Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Keesokan harinya, pendar cahaya matahari pagi menyinari halaman luas kediaman keluarga Mahendra. ​Nadia bangun sangat pagi, kebiasaannya yang sulit diubah, usai merapikan tempat tidur king-size yang terhampar luas itu hingga tanpa kerutan sedikit pun, ia melangkah turun ke lantai satu.

​Suasana rumah masih cukup lenggang. Di area dapur yang sangat modern dan bersih, Bi Nita beserta dua asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan pagi.

​Nadia melangkah mendekat dengan senyuman ramahnya yang lembut, ia mengambil celemek polos yang tergantung dekat wastafel dan mengenakannya, lalu meraih buku tulis kecil dari saku bajunya.

​[Bi Nita, boleh saya bantu menyiapkan sarapan?]

​Bi Nita yang sedang memotong sayuran terperanjat pelan, lalu tersenyum hangat namun buru-buru menggelengkan kepala. "Aduh, Nona Nadia! Jangan, Nona. Nyonya Besar bisa marah kalau lihat Nona kerja di dapur. Nona kan tamu kehormatan di sini, calon menantu keluarga Mahendra,"

​Nadia tersenyum manis, memiringkan kepalanya dengan pandangan memohon, lalu menulis dengan cepat.

​[Saya sudah biasa memasak di rumah, Bi. Lagipula saya tidak enak kalau hanya diam saja, tolong izinkan saya bantu potong sayuran ini ya?]

​Melihat kerendahan hati dan ketulusan dari mata bulat gadis itu, Bi Nita tak kuasa menolak. Dengan perasaan haru, ia menyerahkan pisau dapur dan papan pemotong kayu kepada Nadia.

"Ya sudah, Non Nadia potong wortel dan kentang ini ya. Tapi kalau capek, langsung berhenti ya, Non," ucap Bi Nita.

​Nadia mengangguk mantap, jemarinya yang terbiasa bekerja keras mulai menggerakkan pisau dengan sangat rapi dan cekatan. Pemandangan seorang gadis muda yang anggun, berwajah pucat dengan sisa memar tipis di pipinya namun tetap tersenyum tulus saat memotong sayuran dan menciptakan atmosfer yang amat hangat di dapur mewah tersebut.

​Satu jam kemudian, aroma wangi sup ayam rempah dan tumis sayuran segar merebak memenuhi area meja makan utama.

​Mama Bella dan Papa Mahendra turun dari lantai dua dengan pakaian santai mereka. Ketika langkah kaki mereka sampai di area meja makan, kedua orang tua itu tertegun melihat deretan sajian masakan yang tertata sangat rapi dan estetik di atas meja.

​"Wah, Bi Nita, harum sekali sarapan hari ini," puji Papa Mahendra seraya menarik kursi makan utamanya.

​Bi Nita yang baru saja membawa mangkuk nasi hangat tersenyum lebar, "Bukan saya yang masak semuanya, Tuan Besar. Sebagian besar sup rempah dan tumis sayur ini dimasak oleh Nona Nadia," jawab Bi Nita.

​Mama Bella membelalakkan matanya kaget sekaligus takjub, ia menoleh ke arah Nadia yang baru saja keluar dari area pantry seraya membawa piring berisi potongan buah-buahan segar.

​"Nadia? Kamu yang memasak semua ini, Nak?" tanya Mama Bella hangat.

​Nadia menundukkan kepalanya sopan, tersenyum malu-malu lalu mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati meja makan, menyajikan piring buah tersebut dengan gerakan yang cermat.

​Papa Mahendra tanpa ragu menyendok sup ayam buatan Nadia dan menyesap kuahnya. Seketika itu juga, raut wajah berwibawa pria paruh baya itu berbinar terang.

​"Luar biasa! Rasa kuahnya sangat pas dan segar, mirip sekali dengan masakan almarhumah Ibumu, Sintia! Papa jadi teringat masa-masa dulu sering menumpang makan di rumah orang tuamu, Nadia," puji Papa Mahendra tulus.

​Air mata haru menggenang tipis di sudut mata jernih Nadia mendengar pujian itu, ia merapatkan kedua tangannya di depan dada dan memberikan senyuman penuh rasa terima kasih.

​Tepat pada saat itu, derap langkah kaki yang tegap dan berwibawa berbunyi dari arah pintu depan. ​Semua orang di meja makan refleks menoleh, melihat sosok Aksa melangkah masuk dengan kemeja putih formal bertabur garis-garis halus yang lengannya tergulung rapi hingga siku, membawa tas dokumen kulit di satu tangan. Ketampanannya yang maskulin dipadu rahang tegas yang dingin seketika mendominasi atmosfer ruangan.

​Mama Bella tersenyum penuh arti melihat kehadiran putra tunggalnya, "Aksa? Tumben pagi-pagi sekali sudah sampai rumah?" goda Mama Bella.

​Aksa menghentikan langkahnya sejenak, pandangan pekatnya yang tajam tidak tertuju pada Mama Bella atau Papa Mahendra, melainkan langsung terkunci pada sosok gadis bersahaja berapron sederhana yang berdiri di samping meja makan yaitu Nadia.

​Aksa berdehem pelan untuk menutupi gejolak aneh yang kembali berdesir di dadanya, "Ada berkas penting perusahaan yang tertinggal di ruang kerja Papa," alibinya dingin dengan suara berat yang bernada tegas.

​"Alasan saja kamu," cibir Papa Mahendra sambil terkekeh pelan.

