Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang mulai Berubah
Pagi itu, suasana rumah Dika terlihat lebih sibuk. Beberapa pelayan sudah berlalu-lalang menyiapkan sarapan di ruang makan. Di ujung meja, Miranda sedang memperhatikan putrinya yang sibuk dengan ponsel.
Shiren sesekali tersenyum sendiri membaca sesuatu di layar, entah apa yang membuat perempuan itu tersenyum seperti itu.
"Shiren."
Gadis itu mengangkat wajah. "Iya, Ma?"
"Jangan main ponsel terus. Sarapan."
Shiren meletakkan ponselnya di samping piring. "Iya, bentar dulu Ma, ceritanya masih seru nih."
"Jangan nunda sarapan Nak," sahut Miranda.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Dika muncul dengan pakaian kerja yang rapi. Jas hitam melekat sempurna di tubuhnya, membuatnya tetap terlihat berwibawa meskipun beberapa hari terakhir wajahnya tampak lebih lelah.
Miranda langsung memperhatikan suaminya.
"Mas."
Dika berhenti sebentar. "Hm?"
"Kamu kelihatan pucat."
Dika menarik kursi dan duduk. "Aku baik-baik saja."
Miranda menatapnya tidak percaya. "Belakangan ini kamu selalu bilang begitu."
Dika mengambil cangkir kopi di hadapannya."Karena memang tidak ada apa-apa Ma."
"Papa tuh kalau dibilangin jangan ngeyel, Mama gak mau kalau sampai terjadi apa-apa,' ujar Miranda seolah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada suaminya itu.
Namun saat Dika baru menyesap kopinya. Tiba-tiba saja tangannya berhenti, entah kenapa ia seperti ada rasa nyeri samar di bagian dada.
Pria itu mencoba untuk abai. Mungkin hanya sakit biasa yang datang sekejap. Namun meskipun sakitnya tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat napasnya tertahan beberapa detik.
Dika seger meletakkan cangkirnya sementara
Miranda langsung menyadari saat melihat ke arah suaminya.
"Mas?"
Dika mengusap dadanya sebentar, dan hal itu membuat rasa cemas Miranda jadi meningkat.
"Kenapa?"
"Sedikit tidak nyaman."
Shiren yang sejak tadi diam ikut menatap ayahnya. "Papa sakit?"
Dika menggeleng. "Bukan sakit."
"Terus?"
"Cuma masuk angin mungkin."
Miranda menghela napas. "Mas, jangan selalu menganggap semuanya sepele."
Dika menatap istrinya. "Aku punya rapat pagi ini."
"Rapat bisa ditunda."
"Tidak bisa."
Nada suara Dika terdengar tegas sedangkan Miranda hanya bisa terdiam. Ia tahu suaminya memang seperti itu. Selama bertahun-tahun, pekerjaan selalu menjadi hal yang sulit ia tinggalkan.
Dika mengambil serbet dan mengusap sudut bibirnya. "Aku berangkat dan jangan terlalu berpikir macam-macam, aku baik-baik saja.
Shiren mengangkat wajah. "Papa belum selesai makan."
"Sudah cukup."
Lalu kudiam Dika berdiri akan tetapi baru dua langkah, kepalanya tiba-tiba terasa ringan. Ia berhenti dan tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi.
Miranda langsung berdiri. "Mas!"
Dika memejamkan mata sebentar. Beberapa detik kemudian rasa itu perlahan menghilang.
"Aku tidak apa-apa."
Miranda mendekatinya. "Kamu yakin?"
Dika mengangguk. "Ya."
Shiren ikut berdiri. "Papa jangan pergi dulu."
Dika menatap putrinya. "Aku hanya sedikit pusing, kamu gak perlu terlalu mencemaskan Papa ya." ucapnya begitu perhatian seolah hanya shiren saja yang menjadi anaknya.
"Justru itu." Shiren terlihat khawatir.
"Periksa, Pa."
Dika hendak membantah, tetapi melihat wajah istri dan anaknya membuatnya mengurungkan niat.
"Baik."
