menahan album foto tua yang ada di atasnya. "Silakan yang lain dibawa, tapi album ini tinggalkan dulu," ucap Luki.
Handoko menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa dengan album foto itu?"
Luki membuka lembar album berdebu itu, lalu mengangsurkannya tepat ke hadapan Handoko, menunjuk salah satu potret tua.
"Kakek... apa Kakek kenal dengan orang yang ada di sebelah almarhum Papah Mertua ini?" tanya Luki serius.
Handoko meraih album tersebut. Ia mendekatkan lembaran foto itu ke matanya, jemarinya yang keriput perlahan meraba permukaan foto tua bergambar dua pria di Tangkuban Perahu itu.
"Ini... foto anakku dan temannya," jawab Handoko pelan.
"Kakek tahu siapa nama teman almarhum Papah Mertua itu?"
Handoko tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Namun selang beberapa detik kemudian, matanya menatap wajah Luki dengan sangat seksama.
"Mendekatlah..." perintah Handoko, suaranya mendadak bergetar.
Luki beringsut mendekat. Tangan keriput Handoko terangkat, meraba garis wajah dan rahang Luki.
"Kamu ini... sebenarnya anak siapa?" tanya Handoko dengan nada tertahan.
"Jawab dulu pertanyaanku, Kek... Siapa teman almarhum Papah Mertua itu?" desak Luki.
Handoko tertegun sejenak, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa aku baru sadar sekarang...? Waktu akad nikah kemarin, kamu menyebut namamu adalah Luki Perdana bin Dimyati Perdana, kan? Ternyata... kamu ini anaknya AD?"
"AD itu... kepanjangan dari apa, Kek?" tanya Luki, menahan napas.
"Ahmad Dimyati Perdana 376," jawab Handoko lurus.
"Kakek kenal dengan Ayahku?"
"Sedikit," bisik Handoko.
"Maksud Kakek 'sedikit'?"
"Aku dan Salim terpisah sekian puluh tahun sejak dia masih bayi. Aku baru bisa menemukan Salim kembali saat usianya sudah 25 tahun," kenang Handoko dengan tatapan menerawang. "Dan saat ditemukan, Salim ternyata sudah direkrut oleh sebuah organisasi rahasia berisi anak-anak jenius. Di sana, Salim punya sahabat dekat bernama AD. Mereka berteman sangat baik. Aku sendiri hanya pernah bertemu dengan AD dua kali... Dan setiap kali bertemu, AD selalu berpesan: 'Kalau Salim dapat masalah besar, segera hubungi AD di keluarga Perdana.'"
Luki menyimak tanpa berkedip. "Hanya itu yang Kakek tahu?"
"Kamu kira gampang menelusuri latar belakang orang-orang jenius seperti mereka?" sahut Handoko terkekeh hambar. "Coba saja kamu cari latar belakang Ayahmu sendiri... Pasti data yang muncul beragam dan simpang siur. Dan asal kamu tahu, data yang tampil di permukaan itu bukanlah data sebenarnya."
Baru saja Handoko menyelesaikan kalimatnya, ponsel di saku Luki bergetar. Sebuah pesan masuk dari tim intelijennya berisi deretan identitas Salim. Dan benar saja—semuanya hanyalah data anonim dan identitas samaran yang saling bertolak belakang.
"Jadi... almarhum Papah Mertua dan Ayahku memang bersahabat, Kek?"
"Iya. Hanya itu hal pasti yang bisa kita pahami," angguk Handoko. "Karena sejauh aku menelusuri latar belakang mereka berdua, hanya kebingungan dan jalan buntu yang aku temukan."
Luki membisu. Meskipun kini ia tahu bahwa ayahnya dan ayah Amira adalah sahabat dekat, hal itu justru menyisakan misteri yang makin pekat. Sebenarnya apa latar belakang Ayahnya? Luki sendiri sudah berusaha menelusuri silsilah keluarganya, namun jejak itu selalu berhenti di satu titik: bahwa Ayahnya hanyalah anak angkat di keluarga Perdana, dan imperium Perdana Holding baru berubah menjadi raksasa dunia setelah dipimpin oleh Ayahnya.
Handoko menyandarkan punggungnya di sandaran gazebo, menatap Luki dalam-dalam. "Ada satu hal lagi yang sampai sekarang masih jadi misteri bagiku, Luki..."
"Apa itu, Kek?"
"Keberadaan Ayahmu saat ini... Di mana dia?"
"Ayahku sudah meninggal, Kek," jawab Luki tenang.
"Kapan meninggalnya?"
"Waktu aku masih kecil."
"Umur berapa?"
"Kira-kira saat aku umur 8 tahun. Aku masih ingat betul momen itu."
"Apa penyebab meninggalnya?"
"Kata Ibu... kecelakaan lalu lintas."
"Tahun berapa?"
"Tahun 2008."
Handoko terperanjat, matanya membelalak. "Tahun meninggalnya tidak jauh berbeda dengan Salim... Salim meninggal di awal tahun 2009," ucap Handoko, suaranya makin berat. "Dan penyebabnya... juga karena kecelakaan."
"Aku sudah pernah menelusuri kasus kecelakaan Anakku, tapi benang kusutnya terlalu rumit," lanjut Handoko menghela napas panjang. "Akhirnya aku pasrah dan menerima kenyataan. Yang terpenting bagiku adalah menjaga Amira. Dan sekarang, aku merasa sangat lega... karena Amira sudah berada di tangan orang yang tepat. Bersamamu."
Luki menatap kakek mertuanya dengan pandangan tajam, menyuarakan prasangka yang mulai membakar benaknya.
"Kakek... curiga kalau kematian Papah Mertua dan Ayahku sebenarnya adalah sebuah konspirasi sengaja?"
Handoko menatap dedaunan yang gugur di atas kolam, menyahut lirik, "Aku... hanya menduga."