Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Andriana memasuki rumah setelah bekerja seharian.
Ia melihat mama mertuanya duduk di ruang tamu sedang menangis sesenggukan.
Andriana mendekati dan ikut duduk di sampingnya " Mama, kenapa mama menangis? Ada apa ma?".
"An, Adit sama Saskia bertengkar, entah apa yang dilakukan Adit di dalam kamarnya, dari tadi mama hanya bisa mendengar teriakkan Saskia minta ampun" Jawab mama mertuanya tanpa bisa menahan tangisannya yang mulai pecah.
Andriana menarik nafasnya dalam-dalam, ia tersenyum tipis tapi senyum itu segera menghilang ketika melihat mama mertuanya tertunduk penuh kesedihan.
"Mama tidak perlu khawatir, pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar, nanti juga baikan lagi".
"Tapi dari semua yang mama dengar ada orang ketiga yang menjadi penyebabnya, mama takut an" Ucap mama mertua sambil menggenggam tangan Andriana.
Andriana menggeser tempat duduknya menjadi jongkok di depan mertuanya" Apa yang mama takutkan?".
"Mama takut mereka bercerai, lalu bagaimana nasib Diego dan Daniar ".
Andriana menarik nafas dalam-dalam, ia mulai merasa bersalah menjadi pemicu pertengkaran ini, bagaimana ia menjadi sejahat itu dan tidak memikirkan nasib kedua anak kecil itu.
Flashback on.
Adit memergoki Andriana satu mobil dengan Devan, dengan berani ia menghentikan mobil itu.
"Andriana, keluarlah!" Teriak Adit.
Andriana dan Devan saling menatap.
"Tenang lah jangan panik, kita keluar, lagi pula dia Adit bukan suamimu" Ucap Devan berusaha menenangkan wanitanya.
"Tapi Van, mas Adit jauh lebih menakutkan daripada Arnold "
"Kita keluar bersama sama, oke"
Andriana pun mencoba menepis rasa takutnya dan membuka pintu mobil perlahan.
Ia berdiri sejajar dengan Adit, saling bertatapan cukup lama.
"Mas Adit, kamu mau kemana?"
Adit tidak menjawab, ia mengalihkan pandangan pada Devan yang berdiri di belakang Andriana sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa kalian memiliki hubungan terlarang di belakang" Tanya Adit blak blakan.
Andriana mengerutkan dahinya " Mas Adit, bicara apa sih, dia dokter Devan, juga atasan ku di rumah sakit, kami kebetulan ada tugas bareng ya kita pergi bersamaan, tidak lebih kok".
Adit menarik nafas panjang lalu meletakkan kedua tangannya di kedua saku celananya
" Terus kamu kira aku percaya, aku bukanlah anak kecil yang mudah percaya dengan alasanmu itu! Oh iya jadi waktu itu saat aku pulang dalam keadaan setengah sadar, benar benar tuan Devan ya yang berada di depan mataku? membukakanku pintu dan membantuku berjalan masuk ke dalam rumah".
"Berarti aku sudah salah menuduh Saskia yang selingkuh" Imbuh Adit.
" Mas, jadi kamu belum tahu kalau istrimu juga selingkuh!".
Deg
Adit tidak percaya dan menuduh Andriana sengaja menutupi diri dengan mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal atas kesalahannya.
"Tuan Adit, lebih baik anda mencari tahu sendiri di kampus tempat istri anda mengajar, berapa kali dia keluar dari kampus tanpa alasan yang jelas. Coba anda ingat kapan anda terakhir berhubungan badan dengannya? Terus bagaimana rasanya apakah anda mengingatnya?".
Andriana menoleh pada Devan" Van, apa yang kamu bicarakan? Memangnya rasanya bisa berubah?".
Devan mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Mas Adit jangan dengarkan dokter Devan, sekarang kita akan buktikan kalau istrimu memang selingkuh " Ucap Andriana namun Adit masih belum percaya dan meminta Andriana harus benar benar bisa membuktikannya atau dia akan kehilangan karirnya karena sudah pasti Adit akan menjebloskannya ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik.
Devan mengambil ponsel dan menghubungi seseorang untuk datang secepatnya.
Dan tak lama kemudian, Leo datang memberikan sebuah map berwarna coklat muda kepada Devan yang membuat Andriana dan Adit bingung saling melemparkan pandangan.
Devan tersenyum miring kemudian memberikan map itu kepada Adit " Anda bisa melihatnya sendiri tuan Adit, tapi ingat jangan pernah menuduh bawahanku tanpa bukti".
