Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tempat Kosong
Malam itu, aula makan di lantai lima dipenuhi suara yang lebih gaduh daripada biasanya. Ruangan luas yang dahulu terdiri atas beberapa kantor telah dibongkar sekatnya, lalu diisi meja-meja panjang, bangku, dapur pembagian makanan, serta lampu listrik yang menggantung dari langit-langit.
Hampir setiap kursi ditempati. Uap dari ratusan mangkuk bercampur dengan bau tubuh, kain lembap, kentang rebus, daging asin, dan cairan pembersih yang dipakai untuk mengelap meja sebelum waktu makan.
Percakapan warga saling bertumpuk sampai tidak ada satu suara yang terdengar utuh dari ujung ruangan ke ujung lain. Namun, Aiden tidak perlu mendengar setiap kata untuk mengetahui bahwa hampir semuanya membicarakan hal yang sama.
Alpha Dire Mole menjadi pusat setiap cerita. Ada warga yang bersumpah ukuran giginya sepanjang lengan, ada yang mengatakan makhluk itu membutuhkan dua puluh peluru untuk dibunuh, dan ada pula yang mengaku lantai bergetar ketika bangkainya ditarik menaiki tangga.
Aiden telah melihatnya sendiri dan tahu sebagian cerita itu tidak benar. Makhluk tersebut memang jauh lebih besar daripada Dire Mole lain, tetapi beberapa orang tampaknya tidak puas sebelum tubuhnya dibesarkan lagi melalui ucapan mereka.
Dmitri tidak membiarkan bangkai itu berada dekat Empire sampai malam. Setelah para dokter dan petugas memeriksanya, tubuh alpha dibungkus menggunakan kain tebal, diikat di atas gerobak, lalu dibawa jauh dari gedung untuk dibakar.
Asap gelap sempat terlihat dari jendela-jendela sisi timur menjelang matahari tenggelam. Meskipun jaraknya jauh, Aiden merasa masih dapat mencium bau busuk yang menempel pada makhluk itu setiap kali seseorang menyebut pembakaran tersebut.
Pembicaraan lain berpusat pada penjaga yang dibawa keluar menggunakan tandu kedua. Dari orang-orang yang mengantre makanan, Aiden akhirnya mengetahui namanya adalah Sam.
Sam masih berada di klinik dan ditangani para dokter di bawah pimpinan Ivana. Tidak ada kabar pasti mengenai keadaannya, sehingga ruang kosong tersebut segera dipenuhi dugaan yang berpindah dari satu meja ke meja lain.
Ada yang mengatakan Sam tidak akan bertahan sampai pagi. Orang lain bersikeras telah melihatnya membuka mata setelah tiba di klinik, sementara beberapa warga hanya membicarakan darah Dire Mole yang memasuki luka pada lengannya.
Setiap kali percakapan mencapai bagian itu, beberapa kepala menoleh ke arah meja Aiden. Tatapan mereka tidak pernah tinggal lama, tetapi cukup untuk menunjukkan siapa yang sedang mereka pikirkan.
Marcus duduk berhadapan dengan Aiden pada salah satu ujung meja. Josh menempati kursi di samping Aiden, sedangkan seluruh bagian bangku di kiri serta kanan Marcus tetap kosong meskipun warga lain harus berhimpitan di meja-meja berikutnya.
Seorang pria sempat berjalan ke arah kursi kosong dengan membawa nampan. Ia baru menyadari Marcus berada di sana setelah mencapai ujung meja, lalu berhenti dan memilih berdiri sambil makan dekat dinding.
Marcus tidak mengangkat kepala saat pria itu pergi. Ia meniup sup di sendok dan memakannya perlahan, seperti jarak yang sengaja dibuat orang-orang di sekelilingnya tidak berbeda dari ruang biasa di antara dua kursi.
Aiden melihat semuanya. Tangannya mencengkeram sendok lebih kuat, tetapi ia menahan mulut agar tidak meneriaki orang tersebut karena Marcus pasti hanya akan memintanya kembali makan.
Makan malam mereka terdiri atas sup kentang encer dengan beberapa potongan bawang, sepotong daging kering, irisan buah, dan satu cangkir air. Daging itu alot hingga Aiden harus menahannya menggunakan gigi depan lalu menariknya dengan tangan.
Marcus tidak dapat melakukan hal yang sama dengan mudah. Kedua tangannya telah dililit perban dari pergelangan sampai pangkal jari, membuat gerakannya kaku ketika memegang sendok atau merobek makanan.
