Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Lorong di bawah bukit
Ketenangan yang kembali menyelimuti kediaman Ashford tidak membuat Arlen merasa aman sepenuhnya. Ia tahu Tuan Karis tidak akan diam saja menelan kekalahannya, dan keberadaan bukit ini yang menyimpan rahasia masa lalu tetap menjadi teka-teki besar yang harus diungkapnya.
Keesokan harinya, saat pagi masih muda dan kabut tipis belum hilang dari puncak bukit, Arlen sudah berada di sana. Arlen berdiri tepat di titik tengah tempat di mana dia merasakan getaran samar dari dalam tanah sejak lama. Penjaga berbaring diam di dekatnya, telinganya sesekali bergerak mendengarkan suara-suara halus yang tidak bisa didengar manusia biasa.
Kini setelah mencapai tingkat Aura Perak, kepekaan Arlen terhadap apa yang ada di sekelilingnya meningkat berkali-kali lipat. Dia bisa merasakan aliran udara di balik celah batu, mendengar suara tetesan air dari tempat yang jauh, dan yang paling penting: ia bisa memetakan ruang kosong yang tersembunyi jauh di bawah kakinya.
Ada sebuah ruangan, bahkan mungkin serangkaian lorong yang dibangun dengan sengaja di sana.
Arlen berjongkok dan menyentuh tanah di hadapannya. Ia mengalirkan sedikit cahaya keperakan dari telapak tangannya, aura itu merambat perlahan mencari celah atau titik lemah pada lapisan batu keras yang menutupi jalan masuk itu. Awalnya arlen tidak menemukan apa pun, seolah seluruh bukit itu padat dan utuh. Namun saat ia mengarahkan kesadarannya lebih dalam, dia menyadari ada garis tipis yang melingkari—batu yang dipasang rapi hingga menyatu dengan tanah di sekitarnya.
Arlen mengangkat tangannya perlahan, lalu mengayunkannya ke bawah dengan lembut. Gelombang energi halus melanda tanah itu. Perlahan tanah dan bebatuan di tengah cekungan itu bergeser pelan, menimbulkan suara gesekan batu yang berat dan panjang, hingga terbukalah sebuah lubang gelap berbentuk lingkaran yang cukup lebar bagi satu orang untuk turun.
Dari dalam lubang itu terhembus udara sejuk yang kering, membawa bau tanah tua dan sedikit bau logam yang sudah lama tidak tersentuh.
Arlen mengintai ke dalam. Tangga batu kasar tampak turun ke bawah menghilang ke dalam kegelapan. Ia menoleh ke arah Penjaga yang kini berdiri dan menggeram pelan ke arah lubang itu seolah memberi peringatan bahaya.
"Tetaplah menjaga di sini," bisik Arlen pada serigala itu. "Jika ada orang asing mendekat, beri aku isyarat."
Dengan hati-hati Arlen melangkah turun menuruni tangga batu itu. Cahaya keperakan kecil menyala di telapak tangannya menerangi jalan di depannya. Tangga itu cukup dalam, berbelok perlahan ke samping hingga akhirnya ia sampai di sebuah lorong datar yang panjang dan lurus.
Dinding lorong itu terbuat dari batu yang dipahat sangat rapi dan halus, bertentangan dengan tangga kasar yang baru saja dia lewati. Di kedua sisi dinding masih terlihat sisa-sisa ukiran pola sulur dan garis melengkung yang sudah mulai memudar dimakan waktu. Arlen berjalan perlahan menyusuri lorong itu, matanya tak lepas mengamati setiap ukiran yang ada.
Semakin ia berjalan, semakin dia yakin tempat ini bukan buatan orang biasa atau sekadar ruang penyimpanan biasa. Pola ukiran di dinding itu mirip dengan pengetahuan kuno yang tersimpan jauh di dalam ingatannya—pola yang berfungsi menjaga dan menyaring energi yang melewatinya.
Akhirnya lorong itu berakhir di hadapan sebuah pintu batu besar yang kokoh. Tidak ada pegangan, tidak ada kunci biasa. Di tengah pintu itu terdapat lekukan melingkar yang pas dengan ukuran telapak tangan manusia.