Adit ternganga begitu melihat isi di dalam map tersebut yang merupakan foto foto panas antara Saskia dengan seorang pria yang di blur di bagian wajahnya.
Potongan potongan adegan ranjang yang sangat panas itu diambil di sebuah kamar hotel bintang lima, lengkap dengan nomor kamar dan tanggal check in yang kebetulan menggunakan nama istrinya.
Adit mundur beberapa langkah dan nyaris saja terjatuh, untungnya dia berdiri di dekat mobilnya yang menjadi sandaran.
Melihat Adit yang sangat syok, Devan meminta Andriana untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"O iya Van, darimana kamu mendapatkan foto foto itu?" Tanya Andriana heran.
Devan tersenyum tipis " Aku selalu punya cara untuk menyenangkan wanitaku".
"Ih, apaan sih Van".
"Jadi kamu gak keberatan menjadi wanitaku?"
Andriana tersenyum lebar dan menggeleng perlahan.
"Baiklah sekarang cium aku" Pinta Devan sambil mendekatkan bibirnya.
Andriana menggeleng perlahan dan tiba tiba mendaratkan ciuman di pipi kiri dokter ganteng itu, yang membuatnya tersenyum lalu mencubit hidung Andriana dengan manja.
"Van, pulang yuk?" Pinta Andriana manja.
"Baiklah sayangku, ke apartemenku atau ke hotel?"
"Ih apaan sih, apa yang ada di otak kamu tuh itu itu aja, nggak kita ke rumah saja, aku juga mau lihat bagaimana mas Adit dan Saskia, pasti mereka bertengkar hebat " Jawab Andriana dengan senyum liciknya.
"Kamu tuh ya cantik cantik kok jahat banget sih sayang ".
"Hah aku jahat? Lebih jahat mana mereka yang membohongi aku bertahan tahun, menganggap aku sangat lah bodoh, bahkan mungkin Arnold menikahiku juga karena terpaksa".
Devan mengangkat kedua alisnya " Gitu ya?".
"Ehem, aku akan sangat bahagia melihat dia hancur, Saskia aku sangat membencimu! Setelah kamu, nanti giliran Arnold yang akan jauh lebih hancur, karena aku akan pastikan dia kehilangan segalanya" Gumamnya lirih.
Devan hanya bisa menggeleng perlahan sambil tersenyum tipis lalu melajukan mobilnya untuk mengantarkan Andriana pulang ke rumah.
Flashback off.
Andriana terdiam mematung melihat Diego, anak sekecil itu yang belum tahu dosa yang dilakukan orang tuanya, harus ikut merasakan dampak dari perbuatannya.
Bukan hanya Diego, ternyata Daniar pun ikut menangis di dalam gendongan suster Lena.
"Daniar kenapa sus?" Tanya Andriana perlahan.
"Aku juga tahu non, tiba tiba saja nona Daniar menangis, sudah aku kasih susu, aku ajak main tapi tetap dia menangis" Jawab Lena sambil menggendong tubuh kecil Daniar yang masih terus menangis.
"Kalian tunggu di sini, aku akan melihat mas Adit dan Saskia di kamarnya, akan aku bubuk mereka agar tidak Lagi bertengkar".
Andriana pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar Adit yang pintunya tidak tertutup sempurna.
Andriana membekap mulutnya sendiri seakan tidak percaya, begitu ia membuka perlahan dan melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana Adit menghukum istrinya yang sudah berani mengkhianatinya.
Dengan posisi songkok sambil memejamkan matanya menahan sakit dan nyeri Saskia menangis dan sesekali menjerit ketika Adit memberikan hentakan yang kasar dan brutal.
Adit seperti kesetanan, ia terus menekan dan menghentakkan tubuhnya dengan kasar dan penuh amarah, ia tidak lagi memperdulikan tangisan dan jeritan kesakitan dari istrinya.
"Ini kan yang kamu inginkan Saskia, sekarang kamu harus merasakannya! Selama ini aku sudah bersikap lembut dan mengalah padamu tapi kamu semakin tidak tahu diri malah bermain dengan laki laki lain di belakang ku, jalang! Ini lah hukuman yang pantas untukmu!" Umpat Adit sambil terus mempercepat pergerakannya dengan semakin brutal dan kasar.
"Ampun mas, sakit, kumohon? Hiks hiks ah ah ampun mas Adit cukup , ampun mas" Rengek Saskia menahan sakit yang luar biasa.
Adit tidak memperdulikan tangisan dan rengekan Saskia, ia menarik rambut istrinya ke belakang dan terus memperlakukannya dengan kasar bak binatang.