Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Dia Mengganti Darah dalam Tubuh Natasya!!
Begitu menyadari apa yang dilakukan Kevin, semua orang di ruangan itu langsung diliputi keterkejutan hingga mereka seolah lupa bernapas.
Selama seribu tahun terakhir, tidak seorang pun di Negara Nusantara berhasil mencapai tingkat Jarum Ilahi Yin Yang, Teknik Jarum Tanpa Pandang.
Teknik tersebut merupakan salah satu puncak tertinggi dalam ilmu pengobatan!
Betapa sulitnya teknik Jarum Tanpa Pandang dapat dilihat dari kenyataan bahwa selama seribu tahun tidak ada seorang pun yang berhasil menguasainya.
Bagi seorang ahli pengobatan tradisional, menemukan titik akupunktur dengan tepat merupakan hal yang sangat penting.
Para dokter yang telah mencapai tingkat Tabib Suci tentu memiliki pemahaman mendalam mengenai titik-titik akupunktur. Namun, untuk menemukan titik tersebut secara akurat, mereka biasanya membutuhkan kondisi yang tenang serta akses langsung ke tubuh pasien.
Menusukkan jarum menembus pakaian?
Bagi mereka, hal itu sama sekali tidak terpikirkan.
Setiap orang memiliki tinggi dan bentuk tubuh yang berbeda. Bagaimana mungkin seseorang bisa menentukan posisi titik akupunktur secara akurat dalam sekejap?
Mereka tidak memiliki kemampuan seperti itu.
Terlebih lagi, sedikit saja posisi jarum meleset, akibatnya bisa sangat fatal.
Namun, Kevin berbeda.
Melihat teknik yang ditunjukkannya, semua dokter di sana merasa kagum sekaligus malu terhadap kemampuan mereka sendiri.
Dibandingkan Kevin, keterampilan medis mereka seolah tidak berarti apa-apa.
Kevin bahkan mampu melakukan akupunktur langsung menembus pakaian Natasya, sementara kecepatannya beberapa kali lebih cepat daripada cara mereka melakukan akupunktur secara normal.
Sulit menggambarkannya selain dengan satu kata:
Mengerikan!
Mereka menatap Kevin dengan takjub.
Bagaimana mungkin dia bisa menemukan setiap titik akupunktur dengan begitu tepat?
Kemampuan seperti itu benar-benar terasa seperti keajaiban.
Namun, Kevin sendiri tidak memedulikan keterkejutan mereka.
Ia memiliki alasan menggunakan Teknik Jarum Tanpa Pandang.
Ia hanya tidak ingin tubuh Natasya terekspos di depan semua orang.
Selain itu, setelah JantungNya menyatu dengan Meteorit, Kevin mampu melihat titik-titik akupunktur di dalam tubuh manusia dengan jelas selama ia memusatkan pikirannya.
Bagi orang lain, Teknik Jarum Tanpa Pandang merupakan teknik yang sangat sulit.
Bagi Kevin, teknik itu justru terasa sederhana.
Sebelumnya, Kevin tidak berani menggunakannya karena kekuatannya belum cukup. Pakaian pasien juga dapat mengganggu tusukan jarum dan membuatnya sulit mengendalikan posisi maupun tenaga.
Namun sekarang, setelah mencapai Tingkat Leluhur, kendali Kevin terhadap kekuatannya telah meningkat pesat.
Karena itu, ia berani menggunakan teknik tersebut tanpa ragu.
Waktu terus berlalu.
Satu menit...
Sepuluh menit...
Satu jam...
Tanpa terasa, dua jam telah berlalu.
Kevin masih berkonsentrasi penuh melakukan akupunktur. Tidak sedikit pun fokusnya terganggu.
Seluruh dokter tingkat Tabib Suci yang berada di ruangan itu juga terdiam.
Mereka mengamati setiap gerakan Kevin dengan saksama.
Tidak ada yang berani berkedip terlalu lama karena takut melewatkan satu detail pun dari teknik luar biasa tersebut.
