"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Adara
Pagi yang cerah menyambut hiruk-pikuk Jakarta. Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus membelah jalanan protokol, membawa sang bos besar Winston Group menuju menara perkantorannya.
Di kursi belakang, Arsen duduk bersandar dengan wajah kusut dan napas yang masih memburu. Perut buncitnya naik-turun seirama dengan rasa pegal yang mendera sekujur tubuhnya. Beda sekali sama Luvia di sebelah yang justru duduk bersila. Tampak ceria sambil menggoyangkan kedua kaki kecilnya di udara.
Wajar saja Arsen kecapekan. Pagi-pagi buta tadi, gadis cilik itu tanpa ampun memaksanya lari keliling taman bunga Elena sampai 30 putaran penuh! Dengan tubuhnya yang bulat bak bola bekel, tiap langkah rasanya seperti siksaan neraka. Kakinya bergetar hebat, lemak di tubuhnya protes semua. Belum lagi porsi sarapannya yang disunat habis oleh Elena sebagai hukuman awal untuk diet. Hidupnya benar-benar menderita dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Kemarin Arsen rela berenang demi menyelamatkan Luvia, kini lari tiga puluh putaran. Entah apalagi misi Luvia berikutnya. Mungkin saja push up dua ratus kali?
Mateo, sang asisten setia yang duduk di balik kemudi, melirik dari kaca spion tengah dengan tatapan melongo. Bosnya yang biasanya disegani seantero kantor itu sekarang tampak bak karung beras habis tumpah dari truk. Napas Arsen terengah-engah menahan pegal.
Penasaran, Mateo melirik Luvia dan bertanya, "Nona kecil... sebenarnya apa yang terjadi sama Bos saya?"
Luvia menoleh, tersenyum memperlihatkan gigi susunya yang rapi. "Oh, Paman! Paman Endut balu celesai lali malatooon!"
Mateo mengerjap kaget. Maraton? Bosnya yang jalan beberapa langkah saja sudah ngos-ngosan begini?
"Maraton? Sama siapa, Nona?"
Luvia menepuk dadanya bangga. "Cama Lupia dong, Paman. Maca cama halimau."
"Terus... siapa yang menang?" tanya Mateo makin penasaran.
Luvia menggeleng polos. "Ndak ada."
"Kok bisa?"
"Coalna Paman capek, lalu lali ke dapul. Makan lima ayam doleng Bibi Jum campai kenyang," bisik Luvia jujur tanpa filter.
Pft… sia-sia dong capeknya!
Mateo mati-matian menahan tawa karena bosnya yang bulat itu kini tampak menatap tajam ke luar jendela dengan muka masam. Mateo agak bergidik. Dengan kondisi fisik Arsen yang selemas ini, apa ia masih sanggup memimpin rapat evaluasi migrasi cloud infrastructure dan audit keamanan siber divisi IT hari ini?
Merasa risih diperhatikan, Arsen mendecak kesal. Ia membetulkan letak jasnya yang mendadak terasa makin sempit di bagian perut, lalu berujar dingin,
"Fokus saja menyetir, Mateo. Nggak usah ikut campur kayak Ibuku yang suka ngerumpi."
Arsen benar-benar merasa dongkol. Baru juga pagi hari, ia sudah jadi bahan gosip anak kandungnya sendiri dan asistennya.
“Maaf, Bos,” ucap Mateo, langsung kembali fokus ke jalan.
Tiba di gedung Winston Group, Arsen masuk ke lobi bersama Luvia dan Mateo. Pintu kaca otomatis terbuka, menyambut kedatangan mereka dengan kehadiran sekretaris keduanya, Belinda. Wanita itu berdiri anggun membawa tablet, siap melaporkan jadwal rapat hari ini.
Arsen mengangguk singkat, lalu menoleh ke asistennya. "Mateo, jaga dia di ruanganku."
"Siap, Pak Bos," jawab Mateo patuh.
Sekilas, Belinda melirik ke arah Luvia.
“Nona Moera hari ini agak beda ya, kayak lebih gemukan dikit. Nafsu makannya udah balik nih?” gumamnya dalam hati.
Arsen dan Belinda kemudian bergegas ke ruang rapat di lantai atas.
Sebelum Mateo membawa Luvia ke ruang CEO, bocah itu tiba-tiba memegangi perutnya. "Paman… Lupia lapal lagi. Pelut Pia buni kluuk-kluuk," rengeknya dengan wajah memelas.