Kulit di balik perban tidak terluka. Marcus membungkusnya karena beberapa bagian mulai mengering dan mengelupas, terutama pada punggung tangan serta sela-sela jarinya.
Perubahan itu berjalan lambat. Jika Aiden tidak tinggal sekamar dengannya, mungkin ia juga tidak akan menyadari serpihan kulit yang tertinggal pada seprai atau cara Marcus menggosok telapak tangannya ketika rasa gatal muncul.
Bagian wajah Marcus belum banyak berubah. Kulit pada kedua pipinya tampak lebih kering dan satu garis tipis mulai pecah di dekat rahang, tetapi rambut cokelat pendek, hidung, serta matanya masih sama seperti yang selalu dikenali Aiden.
Marcus selalu membersihkan kulit yang terlepas sebelum meninggalkan kamar. Ia juga mengganti perbannya setiap pagi agar tidak ada warga yang harus melihat bagian yang mulai rusak saat dirinya mengambil makanan atau bekerja.
Aiden membenci tindakan tersebut. Bukan karena perbannya, melainkan karena Marcus melakukannya demi kenyamanan orang-orang yang bahkan tidak mau menempati bangku kosong di sebelahnya.
Josh tidak memperlihatkan ketakutan yang sama. Ia duduk begitu dekat dengan ujung meja hingga lututnya beberapa kali membentur lutut Marcus di bawah permukaan kayu.
Sejak makanan dibagikan, Josh lebih banyak memandangi Marcus daripada mangkuknya sendiri. Ia mencoba melakukannya diam-diam, tetapi kepalanya terus terangkat setiap kali Marcus memotong daging atau mengangkat cangkir.
Marcus akhirnya menghentikan sendok di depan mulut. Ia memandang Josh sampai anak itu sadar bahwa tatapannya telah tertangkap.
“Ada sesuatu di wajahku?”
Josh segera menggeleng. Ia menelan makanan terlalu cepat, terbatuk satu kali, kemudian menepuk dada sebelum dapat berbicara.
“Saya hanya tidak menyangka akhirnya bisa duduk semeja dengan Anda, Pak.”
Kata-kata itu keluar dengan kebanggaan yang tidak berusaha disembunyikan. Josh duduk lebih tegak, seolah warga di meja lain perlu melihat bahwa dirinya mengenal pria yang dibicarakan anak-anak di mesnya.
Marcus menaruh sendok kembali ke mangkuk. Perban pada jemarinya bergesekan dengan gagang logam dan mengeluarkan bunyi kecil.
“Aku bukan pahlawan.”
“Semua anak di mes membicarakan Anda. Mereka bilang Anda melawan empat Dire Mole seorang diri dan membunuh induknya menggunakan pistol dari jarak dekat.”
Marcus melirik Aiden. Tatapan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi membuat Aiden menduga ayahnya sedang bertanya dari mana Josh memperoleh cerita tersebut.
Aiden memusatkan perhatian pada sup dan mengaduk potongan kentang yang hampir hancur. Ia memang mengatakan jumlah Dire Mole kepada Josh, tetapi tidak menceritakan bagaimana Marcus membunuh induknya.
Cerita itu mungkin berasal dari penjaga yang menemukan tubuh-tubuh Dire Mole atau dari petugas yang membantu membawa Marcus ke klinik. Di Empire, kejadian yang dilihat satu orang dapat mencapai ratusan telinga sebelum waktu makan berikutnya.
“Mereka hanya membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan sebelum tidur.”
Josh menggeleng keras. Rambut berwarna gandumnya bergerak di atas dahi yang masih memerah akibat matahari dan latihan.
“Anda menyelamatkan Aiden. Kalau bukan pahlawan, lalu apa sebutannya?”
Marcus tidak segera menjawab. Ia menatap permukaan sup, kemudian mengangkat salah satu tangan yang diperban dan memutar pergelangannya sedikit.
“Mungkin mereka membicarakanku karena aku akan menjadi Remnant.”
Aiden berhenti mengunyah. Marcus pernah membuat lelucon serupa ketika mereka hanya berdua, tetapi mendengarnya di dalam aula membuat sup di mulutnya kehilangan rasa.
Percakapan pada meja terdekat ikut merendah. Seorang wanita yang semula membicarakan keadaan Sam menunduk dan menarik mangkuknya sedikit menjauh, sementara pria di sebelahnya berpura-pura tidak mendengar.
