Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Renovasi Rumah Baru
Tiga minggu setelah Arthur pulang dari rumah sakit, lukanya sudah hampir sembuh total. Dokter memperbolehkan dia untuk beraktivitas ringan, termasuk berjalan kaki dan melakukan pekerjaan yang tidak terlalu berat. Arthur tidak mau membuang waktu. Dia sudah memutuskan untuk segera memulai kehidupan baru bersama Helena dan James. Rumah yang dijanjikan Robert di kawasan pantai selatan menjadi prioritas utama.
Pagi itu, Arthur, Helena, dan James berangkat menuju lokasi rumah tersebut. Aldi yang bertindak sebagai sopir dan pengawal membawa mereka melewati jalanan yang berkelok, melewati perkampungan nelayan dan perkebunan kelapa. Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah area yang dikelilingi oleh pepohonan rindang.
Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi berwarna putih. Di balik gerbang, sebuah rumah bergaya tropis berdiri megah, dengan atap genting berwarna cokelat dan dinding berwarna putih krem. Halaman depan yang cukup luas dipenuhi oleh rumput hijau dan beberapa pohon palem yang tertiup angin laut.
Arthur menatap rumah itu dengan mata berbinar. "Ini dia, rumah kita."
Helena juga terpesona. "Rumah ini sangat indah, Arthur. Sangat besar."
James sudah berlari ke depan, membuka gerbang, dan memasuki halaman. "Pa! Ma! Lihat ada kolam renang di belakang!" teriak James.
Arthur tersenyum, berjalan perlahan memasuki halaman. Helena mengikuti di sampingnya, menggandeng tangan Arthur.
Mereka berkeliling rumah itu. Ada ruang tamu yang luas dengan jendela besar yang menghadap ke laut, dapur yang modern dengan meja granit, tiga kamar tidur yang nyaman, dan sebuah teras belakang dengan pemandangan pantai yang memukau.
"Ini sempurna," bisik Helena. "Rumah yang sempurna untuk kita."
Arthur menatap Helena. "Kita bisa merenovasi beberapa bagian agar lebih nyaman. Mungkin menambahkan taman bunga di samping, dan membangun tempat duduk di teras belakang."
James berlari kembali ke arah mereka, dengan wajah bersemangat. "Pa! Aku mau kamar yang menghadap ke laut! Aku bisa melihat matahari terbit setiap pagi!"
Arthur tertawa. "Tentu, Nak. Kamar mana pun yang kamu inginkan, itu milikmu."
Helena menatap Arthur dan James, dan dia tersenyum. "Mari kita rencanakan renovasi bersama. Kita bisa membuat rumah ini menjadi rumah impian kita."
---
Hari berikutnya, Arthur mulai membuat sketsa desain renovasi. Dia duduk di meja ruang tamu, dengan pensil dan kertas gambar di tangannya. James duduk di sampingnya, belajar dengan penuh perhatian.
"Pa, kenapa kamu menggambar garis-garis ini?" tanya James.
Arthur menjelaskan dengan sabar. "Ini adalah struktur atap, James. Kita harus memastikan atapnya kuat dan tahan terhadap angin laut. Dan di sini, kita bisa menambahkan jendela kaca besar agar cahaya matahari bisa masuk dengan maksimal."
James mengangguk dengan semangat. "Aku ingin belajar lebih banyak, Pa. Bolehkah aku mencoba menggambar?"
Arthur tersenyum, memberikan pensilnya pada James. "Cobalah, Nak. Jangan takut salah. Yang penting kamu mencoba."
James mengambil pensil itu, dan mulai menggambar dengan hati-hati. Garisnya masih kaku dan belum sempurna, tapi Arthur melihat semangat di mata James. Dia sangat bangga.
Helena membawakan minuman untuk mereka berdua. "Kalian berdua sudah bekerja keras. Ayo istirahat sebentar."
Arthur mengambil segelas jus jeruk, lalu menatap Helena. "Hel, bagaimana kalau kita mengajak James untuk memilih cat dinding? Aku ingin dia merasa bahwa rumah ini adalah rumahnya juga."
