Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Di Bangku Belakang

Sejak hari di mana Evan meresmikan panggilan "Aurenku" di pojok belakang kelas, hari-hari Auren di sekolah tidak pernah sama lagi. Setiap kali mereka harus mencocokkan jadwal piket atau merapikan buku absensi, kata itu selalu meluncur santai dari bibir Evan. Untungnya, selama dua hari ini, posisi mereka di bangku paling belakang kelas 7-B menjadi benteng pertahanan yang aman. Panggilan khusus itu tetap menjadi rahasia manis milik mereka berdua.

Namun, yang namanya rahasia di sekolah, sepintar apa pun disembunyikan, pasti akan menemui ujiannya juga.

Siang itu, bel masuk setelah istirahat kedua baru saja berbunyi. Murid-murid kelas 7-B mulai masuk ke kelas dengan tubuh berkeringat setelah jajan atau bermain basket di lapangan. Di barisan paling belakang, Auren sudah duduk manis sambil mengipasi wajahnya dengan buku tulis. Di sebelahnya, Evan baru saja duduk setelah mencuci muka di wastafel luar. Rambut depan Evan tampak agak basah, membuatnya terlihat lebih segar dari biasanya.

Auren sedang sibuk merapikan letak kotak pensilnya ketika tiba-tiba ia merasakan telapak tangannya diketuk.

Tok! Tok!

Jari telunjuk Evan mendarat dua kali di punggung tangan Auren, membuat gadis itu refleks menoleh. Evan kemudian menyodorkan selembar tisu bersih ke atas meja Auren.

"Ih, Evan! Aku nggak pakai bedak tebal ya," gerutu Auren pelan sambil mengambil tisu itu. Wajahnya merona, bukan karena kepanasan, tapi karena jarak duduk mereka yang selalu dekat jika jam pelajaran akan dimulai.

Melihat Auren yang merengut menggemaskan, tangan Evan kembali beraksi. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan telunjuknya dan mengetuk ujung hidung Auren sebanyak dua kali dengan gerakan cepat.

Tok! Tok!

"Jangan cemberut, Aurenku. Nanti cantiknya hilang," ucap Evan spontan dengan volume suara yang sebenarnya cukup pelan.

Namun sial bagi mereka, tepat pada detik itu, Doni—salah satu anak cowok paling usil di kelas yang duduk di barisan tepat di depan mereka—baru saja berbalik badan untuk meminjam tipe-x. Mata Doni membulat sempurna menyaksikan telunjuk Evan yang baru saja lepas dari hidung Auren, lengkap dengan kalimat yang baru saja diucapkan sang ketua kelas.

Suasana di sekitar meja belakang mendadak membeku. Auren menahan napasnya dengan mata terbelalak, sementara Evan langsung menarik tangannya kembali ke atas meja, berpura-pura tenang padahal ujung telinganya mulai memerah.

Doni berkedip tiga kali, lalu senyum usil nan lebar langsung terkembang di wajahnya.

"Wah, wah, wah! Apaan tuh tadi? 'Aurenku' katanya?!" seru Doni dengan suara melengking yang sengaja dikeras-keraskan. "Gila ya, Ketua Kelas kita diam-diam punya panggilan sayang buat Ibu Sekretaris! Woi, anak-anak! Sini lihat, Evan sama Auren pacaran di pojok belakang!"

"Doni, diam! Nggak usah berisik!" bentak Evan berusaha tegas, mencoba menutupi rasa malunya dengan wibawa ketua kelas. Jari telunjuk Evan langsung mengetuk meja kayu miliknya sendiri dengan keras sebanyak dua kali (tok tok!) sebagai tanda peringatan agar Doni menutup mulut.

Tapi peringatan itu sudah terlambat. Anak-anak kelas 7-B yang memang dasarnya penyuka gosip langsung menoleh ke arah bangku belakang.

"Cieee! Evan sama Auren!" sorak anak-anak cowok dari barisan tengah."Panggilannya 'Aurenku' banget gak tuh? Uhuy, ketua kelas kita sudah pinter bucin!" sahut yang lain sambil memukul-mukul meja dengan penggaris.

Auren rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang matang sempurna. Ia langsung menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kedua tangannya di atas meja, tidak berani menatap puluhan pasang mata yang sedang meledek mereka habis-habisan.

Kehebohan itu baru mereda ketika langkah kaki yang berat terdengar dari arah koridor. Bu Linda, guru Matematika sekaligus wali kelas 7-B yang terkenal tegas, berjalan masuk ke dalam kelas sambil membawa buku paket tebal dan penggaris kayu panjang. Dalam sekejap, seisi kelas langsung senyap dan kembali ke posisi duduk masing-masing, termasuk Doni yang buru-buru berbalik menghadap ke depan sambil menahan tawa.

"Selamat siang, anak-anak. Tolong semuanya tertib," suara Bu Linda menggelegar di depan kelas. Beliau meletakkan bukunya, lalu memakai kacamata bacanya. "Sebelum kita mulai materi geometri hari ini, Ibu mau mengabsen kehadiran dulu sekaligus mencocokkan dengan laporan absensi mingguan."

Bu Linda membuka buku jurnal kelas besar. Suasana kelas sangat hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan helaan napas lega dari Auren yang perlahan mengangkat kepalanya dari atas meja.

Namun, jantung Auren kembali berdebar cemas saat melihat Evan di sebelahnya tampak gelisah. Evan sibuk membolak-balik lembaran kertas di dalam map administrasi kelas, mencari berkas surat izin yang diminta Bu Linda. Karena gugup seisi kelas baru saja meledeknya, fokus Evan menjadi agak buyar.