Arlen mendekat. Ia merasakan aliran energi dari balik pintu itu—tenang, kokoh, namun menunggu sesuatu untuk membukanya. Ia mengangkat tangannya yang bersinar perak dan menempelkannya tepat pada lekukan itu.
Seketika pintu itu bergetar pelan. Garis-garis samar di permukaannya menyala mengikuti cahaya yang mengalir dari tangan Arlen. Perlahan namun mulus, pintu batu yang berat itu terbuka ke dalam.
Di hadapannya kini terbentang sebuah ruangan berbentuk segi delapan yang cukup luas. Langit-langitnya tinggi, dan di bagian tengahnya berdiri sebuah tugu batu pendek yang kokoh. Di atas tugu itu terbaring sebuah bunga yang kelopaknya berwarna perak pudar namun tetap utuh dan tidak pernah layu seolah waktu tidak menyentuhnya.
Namun hal yang paling menarik perhatian Arlen bukanlah bunga itu, melainkan apa yang ada di sekeliling ruangan itu. Di keempat sudut ruangan terdapat kotak-kotak batu tertutup rapat, dan di dinding-dindingnya tertulis tulisan kuno yang tersusun rapi.
Arlen berjalan mendekati dinding dan membaca tulisan itu dengan susah payah—bahasa yang hampir terlupakan namun masih ia kenal sisa-sisanya.
Di sini diletakkan Bunga Jiwa Bumi, pengikat keseimbangan wilayah ini. Dikumpulkan dan dijaga oleh kaum Penjaga Kuno agar tidak ada kekuatan liar yang mengganggu kedamaian tanah ini. Hanya mereka yang datang membawa cahaya jiwa murni tanpa niat jahat yang bisa membuka pintu ini. Jika ia jatuh ke tangan yang salah, tanah ini akan berubah menjadi tandus dan berbahaya selamanya dan jangan pernah biarkan yang tertidur untuk bangkit kembali.
Arlen tertegun. Jadi bukit ini bukan sekadar tempat yang memiliki energi baik, melainkan tempat penahan dan penyeimbang energi alam yang liar. Selama ribuan tahun benda ini menjaga wilayah sekitarnya agar aman, namun karena perlindungan luarnya hilang dan penjaganya terlupakan, perlahan pengaruhnya memudar hingga tanah di sekitarnya menjadi tandus.
Keberadaan Arlen dan kekuatan Aura-nya justru membangkitkan kembali pengaruh benda itu.
Arlen berjalan mendekati tugu batu di tengah ruangan . Bunga itu tampak rapuh namun memancarkan ketenangan yang luar biasa. Saat ia mendekat, kelopak bunga itu sedikit bergerak seolah menyambutnya. Arlen menyadari dia tidak boleh memindahkannya dari tempatnya, karena benda itulah yang menjadi jangkar utama bukit ini.
Namun saat dia sedang mengamati kotak-kotak batu di sudut ruangan, ia mendengar suara samar dari atas—suara gesekan tanah dan langkah kaki yang tidak biasa. Penjaga tidak memberi isyarat bahaya besar, tapi ada orang yang mendekat.
Arlen segera berbalik kembali ke arah pintu masuk. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun tahu ruang rahasia ini. Arlen berjalan cepat kembali ke lorong dan menaiki tangga batu, lalu membiarkan pintu tanah itu menutup kembali persis seperti semula sesaat sebelum ia sampai ke permukaan.
Saat Arlen keluar dan merapikan sedikit tanah di sekitarnya, ia melihat ayahnya berjalan mendekat sambil memegang sebilah sabit di bahunya. Cedric tampak heran melihat Arlen berdiri diam sendirian di tengah bukit.
"Aku mencarimu ke mana-mana," ujar Cedric sambil berhenti di sampingnya. "Kau berdiri diam di sini sejak lama, ada apa?"
Arlen tersenyum tipis menyembunyikan kegembiraan sekaligus kekagumannya akan penemuan barunya.