Semakin lama mereka mengamati, semakin mereka menyadari betapa jauhnya kemampuan medis mereka dibandingkan Kevin.
Namun, menyaksikan teknik sehebat itu secara langsung juga merupakan kesempatan belajar yang sangat berharga bagi mereka.
Tiba-tiba Kevin berseru,
“Tuan Missa, pisau bedah!”
Jantung Paman Missa berdegup kencang.
Ia segera menyerahkan pisau bedah yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Kevin mengalirkan Qi sejatinya, lalu mengarahkannya ke bagian tertentu pada lengan Natasya.
Sret!
Sebuah sayatan cepat dibuat.
Lengan Natasya pun terangkat dan menggantung di udara.
Sesaat kemudian, darah berwarna ungu kehijauan mulai merembes keluar dari luka tersebut.
“Paman Surya, ambil mangkuk porselen! Tampung darah beracun ini.”
Nada suara Kevin terdengar serius.
“Hanya dengan mengetahui musuh sekaligus diri sendiri, kita bisa memenangkan setiap pertempuran.”
“Baik!”
Andreas Surya mengangguk dengan tegas.
Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Ia tahu betapa pentingnya menganalisis racun tersebut.
Mereka harus mengetahui jenis racunnya agar bisa membuat penawarnya. Jika tidak, mereka akan selalu berada dalam posisi lemah ketika Demonic kembali menggunakan racun yang sama.
“Berhati-hatilah.”
Kevin memperingatkan, “Jangan sampai darah itu menyentuh kulit kalian. Racun di dalamnya bisa menimbulkan masalah.”
Beberapa menit kemudian, seluruh darah yang telah terkontaminasi racun berhasil dikeluarkan.
Namun, Kevin belum selesai.
Paman Missa menelan ludah.
Melihat darah masih terus mengalir dari luka Natasya, ia akhirnya bertanya dengan cemas,
“Tuan Kevin, bukankah seluruh darah beracun sudah dikeluarkan? Kenapa dia masih terus mengeluarkan darah?”
“Kalau menyembuhkannya semudah itu, aku tidak perlu melakukan semua ini.”
Ekspresi Kevin menjadi serius.
“Sekarang kita sudah memasuki tahap paling penting.”
“Aku harus melakukan penggantian darah secara menyeluruh. Tidak boleh ada satu tetes pun darah lama yang tersisa di dalam tubuhnya.”
“Penggantian darah secara menyeluruh?”
“Tidak boleh ada satu tetes pun yang tersisa?”
Semua orang langsung terkejut.
Apakah kondisi Natasya sudah separah itu hingga hanya penggantian seluruh darah di tubuhnya yang bisa menyelamatkannya?
Mengeluarkan seluruh darah dari tubuh seseorang lalu menggantinya dengan darah baru merupakan tindakan yang nyaris tidak pernah dilakukan.
Mereka bahkan tidak yakin apakah hal tersebut benar-benar bisa dilakukan.
Darah tidak mungkin dikeluarkan dan diganti dalam sekejap.
Prosesnya membutuhkan waktu.
Sementara itu, kondisi Natasya jelas tidak memungkinkan mereka menunggu terlalu lama.
Jika prosesnya gagal, ia mungkin tidak akan mampu bertahan.
Namun, jika Kevin benar-benar berhasil melakukannya...
Ia akan menciptakan terobosan besar dalam dunia pengobatan!
Kevin berkata dengan sungguh-sungguh,
“Racun yang berada di dalam tubuh Natasya merupakan jenis racun akibat virus dan memiliki daya penularan yang sangat tinggi.”
“Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengeluarkan racun dari tubuhnya. Namun, racun yang masih bercampur dalam darahnya berada di luar kemampuan medis yang bisa kutangani saat ini.”
“Jika aku memaksa mengeluarkan racun tersebut dari darahnya, keping darah dan sel-sel darah juga akan ikut rusak. Komposisi darahnya akan berubah.”