Josh menatap kedua tangan Marcus. Kebanggaan pada wajahnya menghilang sesaat, lalu pandangannya bergerak ke bagian kulit kering yang terlihat di atas kerah.
Aiden menunggu tubuh Josh bergeser. Ia siap membenci anak itu jika bangkunya mundur meskipun hanya selebar satu jari.
Josh justru meletakkan kedua lengannya di atas meja dan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Ketika berbicara, suaranya tidak sekeras sebelumnya, tetapi tidak terdengar ragu.
“Anda tetap pahlawan bagi saya, Pak.”
Marcus memandangnya cukup lama. Sudut mulutnya akhirnya terangkat dan ia mengangguk kecil sebelum kembali mengambil sendok.
Aiden mengembuskan napas yang tidak disadarinya sedang ditahan. Ketegangan pada bahunya mengendur, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke aula, bangku-bangku kosong di sekitar Marcus tidak terasa terlalu besar.
Josh mulai makan lagi. Ia mencelupkan daging kering ke dalam sup agar lebih lunak, menunggu beberapa saat, lalu menggigitnya sambil terus melirik Marcus dengan kekaguman yang kini tidak lagi disembunyikan.
Marcus memperhatikan pakaian Josh yang masih kotor oleh debu latihan. Kemeja anak itu juga terlihat terlalu besar pada bahunya dan bagian salah satu siku telah ditambal menggunakan kain dengan warna berbeda.
“Di mana orang tuamu, Joshua?”
Tangan Josh berhenti di atas mangkuk. Ia tidak terlihat terkejut mendengar nama lengkapnya, tetapi cara bahunya turun membuat Aiden kembali teringat percakapan mereka di dekat bangkai alpha.
“Mereka meninggal tiga tahun lalu ketika Raider menyerang Empire, Pak.”
Marcus meletakkan sendok. Ia tidak segera mengucapkan belasungkawa dan hanya memandang Josh dengan alis sedikit mengerut.
Aiden teringat ruangan penuh mainan di lantai tiga puluh. Di sana Dmitri pernah mengatakan bahwa Mikael, putranya, juga dibunuh Raider tiga tahun lalu saat masih berusia tujuh tahun.
Setelah kematian Mikael, Dmitri mendatangi salah satu markas Raider seorang diri dan menghabisi orang-orang di dalamnya. Keberanian serta keberhasilannya memimpin perlawanan terhadap kelompok lain kemudian membuat warga Empire mengangkatnya sebagai tetua.
Saat mendengar cerita tersebut, Aiden hanya memikirkan seorang paman yang membalaskan kematian putranya. Ia tidak pernah memikirkan berapa banyak anak lain yang mungkin kehilangan orang tua dalam serangan yang sama.
Josh menusukkan sendok ke potongan kentang. Ia menghancurkannya pada dasar mangkuk sampai kuah berubah lebih keruh, tetapi wajahnya tetap tenang seperti kehilangan itu telah diceritakannya terlalu sering.
“Sekarang kau tinggal dengan siapa?”
“Saya tidur di mes bagian timur. Ada ranjang kosong untuk anak-anak yang tidak mempunyai keluarga.”
“Kau tidur di sana bersama pria-pria yang bukan keluargamu?”
Pertanyaan Aiden keluar sebelum sempat dipikirkan. Ia pernah melihat bagian dalam mes tersebut dari pintu, berupa ruangan panjang berisi ranjang-ranjang sempit yang dihuni pekerja, pemuda, dan anak-anak laki-laki tanpa kamar keluarga.
Josh mengangguk sambil mengangkat satu bahu. Sikapnya menunjukkan bahwa keadaan tersebut bukan sesuatu yang dianggap aneh olehnya.
“Tidak semuanya asing. Aku mengenal beberapa orang sekarang, walaupun mereka mendengkur dan tempat itu bau kaki kalau jendelanya ditutup.”
Aiden memandang ayahnya. Marcus sedang menatap Josh, tetapi wajahnya tidak menunjukkan jawaban atas gagasan yang tiba-tiba muncul di kepala Aiden.
Kamar mereka masih mempunyai tiga ranjang. Ranjang yang dahulu digunakan Robin tetap berada dekat dinding, kosong sejak Selma memindahkannya ke kamar para gadis.