"Aku hanya memeriksa apakah ada bagian tanah yang retak atau rusak, Ayah. Tanah ini sangat istimewa, kita harus menjaganya agar tetap utuh."
Cedric mengangguk percaya. Ia menatap sekeliling bukit yang kini hijau subur itu, lalu kembali menatap putranya.
"Kau benar. Tanah ini memberi kita kehidupan baru. Tapi ingatlah, kita harus berhati-hati. Tuan Karis pulang dengan rasa malu yang besar kemarin. Orang-orang bilang ia sering berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal di kedai-kedai kota. Ayah khawatir dia tidak akan berhenti hanya dengan itu."
Arlen mengangguk serius. Aku juga merasakan hal yang sama.
"Aku tahu, Ayah. Kita harus siap menghadapi apa pun yang akan datang. Tapi jangan khawatir, selama kita berdiri bersama, tidak ada yang bisa merampas apa yang menjadi milik kita."
Setelah ayahnya pergi, Arlen kembali menatap ke arah tanah tempat pintu rahasia itu tersembunyi. Dia tahu ia baru saja menemukan bagian kecil dari rahasia besar dunia ini. Ruangan itu menyimpan Bunga Jiwa Bumi, namun kotak-kotak batu di sudut ruangan itu pasti menyimpan hal lain yang belum ia ketahui.
Aku akan kembali lagi ke sana nanti saat waktunya lebih tepat.
Namun sebelum hari itu berakhir, kejadian lain terjadi. Sore harinya saat langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, seekor burung gagak hitam besar terbang berputar-putar di atas rumah mereka sebelum turun hinggap di pagar kayu. Di kakinya terikat selembar kertas kecil yang digulung.
Arlen mengambil kertas itu saat burung itu terbang pergi begitu saja tanpa rasa takut. Tulisan di atasnya singkat dan sederhana namun membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Mereka yang kalah tidak selalu pergi dengan tangan kosong. Tuan Karis mencari bantuan dari mereka yang berjalan di dalam bayangan. Bersiaplah, bahaya yang sesungguhnya baru datang.
Tidak ada nama pengirimnya, namun Arlen tahu persis siapa yang mengirim pesan ini—Tuan Valian.
Arlen menatap ke arah kejauhan di mana letak kediaman Tuan Karis. Ia tahu sekarang bahwa pertarungan mereka bukan lagi sekadar urusan tanah atau pajak, melainkan pertarungan untuk menjaga rahasia yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan di wilayah itu.
Arlen kembali ke bukit itu, berdiri tegak di atasnya sambil memandang ke arah cakrawala yang mulai gelap. Tanpa suara peringatan, udara di sekeliling anak berusia sepuluh tahun itu mendadak terasa berat, seolah seluruh ruang sedang menunduk hormat. Dari dalam tubuh Arlen, cahaya berwarna perak mulai merembes perlahan; pada pandangan pertama tampak seperti kilau embun yang tertangkap cahaya remang, namun dalam sekejap ia meluas menjadi gelombang energi yang tenang namun memiliki bobot yang tak terbantahkan.
Aura perak itu menyelimuti sosoknya yang kecil, namun tidak membuatnya terlihat lemah—justru sebaliknya. Di balik rambutnya yang berantakan dan wajah polos seorang anak, tergambar pancaran wibawa yang tak wajar untuk usianya. Cahayanya berdenyut selaras dengan detak jantungnya, memancarkan getaran halus yang membuat daun-daun di sekitar berhenti bergoyang, dan debu di tanah melayang mengikuti aliran energinya.
Tekanannya menjalar perlahan, bukan dengan amukan, melainkan dengan ketegasan yang mendalam—seperti kehadiran raja yang telah lama memerintah
“Di tengah kilau perak itu, mata Arlen tetap tenang—tidak ada rasa takut, tidak pula kesombongan atau sikap berlebihan. Hanya ketenangan seorang kesatria yang tahu persis apa yang ia miliki.”
Apakah kau mencari bahaya, Tuan Karis? batin Arlen bergumam dingin. Maka kau akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari pada apa yang pernah kau bayangkan.