"Ya sudah, duduk di sini dan sarapan dulu. Calon istrimu yang memasak semua makanan ini," lanjut Papa Mahendra.

​Aksa membeku di tempatnya selama beberapa detik, panggilan calon istri meluncur begitu saja dari mulut Papa Mahendra dan membuat matanya beradu lurus dengan mata bulat Nadia, gadis itu pun refleks menundukkan kepala dengan rona merah yang kini merayap jelas hingga ke ujung telinganya.

​Tanpa membantah atau mengeluarkan sindiran seperti biasanya, Aksa menarik kursi kayu di hadapan tempat duduk Nadia dan meletakkan tas dokumennya, lalu duduk dengan tenang.

​Nadia yang sigap segera meraih mangkuk porselen, menyendokkan nasi hangat beserta sup ayam rempah yang masih beruap, lalu menyajikannya secara perlahan tepat di depan meja Aksa.

​Saat Nadia hendak menarik tangannya kembali, jemari hangat Aksa yang kekar tanpa sengaja bersentuhan tipis dengan pergelangan tangan Nadia yang dingin.

​Deg!

​Nadia tersentak pelan, jantungnya berdegup kencang seketika. Ia mendongak pelan, mendapati Aksa sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Manik mata hitam pekat pria itu memancarkan kilat kehangatan dan rasa protektif yang amat intens, sangat kontras dengan ekspresi mukanya yang tetap datar.

​"Terima kasih," ucap Aksa dengan suara beratnya yang rendah, khusus ditujukan untuk pendengaran gadis di hadapannya.

​Nadia mengangguk pelan, memberikan senyuman manisnya yang tulus sebelum berbalik mundur dengan perasaan berdesir tak karuan di dalam dadanya. Di tengah segala kepedihan dan badai takdir yang menghantam hidupnya dan untuk pertama kalinya, Nadia merasa bahwa masa depan yang berada di depan matanya mungkin tidak sekelam yang ia bayangkan.

Setelah itu, Aksa pun meraih sendok dan menyesap kuah sup rempah buatan Nadia. ​Rasa gurih, hangat dan kaya rempah langsung memanjakan lidahnya. Sensasi rasa yang begitu menenangkan, sangat berbeda dari makanan restoran atau katering mewah yang biasa ia santap setiap hari.

​"Bagaimana, Aksa?" tanya Mama Bella dengan nada menggoda, matanya berbinar menantikan respons sang putra.

​Aksa meletakkan sendoknya dengan tenang, mempertahankan ekspresi wajarnya yang sukar ditebak. Ia mendongak, menatap lurus mata bulat Nadia yang memancarkan rasa cemas menunggu penilaian darinya.

​"Lumayan," jawab Aksa singkat dengan suara beratnya yang bernada datar.

​Namun, di balik jawaban singkat dan gengsi tingginya itu, Aksa kembali menyendok sup tersebut tanpa ragu, bahkan menghabiskan seluruh isi mangkuknya tanpa sisa.

​Papa Mahendra dan Mama Bella saling melempar pandangan lalu terkekeh pelan. Mereka paham betul watak putranya yang pemilih soal makanan tidak akan menyentuh hidangan dua kali jika ia tidak benar-benar menyukainya.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
lagian Nadia nggak langsung cas HP
coba dicas dan kabari Aksa biar nggak mikir yang aneh-aneh 🥰🥰🥰
Felycia Fernandez
bisa bisa nya lupa ma istri sendiri...
se brutal apa pun masalah kalau istri yang utama di hati pasti langsung mentok di istri...😤
erviana erastus
selisih lagi satu mencari satux lagi pulang 😏
erviana erastus
omg nadia ini nambahin masalah aza duduk diam dit4 knp sih? 🤬
Asri Yunianti
Jangan sampai terjadi apa² dg nadia
erviana erastus
aksa dilawan hadehhh habis lah kalian semua
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuiuuuuuuuuut😍
LIANI LA BUNGA YANI
😍😍😍
LIANI LA BUNGA YANI
ciiiiie🤣😍
LIANI LA BUNGA YANI
selamaaaat berbahagiaaaaaaa😍
LIANI LA BUNGA YANI
😭😭😭😭
LIANI LA BUNGA YANI
🥹🥹🥹😭😭😭😭😭😭😭
Felycia Fernandez
anget anget donk hidungnya ada cabai nya 😆😆😆
Titik Subekti
smangat nadia jgn pernah kalah walau kita punya kekurangan
falea sezi
kasih tablet lah pak atau hape biar g nulis terus istrinya atau belajar bahasa isyarat
Felycia Fernandez
keren...nggak perlu pake tulisan lagi
Raisha
mantap,Aksa dah belajar bahasa isyarat😃...Nadia jadi tambah nempel tho itu😂😂😂
erviana erastus
ratih2 dasar manusia serakah, emang kamu bisa meras aksa 🤣 jgn kan uang hidupmu bakalan hancur semoga aza nggak masuk penjara
Felycia Fernandez
melawan orang kaya sama aja cari mati Ratih..
udah tua bukannya cari hidup damai malah masih mikirin harta orang...

jadi ingat temanku yang di pisahkan dari anak kandung karena keluarga pacarnya nggak merestui.bahkan ketika temanku hamil mereka ngotot minta tes DNA dulu demi membuktikan itu cucu mereka atau bukan.setelah bayi lahir malah mereka merebut hak asuhnya.uang bisa mengatur segalanya..😤
Felycia Fernandez
aku juga mau Nadia 🤤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!