“Bahkan jika seluruh racun berhasil dimusnahkan, darah yang tersisa mungkin sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai darah yang normal.”
Kevin menarik napas.
“Karena itu, satu-satunya cara adalah mengganti seluruh darah agar Natasya bisa pulih.”
Paman Missa tiba-tiba memahami sesuatu.
“Jadi begitu!”
Ia bergumam,
“Pantas saja sebelumnya kau meminta Andreas Surya menyiapkan darah. Sejak awal kau memang sudah merencanakan transfusi darah!”
Menyadari hal tersebut, Paman Missa dan yang lainnya semakin kagum kepada Kevin.
Kevin hanya membutuhkan beberapa menit untuk memeriksa denyut nadi Natasya.
Namun, dalam waktu sesingkat itu, ia sudah mampu menyusun rencana pengobatan yang begitu lengkap.
Bakat medisnya benar-benar luar biasa.
Tiba-tiba Andreas Surya memikirkan sesuatu.
Ia bertanya dengan cemas,
“Teman Muda Kevin, tadi kau mengatakan masih ada racun di dalam darah Natasya. Kalau seluruh darahnya diganti, bukankah masih mungkin ada sedikit racun yang menempel di dinding pembuluh darahnya?”
“Jumlahnya mungkin sangat sedikit, tetapi karena ini merupakan racun akibat virus, bukankah sedikit saja sudah cukup untuk menginfeksi darah baru?”
“Kalau begitu, bukankah hanya dalam beberapa hari darah Natasya akan kembali dipenuhi racun?”
Ruangan itu langsung sunyi.
Semua orang menyadari bahwa pertanyaan Andreas Surya sangat masuk akal.
Sebagai seorang tabib legendaris, pemikirannya memang sangat tajam.
Jika benar demikian, apakah penyakit ini benar-benar tidak bisa disembuhkan?
Kevin mengangguk.
“Benar. Aku sudah memikirkan hal itu.”
“Tapi aku sudah menyiapkan solusinya.”
Kevin kemudian menjelaskan,
“Golongan darahku sama dengan Natasya. Kami sama-sama bergolongan darah B.”
“Namun, darahku mengandung antibodi terhadap racun tersebut.”
“Setelah darahku ditransfusikan ke dalam tubuhnya, sisa racun yang jumlahnya sangat sedikit itu tidak akan mampu menimbulkan ancaman lagi.”
“Karena itu, aku akan memberikan sekitar 200 mililiter darahku kepadanya.”
Begitu rencana Kevin terungkap, kekaguman semua orang terhadapnya semakin meningkat.
Tatapan mereka dipenuhi rasa hormat.
Kevin telah memikirkan hampir segala kemungkinan.
Seolah-olah tidak ada satu pun celah yang luput dari perhitungannya.
Namun, masih ada satu pertanyaan besar yang mengganjal pikiran mereka.
Mengapa darah Kevin mengandung antibodi terhadap racun tersebut?
Kevin tidak memedulikan kebingungan mereka.
“Paman Missa , segera ambil darahku. Dua ratus mililiter sudah cukup.”
Ia mengulurkan lengannya dengan tenang.
“Paman Surya, cabut jarum-jarum akupunktur dari lengan dan area jantung Natasya.”
“Jarum tersebut sedang mengatur tekanan darahnya. Begitu jarum dicabut, tekanan darahnya akan menyebabkan darah menyembur deras dari luka yang kubuat tadi.”
“Semua orang harus berhati-hati. Jangan sampai terkena darahnya.”
Kevin berbicara cepat.
“Kita hanya punya waktu sekitar satu setengah menit untuk mengeluarkan seluruh darahnya.”
“Paman Missa, segera ambil darahku. Jangan sampai terlambat.”
“Yang lainnya, tolong siapkan kantong darah dan pasang semuanya sekarang juga!”
“Baik!”
bibirmu berjenggot?