Miranda sedikit lega. "Nanti siang kita ke dokter."
Dika mengangguk. "Tapi setelah urusan kantor selesai."
Miranda mendengus. Selalu saja pekerjaan."
Dika tersenyum tipis. "Itu memang pekerjaanku, dan aku sangat menyukai itu.
Ia kemudian mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar. Namun kali ini, tatapan Miranda mengikuti kepergian suaminya dengan rasa khawatir yang tidak kunjung hilang.
Sementara Shiren kembali duduk. "Ma..."
"Iya?"
"Papa benar-benar baik-baik saja?"
Miranda menatap pintu yang sudah tertutup. "Entahlah."
Ia menarik napas panjang. "Semoga saja."
☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, pagi Azmira berjalan jauh lebih sederhana. Perempuan itu sedang duduk di meja makan bersama Rina. Tidak ada pembicaraan mengenai rumah sakit. Ataupun ada pekerjaan yang mendesak. Hanya sarapan sederhana dan suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.
Azmira menatap ibunya.
"Bu."
"Iya Sayang."
"Besok Mira mungkin pulang agak malam."
Rina mengangkat wajah. "Kenapa?"
"Ada pemeriksaan lanjutan dari program kerja sama perusahaan."
Rina mengangguk. "Perusahaan yang kemarin?"
Azmira menggeleng. "Iya."
Kali ini Rina tidak bertanya lebih jauh, sebagai seorang ia cukup mendoakan kebaikan putrinya saja.
"Kalau begitu hati-hati."
Azmira tersenyum. "Iya, Bu."
Rina kemudian memperhatikan wajah putrinya dalam-dalam. "Kamu akhir-akhir ini kelihatan capek."
Azmira terkekeh. "Namanya juga dokter."
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Insyaallah."
Rina tersenyum. Ia tidak tahu bahwa semakin hari, pekerjaan putrinya justru semakin mendekatkan Azmira kepada sebuah keluarga yang selama ini sengaja ia jauhkan.
☘️☘️☘️☘️
Siang harinya, Dika akhirnya tiba di sebuah klinik perusahaan. Ia sebenarnya masih merasa sehat. Bahkan ia sempat berpikir tidak perlu melakukan pemeriksaan.
Namun hasil pemeriksaan awal membuat dokter perusahaan mengernyit.
"Pak Dika, sebaiknya Bapak melakukan pemeriksaan lebih lengkap."
Dika mengangkat wajah. "Separah itu?"
"Belum tentu." Dokter tersebut menjawab tenang. "Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kita abaikan."
Dika terdiam. "Di rumah sakit mana?"
Dokter menyebutkan salah satu rumah sakit yang memang sudah bekerja sama dengan perusahaan.
Dika mengangguk. "Atur saja."
"Besok pagi bisa, Pak."
Dika akhirnya berdiri. "Baik."
Ia mengambil jasnya lalu berjalan keluar. Tidak sedikit pun ia membayangkan bahwa keputusan sederhana itu akan membawanya ke tempat yang sama dengan seorang anak yang sudah terpisah jauh dengannya.
Dan yang lebih ironis... orang pertama yang akan menyambutnya di sana mungkin justru anak yang selama ini tidak pernah ia anggap ada.
☘️☘️☘️☘️
Malam itu, Dika pulang lebih cepat. Miranda sedang duduk di ruang keluarga ketika melihat suaminya masuk.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"
Dika meletakkan tas. "Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan besok."
Miranda semakin merasa cemas akan kesehatan suaminya itu. "Di rumah sakit?"
"Iya."
"Miranda."
"Iya?"
"Jangan terlalu khawatir."
Tidak ada jawaban dari istrinya itu tapi dari sorot matanya jelas Miranda menyimpan rasa takut.
Dika kemudian duduk di sofa. "Aku cuma ingin memastikan tubuhku baik-baik saja."
Miranda mengangguk. Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam hati perempuan itu yang membuatnya kembali gelisah.
Ia tidak tahu bahwa besok bukan hanya kondisi kesehatan Dika saja yang akan mulai berubah Dan kali ini... tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.
Bersambung.....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