Helena tersenyum. "Ide bagus. Ayo, James. Kita ke toko cat setelah ini."
James melompat kegirangan. "Aku mau kamarku berwarna biru muda, seperti warna laut!"
Arthur dan Helena tertawa. "Baiklah, warna biru muda untuk kamar James."
---
Dua minggu kemudian, renovasi rumah dimulai. Arthur menyewa kontraktor yang sudah dipercaya, tapi dia tetap mengawasi setiap prosesnya. James sering ikut ke lokasi, membantu para pekerja dengan semangat.
Suatu sore, saat Arthur dan James sedang berada di lokasi, Arthur melihat James sedang mengangkat sebatang kayu dengan susah payah. Arthur berjalan mendekat, membantu James mengangkat kayu itu.
"James, kamu tidak perlu mengangkat kayu seberat ini. Biarkan para pekerja yang melakukannya."
James menggeleng. "Tapi Pa, aku ingin membantu. Ini rumahku juga. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya membangun rumah."
Arthur menatap James dengan tatapan bangga. "Kau benar-benar anakku. Tidak mudah menyerah."
Mereka berdua bekerja bersama, memindahkan papan-papan kayu, mengecat dinding, dan memasang keramik. Arthur mengajari James cara menggunakan alat-alat pertukangan dengan benar. James belajar dengan cepat, dan sesekali bertanya tentang hal-hal yang tidak dia pahami.
"Malam nanti, kita makan malam di rumah baru," kata Arthur. "Kita akan membeli makanan dari restoran, dan makan di teras belakang sambil menikmati pemandangan laut."
James bersemangat. "Bolehkah aku mengundang Kakek Robert dan Nenek Maria?"
Arthur tersenyum. "Tentu, Nak. Mereka pasti senang."
Helena yang datang membawa minuman untuk mereka mendengar percakapan itu. "Kalian berdua sudah mulai akrab sekali. Bahkan sudah merencanakan makan malam bersama."
Arthur menatap Helena. "Karena inilah yang kita inginkan, Hel. Sebuah keluarga."
Helena tersenyum, mencium pipi Arthur. "Aku setuju."
---
Malam itu, mereka berkumpul di rumah baru. Robert dan Maria datang dengan membawa bunga untuk Helena dan kue untuk James. Mereka semua duduk di teras belakang, menikmati angin laut yang sepoi-sepoi. Lampu-lampu taman menerangi halaman, menciptakan suasana yang hangat dan romantis.
Robert menatap rumah itu dengan tatapan bangga. "Rumah ini sangat indah. Kalian sudah melakukan renovasi dengan luar biasa."
Arthur tersenyum. "Terima kasih, Ayah. Tanpa bantuanmu, kami tidak akan bisa membeli rumah ini."
Robert menggeleng. "Ini hanyalah hadiah kecil untuk kalian. Kalian layak mendapatkannya."
James duduk di antara Arthur dan Helena, dengan sepiring kue di pangkuannya. "Kakek, Nenek, besok aku mau mengajak kalian melihat pantai di belakang rumah. Ada banyak kerang dan batu-batu cantik."
Maria tersenyum, mengusap rambut James. "Tentu, Sayang. Nenek akan senang sekali."
Helena menatap Arthur. "Kita berhasil, Arthur. Kita berhasil membangun keluarga ini."
Arthur menggenggam tangan Helena. "Kita berhasil, Hel. Dan ini baru awal. Kita akan membuat banyak kenangan indah di rumah ini."
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, keluarga Fernando yang baru terbentuk duduk bersama, menikmati kebersamaan. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada cinta, kebahagiaan, dan harapan untuk masa depan yang cerah.
James menatap ayah dan ibunya, lalu tersenyum. "Aku sangat bahagia, Ma, Pa. Aku berharap kita akan selalu bersama."
Arthur memeluk James. "Kita akan selalu bersama, Nak. Selamanya."
Helena tersenyum, memeluk mereka berdua. Dan di kejauhan, ombak laut terus bergulir, membawa alunan lagu kebahagiaan yang baru saja dimulai.