Seprai pada ranjang itu telah dilipat dan kasurnya tidak lagi menyimpan barang milik Robin. Namun, Aiden masih sering melihat ke arahnya ketika terbangun pada malam hari dan membutuhkan beberapa detik untuk mengingat bahwa Robin tidak lagi tidur di sana.
“Dad, bolehkah Josh tidur bersama kita?”
Marcus mengangkat alis. Aiden bergerak lebih dekat ke tepi meja sebelum melanjutkan agar ayahnya tidak menganggap permintaan itu hanya gagasan sesaat.
“Dia bisa memakai ranjang yang ditinggalkan Robin. Mesnya penuh dan dia tidak punya keluarga.”
Josh menoleh cepat kepada Aiden. Mulutnya masih penuh daging, membuat salah satu pipinya menggembung ketika ia mencoba menelannya.
Marcus menyandarkan punggung pada bangku. Tatapannya bergerak dari Aiden menuju Josh, kemudian kembali kepada kursi-kursi kosong di sekitar mereka.
“Kalau Joshua tidak keberatan.”
Mata Josh melebar. Ia meletakkan sendok terlalu cepat hingga kuah memercik ke meja, lalu buru-buru mengelapnya menggunakan ujung lengan.
“Saya boleh tinggal di kamar Anda?”
“Ranjangnya kosong. Namun, ada satu syarat.”
Josh segera duduk tegak. Wajahnya menjadi serius seperti Eddie baru memberi perintah di tengah latihan.
“Kalian tidak membuat keributan pada malam hari. Aku bekerja sejak pagi dan tidak mau terbangun karena dua anak memutuskan berkelahi menggunakan bantal.”
“Tidak akan, Pak. Saya bisa diam sekali kalau sedang tidur.”
Aiden menahan tawa. Josh mengatakannya dengan kesungguhan penuh, seolah kemampuan tetap diam ketika tidur merupakan keahlian yang telah dilatih bertahun-tahun.
Marcus memandang Aiden. Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya, cukup untuk menjadi peringatan bahwa syarat tersebut juga berlaku kepada putranya.
“Kami tidak akan mengganggumu, Dad.”
“Kita akan membicarakannya dengan pengelola mes setelah selesai makan.”
Josh tidak sanggup menyembunyikan kegembiraannya. Ia mengangkat kedua kepalan dekat dada, lalu menurunkannya kembali setelah menyadari Marcus masih memperhatikan.
Aiden tersenyum lebar. Membayangkan Josh menempati ranjang kosong membuat kamar mereka terasa lebih hangat, dan ia sudah memikirkan tempat untuk menyimpan pedang kayu atau barang-barang milik temannya tanpa menghalangi jalan.
Gerakan di dekat pintu aula menarik perhatian Aiden. Sekelompok anak perempuan baru masuk sambil membawa nampan makanan dari tempat pembagian.
Robin berjalan di antara mereka. Rambut pirangnya telah diikat ke belakang, dan pakaian bersih yang diperoleh dari Selma tertutup celemek tipis yang biasa digunakan selama pelatihan di klinik.
Ia membawa mangkuk sup, daging, buah, dan cangkir air pada nampannya. Dua gadis di sampingnya sedang berbicara mengenai sesuatu yang membuat salah seorang tertawa dan menutupi mulut.
Aiden mengangkat tangan sedikit. Robin melihatnya sebelum gerakan tersebut selesai dan langkahnya melambat di tengah lorong antar meja.
Tubuhnya sempat berbelok ke arah Aiden. Pandangannya turun kepada Josh yang duduk di sampingnya, lalu berpindah kepada kursi kosong di seberang Marcus.
Salah seorang gadis memanggil Robin dari meja lain. Gadis-gadis itu sudah memilih tempat dan menyisakan satu ruang di tengah bangku untuknya.
Robin memandang Aiden sekali lagi. Jemarinya mengencang pada sisi nampan, tetapi ia tidak melangkah mendekat.
Aiden membiarkan tangannya turun ke meja. Ia tidak memanggil karena tidak ingin membuat Robin harus menjelaskan pilihannya di hadapan teman-teman barunya.
Setelah keraguan singkat, Robin berbalik dan mengikuti kelompok tersebut. Ia duduk di ruang yang telah disisakan untuknya, sementara teman-teman perempuannya kembali merapat dan melanjutkan percakapan mereka.
Aiden masih memperhatikannya dari meja seberang. Senyum yang muncul karena Josh akan tinggal bersama mereka tetap bertahan, tetapi tidak lagi selebar beberapa saat sebelumnya.