"Evan, bagaimana? Surat izin sakitnya Doni yang minggu lalu sudah dikliping di laporan?" tanya Bu Linda dari depan kelas, matanya menatap tajam ke arah bangku paling belakang.

Evan langsung menegakkan tubuhnya, mencoba bersikap sigap sebagai ketua kelas yang bertanggung jawab. "Sudah, Bu! Suratnya ada di..." Kata-kata Evan menggantung di udara. Ia menatap map di tangannya yang kosong, lalu menatap tas sekolahnya. Ia lupa di mana ia menaruh jepitan kertasnya.

Karena panik dan refleks ingin meminta bantuan kepada satu-satunya orang yang paling mengerti urusan berkas kelas, Evan langsung menoleh ke arah Auren di sebelahnya. Di bawah tekanan rasa panik karena ditatap oleh Bu Linda, otak Evan mendadak blank.

"Aurenku, tolong jepitan kertas yang di laci kamu dong—"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Evan. Keras. Tegas. Dan sangat jelas terdengar sampai ke barisan paling depan.

Hening.

Satu kelas mendadak seperti diterjang badai kesunyian selama dua detik. Bahkan Bu Linda sampai menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Evan dengan dahi berkerut heran.

Auren mematung di tempatnya, matanya membelalak sempurna seolah dunianya baru saja runtuh untuk kedua kalinya hari ini. Sementara Evan langsung membeku, menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia perbuat karena terlalu panik.

"Pfftt... HAHAHAHA!"

Detik berikutnya, tawa seisi kelas 7-B langsung pecah menggelegar. Doni bahkan sampai memukul-mukul mejanya saking senangnya, sementara anak-anak cewek di barisan depan kompak berseru, "Cieeee! Keceplosan, Van! 'Aurenku' katanya!"

"Ehem!" Bu Linda mengetuk meja guru dengan penggaris kayu, mencoba menenangkan kelas meskipun sudut bibir beliau juga tampak menahan senyum. "Evan, panggilan di dalam kelas harus tetap formal, ya. Ibu tahu kalian kompak urus mading kemarin, tapi jangan ditambah 'ku' juga di belakang nama sekretaris kamu."

"I-iya, maaf, Bu. Maksud saya Auren," jawab Evan terbata-bata. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kelas 7-B, sang ketua kelas yang biasanya pemberani dan tegas itu menunduk pasrah dengan wajah dan telinga yang memerah total sampai ke leher.

Auren sendiri sudah tidak tahu lagi harus menaruh mukanya di mana. Ia buru-buru merogoh lacinya, mengambil jepitan kertas, lalu meletakkannya di atas meja Evan tanpa berani menatap cowok itu sama sekali.

Setelah pelajaran Matematika yang terasa seperti cobaan hidup terberat itu selesai, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Anak-anak kelas 7-B berhamburan keluar sambil sesekali masih meledek Evan dan Auren saat melewati meja belakang.

Kini, ruang kelas kembali sepi, hanya menyisakan mereka berdua yang masih duduk diam di bangku paling belakang. Auren masih cemberut, pura-pura sibuk memasukkan buku agendanya ke dalam tas dengan gerakan kasar untuk meluapkan kekesalannya.

Evan menatap Auren yang mendiamkannya sejak dua jam lalu. Ia tahu gadis itu pasti sangat malu. Perlahan, Evan menggeser kursinya agar lebih dekat. Jari telunjuknya terulur ragu-ragu, lalu mengetuk permukaan tas ransel Auren sebanyak dua kali.

Tok! Tok!

Auren tidak menoleh. Ia terus menarik ritsleting tasnya.

Melihat tidak ada respons, Evan menghela napas pelan. Ia memberanikan diri meraih ujung lengan seragam Auren, lalu mengetuk punggung tangan Auren dengan sangat lembut menggunakan telunjuknya sebanyak dua kali.

Tok! Tok!

Sentuhan itu akhirnya membuat Auren menghentikan gerakannya. Ia menoleh menatap Evan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena campur aduk antara sebal dan malu. "Evan, kamu ih... gara-gara kamu, kita habis diledekin satu kelas! Bu Linda juga sampai tahu!"

Evan menatap Auren dengan tatapan bersalah yang tulus, namun sedetik kemudian sebuah senyuman manis dan tipis muncul di wajahnya. Ia tidak melepaskan telunjuknya dari punggung tangan Auren, justru mengetuknya lagi dua kali.

Tok! Tok!

"Maaf ya, Ren. Tadi aku beneran panik banget pas ditanya Bu Linda, makanya langsung keceplosan panggil panggilan yang biasa aku sebut di otak aku," ujar Evan polos, jujur tanpa rekayasa khas anak SMP yang sedang kasmaran.

Auren tertegun mendengarnya. "Panggilan di otak kamu?"

Evan mengangguk pelan, semburat merah kembali muncul di pipinya. "Iya. Lagian... sekarang kan satu kelas udah tahu. Jadi, mulai besok aku gak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan kalau mau panggil kamu 'Aurenku' di kelas 7-B?"

Mendengar ucapan santai namun penuh pernyataan dari Evan, jantung Auren kembali berdegup pusing dua kali lebih cepat. Di sudut belakang kelas yang mulai temaram oleh senja, Auren tahu bahwa rahasia mereka mungkin sudah terbongkar, tapi itu justru menjadi awal dari babak baru yang jauh lebih manis di antara sang ketua kelas dan sekretarisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!