Tak tega melihat bibir mungil itu melengkung sedih, Mateo akhirnya menggandeng Luvia keluar gedung untuk mencari toko roti terdekat. Tapi, saat mereka jalan di trotoar, Luvia mendadak berhenti. Mata bulatnya terpaku menatap papan iklan raksasa di seberang jalan.
Layar itu menampilkan wajah Edwin, adik Erlangga, seorang chef muda yang lagi naik daun.
Luvia menunjuk layar dengan jari mungilnya. "Paman! Itu Paman jahat yang dolong Lupia di kapal!"
Mateo langsung ingat pria yang diselidikinya kemarin. "Nona Luvia tenang saja. Daddy Nona pasti akan kasih pelajaran ke dia sampai tuntas. Sekarang, kita beli roti dulu, ya? Setelah ini kita balik ke kantor.”
Luvia mengangguk lega, lalu menurut saja saat diajak masuk ke toko roti yang harum aromanya.
“Paman, kapan Lupia pulang? Lupia lindu Mommy, Bang Lucian, sama Bang Lucky.”
“Sabar ya, Nona kecil. Paman masih usahakan cari cara buat hubungi Ibumu,” jawab Mateo.
Di saat yang sama, sebuah mobil boks hitam berhenti tepat di depan gedung Winston Group. Mobil itu membawa Adara yang menyamar sebagai kurir makanan berkat bantuan Bram, supaya bisa lolos dari pengamanan ketat gedung tanpa ketahuan identitas aslinya.
Bram menoleh ke belakang, menatap Adara serius. "Hati-hati di dalam, Dara. Kabari aku secepatnya kalau kamu ketemu petunjuk soal anakmu."
"Paham, Paman Bram. Makasih banyak ya," jawab Adara mantap sambil membenarkan topi dan jaket kurirnya, lalu melangkah yakin masuk ke lobi.
Bram bersiap melajukan mobilnya kembali. Tapi, ia tak sadar dari pintu boks belakang, dua bayangan mungil melompat turun dengan sangat lincah. Siapa lagi kalau bukan Lucian dan Lucky! Dua jagoan cilik itu ternyata diam-diam sudah menyusup di balik tumpukan kardus sejak tadi.
"Ayo, Kak Lucian! Larinya cepetan dikit!" bisik Lucky setengah berteriak. Matanya berbinar-binar tak sabar mau ketemu ayah kandungnya.
Di belakangnya, Lucian lari sambil memegangi lutut, napasnya megap-megap dengan muka merah padam. Punya otak jenius ternyata tak membuat fisiknya sekuat saudara-saudaranya.
"CAPEEEEK! MAU BERAK!" teriak Lucian frustrasi sambil memegangi perutnya yang mulas.
"Eh—! Kak, tahan dulu! Kita lagi nyusup ini!" panik Lucky sambil menarik tangan kakaknya sebelum Lucian ngompol di celana.
Di dalam gedung, Adara sempat menoleh ke arah luar karena merasa mendengar suara yang familiar, tapi ia tak melihat siapa pun.
“Barusan kayak denger suara Lucian, perasaan aku aja kali ya?” gumam Adara.
Setelah berhasil meluluhkan petugas resepsionis yang sempat menahannya, agen cantik itu mulai melancarkan misi rahasianya. Adara berharap tak bertemu CEO Winston, namun karena lift pertama tampak ramai, ia pun menuju ke lift lain hingga ia tiba-tiba tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sana.
Bruk!
Adara terpental ke belakang saking gemuknya badan orang itu. Ia meringis kesakitan, sementara pria itu masih berdiri kokoh di sana. Tak jauh darinya, boks makanan yang ia bawa sudah berserakan di lantai.
“Astaga... dari mana munculnya orang gemuk ini?! Bikin nambah kerjaan aja!” gerutu Adara dalam hati, belum sadar pria itu adalah CEO Winston.
“Mukanya rasanya familiar… tapi lihat di mana, ya?” Bukannya minta maaf atau membantu Adara berdiri, Arsen malah sibuk memindai wajah wanita itu yang terhalang oleh rambut poninya.
___
Ceritanya sudah sampai bab 20 nih, mohon kerjasama dan dukungannya ya 🧡 untuk like, komen, dan subscribe! Semoga retensi cerita ini tercapai.
ntah lah, padahal cerita nya sgttt bagus dan kami para pembaca sgttt menikmati dan slalu menunggu update yg byk,,, semoga lancar yea thourr 👍👍👍💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